Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Gadis Angsa (The Goose Girl)

Falada, kuda ajaib yang bisa berbicara, ikut menemani seorang putri yang dikirim ibunya ke negeri jauh untuk dinikahkan dengan seorang pangeran. Sang putri juga membawa sebuah jimat pelindung. Namun di tengah perjalanan, dayangnya yang licik memaksa bertukar tempat dan menyuruhnya bersumpah tak akan pernah membuka jati dirinya. Maka sang putri sejati pun menjadi penggembala angsa, sedangkan si dayang duduk di samping pangeran sebagai calon pengantin. Setiap pagi, gadis itu berhenti di gerbang, menyapa kepala Falada yang tergantung di sana, dan mencurahkan isi hatinya. Percakapan pelan itu sedikit demi sedikit terdengar hingga ke telinga raja. Dalam kisah Grimm bersaudara, kepalsuan mungkin tampak megah untuk sementara, tetapi kebenaran punya cara sabar untuk menemukan jalannya sendiri.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Gadis Angsa (The Goose Girl) – Dongeng Klasik tentang Kejujuran | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaBekal dari Seorang Ibu

Dahulu ada seorang ratu tua yang sudah lama menjadi janda. Ia hanya memiliki satu putri, dan putri itu sangat ia sayangi. Ketika sang putri dewasa, ia dijodohkan dengan seorang pangeran yang tinggal di negeri jauh.

Ketika hari keberangkatan tiba, sang ratu menyiapkan banyak harta untuk bekal putrinya. Ada perhiasan, ada pakaian indah, dan ada peti-peti berisi hadiah. Semuanya dikemas dengan penuh cinta dan doa.

Ratu juga memilih seorang dayang untuk menemani putrinya. Lalu ia mengambil selembar kain kecil. Ia meneteskan tiga tetes darah dari jarinya ke kain itu. "Simpanlah ini, Anakku," katanya. "Kain ini akan menjagamu."

Sang putri menyimpan kain itu di dekat dadanya. Ia mencium ibunya, lalu naik ke atas seekor kuda bernama Falada. Falada bukan kuda biasa. Ia dapat berbicara seperti manusia.

Sepanjang jalan, Falada sering menoleh dan berbicara pelan kepada sang putri. Ia bercerita tentang burung-burung, awan, dan jalan di depan mereka. Perjalanan yang panjang itu terasa lebih hangat karena ada sahabat yang setia.

02Bagian CeritaKain yang Hanyut di Sungai

Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Di suatu siang yang terik, sang putri merasa sangat haus. Ia berhenti di tepi sungai kecil. "Dayang, tolong ambilkan air dengan cangkir emasku," pintanya dengan sopan.

Namun dayang itu menjawab kasar, "Kalau haus, minum saja sendiri. Aku sudah tidak mau menjadi pelayanmu." Sang putri terkejut, tetapi ia terlalu haus untuk membantah. Ia berlutut di tepi sungai dan minum dari air itu.

Saat ia membungkuk, kain kecil dari ibunya terlepas dan hanyut terbawa arus. Sang putri sedih, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu bahwa kain itu adalah pelindungnya.

Dayang yang licik melihat semuanya dan tersenyum puas. Ia tahu sang putri kini tidak lagi terlindungi. Ia sudah lama iri kepada majikannya, dan ia sedang menunggu kesempatan seperti ini.

Sang putri mencoba mengambil kain itu kembali, tetapi arus sungai terlalu deras. Kain kecil itu sudah menghilang di tikungan. Ia menahan air mata dan berharap ibunya tidak akan pernah tahu betapa ia menyesal.

03Bagian CeritaSumpah yang Berat

Ketika sang putri hendak naik kembali ke punggung Falada, dayang itu berkata, "Kuda itu sekarang milikku. Berikan kudamu, dan pakai kuda tuaku." Ia juga memaksa sang putri melepas pakaian bagusnya dan bertukar tempat.

"Sekarang bersumpahlah," kata dayang itu dengan suara tajam. "Kau tidak akan pernah bercerita kepada siapa pun di istana raja tentang hal ini. Kalau tidak, kau akan mendapat kesulitan besar."

Sang putri sangat takut dan tidak punya pelindung. Dengan berat hati, ia mengucapkan sumpah itu. Falada mendengar semuanya dan memperhatikan dengan sedih, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Sang putri kini menunggang kuda tua yang lelah, sedangkan dayang itu duduk gagah di atas Falada. Hati sang putri terasa berat seperti batu, tetapi ia terus melangkah.

04Bagian CeritaGerbang Kegelapan

Ketika mereka tiba di istana, pangeran menyambut dayang itu dengan hangat. Ia mengira dayang itu adalah calon pengantinnya. Ia mengulurkan tangan, membantunya turun, dan membawanya ke ruang atas. Sementara itu, sang putri sejati hanya disuruh menunggu di halaman.

Seorang raja tua melihat gadis itu dari jendela. "Siapa gadis itu?" tanyanya. Dayang itu menjawab, "Hanya seorang gadis yang ikut denganku. Berilah dia pekerjaan supaya tidak menganggur." Raja pun mengirimnya kepada seorang anak laki-laki bernama Conrad untuk menjaga angsa.

Dayang itu takut Falada akan membuka rahasianya. Maka ia meminta agar kuda itu disingkirkan. Kepala Falada kemudian digantungkan di sebuah gerbang gelap yang harus dilewati sang gadis setiap pagi.

Sang putri sangat sedih mendengar hal itu. Ia hanya bisa berjanji dalam hati bahwa ia akan tetap menyapa sahabatnya, meskipun Falada tinggal sebagai kepala yang membisu di gerbang.

05Bagian CeritaPercakapan Pelan di Pagi Hari

Setiap pagi, gadis itu menggiring angsa-angsanya melewati gerbang itu. Ia berhenti dan menatap kepala Falada. Dengan suara lirih, ia berkata, "Falada yang malang, kau tergantung di sana."

Lalu kepala itu menjawab dengan lembut, "Putri yang malang, jika ibumu mengetahui hal ini, hatinya akan patah." Sang putri tersenyum sedih. Hanya di gerbang itulah ia dapat bercerita dengan bebas tentang isi hatinya.

Setelah itu, ia berjalan menuju padang rumput. Ia duduk di tepi padang dan menyisir rambutnya yang keemasan. Rambut itu sangat indah dan berkilau tertimpa sinar matahari.

Hari-hari berlalu, dan gadis itu belajar mencintai angsa-angsanya. Ia memberi mereka makan dan menghitung mereka setiap sore. Angsa-angsa itu menjadi teman kecil yang menghiburnya di negeri asing.

06Bagian CeritaAngin yang Menerbangkan Topi

Conrad, anak penjaga angsa, melihat rambut itu dan menjadi tertarik. "Aku ingin mencabut sehelai saja," pikirnya. Ia mendekat, tetapi sang gadis segera memanggil angin.

"Tiuplah, angin, tiuplah. Terbangkan topi Conrad, dan biarkan ia mengejarnya sampai aku selesai menyisir rambut." Angin bertiup kencang. Topi Conrad terbang jauh, dan anak itu berlari mengejarnya.

Ketika ia kembali, rambut sang gadis sudah tersanggul rapi. Hal itu terjadi lagi keesokan harinya. Conrad menjadi kesal dan mengeluh kepada raja. "Aku tidak mau lagi menggembala bersama gadis itu," katanya.

"Mengapa?" tanya raja. Conrad menceritakan tentang gerbang, kepala kuda, dan angin. Raja mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mulai merasa bahwa ada rahasia besar di balik gadis penggembala angsa itu.

07Bagian CeritaRaja di Balik Pintu Gerbang

Keesokan paginya, raja bersembunyi di dekat gerbang gelap itu. Ia melihat gadis itu datang bersama angsa-angsanya. Ia mendengar percakapan pelan antara si gadis dan kepala Falada, kata demi kata.

Raja diam-diam mengikuti sampai ke padang. Ia melihat sendiri angin menerbangkan topi Conrad. Kini ia yakin bahwa gadis ini istimewa dan pasti bukan gadis sembarangan.

Malam harinya, raja memanggil gadis itu. "Siapakah kau sebenarnya?" tanyanya lembut. Gadis itu menjawab, "Aku tidak boleh menceritakannya kepada siapa pun. Aku telah bersumpah."

Raja tidak memaksa. Ia memiliki cara yang bijaksana. "Kalau begitu, ceritakanlah kepada tungku besi itu. Aku tidak akan bertanya lagi." Ia lalu keluar, tetapi tetap mendengarkan dari dekat cerobong.

Sang gadis memandang raja dengan mata basah. Ia merasa raja bukan orang jahat. Namun sumpah tetaplah sumpah, dan ia ingin menepatinya dengan jujur, sebab itu satu-satunya hal yang masih ia miliki.

08Bagian CeritaCerita untuk Tungku Besi

Gadis itu duduk di dekat tungku. Ia menangis dan mulai bercerita. Ia menceritakan bahwa ia adalah putri seorang ratu, bahwa dayangnya telah menipunya, dan bahwa ia terikat sumpah untuk diam.

Ia menceritakan kain dari ibunya, kuda Falada, sungai, dan kepalsuan yang kini berdiri di samping pangeran. Karena sumpahnya hanya melarang berbicara kepada manusia, ia merasa lega telah mengucapkan semuanya.

Raja mendengar seluruh cerita itu dengan hati yang tersentuh. Ia masuk kembali dan memerintahkan agar gadis itu diberi pakaian yang layak. Ketika ia berdandan, semua orang melihat bahwa ia sungguh seorang putri.

Kabar tentang gadis di tungku itu tidak langsung disebarkan. Raja menunggu waktu yang tepat agar kebenaran itu tidak melukai siapa pun tanpa perlu. Ia ingin keputusan yang adil, bukan keputusan yang tergesa-gesa.

09Bagian CeritaPesta dan Keputusan Raja

Raja mengadakan pesta besar. Pangeran duduk di satu sisi, ditemani dayang palsu, sedangkan sang putri sejati duduk di sisi lain. Pangeran terkejut karena hatinya merasa tertarik pada gadis cantik itu, tetapi ia tidak mengenalinya.

Ketika semua telah makan dan minum, raja mengajukan teka-teki. "Apa yang layak diterima oleh orang yang menipu majikannya dan mengambil tempatnya?" Ia menceritakan kisah itu tanpa menyebut nama.

Dayang palsu, yang tidak sadar bahwa ia sedang membicarakan dirinya sendiri, menjawab dengan angkuh. "Orang seperti itu pantas diusir dengan keras dari istana." Raja berkata, "Engkau sendiri yang telah menentukan keputusannya."

Dayang itu pun diusir dari istana dan tidak pernah kembali. Pangeran akhirnya mengenal putri sejati, dan ia meminta maaf karena tidak menyadarinya lebih awal. Mereka menikah dengan bahagia, dan angsa-angsa ikut berkumpul di halaman. Kebenaran yang sabar itu akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Kebenaran akan selalu terungkap pada waktunya.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)