Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Cinderella (Aschenputtel)

Sepeninggal ayahnya, seorang gadis baik hati tinggal di rumahnya sendiri sebagai pelayan bagi ibu tiri dan dua saudara tirinya. Ia bekerja dari pagi hingga malam dan tidur di dekat perapian, sampai orang-orang memanggilnya Aschenputtel, si gadis abu. Ketika sang pangeran mengadakan pesta dansa selama beberapa malam, ia dilarang ikut. Namun di pusara ibunya tumbuh sebatang pohon hazel, dan burung-burung putih di dahannya menjatuhkan gaun serta sepatu yang berkilau untuknya. Berkali-kali ia menari bersama sang pangeran, lalu menghilang sebelum ada yang sempat mengikutinya pulang. Salah satu sepatunya akhirnya tertinggal, dan sang pangeran berkeliling mencari pemilik kaki yang cocok. Kisah Grimm ini menunjukkan bahwa kebaikan hati dan kesabaran dapat bertahan menghadapi perlakuan yang tidak adil.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Cinderella (Aschenputtel)
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaGadis yang Tidur di Dekat Perapian

Rumah itu dulu penuh tawa. Sekarang, dindingnya terasa dingin bagi si gadis kecil, dan langkahnya menjadi pelan.

Di sebuah rumah besar di tepi kota, tinggallah seorang gadis yang sangat baik hati. Ibunya telah meninggal, dan sebelum pergi, sang ibu berpesan agar ia selalu berbuat baik dan tetap setia pada hatinya.

Gadis itu menyimpan pesan tersebut baik-baik. Setiap hari ia mengingatnya, bahkan ketika hidupnya menjadi sangat sulit.

Tak lama kemudian, ayahnya menikah lagi. Ibu tiri yang baru datang bersama dua putrinya. Wajah mereka cantik, tetapi hati mereka keras dan suka mengejek.

02Bagian CeritaNama Baru dari Abu

Begitu sang ayah pergi jauh untuk urusan dagang, keadaan berubah. Gaun-gaun gadis itu diambil dan diganti dengan baju kelabu yang sudah lusuh. Ia diberi sepasang sepatu kayu yang keras.

"Anak semanis ini tidak pantas duduk di ruang tamu," kata ibu tiri. "Tempatnya di dapur."

Sejak hari itu ia bekerja dari pagi sampai malam. Ia menimba air, menyalakan api, memasak, dan mencuci. Kedua saudara tirinya sering menumpahkan lentil ke dalam abu, lalu menyuruhnya memungut satu per satu.

Ketika lelah, ia tidur di dekat perapian. Pagi harinya wajah dan bajunya penuh abu. Karena itu semua orang memanggilnya Aschenputtel, yang berarti si gadis abu.

Meski begitu, ia tidak pernah membalas ejekan dengan ejekan. Ia bekerja sambil bernyanyi lirih, mengingat wajah ibunya.

03Bagian CeritaRanting Hazel di Pusara Ibu

Suatu hari sang ayah bersiap pulang dari kota. Ia bertanya kepada tiga anak perempuannya, oleh-oleh apa yang mereka inginkan.

Kedua saudara tiri meminta gaun indah dan perhiasan. Aschenputtel hanya berkata, "Ayah, petikkan saja ranting pertama yang menyentuh topi Ayah dalam perjalanan pulang."

Ranting yang menyentuh topi ayahnya berasal dari pohon hazel. Aschenputtel membawanya ke pusara ibunya dan menanamnya di sana. Ia menyiraminya dengan air mata setiap kali ia merindukan sang ibu.

Ayahnya tidak tahu betapa sulit hidup putrinya di rumah. Aschenputtel tidak ingin membuatnya khawatir, jadi ia menyimpan semuanya sendiri.

Ranting itu tumbuh menjadi pohon hazel yang rindang. Dua kali sehari Aschenputtel datang untuk menangis dan berdoa. Setiap kali, seekor burung putih kecil hinggap di dahan itu. Jika gadis itu menyebutkan sebuah keinginan, sang burung menjatuhkan apa yang ia minta.

Pohon itu menjadi satu-satunya tempat di mana Aschenputtel merasa didengarkan. Di bawah dahannya, ia bisa bercerita tanpa takut ditertawakan.

04Bagian CeritaPesta Sang Pangeran

Sejak hari itu, kedua saudara tiri sibuk mengurus rambut dan gaun. Aschenputtel membantu menyisir rambut mereka dan mengikat pita, walaupun hatinya sedih.

Kabar besar datang dari istana. Sang pangeran akan mengadakan pesta dansa selama tiga malam, dan semua gadis di negeri itu diundang agar ia bisa memilih pendamping.

Aschenputtel ingin sekali ikut. Ia memohon kepada ibu tirinya, "Bolehkah aku pergi juga?"

Ibu tiri menunjuk sebuah mangkuk berisi lentil yang tercampur di abu. "Kalau kau bisa memungut semuanya dalam dua jam, kau boleh ikut."

Aschenputtel berlari ke halaman dan memanggil, "Burung-burung merpati, burung-burung dara, dan semua burung di langit, tolong aku memungut lentil ini!" Burung-burung pun berdatangan. Dalam sekejap, lentil yang baik sudah terkumpul di dalam mangkuk.

05Bagian CeritaJanji yang Tidak Ditepati

Dengan gembira Aschenputtel membawa mangkuk itu kepada ibu tirinya. Ia mengira dirinya akan diizinkan pergi.

Namun ibu tirinya menggeleng. "Kau tidak punya gaun, dan kau tidak bisa menari. Kami akan malu kalau kau ikut." Lalu ia memberikan tugas yang lebih berat lagi. Kali ini mangkuknya penuh dua kali lipat.

Burung-burung kembali menolong. Tetapi setelah pekerjaan selesai, janji itu tetap dilanggar. Ibu tiri dan kedua putrinya berangkat ke istana, dan Aschenputtel ditinggal sendirian di rumah.

Ia berlari ke pohon hazel di pusara ibunya, lalu berkata pelan, "Pohon kecilku, goyangkan dahanmu. Jatuhkan gaun emas dan perak untukku."

06Bagian CeritaGaun Berkilau dari Burung Putih

Malam itu terasa sunyi di rumah. Namun di dekat pohon hazel, angin bertiup lembut, seakan menyambut kedatangan Aschenputtel.

Burung putih itu menjatuhkan sebuah gaun berkilau dan sepasang sepatu yang dijahit dengan benang perak. Aschenputtel segera memakainya dan berangkat menuju istana.

Ketika ia masuk ke aula, semua orang terdiam. Ibu tiri dan saudara-saudaranya tidak mengenalinya. Mereka mengira ia seorang putri dari negeri yang jauh.

Sang pangeran menghampirinya dan mengulurkan tangan. Sepanjang malam ia menari hanya dengan gadis itu. Setiap kali ada orang lain yang ingin mengajaknya berdansa, sang pangeran berkata, "Ia menari denganku."

Musik mengalun, lampu-lampu berkilau, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aschenputtel tersenyum tanpa rasa takut.

Menjelang malam, Aschenputtel berkata bahwa ia harus pulang. Pangeran ingin mengantarnya, tetapi gadis itu melesat pergi dan bersembunyi di kandang merpati di belakang rumahnya.

Sang pangeran mengikutinya sampai ke rumah itu. Ia bertanya kepada sang ayah, apakah gadis asing tadi masuk ke dalam. Ayahnya bingung, lalu memeriksa kandang merpati, tetapi tak ada siapa pun di sana.

07Bagian CeritaTiga Malam, Tiga Gaun

Pada malam kedua dan ketiga, semuanya terulang. Setiap kali Aschenputtel pergi ke pohon hazel, sang burung putih menjatuhkan gaun yang lebih indah dari sebelumnya. Setiap kali pula ia menari bersama pangeran, lalu menghilang sebelum ada yang tahu siapa dirinya.

Sang pangeran sangat penasaran. Pada malam ketiga ia sudah menyiapkan sesuatu. Ia menyuruh tangga istana dilumuri getah pohon yang lengket.

Aschenputtel berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Salah satu sepatu emasnya menempel di getah itu dan tertinggal di sana. Ia terus berlari sampai tiba di rumah, lalu memakai kembali bajunya yang kelabu.

Sang pangeran memungut sepatu itu. Kecil, ramping, dan berkilau seperti emas.

Ia menyimpannya seperti harta berharga. Sepanjang malam ia memikirkan gadis yang menghilang itu, dan ia berjanji akan menemukannya.

08Bagian CeritaSepatu yang Mencari Pemiliknya

Seluruh rumah menjadi ramai. Ibu tiri menyuruh putri-putrinya bersiap, dan Aschenputtel hanya bisa mengintip dari balik pintu dapur.

Keesokan harinya sang pangeran datang ke rumah sang ayah. "Aku hanya akan menikah dengan gadis yang kakinya cocok dengan sepatu ini," katanya.

Kedua saudara tiri sangat gembira. Yang tertua masuk ke kamar dan mencoba sepatu itu. Namun kakinya terlalu besar. Ia menekan dan memaksa, tetapi sepatu itu tetap tidak muat.

Saudara yang kedua juga mencoba, dan hasilnya sama. Sepatu itu terlalu kecil untuknya. Kedua gadis itu tampak kecewa dan malu.

Ibu tiri mendesak mereka mencoba lagi, tetapi tidak ada gunanya. Kaki tidak bisa dipaksa menjadi lebih kecil.

"Apakah tidak ada gadis lain di rumah ini?" tanya pangeran.

"Hanya seorang gadis dapur yang kotor," jawab sang ayah. "Tetapi ia tidak mungkin pemilik sepatu itu." Sang pangeran tetap meminta agar ia dipanggil.

09Bagian CeritaKaki yang Cocok

Aschenputtel membasuh wajah dan tangannya, lalu datang dan memberi hormat. Sang pangeran memberikan sepatu emas itu. Ia duduk di bangku, melepas sepatu kayunya yang berat, dan memasukkan kakinya.

Sepatu itu pas seperti dibuat khusus untuknya. Ketika ia berdiri dan sang pangeran menatap wajahnya, pangeran langsung mengenalinya.

"Inilah gadis yang menari denganku," katanya dengan lega.

Ibu tiri dan kedua saudaranya pucat karena terkejut. Mereka tidak bisa berkata apa-apa. Sang pangeran mengangkat Aschenputtel ke atas kudanya, lalu membawanya pergi.

Saat mereka melewati pohon hazel di pusara sang ibu, dua burung putih terbang ke bahu Aschenputtel. Seolah-olah ibunya sedang tersenyum menyaksikan hari bahagia itu.

10Bagian CeritaKebaikan yang Berbuah

Pada hari pernikahan, kedua saudara tiri datang dengan wajah manis. Mereka ingin ikut menikmati keberuntungan Aschenputtel. Namun burung-burung yang dulu menolong Aschenputtel juga ikut hadir di sana.

Burung-burung itu terbang di atas kepala kedua saudara tiri dan membuat mereka ketakutan. Sejak hari itu, orang-orang tahu bahwa niat yang tidak jujur akan kembali kepada pemiliknya sendiri.

Ia mengenang bahwa ibunya pernah berpesan agar ia tetap baik. Kini ia mengerti bahwa pesan itu tidak pernah salah.

Aschenputtel tidak membalas dengan kemarahan. Ia hanya menjalani hidup barunya dengan tenang. Kebaikan yang ia jaga selama bertahun-tahun di dapur yang penuh abu ternyata tidak sia-sia.

Kesabaran yang tidak pernah goyah membawanya sampai ke istana. Dan di pohon hazel, burung putih itu terus bernyanyi untuk mengenang sang ibu.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Kebaikan dan kesabaran akan berbuah manis pada akhirnya.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)