Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Hans yang Beruntung (Hans in Luck)

Tujuh tahun sudah Hans bekerja, dan ketika ia meminta upahnya, ia menerima segumpal emas sebesar kepalanya. Ia melangkah pulang menuju ibunya, tetapi beban emas itu membuat pundaknya pegal. Seorang penunggang kuda lewat dan menawarkan tukar tambah: kuda untuk emas. Hans setuju, lalu terjatuh dari kuda itu dan menukarnya dengan seekor sapi. Pertukaran demi pertukaran menyusul, sapi menjadi babi, babi menjadi angsa, dan angsa akhirnya menjadi batu asah. Setiap kali Hans merasa beruntung, sebab beban yang dipikulnya semakin ringan. Dongeng Grimm yang lucu ini membuat kita bertanya-tanya tentang arti kekayaan yang sebenarnya, karena ketika Hans tiba di rumah, ia merasa dirinya orang paling beruntung di dunia, dengan hati yang ringan dan langkah yang lega.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Hans yang Beruntung (Hans in Luck) – Dongeng Klasik tentang Kebahagiaan | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaUpah Tujuh Tahun

Hans sudah bekerja selama tujuh tahun pada seorang majikan. Ia rajin, jujur, dan tidak pernah mengeluh. Pada suatu pagi, ia menemui majikannya dan berkata, "Tuan, waktuku sudah habis. Aku ingin pulang menemui ibuku. Bolehkah aku meminta upahku?"

Majikannya tersenyum. "Kau sudah bekerja dengan setia, jadi upahmu akan sepadan." Ia lalu memberi Hans segumpal emas yang besarnya sama dengan kepala Hans sendiri. Hans terkejut dan berterima kasih berkali-kali.

Hans membungkus emas itu dengan kain dan mengangkatnya ke bahu. Ia berpamitan, lalu berjalan pulang dengan hati gembira. Jalan menuju rumah ibunya masih panjang, tetapi ia merasa yakin akan tiba dengan selamat.

02Bagian CeritaEmas yang Berat di Pundak

Namun emas itu sangat berat. Setelah berjalan beberapa lama, pundak Hans pegal, dan langkahnya semakin lambat. Ia berhenti, mengganti bahu, dan mengeluh pelan. Ia tidak menyangka bahwa upah yang berharga bisa terasa sebagai beban.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Seorang penunggang kuda melintas dengan gagah dan tampak gembira. Hans memandangnya dengan iri dan berkata, "Betapa enaknya menunggang kuda. Tidak perlu lelah, dan sampai lebih cepat."

Penunggang itu mendengar dan berhenti. "Mengapa kau berjalan kaki, Nak?" tanyanya. Hans menjawab bahwa ia harus membawa emas ini pulang, tetapi pundaknya sudah sangat sakit. Penunggang itu tersenyum dan mendapat sebuah gagasan.

Sepanjang jalan, Hans mulai membayangkan wajah ibunya. Ia ingin segera memeluknya dan bercerita tentang tujuh tahun yang telah ia lalui. Namun semakin jauh ia melangkah, semakin ia merasa beban di pundaknya menekan langkahnya.

03Bagian CeritaPertukaran Pertama: Kuda

"Bagaimana kalau kita bertukar?" katanya. "Aku beri kudaku, dan kau beri emasmu. Kau tidak perlu lagi memikul apa-apa." Hans senang sekali. Ia langsung setuju tanpa berpikir panjang.

Penunggang itu menolong Hans naik ke pelana. "Kalau kau ingin berlari, cukup berdecak dan berteriak hup," pesannya. Lalu ia pergi sambil membawa emas itu. Hans memandang punggungnya dan merasa ia adalah orang paling beruntung.

Hans berdecak, dan kuda itu mulai berlari kencang. Ia bersorak riang di atas pelana. Namun kuda itu terus berlari lebih cepat, dan Hans tidak sanggup mengendalikannya. Tiba-tiba ia terlempar ke parit di pinggir jalan.

Ia merasa malu, tetapi tidak marah. Ia menepuk-nepuk bajunya yang berdebu dan tertawa kecil. "Yang penting aku tidak terluka," katanya kepada diri sendiri. Ia memang selalu berusaha melihat sisi baik dari setiap kejadian.

04Bagian CeritaPertukaran Kedua: Sapi

Hans terbaring di parit dengan tubuh kotor. Untunglah seorang petani lewat sambil menggiring seekor sapi. Petani itu menangkap kuda yang berlari dan menolong Hans berdiri. Hans mengucapkan terima kasih dan mengeluh bahwa menunggang kuda ternyata tidak seenak yang ia kira.

"Kuda ini terlalu liar untukmu," kata petani itu. "Lebih baik kau punya sapi. Sapi berjalan pelan, memberi susu, dan mentega. Aku mau menukar sapiku dengan kudamu, kalau kau setuju." Hans merasa itu tawaran yang bagus.

Hans menerima tali sapi itu dengan gembira. "Sekarang aku akan punya susu, mentega, dan keju setiap hari," pikirnya. Ia melanjutkan perjalanan sambil menuntun sapi itu, dan hatinya penuh angan-angan yang manis.

Sapi itu berjalan tenang di belakang Hans. Ia sesekali menoleh dan mengajaknya bicara, seolah sapi itu teman lama. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana untuk memberi ibunya semangkuk susu segar dan sepotong keju.

05Bagian CeritaSapi yang Tidak Mau Memberi Susu

Siang itu udara sangat panas. Hans merasa haus, dan ia berhenti di dekat sebuah rumah makan kecil. Ia menghabiskan sisa bekalnya, lalu berpikir untuk memerah susu sapinya agar bisa minum sedikit.

Ia duduk di bawah sapi dan mulai memerah. Namun tidak setetes pun susu keluar. Sapi itu justru kesal, dan tiba-tiba ia menendang kepala Hans. Hans terjatuh dan pusing, dan untuk beberapa saat ia tidak bisa bangun.

Seorang tukang daging melintas sambil mendorong gerobak berisi seekor babi. Ia menolong Hans berdiri. "Sapi ini sudah tua dan tidak lagi memberi susu," katanya. "Percuma memelihara sapi seperti ini."

06Bagian CeritaPertukaran Ketiga: Babi

Hans menghela napas. "Kalau begitu, apa gunanya sapi ini bagiku? Padahal aku sudah membayangkan susu dan keju." Tukang daging mengusulkan pertukaran. "Aku beri babi ini, dan kau beri sapimu. Babi lebih mudah dirawat."

Hans menimbang sebentar. Ia teringat betapa enaknya daging babi dan sosis di pesta. Ia pun setuju. Ia menuntun babi itu dan berjalan pulang dengan langkah riang, sambil berterima kasih atas kebaikan hati tukang daging tersebut.

Di tengah jalan, Hans bertemu seorang pemuda yang membawa seekor angsa gemuk. Mereka berbincang, dan Hans bercerita tentang semua pertukarannya. Pemuda itu tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.

Hans mengangguk sopan, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti. Ia melihat angsa itu berjalan di sisi pemuda itu dengan tenang. Lehernya panjang dan bulunya putih bersih, dan Hans membayangkan ibunya akan senang menerimanya.

07Bagian CeritaPertukaran Keempat: Angsa

"Hati-hati," kata pemuda itu. "Aku dengar di desa sebelah ada babi yang hilang. Jangan-jangan itu babi yang kau bawa. Kalau orang menangkapmu, kau bisa mendapat masalah besar." Hans menjadi cemas dan ketakutan.

"Tolonglah aku," katanya. "Kau tampaknya orang pintar. Bagaimana kalau kita bertukar? Babiku untuk angsamu." Pemuda itu berpura-pura berpikir, lalu setuju dengan murah hati. Ia pun menuntun babi itu ke arah lain.

Hans merasa lega. "Angsa ini lebih ringan dari babi," pikirnya. "Kalau kupanggang, dagingnya lezat, dan bulunya bisa membuat bantal yang empuk untuk ibuku." Ia melanjutkan perjalanan sambil bersiul, dan angsa itu ia gendong di bawah lengannya.

Angsa itu sesekali berkuak dan mematuk-matuk lengan Hans. Namun Hans hanya tertawa. "Kau pasti lapar," katanya sambil mengelus kepala angsa. Ia merasa senang membawa teman kecil di perjalanan yang sunyi itu.

08Bagian CeritaPertukaran Kelima: Batu Asah

Ketika tiba di sebuah desa, Hans melihat seorang tukang asah gunting sedang bekerja. Roda asahnya berputar, dan ia bernyanyi riang. Hans berhenti dan bertanya bagaimana pekerjaannya bisa membuatnya sebahagia itu.

"Keterampilan ini selalu menghasilkan uang," kata tukang asah itu. "Kalau kau punya batu asah seperti ini, kau bisa mencari nafkah di mana saja." Hans terkesan, lalu bertanya bagaimana caranya mendapat batu asah seperti itu.

"Berikan angsamu," jawab tukang asah itu. "Sebagai gantinya, kuberikan batu asah ini, dan sebuah batu biasa di samping itu. Kau bisa memakainya untuk meratakan paku yang bengkok." Hans menganggap itu sangat menguntungkan dan langsung menerima.

Hans mengucapkan terima kasih dengan tulus. Ia sama sekali tidak curiga bahwa ia baru saja menukar angsa gemuk dengan dua batu berat. Baginya, tukang asah itu adalah orang baik yang telah berbagi ilmu.

09Bagian CeritaSumur di Tepi Jalan

Hans mengangkat kedua batu itu dan berjalan lagi. Batu-batu itu berat, dan lama-lama pundaknya terasa pegal. Namun ia tidak merasa sedih. Ia merasa orang-orang yang ia temui begitu baik, dan setiap pertukaran selalu menguntungkan.

Di dekat jalan, ia melihat sebuah sumur dan berhenti untuk minum. Ia meletakkan batu-batu itu di pinggir sumur, lalu membungkuk. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol batu, dan keduanya terguling ke dalam air.

Hans menatap air yang beriak. Ia diam sesaat, lalu tersenyum lebar. "Betapa beruntungnya aku," katanya. "Tak ada orang yang lebih beruntung dari aku. Beban itu pergi tanpa aku harus membuangnya sendiri."

Hans mengangkat kepala ke langit yang biru. Awan putih bergerak pelan, dan burung-burung berkicau di ranting. Ia merasa dunia begitu ramah, dan hatinya penuh dengan rasa syukur yang sederhana.

10Bagian CeritaPulang dengan Hati Ringan

Dengan tangan kosong dan pundak yang ringan, Hans melompat-lompat sepanjang jalan. Ia bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah ia terima. Ia tidak lagi membawa emas, kuda, sapi, babi, angsa, atau batu.

Hans tidak menghitung apa yang hilang. Ia justru merasa bebas dan tenang. Ia berjalan dengan cepat, karena tidak ada lagi apa pun yang membuatnya lelah, dan ibunya sedang menantinya di rumah.

Ketika akhirnya ia tiba di pintu rumah, ibunya memeluknya dengan penuh haru. Hans tidak membawa apa-apa, tetapi wajahnya penuh senyum. Ia merasa dirinya adalah orang paling beruntung di dunia.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Kebahagiaan sejati tidak selalu ditentukan oleh harta benda.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)