Air Kehidupan (The Water of Life)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaRaja yang Jatuh Sakit
Istana yang biasanya ramai menjadi hening. Para pelayan berjalan berjingkat, dan para tabib hanya menggeleng. Setiap hari keadaan raja bertambah lemah, dan semua orang mulai kehilangan harapan.
Dahulu ada seorang raja yang jatuh sakit begitu parah. Tak seorang pun berani berharap ia bisa sembuh. Ketiga putranya sangat sedih dan berjalan di taman istana sambil menangis.
Seorang lelaki tua menghampiri mereka dan bertanya apa yang mereka tangisi. Mereka menjawab bahwa ayah mereka sakit dan tampaknya tak ada obat. Lelaki tua itu berkata, "Ada satu obat yang mungkin menolong. Namanya Air Kehidupan."
"Tetapi air itu sulit ditemukan," lanjutnya. Putra sulung berkata, "Aku akan mencarinya." Ia menemui ayahnya dan memohon izin. "Jalan itu penuh bahaya," kata raja. Namun sang pangeran terus memohon hingga raja mengizinkan.
02Bagian CeritaKurcaci di Jalan Setapak
Putra sulung memacu kudanya dengan cepat. Ia merasa dirinya yang paling pantas menjadi penyembuh ayahnya. Di jalan setapak, ia berpapasan dengan seorang kurcaci kecil yang berdiri di tengah jalan.
"Hendak ke mana kamu terburu-buru?" tanya kurcaci itu. Pangeran menjawab dengan angkuh, "Bodoh, mengapa kamu perlu tahu? Minggir!" Lalu ia melanjutkan perjalanan tanpa menoleh.
Kurcaci itu menatapnya dengan sedih. Ia marah, dan ia mengucapkan sebuah sihir. Tak lama kemudian, jalan setapak menyempit dan pegunungan merapat di kiri dan kanan. Pangeran terjebak di sebuah celah sempit, dan ia tidak bisa maju atau mundur.
Sesudah itu, kurcaci kembali berdiri di jalan setapak, menunggu pengelana berikutnya. Ia tidak membenci siapa pun. Ia hanya ingin tahu siapa yang masih memiliki hati yang baik.
03Bagian CeritaKakak Kedua Mengulang Kesalahan
Karena kakaknya tidak pulang, putra kedua berkata, "Sekarang giliranku." Ia berharap bisa mendapatkan Air Kehidupan sendirian dan mendapat semua pujian.
Di jalan yang sama, ia bertemu kurcaci itu. Kurcaci bertanya lagi, "Hendak ke mana kamu terburu-buru?" Pangeran kedua menjawab lebih kasar. "Hai, makhluk kecil! Itu bukan urusanmu!" Ia meninggalkan kurcaci itu tanpa menoleh.
Nasibnya sama dengan sang kakak. Ia melangkah masuk ke celah gunung yang semakin sempit, dan tak lama kemudian ia pun terperangkap. Begitulah nasib orang yang terlalu angkuh.
Di dalam celah itu, kedua pangeran bertemu. Mereka saling menyalahkan dan berteriak, tetapi tak ada yang mendengar. Mereka baru menyadari bahwa kata-kata kasar mereka telah membawa akibat yang sangat pahit.
04Bagian CeritaSi Bungsu yang Sopan
Akhirnya si bungsu meminta izin kepada ayahnya. "Aku akan mencari Air Kehidupan," katanya. Raja awalnya tidak setuju, tetapi ia melihat kesungguhan di mata putranya. Ia akhirnya mengizinkan.
Di jalan setapak yang sama, ia bertemu kurcaci itu. "Hendak ke mana kamu terburu-buru?" Si bungsu berhenti dan menjawab dengan sopan. "Ayahku sedang sakit parah. Aku ingin menemukan Air Kehidupan untuknya. Apakah kamu tahu di mana tempatnya?"
Kurcaci itu tersenyum. "Sebab kamu bersikap sopan dan tidak sombong, aku akan membantu. Air itu ada di sebuah istana yang terkunci dan diberi sihir."
"Ambillah tongkat ini dan dua roti ini, dan dengarkan pesanku dengan baik." Si bungsu mengangguk. Ia membungkuk hormat karena merasa sangat berterima kasih.
05Bagian CeritaTongkat Besi dan Dua Roti
Kurcaci memberinya sebuah tongkat besi dan dua potong roti kecil. "Ketuklah pintu istana itu tiga kali dengan tongkat ini, maka pintunya akan terbuka. Di dalam ada dua singa yang menjaga. Lemparkan satu roti ke tiap singa, maka mereka akan tenang."
"Tetapi ingat," pesan kurcaci, "kamu harus keluar sebelum lonceng berbunyi dua belas kali. Kalau tidak, pintu akan tertutup dan kamu akan terkurung selamanya."
Si bungsu berterima kasih dan menyimpan pesan itu baik-baik. Ia lalu melanjutkan perjalanan sampai tiba di depan gerbang istana yang tinggi dan dingin.
06Bagian CeritaIstana yang Terkunci
Ia mengetuk pintu tiga kali dengan tongkat besi. Pintu terbuka perlahan. Di dalam, dua singa besar menggeram. Si bungsu melemparkan roti kepada masing-masing singa, dan mereka pun tenang.
Ia melangkah ke ruang-ruang istana yang sunyi. Di sana ia melihat banyak pangeran duduk seperti patung, terkena sihir. Ia mengambil cincin dari jari mereka. Di suatu ruangan, ia menemukan sebilah pedang dan roti di atas meja, lalu membawanya juga.
Di setiap ruangan, udara terasa dingin dan sunyi. Langkah kakinya bergema di lantai batu. Namun si bungsu tetap tenang, sebab ia teringat nasihat kurcaci dan tahu bahwa ia tidak sendirian.
Di ruangan berikutnya, seorang gadis cantik menyambutnya dengan gembira. Ia berkata bahwa si bungsu telah membebaskannya dari sihir. "Kembalilah setahun lagi. Kalau kamu datang, aku akan menjadi istrimu dan kerajaanku menjadi milikmu."
Gadis itu menunjukkan air yang ia cari. Si bungsu mengisi botolnya. Tiba-tiba terdengar lonceng berbunyi. Ia berlari keluar dan sempat melewati pintu tepat ketika dua belas dentang selesai.
07Bagian CeritaMenolong Kakak-Kakak
Di jalan pulang, ia bertemu kurcaci itu lagi. "Aku telah menemukan air itu," kata si bungsu. "Dan aku ingin membebaskan kedua kakakku dari gunung." Kurcaci berkata, "Hati-hati. Hati mereka tidak baik."
Kurcaci itu menatapnya lama. "Kamu punya hati yang lapang," katanya. "Namun tidak semua orang membalas kebaikan dengan kebaikan." Si bungsu hanya tersenyum, sebab baginya mereka tetap saudaranya.
Namun si bungsu tetap memohon, dan kurcaci itu akhirnya membebaskan kedua pangeran. Kedua kakak itu gembira, tetapi diam-diam mereka iri. Mereka berkata dalam hati, "Ia yang mendapat air, dan ayah akan menyayanginya lebih dari kita."
Mereka melanjutkan perjalanan bersama. Di sebuah negeri, mereka menemukan rakyat yang kelaparan dan raja yang tidak berdaya karena perang. Si bungsu memberikan pedang dan roti dari istana itu. Pedang mengalahkan musuh, dan roti memberi makan seluruh rakyat.
Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Si bungsu selalu berbagi makanan dengan kakak-kakaknya dan tidak pernah mengeluh. Namun setiap malam, kedua kakaknya berbisik-bisik di sudut api unggun.
08Bagian CeritaPengkhianatan di Atas Kapal
Ketiganya naik kapal untuk pulang. Di tengah laut, si bungsu tertidur lelap karena lelah. Kedua kakaknya mengambil botol Air Kehidupan dan menggantinya dengan air laut yang asin.
Setibanya di istana, si bungsu memberikan botol itu kepada ayahnya. Raja meminum sedikit, dan tubuhnya justru semakin lemah. Kedua kakak berkata, "Adik kami hendak meracuni Ayah!" lalu mereka memberikan air yang asli kepada raja.
Sang raja terbatuk-batuk dan wajahnya memucat. Semua orang di ruangan itu terkejut. Kedua kakak segera bicara lebih dulu, sebelum si bungsu sempat menjelaskan apa pun.
Raja pun sembuh, dan kedua kakak berpura-pura bergembira. Namun sang raja termakan fitnah. Ia marah kepada si bungsu, dan hatinya menjadi dingin kepadanya.
09Bagian CeritaJalan Emas dan Kebenaran
Kedua kakak menyuruh seorang pemburu membawa si bungsu ke hutan. Namun pemburu itu tidak sanggup. Ia berkata jujur bahwa ia tidak tega. Si bungsu tetap tinggal di hutan dan hidup dalam kesepian.
Sementara itu, sang putri dari istana terkunci membuat sebuah jalan dari emas murni menuju gerbang istananya. Ia berpesan kepada rakyatnya, "Calon suamiku akan datang lurus di tengah jalan. Jika ada yang menyimpang, ia bukan orang yang kutunggu."
Ia menunggu dengan sabar. Setiap hari ia memandang jalan emas itu dari jendela menara. Ia percaya bahwa orang yang berhati tulus akan datang, dan tidak akan melewatkan jalan itu karena rasa takut.
Putra sulung datang lebih dulu. Melihat jalan yang berkilau, ia berpikir, "Sayang sekali kalau kudaku menginjak jalan seindah ini." Ia berbelok ke pinggir dan gagal. Putra kedua melakukan hal yang sama.
Setelah setahun, si bungsu teringat janjinya. Ia berkuda menuju istana itu. Ia hanya memikirkan sang putri, sehingga ia berkuda lurus di tengah jalan emas tanpa menoleh. Pintu gerbang pun terbuka lebar.
10Bagian CeritaKejujuran dan Kesetiaan
Sang putri menyambutnya dengan gembira. Mereka pergi bersama ke istana ayahnya. Si bungsu menceritakan kejadian yang sebenarnya, dan raja pun mengerti bahwa ia telah salah menuduh putranya.
Raja memeluk putra bungsunya dan meminta maaf berkali-kali. Ia mengaku telah percaya begitu saja pada kata-kata orang yang salah. Si bungsu memaafkannya dengan lembut.
Kedua kakak yang licik telah kabur naik kapal dan tidak pernah kembali. Si bungsu dan sang putri menikah, dan mereka memerintah dengan adil.
Pesan Moral
Kerendahan hati dan kesopanan membuka jalan menuju keberhasilan.