Burung Emas (The Golden Bird)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaApel Emas yang Hilang
Pohon itu berdiri di tengah kebun, dan daunnya bergemerisik lembut ditiup angin. Anak-anak istana sering bermain di bawahnya. Karena itu, kehilangan apel emas terasa seperti kehilangan sahabat lama.
Di belakang istana seorang raja tumbuh sebuah pohon apel yang ajaib. Buahnya terbuat dari emas. Sang raja sangat menyayanginya dan menghitung apel itu setiap pagi dengan hati riang.
Suatu pagi, ia menemukan satu apel telah hilang. Esok harinya, hilang lagi satu. Setiap malam ada tangan tak dikenal yang memetik apel emas itu, dan sang raja mulai gelisah.
02Bagian CeritaTiga Pangeran Berjaga
Raja memanggil ketiga putranya. Ia meminta mereka bergiliran menjaga kebun pada malam hari. Putra sulung berangkat lebih dulu, membawa selimut dan tekad yang besar.
Namun menjelang tengah malam, matanya berat sekali. Ia bersandar di batang pohon dan tertidur pulas. Pagi harinya, satu apel emas kembali lenyap.
Malam berikutnya, putra kedua yang berjaga. Ia juga berjanji tidak akan tidur. Tetapi angin malam terasa begitu nyaman, dan ia pun terlelap seperti kakaknya. Satu apel emas lagi hilang.
Pada malam ketiga, giliran si bungsu. Kedua kakaknya tertawa kecil. "Kalau kami saja tidak sanggup, apalagi kamu," kata mereka. Si bungsu tidak menjawab. Ia hanya duduk tegak di bawah pohon.
03Bagian CeritaSehelai Bulu Bercahaya
Ketika tengah malam tiba, si bungsu menahan kantuk dengan mengingat tugasnya. Tiba-tiba terdengar desir sayap. Seekor burung bersinar seperti matahari kecil turun ke dahan dan hendak memetik sebuah apel.
Si bungsu bergerak cepat dan mencoba menangkapnya. Burung itu terbang menjauh. Yang tertinggal di tangan si bungsu hanyalah sehelai bulu emas yang berkilau lembut.
Pagi harinya, ia menunjukkan bulu itu kepada sang raja. Semua penasihat istana berkumpul untuk melihatnya. Mereka sepakat bahwa bulu itu lebih berharga daripada seluruh isi kerajaan.
Sang raja memegang bulu itu di bawah sinar matahari. Cahayanya menari di dinding ruangan. Si bungsu merasa bangga, tetapi ia juga sadar bahwa ia belum menyelesaikan tugasnya.
"Kalau sehelai bulu saja seindah ini," kata raja, "aku ingin memiliki burungnya." Maka ia mengutus putra sulungnya mencari burung emas itu.
04Bagian CeritaRubah di Tepi Hutan
Putra sulung berjalan dengan penuh percaya diri. Di tepi hutan, ia melihat seekor rubah duduk di semak-semak. Ia mengangkat busurnya dan bersiap membidik.
"Jangan panah aku," kata rubah itu. Pangeran terkejut mendengar hewan bisa berbicara. "Aku akan memberimu nasihat. Nanti kamu akan tiba di sebuah desa dengan dua penginapan. Yang satu terang dan ramai. Jangan masuk ke sana. Pilihlah yang kecil dan tampak buruk."
Pangeran mengira rubah itu hanya berbicara omong kosong. Ia menurunkan busurnya, lalu meneruskan perjalanan tanpa berterima kasih.
05Bagian CeritaDua Penginapan
Sore hari, ia sampai di desa yang dimaksud. Dari penginapan besar terdengar musik dan tawa. Aroma masakan lezat memenuhi jalan. Di seberangnya, ada penginapan kecil yang sepi dan bercat pudar.
"Mengapa aku harus tidur di tempat yang buruk?" pikirnya. Ia pun masuk ke penginapan yang ramai. Ia makan, menari, dan bersenang-senang. Ia lupa pada burung emas, lupa pada ayahnya, dan lupa pada tugasnya.
Waktu berlalu, dan sang raja menunggu tanpa kabar. Akhirnya ia mengutus putra kedua. Rubah itu kembali muncul di tepi hutan dan memberi nasihat yang sama. Putra kedua juga menepisnya, lalu ikut tersesat dalam kesenangan yang sama.
06Bagian CeritaSi Bungsu yang Mau Mendengar
Sementara itu, di istana, sang raja mulai murung. Setiap hari ia memandangi jalan yang menuju hutan. Ia berharap ada seorang putranya yang pulang membawa kabar baik, tetapi jalan itu tetap sepi.
Barulah si bungsu meminta izin berangkat. Raja awalnya ragu, sebab ia paling muda. Tetapi si bungsu bersikeras, dan akhirnya raja mengizinkan.
Di tepi hutan, rubah itu muncul lagi. Kali ini si bungsu tidak mengangkat busur. Ia menyapa dengan ramah dan bertanya apa yang bisa ia lakukan.
"Kamu baik hati," kata rubah. "Naiklah ke ekorku, dan aku akan mengantarmu. Dengarkan baik-baik. Di desa nanti, pilihlah penginapan yang kecil dan sederhana."
Si bungsu mengangguk. Di desa itu ia melihat penginapan besar yang riuh. Dari dalamnya terdengar suara kedua kakaknya. Hatinya sempat tergoda, tetapi ia teringat pesan rubah dan masuk ke penginapan kecil. Di sana ia tidur nyenyak dan bangun dengan tenang.
07Bagian CeritaSangkar Kayu dan Sangkar Emas
Rubah membawa si bungsu berlari melewati ladang, sungai, dan bukit. Angin bertiup di telinga mereka. Menjelang senja, mereka tiba di depan sebuah istana yang sunyi.
Keesokan harinya, rubah menjelaskan langkah berikutnya. "Ada sebuah istana. Semua penjaganya akan tertidur saat kamu lewat. Di dalamnya ada burung emas di sangkar kayu yang jelek. Di sampingnya ada sangkar emas yang indah. Jangan pindahkan burung itu ke sangkar emas."
Semua terjadi seperti kata rubah. Namun ketika si bungsu melihat burung indah itu di sangkar kayu yang usang, ia merasa kasihan. Ia berpikir burung seindah itu pantas tinggal di sangkar emas.
Begitu burung itu ia pindahkan, burung itu berkicau nyaring. Para penjaga terbangun dan menangkap si bungsu. Ia dibawa menghadap raja istana itu.
"Aku bisa memaafkanmu," kata raja tersebut, "jika kamu membawakan kuda emas dari istana lain." Rubah menemuinya dan menyesalkan keputusan itu. Ia menasihatinya lagi. Kali ini si bungsu harus memilih pelana kulit yang sederhana, bukan pelana emas.
Namun si bungsu kembali tergoda oleh pelana emas yang berkilau. Ia menyentuhnya, dan kuda itu meringkik. Sekali lagi ia tertangkap. Kali ini raja istana kuda berkata, "Bawakan putri dari istana ketiga, maka kamu boleh pergi."
Rubah tetap menolongnya, meski sambil menggeleng. "Kamu boleh membawa sang putri. Tetapi jangan biarkan ia berpamitan kepada orang tuanya. Pergilah cepat."
Sang putri ternyata sedih dan meminta izin mengucapkan selamat tinggal. Si bungsu tidak tega menolak. Pada saat itu pula ia tertangkap lagi. Raja istana itu memberinya tugas yang sulit: memindahkan sebuah bukit yang menghalangi jendela.
Rubah datang dan menyelesaikan tugas itu dengan kekuatan ajaibnya. Setelah itu, si bungsu mendapat kuda emas, sang putri, dan burung emas. Ia pun berangkat pulang, ditemani rubah.
08Bagian CeritaDua Kakak di Persimpangan
Mereka menempuh perjalanan pulang dengan gembira. Sang putri duduk di punggung kuda emas, dan burung emas bertengger di pundak si bungsu.
Di tengah jalan, rubah memberi peringatan terakhir. "Jangan menebus siapa pun yang sedang dihukum, dan jangan duduk di tepi sumur." Si bungsu berjanji mengingatnya.
Di sebuah kota, ia bertemu kedua kakaknya yang terjerat masalah dan tak mampu pulang. Hatinya iba. Ia melunasi utang mereka dan membawa mereka bersamanya. Kedua kakaknya diam-diam iri melihat kuda emas, sang putri, dan burung emas.
Ketika mereka beristirahat di dekat sumur, si bungsu lupa nasihat rubah. Ia duduk di tepinya, dan kedua kakaknya mendorongnya ke dalam. Mereka membawa sang putri, kuda, dan burung emas pulang, sambil mengancam sang putri agar diam.
09Bagian CeritaSumur, Rubah, dan Kebenaran
Untunglah rubah itu tidak pernah jauh. Ia mendengar teriakan si bungsu dan menariknya keluar dari sumur. "Sudah kuperingatkan," katanya lembut. "Tetapi sekarang, mari kita pulang."
Si bungsu menyamar sebagai pengembara dan tiba di istana. Kuda emas tidak mau makan. Burung emas tidak mau berkicau. Sang putri menangis setiap hari.
Ketika mereka melihat si bungsu, kuda itu makan, burung itu berkicau, dan sang putri tersenyum lega. Ia menceritakan semuanya kepada raja. Kedua kakaknya ketakutan, lalu lari meninggalkan istana.
10Bagian CeritaRubah yang Menjadi Sahabat
Di tepi hutan, rubah memanggil si bungsu untuk terakhir kali. "Tolong tembak aku dan potong kepala serta kakiku. Itulah caranya membantuku."
Si bungsu menolak. "Aku tidak mungkin menyakiti sahabatku." Namun rubah meminta sekali lagi dengan sungguh-sungguh. Dengan hati berat, si bungsu menuruti permintaan itu.
Seketika rubah itu berubah menjadi seorang pemuda. Ia adalah saudara sang putri, yang selama ini terkena sihir. Semua kembali gembira, dan pesta besar diadakan di istana.
Sang raja memeluk putra bungsunya dengan mata berkaca-kaca. Ia sadar bahwa yang pulang membawa kebahagiaan bukanlah putra yang paling gagah, melainkan yang paling mau mendengar.
Malam itu, seluruh istana bercahaya. Kuda emas meringkik riang di kandang, burung emas berkicau merdu, dan lonceng-lonceng berbunyi. Belum pernah kebun raja terasa sebahagia itu.
Si bungsu hidup bahagia bersama sang putri. Ia tidak pernah lupa bahwa jalan yang tampak mudah sering kali menyesatkan. Ia juga ingat bahwa nasihat baik lebih berharga daripada emas.
Pesan Moral
Dengarkan nasihat baik dan jangan tergesa-gesa oleh keserakahan.