Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Elsi yang Cerdik (Clever Elsie)

Semua orang di rumah itu sepakat bahwa Elsi adalah gadis yang sangat cerdas. Ketika seorang calon suami datang melamar, ayahnya menyuruh Elsi turun ke ruang bawah tanah untuk mengambil bir. Di sana matanya tertumbuk pada sebuah kapak yang tergantung di langit-langit. Ia mulai membayangkan, bagaimana jika kelak kapak itu jatuh menimpa anaknya. Bayangan itu begitu nyata hingga ia duduk dan menangis. Satu per satu orang yang menyusul ke bawah pun ikut terseret oleh pikirannya, dan tangisan pun bertambah ramai. Ruang bawah tanah itu dingin dan sunyi, dan makin lama ia menatap kapak itu, makin dalam pula angan-angannya berkelana ke masa depan yang belum ada. Dongeng Grimm yang jenaka ini dengan halus menyindir kebiasaan mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi, dan menunjukkan betapa mudahnya rasa takut menular dari satu kepala ke kepala yang lain.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Elsi yang Cerdik (Clever Elsie) – Dongeng Klasik tentang Berpikir Kritis | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaGadis yang Katanya Paling Cerdas

Di sebuah desa di Jerman, hiduplah seorang gadis bernama Elsi. Semua orang di desa itu memujinya. "Elsi sangat cerdas," kata mereka. "Ia bisa melihat angin berhembus di jalan dan mendengar lalat batuk."

Ayah dan ibu Elsi sangat bangga. Setiap ada tamu, mereka pasti bercerita tentang kepintaran putri mereka. Elsi sendiri tidak pernah membantah. Ia hanya tersenyum, lalu kembali mengerjakan tugasnya di rumah. Kadang ia juga mulai percaya bahwa dirinya memang lebih pintar daripada semua orang.

02Bagian CeritaTamu yang Datang Melamar

Suatu sore, seorang pemuda bernama Hans datang ke rumah itu. Ia sudah mendengar kabar tentang Elsi dan ingin melamarnya. Ayah Elsi menyambutnya dengan ramah dan mempersilakannya duduk.

"Hans, kau boleh menikahi putriku," kata sang ayah. "Tetapi ia harus benar-benar cerdas." Hans mengangguk. "Aku hanya ingin istri yang pandai," jawabnya sambil tersenyum.

Ibu Elsi menyiapkan makan malam. Ayah Elsi menoleh ke arah dapur dan berkata, "Elsi, pergilah ke ruang bawah tanah. Ambilkan bir untuk tamu kita."

03Bagian CeritaKapak di Langit-Langit

Elsi mengambil sebuah kendi dari rak. Ia menuruni tangga kayu yang sempit menuju ruang bawah tanah. Di sana udaranya dingin dan sunyi. Elsi mengetuk-ngetuk tutup kendi supaya waktunya tidak terbuang.

Setelah tiba di dekat tong bir, ia mengambil kursi kecil dan meletakkannya di depan tong. Ia tidak ingin punggungnya sakit karena membungkuk terlalu lama. Lalu ia memutar keran, dan bir mulai mengalir ke dalam kendi.

Sambil menunggu, Elsi menatap ke sana kemari. Matanya berhenti di langit-langit. Di sana tergantung sebuah kapak besar yang tajam. Tukang kayu tidak sengaja meninggalkannya di sana, dan tidak ada yang ingat mengambilnya.

04Bagian CeritaBayangan yang Menakutkan

Elsi terus menatap kapak itu. Tiba-tiba ia berkata pelan, "Kalau aku menikah dengan Hans, lalu kami punya anak, dan anak itu sudah besar, lalu kami menyuruhnya turun ke ruang bawah tanah untuk mengambil bir..."

"...bagaimana kalau kapak itu jatuh dan menimpa kepalanya?" Elsi menutup mulutnya. Bayangan itu terasa begitu nyata di kepalanya. Ia seakan sudah melihat anaknya yang malang berbaring di lantai.

Elsi pun duduk di kursi kecil itu dan mulai menangis. Air matanya jatuh deras. Bir terus mengalir dari keran, tetapi ia tidak memperhatikannya. Ia hanya memikirkan kesedihan yang belum pernah terjadi.

05Bagian CeritaSatu Demi Satu Menyusul ke Bawah

Di atas, para tamu menunggu. Bir tidak kunjung datang. Ibu Elsi akhirnya berkata kepada pelayan, "Tolong lihat apa yang membuat Elsi lama sekali." Pelayan itu turun menyusuri tangga.

Ia menemukan Elsi sedang menangis di depan tong bir. "Elsi, mengapa kau menangis?" tanya pelayan itu. Elsi menunjuk ke atas. "Lihat kapak itu! Kalau anakku kelak turun ke sini, kapak itu bisa jatuh menimpanya!"

Pelayan itu ikut menatap kapak. "Ya ampun, betapa cerdasnya Elsi," katanya dengan suara bergetar. Ia lalu duduk di samping Elsi dan ikut menangis sampai terisak-isak.

Di atas, tidak ada yang turun-turun lagi. Ibu Elsi mulai gelisah. Ia berkata kepada anak laki-laki di rumah itu, "Pergilah ke bawah dan cari tahu apa yang terjadi." Anak itu menuruni tangga dengan cepat.

Ia menemukan Elsi dan pelayan yang sedang menangis. Setelah mendengar ceritanya, ia pun ikut menangis keras-keras. Ruang bawah tanah yang sunyi itu kini penuh suara tangisan.

06Bagian CeritaTangisan Bertambah Ramai

Akhirnya ibu Elsi sendiri turun. Ia berhenti di anak tangga terakhir dan terkejut melihat tiga orang duduk menangis. "Ada apa ini?" tanyanya. Elsi menjelaskan tentang kapak dan anak yang belum lahir.

Ibu Elsi menatap kapak itu lama sekali. "Kau benar, Elsi," katanya sambil menyeka mata. "Kalau kelak anakmu turun ke sini, kapak itu bisa menimpanya." Lalu ia pun duduk dan ikut menangis.

Ayah Elsi menunggu di ruang tamu bersama Hans. Ia mulai kesal dan cemas. "Kenapa semua orang lama sekali?" gumamnya. "Baiklah, aku sendiri yang akan turun."

Ketika tiba di bawah, ia melihat semua orang menangis. Setelah mendengar sebabnya, ia mengangkat kedua tangannya. "Sungguh bahaya sekali!" serunya. Lalu ia pun ikut menangis bersama mereka.

Kini tinggal Hans yang menunggu sendirian di ruang tamu. Lilin di meja hampir habis, dan tidak ada suara apa pun dari lantai bawah. Rumah itu terasa aneh.

Hans menunggu sendirian di atas. Perutnya mulai lapar, dan ia heran karena rumah itu terlalu sepi. "Sudah lama sekali mereka di bawah," pikirnya. "Aku harus melihat sendiri apa yang terjadi."

Ia menuruni tangga, dan matanya membulat. Keluarga Elsi duduk berjajar sambil menangis tersedu-sedu. Kendi bir sudah hampir meluap. "Ada apa?" tanya Hans. "Apa yang membuat kalian sedih?"

Elsi menjawab dengan suara serak. "Hans, kalau kita menikah dan punya anak, lalu anak kita turun kemari, kapak itu bisa jatuh menimpanya. Bukankah itu mengerikan?"

Hans mendongak dan menatap kapak itu. Ia diam sejenak, lalu menarik napas panjang. Ia tidak ikut menangis. Ia tersenyum kecil dan berkata, "Elsi, kau sudah cukup cerdas untukku."

07Bagian CeritaHari-Hari Sesudah Pernikahan

Hans menikahi Elsi. Sesudah beberapa waktu, ia berkata kepadanya, "Istriku, aku akan pergi bekerja untuk mencari uang. Pergilah ke ladang dan potonglah gandum, supaya kita punya roti."

"Baik, Hans sayang," jawab Elsi. Setelah Hans pergi, ia memasak bubur yang enak. Ia membawa bubur itu ke ladang dan berdiri di antara batang-batang gandum yang tinggi.

Elsi berpikir sejenak. "Apa yang harus kulakukan lebih dulu? Memotong gandum, atau makan bubur?" Ia mengangguk. "Aku makan dulu saja." Ia menghabiskan bubur sampai perutnya penuh.

Tiba-tiba ia merasa mengantuk. "Sekarang aku harus memotong gandum," pikirnya. Namun matanya terasa berat. Ia pun berbaring di antara gandum yang tinggi, lalu tertidur pulas sampai matahari mulai turun.

08Bagian CeritaJaring dengan Lonceng Kecil

Hans pulang, tetapi Elsi tidak ada di rumah. Ia berkata, "Istriku sungguh cerdas dan rajin. Ia bahkan belum pulang." Namun sampai malam Elsi tidak juga muncul, jadi Hans pergi mencarinya.

Ia menemukan Elsi tertidur di ladang, dan gandum di sekitarnya belum terpotong sama sekali. Hans menghela napas. Ia pulang dan mengambil jaring burung yang dipasangi lonceng-lonceng kecil, lalu menyampirkannya di atas tubuh Elsi.

Setelah itu ia pulang lagi, menutup pintu, dan duduk bekerja di dalam rumah. Hari sudah gelap ketika Elsi akhirnya terbangun. Ia bangkit, dan seluruh lonceng berbunyi ting-ting di setiap langkahnya.

09Bagian CeritaApakah Ini Benar-Benar Aku?

Elsi terkejut sekali. Ia mulai bingung. "Apakah ini aku, atau bukan aku?" bisiknya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sebab tidak ada yang bisa memberitahunya. Ia berdiri lama di tengah ladang yang gelap.

Akhirnya ia berpikir, "Aku akan pulang dan bertanya kepada Hans. Ia pasti tahu apakah aku Elsi atau bukan." Ia berjalan ke rumah dan berdiri di dekat jendela. Lonceng-lonceng terus berbunyi.

Ia mengetuk pelan. "Hans, apakah Elsi ada di dalam?" Hans menjawab dari dalam, "Ya, Elsi ada di dalam rumah." Elsi menjadi ketakutan. "Ya ampun, kalau begitu aku bukan Elsi," katanya.

Ia berlari ke rumah-rumah lain di desa itu. Ia mengetuk dari pintu ke pintu, tetapi para tetangga mendengar bunyi lonceng di kegelapan dan tidak berani membuka. Tidak ada yang mau menerimanya. Setiap pintu tetap tertutup, dan setiap jendela tetap gelap.

Elsi terus berlari ke luar desa, dengan lonceng yang berdenting sepanjang jalan. Dongeng ini tidak menceritakan ke mana ia pergi. Sejak malam itu, tidak ada seorang pun di desa yang melihatnya lagi.

Malam itu, kapak itu masih tergantung di langit-langit. Di rumah orang tua Elsi, kapak itu masih tergantung di langit-langit ruang bawah tanah. Tidak pernah ada yang jatuh menimpa siapa pun. Kapak itu hanya diam, sementara orang-orang menangisi sesuatu yang belum ada.

Begitulah kisah Elsi yang cerdik. Ia pintar membayangkan, tetapi lupa melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya. Kita boleh berhati-hati, namun jangan sampai kecemasan menghabiskan hari-hari kita.

Lain kali, saat bayangan menakutkan datang, tariklah napas dan tanyakan, "Apakah ini sudah terjadi?" Dengan begitu kita bisa tersenyum, melakukan yang perlu hari ini, dan tidak menghabiskan waktu untuk mencemaskan hal yang belum tentu terjadi.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Jangan menghabiskan waktu mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)