Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Enam Angsa (The Six Swans)

Sang raja menikah lagi tanpa tahu bahwa istri barunya menyimpan ilmu sihir. Diam-diam sang ratu mengubah keenam putra raja menjadi angsa, sementara putri bungsu yang selamat mengetahui rahasia mengerikan itu. Untuk memulihkan kakak-kakaknya, gadis itu menerima syarat yang berat: selama enam tahun ia tidak boleh bicara maupun tertawa, dan harus menjahit enam kemeja dari bunga aster. Ia bekerja dalam sunyi, bahkan setelah menikah dengan seorang raja yang mencintainya. Ketika ibu mertuanya yang jahat menebar tuduhan demi tuduhan, sang gadis tetap bungkam, memilih menanggung semuanya. Dalam kisah Grimm ini, kesetiaan seorang saudari diuji oleh waktu dan fitnah, dan ketabahannya perlahan menjadi cahaya yang cukup terang untuk mematahkan kutukan yang paling gelap sekalipun.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Enam Angsa (The Six Swans) – Dongeng Klasik tentang Pengorbanan | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaRaja yang Menikah Lagi

Dahulu, hiduplah seorang raja yang memiliki enam putra dan satu putri. Ia sangat menyayangi mereka. Sepeninggal ratu pertamanya, ia menikah lagi. Namun ia tidak tahu bahwa istri barunya diam-diam menyimpan ilmu sihir.

Sang ratu baru tidak menyukai anak-anak raja. Ia melihat mereka sebagai penghalang. Ia berpura-pura bersikap ramah di depan raja. Tetapi di belakangnya, ia mulai menyusun rencana yang sangat jahat untuk enam pangeran itu.

Raja merasa cemas. Ia tidak sepenuhnya percaya kepada istri barunya. Karena itu, ia membawa anak-anaknya ke sebuah istana rahasia di tengah hutan. Jalan menuju istana itu sangat sulit ditemukan, dan hanya ia yang mengetahuinya.

Istana rahasia itu indah dan tenang. Anak-anak raja bermain di taman dan belajar di dalam ruangan yang hangat. Sang putri sering membaca cerita untuk kakak-kakaknya. Mereka hidup rukun, tanpa menyadari bahwa bahaya sedang mendekat.

02Bagian CeritaSihir di Dalam Hutan

Sang ratu mengetahui rahasia itu. Ia menjahit enam kemeja kecil dan memberinya mantra. Lalu ia mengikuti raja ke hutan dan menemukan istana tersembunyi itu. Ketika enam pangeran keluar menyambutnya, ia melemparkan kemeja itu kepada mereka.

Dalam sekejap, keenam pangeran berubah menjadi angsa putih. Mereka mengepakkan sayap dan terbang tinggi melewati pepohonan. Sang ratu tersenyum puas. Ia mengira semua rintangannya sudah hilang, dan ia pulang tanpa rasa bersalah.

Namun sang putri, adik bungsu mereka, tidak ikut keluar. Ia sedang berada di dalam istana dan melihat kejadian itu dari jendela. Ia terkejut dan gemetar. Ia sadar, bahwa hanya ialah yang mengetahui rahasia mengerikan itu.

Ia menangis sebentar, tetapi ia segera menyeka air matanya. Ia teringat wajah kakak-kakaknya, dan ia tahu menangis saja tidak akan menolong. Ia harus bergerak. Ia mengambil selendang, lalu keluar dari istana yang mendadak terasa sunyi.

03Bagian CeritaSang Putri Mencari Kakak-Kakaknya

Tanpa berpikir panjang, sang putri berlari ke dalam hutan. Ia ingin mencari kakak-kakaknya. Ia berjalan sepanjang hari melewati pohon, semak, dan sungai kecil. Kakinya lelah, tetapi hatinya tidak mau menyerah.

Menjelang malam, ia menemukan sebuah gubuk kecil yang kosong. Di sana ada enam tempat tidur. Ia bersembunyi di bawah salah satunya. Tak lama kemudian, enam angsa masuk melalui jendela, lalu berubah menjadi enam pemuda.

"Adik kami!" seru mereka ketika melihatnya. Mereka memeluknya dengan gembira. "Kami hanya bisa menjadi manusia selama seperempat jam setiap malam," kata yang tertua. "Setelah itu, kami kembali menjadi angsa."

Mereka bercerita sampai waktu habis. Sang putri mendengarkan dengan seksama, dan ia menghafal setiap kata. Ia tahu, kesempatan bertemu kakak-kakaknya sangat pendek. Ia ingin memanfaatkannya sebaik mungkin sebelum mereka berubah kembali.

04Bagian CeritaSyarat yang Berat

"Bagaimana cara membebaskan kalian?" tanya sang putri sambil menahan tangis. Kakak-kakaknya terdiam sejenak. Lalu yang tertua menjawab dengan hati-hati. "Syaratnya sangat berat, dan kami tidak sanggup memintanya darimu."

"Katakan saja," pinta sang putri dengan mantap. Mereka pun menjelaskan. Selama enam tahun, ia tidak boleh berbicara dan tidak boleh tertawa. Ia juga harus menjahit enam kemeja dari bunga aster. Jika ia bersuara sedikit saja, semuanya akan gagal.

Sang putri tidak ragu. "Aku akan melakukannya," katanya. Malam itu para kakaknya kembali menjadi angsa. Mereka terbang pergi dengan berat hati, sebab mereka tahu betapa sulit tugas yang menanti adik tercinta mereka.

Pagi harinya, ia menyapu debu dari gubuk itu dan menyiapkan makanan kecil untuk mereka. Lalu ia memandang enam tempat tidur yang kosong. Hatinya perih, tetapi ia bertekad. Ia tidak akan berbicara sepatah kata pun sampai kakak-kakaknya bebas.

05Bagian CeritaEnam Kemeja dari Bunga Aster

Keesokan harinya, sang putri mulai bekerja. Ia mengumpulkan bunga aster dari padang rumput dan memilin batangnya menjadi benang. Ia duduk di atas pohon yang tinggi. Dari sana, ia menjahit dengan sabar sepanjang hari.

Tidak ada orang yang bisa diajak berbicara. Tidak ada tawa untuk menghibur dirinya. Hanya suara angin dan burung yang menemaninya. Ia menjahit dengan penuh doa, sebab ia percaya setiap jahitan membawa kakak-kakaknya semakin dekat pada kebebasan.

Musim berganti. Musim dingin membuat jemarinya kaku, dan musim hujan membuatnya basah kuyup. Meski begitu, ia tidak berhenti. Ia mengumpulkan bunga yang tersisa dan terus menjahit. Setiap kemeja selesai satu per satu, dan jumlahnya bertambah tanpa ia sadari.

06Bagian CeritaRaja yang Menemukan Sang Putri

Suatu hari, seorang raja dari negeri lain sedang berburu di hutan itu. Anjing-anjingnya berlari ke arah pohon tempat sang putri duduk. Raja mendongak dan melihat seorang gadis muda yang cantik dan sunyi.

"Siapa kamu?" tanyanya dengan lembut. Sang putri hanya menggeleng. Ia tidak boleh menjawab. Raja terpesona pada sikapnya yang tenang. Ia membujuknya turun dan membawanya ke istana. Sang putri hanya mengangguk dengan sopan.

Lama-kelamaan, sang raja mencintainya. Ia tidak peduli bahwa gadis itu tidak bisa berbicara. Ia menikahinya dengan penuh hormat. Sang putri kini menjadi ratu, tetapi ia tetap menjahit setiap malam dengan tekun, dalam diam.

Di istana, sang putri belajar mengungkapkan perasaan lewat isyarat. Ia tersenyum, mengangguk, dan menggenggam tangan orang-orang di sekitarnya. Para pelayan menyayanginya karena kebaikannya. Namun ia tetap tidak tertawa, sebab ia harus menjaga janjinya.

07Bagian CeritaFitnah dari Ibu Mertua

Namun ibu sang raja tidak menyukai menantunya. Ia curiga pada gadis yang tidak pernah bicara. Diam-diam, ia mulai menyebar kabar buruk. Ia berkata bahwa sang ratu muda menyimpan niat jahat, dan ia terus mencari kesalahan.

Ketika sang ratu melahirkan anak pertama, ibu mertuanya membawa bayi itu pergi secara rahasia. Ia menyembunyikannya dan menuduh sang ratu lalai menjaganya. Raja sangat sedih, tetapi ia percaya pada istrinya dan tidak mau menuduhnya.

Kejadian itu terulang sampai tiga kali. Sang ratu tetap diam. Ia tidak membela diri, sebab bersuara berarti membatalkan janji kepada kakak-kakaknya. Ia menanggung fitnah itu dengan air mata yang jatuh tanpa suara.

Sang raja memandang istrinya dengan sedih. "Aku tidak percaya kamu bersalah," bisiknya. "Tetapi aku tidak tahu bagaimana harus membelamu, jika kamu sendiri tidak mau berbicara." Sang ratu hanya menatapnya, dan matanya seolah berkata bahwa ia harus bersabar sedikit lagi.

08Bagian CeritaHari Terakhir Enam Tahun

Akhirnya, para menteri menuntut agar sang ratu dihukum. Raja tidak mampu lagi menolak. Hari itu adalah hari terakhir dari enam tahun. Sang ratu telah menjahit lima kemeja sempurna, dan kemeja keenam hanya kurang satu lengan.

Ia dibawa ke lapangan, sambil membawa keenam kemeja di lengannya. Wajahnya tenang dan matanya menatap langit. Orang-orang berkumpul dengan wajah cemas. Tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap di udara.

09Bagian CeritaEnam Angsa Kembali

Enam angsa putih turun dari langit dan mengitari sang ratu. Ia segera melemparkan kemeja-kemeja itu kepada mereka. Dalam sekejap, mereka berubah menjadi enam pangeran yang tampan, kecuali yang termuda, yang masih memiliki satu sayap angsa di tempat lengan kirinya.

Kutukan itu hampir sepenuhnya patah. Sang ratu memeluk kakak-kakaknya sambil menangis. Lalu, untuk pertama kali setelah enam tahun, ia membuka mulut. "Aku tidak bersalah," katanya. "Aku diam karena harus menyelamatkan mereka."

Ia menceritakan semuanya kepada raja, mulai dari ratu jahat, sihir di dalam hutan, hingga syarat berat yang harus ia jalani. Raja mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ia menyesal telah membiarkan istrinya menderita begitu lama.

10Bagian CeritaKeluarga yang Berkumpul Kembali

Terungkap pula bahwa ibu mertuanya telah menyembunyikan ketiga bayi itu. Bayi-bayi itu ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat. Sang ratu menangis bahagia saat mereka kembali ke pelukannya. Kesalahpahaman itu pun akhirnya berakhir.

Ibu sang raja tidak lagi dipercaya dan dikirim jauh dari istana. Enam pangeran pulang ke rumah ayah mereka bersama adik tercinta. Ayah mereka menyambut dengan haru, dan seluruh negeri bersuka cita.

Sang ratu hidup bahagia bersama suaminya, ketiga anak mereka, dan enam kakaknya. Semua orang mengenang keteguhan hatinya. Ia telah membuktikan bahwa kesetiaan, kesabaran, dan ketabahan bisa mematahkan kutukan yang paling gelap sekalipun.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Pengorbanan dan ketabahan dapat mematahkan kutukan terberat sekalipun.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)