Ada sejumlah pendapat mengenai luas pintu surga.
Pendapat pertama, jarak antara sisi kanan dan sisi kiri masing-masing pintu seperti perjalanan 40 tahun.
Pendapat ini mengacu pada perkataan Hamad ibn Salamah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tujuh puluh umat telah wafat. Kalianlah umat terakhir dan paling mulia di sisi Allah. Sesungguhnya jarak antara dua pintu surga sejauh perjalanan empat puluh tahun. Pada suatu hari nanti pintu itu akan sesak padat.”
(HR Ahmad. Ada pula hadits dari Muawiyah ibn Haidah dengan sanad shahih)
Pendapat kedua, luas pintu surga disebut seperti perjalanan antara Mekkah dan Basrah.
Hal ini sesuai pada perkataan Abu Hurairah RA.
Rasulullah SAW bersabda, “Manusia berdiri di hadapan Allah, lantas penyeru memperdengarkan seruan kepada mereka.”
Rasulullah SAW lalu menyebutkan hadits tentang syafaat secara panjang lebar.
Di akhir hadits, beliau berkata, “Aku bergegas pergi ke bawah Arasy. Aku bersujud di hadapan Allah SWT. Allah pun menempatkanku di tempat yang tak pernah ditempati oleh orang lain baik sebelum maupun sesudahku.” Lantas aku berkata, ‘Ya Allah! Selamatkanlah umatku!’ Allah SWT pun berfirman, “Muhammad! Masukkanlah umatmu yang tak perlu dihisab melalui pintu surga sebelah kanan. Selain mereka, bergabung dengan orang-orang lain masuk dari pintu surga yang lain. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman-Nya, jarak antara dua daun pintu surga itu sejauh jarak antara Mekkah dan Hajar atau antara Hajar dan Mekkah.” Di redaksi lain, “Keduanya seperti jarak antara Mekkah dan Basrah.”
(HR. Muttafaq Alaih)