elibrary.id

Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Asal Mula Madu (Gambar titikdua.net)
Asal Mula Madu

Pada suatu siang yang terik, sang matahari tak henti-henti memancarkan sinarnya.

Sekuntum bunga terlihat kelelahan, ia sangat layu.

Bunga hanya bisa menunggu sore, saat matahari tergelincir dan sinarnya tak lagi terik dan menyilaukan.

Saat itu suasana akan sejuk, hingga malam tiba dan matahari kembali di pagi hari.

Saat itulah yang paling ditunggu-tunggu oleh bunga.

Suasana yang sangat sejuk dan teduh.

Bunga terlihat sedikit lelah, karena beberapa ekor ulat bergelantung di dahan kecilnya dan bersembunyi di balik daun-daunnya.

Membuat rantingnya menjuntai menahan berat ulat yang bertubuh gendut itu.

Ulat itu menggerogoti sebagian daunnya yang berwarna hijau.

Bunga merasa sedih.

Ia tumbuh dengan menyerap air dan nutrisi menggunakan akarnya dari dalam tanah.

Ulat datang dengan kaki-kakinya yang melekat dan memakan satu per satu daun milik bunga.

Dari kejauhan ada seekor lebah hinggap di pohon yang jauh lebih besar dari bunga.

Ia memperhatikan bunga yang sejak tadi kepanasan dan kelelahan, serta wajah kesalnya pada ulat yang menikmati daun-daun miliknya.

Lebah pun tersentuh untuk mendekati bunga.

“Bunga, kau terlihat sangat lelah dan layu, mau aku bawakan sedikit air untuk menyiramimu?”

“Tidak perlu lebah, aku sudah terbiasa seperti ini, aku akan kembali segar saat matahari berada di ufuk barat.”

Baca juga:  Harimau Bodoh (Cerita Binatang dari India)

“Bunga, aku melihatmu sebagai sosok yang sangat hebat. Kau berdiri tegak walau tangkaimu tak begitu besar. Daun-daun segarmu dibiarkan dimakan ulat, padahal kau dengan susah payah mencari makanan dari dalam tanah. Mahkotamu yang indah membuat manusia menyukaimu dan dengan mudahnya mereka memetiknya dari tangkaimu,” kata lebah dengan penuh rasa bangga pada bunga.

“Hidupku yang tidak begitu lama ini ingin aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk dapat berguna bagi makhluk lain. Aku sudah sangat bersyukur karena di dalam tanah tempatku berpijak, tersimpan begitu banyak makanan enak yang membuatku begitu cepat tumbuh besar. Aku juga berterima kasih pada matahari karena sinarnya telah membantuku dalam proses penyerapan makanan. Semua itu aku dapatkan dengan gratis.”

Lebah mengangguk mendengar penjelasan bunga.

“Aku ingin sepanjang hidupku, dapat bermanfaat bagi semuanya. Kau tahu, Lebah? Di dalam kelopak bungaku terdapat sari bunga yang jika kau minum akan terasa manis dan kau pasti suka,” tambah bunga.

Lebah merasa sedikit ragu, apakah bunga ingin menipu dirinya ataukah memang benar yang ia katakan.

“Cobalah, kupu-kupu melakukan itu dan mereka sangat suka karena rasanya yang enak dan manis.”

Baca juga:  101 Cerita Nusantara: Patung Sang Raden (Cerita Rakyat Jawa Timur)

Lebah pun menuruti yang dikatakan bunga.

Lebah yang ragu mencicipi sedikit sari bunga, matanya terbelalak seketika dan ia pun langsung meminum sari bunga yang ada di dalam kelopak bunga temannya itu.

Bunga hanya tersenyum melihat lebah yang menyukai sari bunga miliknya.

“Kau bisa datang setiap hari ke sini. Aku akan membuatkanmu sari bunga paling manis. Namun, aku memintamu satu hal. Hidupku tidak akan lama, jadi sari-sari yang menempel pada tubuhmu itu tolong sebarkan pada bunga-bunga lain agar tumbuh bunga-bunga baru menggantikanku.”

Lebah pun setuju.

Setelah menyerap sari bunga ia pun menyebarkan serbuk sari bunga pada bunga lain agar ia tumbuh menjadi bunga baru.

Tak lama kemudian, lebah datang lagi untuk ke sekian kalinya pada bunga.

Namun, ternyata sang bunga telah mengering dan mati.

Lebah sedih atas kepergian sahabatnya itu.

Namun, ia melihat begitu banyak bunga lain yang tumbuh di sekitarnya, mereka tampak subur.

Lebah pun ingin dirinya bermanfaat bagi makhluk lain.

Sari bunga yang ia minum dari kelopak bunga, dibuatnya menjadi sebuah madu.

Madu sangat bermanfaat bagi manusia.

Baca juga:  Harimau Bodoh dan Rubah Cerdik

Banyak manusia yang mencari madu yang dihasilkan lebah untuk dijadikan obat, vitamin, ataupun yang lain. ***

Pesan Al-Quran tentang manfaat lebah bagi kehidupan (QS An-Nahl [16]:68-69)

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Arab-Latin: Wa auḥā rabbuka ilan-naḥli anittakhiżī minal-jibāli buyụtaw wa minasy-syajari wa mimmā ya’risyụn

Artinya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Arab-Latin: ṡumma kulī ming kulliṡ-ṡamarāti faslukī subula rabbiki żululā, yakhruju mim buṭụnihā syarābum mukhtalifun alwānuhụ fīhi syifā`ul lin-nās, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yatafakkarụn

Artinya: Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Sumber dan Kontributor

Pengunjung: 0 Hari Ini: 0

Pencarian

Bagikan Info

Facebook
WhatsApp
Pinterest
Twitter
Telegram
LinkedIn

Bahasan Terpopuler

Informasi Lainnya

Jelajah E-Library

💳 Donasi via PayPal 🤲 Dukung via Kitabisa
error: Content is protected !!

Permintaan Ditolak

Akses ditolak karena tautan yang dituju tidak tersedia. Terima kasih.

Gerakan Indonesia Pintar

Dukung Gerakan Indonesia Pintar untuk membantu jutaan anak Indonesia mendapatkan akses bacaan gratis berkualitas.

Logo Gerakan Indonesia Pintar