Komodo pertama kali didokumentasikan oleh seorang warga Eropa pada tahun 1910.
Penjelajah Eropa ini kemudian menyebarluaskan berita akan adanya pulau “buaya”.
Kabar ini pun akhirnya sampai juga di telinga Direktur Museum Zoologi Bogor, Peter Ouwens.
Pada 1912, dia menuliskan karya ilmiah tentang hasil dokumentasi dan kulit Komodo yang didapatkannya dari Letnan van Steyn van Hensbroek asal Belanda.
Jurnal ilmiah tersebut berjudul “On a Large Varanus Species from an Island of Komodo” dan menjadi bagian dari perpustakan The New York Botanical Garden.
Bermula dari jurnal ilmiah Peter Ouwens inilah, berita keberadaan komodo pun makin menggaung di dunia.
Nama Varanaus Komodoensis pun berasal dari Peter Ouwens.
Hingga akhirnya, pada 1926, seorang penjelajah bernama W. Douglas Burden melakukan ekspedisi untuk menemukan komodo.
Dari hasil penjelajahannya, W.Douglas Burden berhasil membawa 12 ekor komodo yang diawetkan dan 2 lagi masih dalam keadaan hidup.
Tiga dari 12 komodo yang telah diawetkan tersebut dipamerkan di Museum Sejarah Alam Amerika.
Douglas Burden jugalah yang mempopulerkan nama “komodo dragon”.
Berbagai ekspedisi pun terus dilakukan untuk mengungkap spesies kadal raksasa ini.
Namun, ekspedisi harus dihentikan sementara waktu karena adanya Perang Dunia II.
Lalu, di sekitar tahun 1960, sebuah ekspedisi jangka panjang kembali direncanakan.
Ekspedisi ini dilakukan oleh keluarga Auffenberg.
Selama ekspedisi, mereka tinggal di Pulau Komodo selama 11 bulan pada tahun 1969.
Selama tinggal di sana, Walter Auffenberg dan asistennya menangkap dan menandai lebih dari 50 ekor komodo. ***
Sumber dan Kontributor
- Penyunting: elibrary.id
- indozone.id
- phinemo.com