Kue jahe bangga sekali karena dapat berlari cepat.
“Tak ada yang dapat menangkapku.”
Jadi ia terus berlari dan bertemu seekor rubah.
Kue jahe merasa rubah harus tahu bahwa ia lari lebih cepat dari yang lain.
“Tuan rubah,” kata kue jahe. “Walaupun aku kelihatan lezat, aku tak akan membiarkan kau menangkap dan memakanku.”
“Aku lari lebih cepat dari nenek
Aku lari lebih cepat dari kakek
Aku lari lebih cepat dari sapi
Aku lari lebih cepat dari kuda
Aku lari lebih cepat dari ayam
Kau pun takkan bisa menangkapku!”
Tapi rubah tidak kelihatan tertarik.
“Mengapa aku harus menangkapmu?” kata rubah.
“Aku tidak suka kue jahe. Aku tidak ingin memakanmu.”
“Tapi kau tak bisa lagi lari dari orang-orang yang mengejarmu,” kata rubah.
“Lihat sungai itu menghalangimu.”
Kue jahe berpikir, kalau ia menyeberangi sungai, tubuhnya akan basah dan lama-lama hancur.
Tapi ia harus segera pergi agar tidak tertangkap oleh nenek, kakek, sapi, kuda dan ayam yang mengejarnya.
“Ayo kubantu kau menyeberang. Naiklah ke ekorku, supaya kakimu tidak basah.”
Kue jahe naik ke ekor rubah.
Rubah membawanya menyeberangi sungai.
Tak lama kemudian, ekor rubah mulai tenggelam.
“Naiklah ke punggungku,” kata rubah.
Kue jahe naik ke punggung rubah.
Tapi sebentar kemudian, punggung rubah pun mulai basah.
“Kepalaku lebih tinggi,” kata rubah.
Kue jahe melompat ke kepala rubah.
Tapi tak lama kemudian, air sudah mengenai kaki kue jahe.
“Naiklah ke hidungku. Kau aman di sini.”
Kue jahe melompat ke hidung rubah, tapi…
“Hap!”
Rubah menggigit kue jahe dan memakannya sampai habis.
“Kue jahe memang lezat sekali,” kata rubah dalam hati.
“Siapa yang tidak suka kue jahe?”

Sumber dan Kontributor
- temanggung.pikiran-rakyat.com
- bacadongengsedunia.blogspot.com
- dongengceritarakyat.com
- Ilustrasi: stock.adobe.com
- Penyunting: elibrary.id