Bagi sejumlah suku di Bengkulu, bunga raflesia dikenal mengandung unsur mistis.
Masyarakat lebih memilih untuk menghindari bunga tersebut bila ditemukan mekar di dalam hutan.
Suku Rejang misalnya, suku yang mendiami daerah perbukitan mulai dari Kabupaten Bengkulu Tengah, Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong, menamakan bunga ini sebagai bungei sekedei atau bunga bokor setan.
Bentuk bunga yang mirip tempat sirih atau bokor, diyakini menjadi tempat sirihnya para penunggu hutan, seperti makhluk gaib atau harimau.
Ada pula yang menyebutnya Ibeun Sekedei atau Cawan Hantu.
Tak jauh berbeda dengan Suku Serawai, yang mendiami daerah selatan Provinsi Bengkulu.
Bunga raflesia kerap disebut begiang simpai atau bunga monyet.
Penamaan tersebut merujuk pada keanehan bunga yang tumbuh tanpa mengenal musim serta tidak memiliki akar dan daun.
Sebagian menyimpulkan bunga raflesia muncul dari sisa makanan monyet.
Baik Suku Rejang dan Serawai, percaya bunga ini akan menimbulkan bala, tidak membawa keberuntungan karena ada unsur mistisnya, sehingga masyarakat memilih menghindarinya.