Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Dua Belas Putri Penari (The Twelve Dancing Princesses)

Seorang raja heran melihat sepatu kedua belas putrinya usang setiap pagi, padahal kamar mereka dikunci rapat sepanjang malam. Ia mengumumkan bahwa siapa pun yang dapat mengungkap rahasia itu akan boleh memilih salah satu putrinya, sedangkan yang gagal akan dihukum. Banyak pangeran mencoba dan gagal. Seorang prajurit tua yang pulang dari perang menerima nasihat dari seorang perempuan tua dan sehelai jubah yang membuatnya tak terlihat. Ia berpura-pura tertidur, lalu mengikuti para putri melewati sebuah pintu rahasia menuju dunia bawah tanah yang indah. Di sana mereka menari semalam suntuk di tepi danau. Kisah Grimm ini mengandalkan kejujuran, ketekunan, dan kewaspadaan seorang prajurit yang sederhana.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Dua Belas Putri Penari (The Twelve Dancing Princesses) – Dongeng Klasik | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaSepatu yang Selalu Berlubang

Pada suatu masa, ada seorang raja yang memiliki dua belas putri. Semuanya cantik, dan semuanya tidur di satu kamar besar. Dua belas ranjang berjajar rapi di sana, seperti barisan perahu kecil yang tenang.

Setiap malam, pintu kamar itu dikunci dari luar. Raja sendiri yang memastikan gerendelnya terpasang. Tidak ada satu pun orang yang bisa masuk, dan tidak ada satu pun putri yang bisa keluar.

Namun setiap pagi, sang raja menemukan hal yang aneh. Sepatu dansa kedua belas putrinya sudah usang. Talinya kendur, dan telapaknya berlubang, seolah mereka berdansa sepanjang malam.

Raja bertanya kepada para putrinya. Mereka hanya saling memandang dan menggeleng. "Kami tidur nyenyak, Ayah," jawab mereka. Raja tahu ada yang tidak beres, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.

02Bagian CeritaSayembara di Gerbang Istana

Akhirnya raja mengumumkan sebuah sayembara ke seluruh negeri. Siapa pun yang dapat menemukan tempat para putri berdansa akan boleh memilih satu putri untuk menjadi istrinya. Kelak ia juga akan menjadi raja.

Namun ada syaratnya. Orang yang mencoba selama tiga malam dan gagal akan kehilangan kesempatan dan harus menerima hukuman. Raja ingin sayembara itu dijalani dengan sungguh-sungguh.

Banyak pangeran datang dengan penuh percaya diri. Mereka diberi kamar kecil di sebelah kamar para putri. Pintunya dibiarkan terbuka agar mereka bisa mengawasi.

Tetapi setiap pangeran tertidur pulas sebelum tengah malam. Pagi harinya, mereka melihat sepatu para putri sudah berlubang lagi, sedangkan mereka tidak tahu apa-apa. Satu demi satu para pangeran gagal dan pergi dengan kepala tertunduk.

03Bagian CeritaPrajurit Tua yang Pulang dari Perang

Suatu hari, seorang prajurit tua berjalan di jalan yang berdebu. Ia baru pulang dari perang. Tubuhnya lelah, dan kantongnya nyaris kosong. Ia tidak punya rumah yang menunggunya, tetapi ia punya hati yang sabar.

Di tengah hutan, ia bertemu seorang perempuan tua. "Ke mana engkau pergi, Prajurit?" tanyanya. Prajurit itu menjawab jujur bahwa ia sendiri belum tahu. Lalu ia tertawa kecil dan berkata bahwa mungkin ia akan mencoba menemukan rahasia para putri.

Perempuan tua itu mengangguk pelan. "Itu tidak sulit," katanya. "Tetapi dengarkan baik-baik. Jangan minum anggur yang diberikan para putri padamu. Berpura-puralah tertidur."

Lalu ia memberikan sehelai jubah kecil. "Pakailah ini, dan tak seorang pun dapat melihatmu." Prajurit itu berterima kasih. Hatinya menjadi lebih ringan, dan ia melanjutkan perjalanan ke istana.

04Bagian CeritaAnggur yang Tidak Diminum

Raja menyambut sang prajurit dengan baik, walaupun pakaiannya sudah lusuh. Ia diberi kamar kecil di sebelah kamar para putri. Malam itu, putri sulung membawakan segelas anggur.

Prajurit itu menerima gelas tersebut dengan sopan. Tetapi ia sudah mengikatkan sebuah spons kecil di bawah dagunya. Diam-diam, ia menuangkan anggur itu ke sana tanpa meneguk setetes pun.

Lalu ia berbaring dan mulai mendengkur keras-keras. Dari kamar sebelah, terdengar suara tawa pelan. "Dia sudah tertidur," bisik putri sulung. "Anak bodoh yang malang."

Prajurit itu tetap memejamkan mata, tetapi telinganya sangat waspada. Ia menghitung langkah kaki dan suara pintu lemari. Ia mendengar para putri membuka lemari dan mengenakan gaun-gaun terbaik mereka. Mereka bersolek di depan cermin sambil tertawa gembira.

05Bagian CeritaPintu Rahasia di Bawah Ranjang

Hanya putri bungsu yang tampak gelisah. Ia berdiri di dekat jendela dan terus memandang ke arah ranjang prajurit itu. "Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres," katanya. "Hatiku tidak tenang." Kakak-kakaknya menjawab bahwa ia terlalu penakut. Tidak ada yang bisa mengganggu mereka.

Setelah semuanya siap, putri sulung mengetuk ranjangnya. Lantai di bawahnya terbuka, dan sebuah tangga muncul. Satu demi satu, para putri menuruni tangga itu, dimulai dari yang tertua.

Prajurit itu segera mengenakan jubahnya. Tubuhnya lenyap dari pandangan. Ia mengikuti putri bungsu dari belakang, tetapi tanpa sengaja ia menginjak ujung gaunnya. "Ada yang menarik gaunku!" seru sang putri.

"Jangan bodoh," kata putri sulung. "Pasti hanya paku yang tersangkut." Mereka pun melanjutkan perjalanan menuruni tangga yang panjang, menuju dunia yang belum pernah dilihat prajurit itu.

06Bagian CeritaHutan Perak, Emas, dan Berlian

Tangga itu sangat panjang dan gelap. Prajurit tua itu menuruninya pelan-pelan, menahan napas agar langkahnya tidak terdengar. Udara di bawah terasa hangat, dan ada cahaya lembut yang tidak berasal dari lampu mana pun.

Di bawah tanah, ada sebuah jalan yang diapit pepohonan. Daun-daunnya terbuat dari perak dan berkilau di bawah cahaya bulan yang aneh. Prajurit itu terpesona, tetapi ia ingat bahwa ia butuh bukti.

Ia mematahkan sebatang ranting kecil. Terdengar bunyi retakan yang nyaring. Putri bungsu terkejut dan berbisik, "Kalian dengar itu? Pasti ada yang tidak beres." Namun putri sulung hanya berkata bahwa itu suara tembakan gembira dari para pangeran.

Mereka terus berjalan. Setelah itu, mereka melewati hutan dengan daun emas, lalu hutan lain dengan daun berlian yang berkilau seperti bintang. Di setiap hutan, prajurit itu mematahkan satu ranting sebagai bukti.

Setiap kali ranting patah, putri bungsu gemetar. Namun kakak-kakaknya selalu menenangkannya, dan mereka tidak pernah mencari penyebab suara itu. Mereka terlalu ingin segera sampai ke tempat berdansa. Bagi mereka, malam itu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan rasa cemas.

07Bagian CeritaDua Belas Perahu di Tepi Danau

Akhirnya mereka tiba di tepi sebuah danau yang luas. Di sana, dua belas perahu kecil sudah menunggu. Di setiap perahu duduk seorang pangeran yang menyambut satu putri.

Prajurit itu naik ke perahu putri bungsu. Pangeran yang mendayung berkata heran, "Perahu ini terasa berat sekali malam ini. Aku harus mendayung sekuat tenaga." Putri bungsu menjawab bahwa mungkin udaranya terlalu panas.

Di seberang danau, berdiri sebuah istana yang bercahaya terang. Musik mengalun dari dalam, merdu dan riang. Perahu-perahu berlabuh, dan para putri masuk sambil tertawa bersama para pangeran.

Prajurit itu mengikuti dari belakang. Ia berdiri di sudut ruangan tanpa terlihat. Para putri mulai berdansa, berputar, dan melompat sampai lupa waktu. Ia menyaksikan semuanya sambil menghafal setiap detail.

08Bagian CeritaPiala Emas sebagai Bukti

Malam itu para putri berdansa hingga sepatu mereka aus. Ketika fajar hampir tiba, mereka harus pulang. Prajurit itu berjalan lebih dulu dan mendahului mereka menaiki tangga. Ia berbaring kembali di tempat tidurnya dan mendengkur.

Pagi harinya, ia belum mau bicara. Ia ingin melihat lagi, karena ia tidak mau menuduh siapa pun sebelum yakin. Maka pada malam kedua dan ketiga, ia mengikuti para putri dengan cara yang sama. Segalanya berulang, dan ia mengingat semuanya dengan teliti.

Pada malam ketiga, ia membawa sebuah piala emas dari istana bawah tanah itu. Ini akan menjadi bukti terakhir. Putri bungsu kembali gelisah, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa.

Keesokan paginya, prajurit itu menghadap raja bersama tiga batang ranting dan piala emas. Para putri berdiri di belakang, dan wajah mereka tegang. Mereka tahu rahasia mereka sudah terancam.

09Bagian CeritaKebenaran di Hadapan Raja

Pagi itu istana terasa sunyi. Raja duduk di singgasananya, dan para putri berdiri berjajar dengan mata menunduk. Prajurit tua itu melangkah maju. Jubah ajaibnya sudah ia lipat rapi dan disimpan di balik bajunya.

"Nah," kata raja, "di mana putri-putriku berdansa sampai sepatu mereka rusak?" Prajurit itu menjawab dengan tenang, "Di sebuah istana di bawah tanah, bersama dua belas pangeran, Yang Mulia."

Ia lalu menceritakan segalanya. Ia menceritakan pintu rahasia, hutan perak, emas, dan berlian, serta danau dan perahu. Ia menunjukkan ranting-ranting dan piala emas itu sebagai bukti.

Raja memanggil putri-putrinya. Mereka tidak dapat menyangkal lagi, sehingga mereka mengakui semuanya. Karena kejujuran itu, raja tidak menjadi murka. Ia tidak menghukum mereka dengan keras. Ia hanya meminta agar pintu ke dunia bawah tanah ditutup untuk selamanya.

Lalu raja bertanya kepada prajurit itu, "Putri mana yang kau pilih?" Prajurit itu menjawab bahwa dirinya sudah tidak muda lagi. Maka ia memilih putri sulung, yang usianya paling dekat dengannya.

Pernikahan mereka diadakan hari itu juga. Sang prajurit, yang pulang dari perang tanpa apa-apa, kini mendapat rumah dan kerajaan. Semua itu tidak datang dari kekuatan pedang, tetapi dari kejujuran dan kesabarannya.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Kejujuran dan ketekunan mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)