Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Angsa Emas (The Golden Goose)

Si bungsu selalu dianggap bodoh oleh keluarganya, tetapi hatinya jauh lebih lapang daripada kepala siapa pun di rumah itu. Ketika ia berangkat ke hutan dengan bekal seadanya, seorang lelaki tua kecil yang kelaparan menyapanya, dan tanpa ragu ia membagi makanannya. Sebagai balasan, lelaki itu menunjukkan sebatang pohon tua yang akarnya menyimpan seekor angsa berbulu emas. Ada satu keanehan: siapa pun yang menyentuh bulunya akan lengket dan tak bisa lepas. Maka sepanjang perjalanan, rombongan orang yang saling menempel di belakang si bungsu makin panjang dan makin kacau, sambil berteriak dan tersandung. Pemandangan lucu itu tiba di sebuah kerajaan yang putrinya tak pernah tertawa. Cerita jenaka dari Grimm ini memperlihatkan bahwa kemurahan hati yang sederhana sering membuka jalan menuju keberuntungan yang tak disangka siapa pun.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Angsa Emas (The Golden Goose)
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaSi Bungsu yang Dianggap Bodoh

Dahulu ada seorang lelaki yang memiliki tiga putra. Yang paling muda dipanggil Si Bungsu. Ia selalu dianggap bodoh oleh keluarganya, dan sering diejek serta disuruh mengerjakan pekerjaan yang paling sulit.

Padahal Si Bungsu tidak bodoh. Ia hanya sederhana dan tidak pandai membanggakan diri. Hatinya lebih lapang daripada kepala siapa pun di rumah itu, dan ia mudah merasa kasihan kepada orang lain.

Ia tidak pernah membalas ejekan kakak-kakaknya. Ia hanya tersenyum, lalu kembali bekerja. Ia yakin hidup akan tetap baik jika ia tidak berhenti berbuat baik.

Setiap malam ia duduk di dekat jendela dan memandang bintang. Ia berharap suatu hari nanti ada yang menghargai kebaikannya.

02Bagian CeritaKakak Sulung di Tengah Hutan

Suatu hari, sang ayah menyuruh anak sulungnya pergi ke hutan untuk menebang kayu. Sang ibu memberinya bekal yang enak, yaitu kue telur dan sebotol anggur, supaya ia tidak kelaparan di jalan.

Di hutan, ia bertemu seorang lelaki tua yang kecil dan berambut kelabu. Lelaki tua itu menyapanya ramah. "Berilah aku sepotong kue dari tasmu dan seteguk anggur. Aku sangat lapar dan haus."

Anak sulung itu menggeleng. "Kalau kuberikan padamu, aku tidak punya apa-apa lagi. Pergi saja!" Ia meninggalkan lelaki tua itu dan mulai menebang pohon.

Namun kapaknya terpeleset, dan lengannya terluka sehingga ia harus pulang. Lelaki tua itu tidak marah, tetapi luka itu terjadi setelah ia menolak berbagi.

03Bagian CeritaKakak Kedua yang Sama Pelitnya

Keesokan harinya, anak kedua yang pergi. Ibunya juga memberinya kue telur dan anggur. Ia bertemu lelaki tua kecil yang sama, yang memintanya sepotong kue dan seteguk anggur.

Anak kedua pun menjawab seperti kakaknya. "Kalau kuberikan, aku akan kekurangan. Pergilah!" Ia meninggalkan lelaki tua itu, lalu mulai menebang pohon.

Tidak lama kemudian, kapaknya mengenai kakinya sendiri. Ia berteriak kesakitan dan harus dibawa pulang. Sekali lagi, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di hutan itu.

04Bagian CeritaBekal Sederhana Si Bungsu

Akhirnya, Si Bungsu berkata, "Ayah, biarkan aku pergi menebang kayu." Ayahnya menjawab, "Kakak-kakakmu terluka. Engkau tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan itu." Namun Si Bungsu terus memohon, dan ayahnya akhirnya mengizinkan.

Ibunya tidak punya banyak bekal, karena kue telur sudah habis. Ia hanya memberikan kue kering yang dibakar di abu, dan sebotol bir asam. Si Bungsu berterima kasih dan pergi ke hutan.

Di sana ia bertemu lelaki tua berambut kelabu itu. "Berilah aku sepotong kuemu dan seteguk minumanmu. Aku sangat lapar," pinta lelaki tua itu.

"Bekalku hanya kue abu dan bir asam," kata Si Bungsu. "Kalau engkau mau, marilah kita makan bersama." Ia mengajak lelaki tua itu duduk di bawah pohon.

Ketika Si Bungsu membuka bekalnya, ia terkejut. Kue kering itu telah berubah menjadi kue telur yang harum, dan bir asam menjadi anggur yang enak. Ia tidak tahu bagaimana hal itu terjadi.

Mereka makan dan minum bersama-sama, dan semua terasa nikmat. Lelaki tua itu tersenyum. "Engkau punya hati yang baik, dan engkau mau berbagi apa yang engkau punya," katanya.

"Aku akan memberimu hadiah. Di dekat sini ada sebatang pohon tua. Tebanglah pohon itu, dan engkau akan menemukan sesuatu di antara akarnya." Setelah itu, lelaki tua itu pun pergi.

05Bagian CeritaAngsa Berbulu Emas

Si Bungsu menebang pohon itu. Ketika pohon itu roboh, ia melihat seekor angsa duduk di antara akarnya. Bulu-bulunya bukan putih biasa, tetapi emas murni yang berkilau.

Ia mengelus bulu angsa itu dengan lembut. Angsa itu tidak takut sedikit pun, seolah-olah sudah lama menunggu seseorang yang baik hati.

Ia mengangkat angsa itu dengan hati-hati dan membawanya bersama. Ia tidak menebang lebih banyak kayu. Ia berpikir bahwa angsa ini akan membawanya ke tempat yang baik.

Ia berjalan ke sebuah penginapan kecil di dekat hutan. Ia bermaksud bermalam di sana, dengan angsa emas yang selalu ia peluk agar tidak hilang.

06Bagian CeritaBulu yang Membuat Lengket

Pemilik penginapan itu memiliki tiga anak perempuan. Ketika melihat angsa emas itu, mereka sangat kagum. Yang sulung berpikir, "Aku ingin sekali memiliki satu bulunya."

Saat Si Bungsu keluar sebentar, si sulung mendekati angsa itu dan memegang sayapnya. Tiba-tiba tangannya lengket dan tidak bisa dilepas. Ia menjerit ketakutan.

Adiknya yang kedua datang. "Aku juga mau satu bulu," katanya. Ia memegang lengan kakaknya untuk menarik, tetapi tangannya juga menempel. Anak yang ketiga datang dan mencoba menolong, dan ia pun ikut menempel.

07Bagian CeritaRombongan yang Menempel

Keesokan paginya, Si Bungsu mengambil angsa itu dan melanjutkan perjalanan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa tiga anak perempuan menempel di belakangnya, dan mereka terpaksa berlari mengikutinya.

Di jalan, seorang pendeta melihat mereka dan berseru marah, "Kalian tidak malu berlari di jalan?" Ia memegang tangan anak yang paling belakang untuk menghentikannya, dan tangannya pun langsung menempel.

Seorang penjaga gereja lewat dan melihat pendeta itu. "Tuan Pendeta, mengapa Anda berlari?" tanyanya. Ia memegang lengan pendeta itu, lalu ikut menempel.

Dua orang petani yang membawa garpu jerami melihat mereka. Mereka ingin menolong, tetapi mereka pun menempel. Rombongan itu makin panjang, berlari, tersandung, dan berteriak dengan kacau.

08Bagian CeritaPutri yang Tidak Pernah Tertawa

Si Bungsu sampai di sebuah kota yang dipimpin seorang raja. Sang raja memiliki putri yang sangat sedih. Ia tidak pernah tertawa, dan tidak ada yang bisa membuatnya tersenyum, sekeras apa pun mereka mencoba.

Raja berjanji, "Siapa pun yang bisa membuat putriku tertawa, dialah yang akan menjadi suaminya." Banyak orang datang dan mencoba, tetapi semuanya gagal.

Ketika Si Bungsu melewati istana dengan angsa emas dan rombongan lengket di belakangnya, sang putri sedang melihat dari jendela. Ia melihat semua orang berlari, tersandung, dan berteriak.

Putri itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, lebih keras dan lebih lama daripada siapa pun yang pernah mendengarnya. Seluruh istana ikut terkejut dan gembira.

09Bagian CeritaSyarat-syarat Sang Raja

Si Bungsu menuntut agar sang putri dijadikan istrinya, sesuai janji raja. Tetapi raja tidak menyukai menantu yang tampak sederhana. Ia mengajukan syarat, "Bawa kepadaku seorang lelaki yang bisa meminum seisi gudang anggur."

Si Bungsu tidak merasa kecil hati. Ia tahu tugas ini sulit, tetapi ia teringat kata-kata lelaki tua di hutan. Ia pun berangkat dengan langkah mantap.

Si Bungsu pergi ke hutan dan menemukan seorang lelaki yang duduk dengan wajah sedih. Lelaki itu berkata, "Aku selalu haus. Seisi tong anggur pun belum cukup." Si Bungsu membawanya ke istana.

Lelaki itu meminum semua anggur di gudang sampai habis. Raja kemudian mengajukan syarat baru, "Bawa kepadaku seorang lelaki yang bisa memakan segunung roti."

Si Bungsu kembali ke hutan dan bertemu lelaki tua kecil yang dulu ia beri makan. Lelaki itu menunjukkan seseorang yang selalu lapar, dan orang itu memakan segunung roti sampai habis.

10Bagian CeritaKapal yang Berlayar di Darat dan Laut

Raja masih belum mau menyerah. Ia meminta sebuah kapal yang bisa berlayar di darat dan di laut. Ia berpikir bahwa Si Bungsu tidak akan sanggup memenuhi syarat yang mustahil itu.

Si Bungsu kembali kepada lelaki tua berambut kelabu. "Karena engkau sudah berbagi makananmu denganku," kata lelaki itu, "aku akan memberimu kapal itu. Semua ini kulakukan karena hatimu baik."

Si Bungsu berterima kasih dengan sungguh-sungguh. Ia tahu bahwa semua pertolongan itu berawal dari sepotong kue abu yang ia bagi di bawah pohon tua.

Kapal itu benar-benar muncul, dan bisa berlayar di darat maupun di laut. Ketika Si Bungsu membawanya ke istana, raja tidak punya alasan lagi untuk menolak.

Sang putri memandang Si Bungsu dengan senyum hangat. Ia melihat bahwa lelaki sederhana itu berhati baik, dan ia tidak keberatan sedikit pun dengan pilihan itu.

Pernikahan pun diadakan. Si Bungsu menikah dengan sang putri, dan sepeninggal raja, ia menjadi raja negeri itu. Ia memerintah dengan adil, dan hidup bahagia bersama istrinya.

Si Bungsu yang dulu dianggap bodoh ternyata sangat bijak. Dengan hati yang murah dan tangan yang mau berbagi, ia mendapat keberuntungan yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.

Kebaikan hati yang sederhana akan dibalas dengan keberuntungan yang tak terduga.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Kebaikan hati akan dibalas dengan keberuntungan.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)