Hansel dan Gretel

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaKeluarga di Tepi Hutan Besar
Di tepi sebuah hutan besar, tinggallah seorang penebang kayu yang miskin bersama istrinya dan dua anaknya. Anak laki-lakinya bernama Hansel, dan adik perempuannya bernama Gretel. Ibu kandung mereka sudah lama meninggal, dan kini mereka diasuh oleh ibu tiri.
Rumah mereka kecil, dan makanan hampir tidak ada. Pada suatu musim, gagal panen datang. Roti pun makin sulit didapat, sampai perut keluarga itu sering kosong ketika malam tiba.
Setiap malam Hansel dan Gretel berbagi remah terakhir dari piring mereka. Mereka saling menghibur, dan berjanji tidak akan pernah berpisah.
02Bagian CeritaRencana yang Terdengar dari Balik Pintu
Suatu malam, Hansel dan Gretel tidak bisa tidur karena lapar. Dari balik pintu, mereka mendengar ibu tiri berbicara dengan ayah mereka.
"Kita tidak punya cukup makanan untuk empat orang," kata ibu tiri. "Besok kita bawa anak-anak jauh ke dalam hutan, lalu kita tinggalkan mereka di sana."
Sang ayah sangat sedih dan menolak. Namun ibu tiri terus mendesaknya sampai ia menyerah dengan berat hati. Gretel mulai menangis di tempat tidur.
"Jangan takut, Gretel," bisik Hansel. "Aku akan menemukan cara."
Gretel menghapus air matanya. Ia percaya kepada kakaknya, karena Hansel selalu punya akal ketika keadaan sulit.
03Bagian CeritaKerikil Putih Pertama
Setelah semua orang tidur, Hansel diam-diam menyelinap keluar. Bulan bersinar terang, dan kerikil-kerikil putih di halaman berkilau seperti perak. Ia mengisi kantongnya dengan kerikil sebanyak mungkin.
Keesokan paginya mereka berjalan ke hutan bersama ayah dan ibu tiri. Setiap beberapa langkah, Hansel berhenti dan menjatuhkan sebutir kerikil di tanah tanpa terlihat.
"Kenapa kau sering menoleh ke belakang, Hansel?" tanya ibu tiri. "Aku melihat kucing putihku di atap," jawab Hansel. Padahal ia sedang menghitung kerikil yang ia jatuhkan.
Di tengah hutan, sang ayah membuat api unggun. "Tunggulah di sini," katanya. "Kami akan menebang kayu." Kedua anak itu menunggu lama, sampai mereka tertidur karena lelah.
Ketika mereka terbangun, hari sudah gelap dan tidak ada orang di sekitar mereka. Gretel mulai menangis, tetapi Hansel menenangkannya. "Tunggu sampai bulan terbit."
Saat bulan muncul, kerikil putih berkilau di jalan setapak. Hansel dan Gretel mengikutinya sepanjang malam sampai tiba di depan pintu rumah mereka.
04Bagian CeritaRemah Roti yang Hilang
Ayah mereka gembira melihat anak-anaknya pulang. Tetapi ibu tiri tetap marah, dan tidak lama kemudian kelaparan datang lagi. Ia kembali membujuk sang ayah untuk membawa anak-anak ke hutan yang lebih dalam.
Kali ini ibu tiri mengunci pintu agar Hansel tidak dapat mengumpulkan kerikil. Pagi harinya mereka hanya diberi sepotong roti kecil untuk masing-masing.
Di sepanjang jalan, Hansel meremas rotinya dan menaburkan remah-remahnya di tanah. Ia mengira remah roti itu akan menuntun mereka pulang.
Gretel merasa tidak enak hati, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan kakaknya lebih erat.
Namun burung-burung hutan datang dan memakan semua remah itu. Ketika malam tiba, tidak ada satu remah pun yang tersisa di jalan.
Hansel terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa akalnya tidak cukup. Gretel yang kali ini menenangkannya, "Kita masih punya satu sama lain."
05Bagian CeritaTersesat dan Menemukan Rumah Manis
Hansel dan Gretel berjalan tanpa arah selama tiga hari. Perut mereka sangat lapar dan kaki mereka lelah. Hutan tampak makin luas dan makin gelap.
Mereka minum dari air sungai kecil dan memakan buah beri yang tumbuh di tepi jalan. Setiap malam mereka tidur berpelukan di bawah pohon.
Tiba-tiba mereka melihat seekor burung putih yang indah. Burung itu bernyanyi merdu, dan mereka mengikutinya sampai tiba di sebuah tempat terbuka.
Di sana berdiri sebuah rumah yang belum pernah mereka lihat. Dindingnya dari roti, atapnya dari kue, dan jendelanya dari gula yang bening.
"Ayo kita makan!" seru Hansel. Ia mematahkan sepotong atap, sementara Gretel menjilat jendela gula. Dari dalam rumah terdengar suara lembut, "Siapa yang menggigit rumahku?"
Kedua anak itu menjawab dengan mulut penuh, "Itu hanya angin, angin yang lembut." Lalu mereka terus makan, karena rasa lapar mengalahkan rasa waspada.
06Bagian CeritaNenek yang Terlalu Ramah
Pintu terbuka dan seorang nenek keluar sambil bertumpu pada tongkat. Hansel dan Gretel terkejut, tetapi nenek itu tersenyum. "Anak-anak, masuklah. Tidak ada yang akan menyakiti kalian."
Ia menyiapkan susu, pancake manis, apel, dan kacang. Ia juga menyiapkan dua tempat tidur kecil yang bersih. Hansel dan Gretel merasa sangat bahagia, seakan-akan mereka sedang bermimpi indah.
Namun, nenek itu sebenarnya seorang penyihir jahat yang suka menangkap anak-anak. Rumah manis itu adalah umpan agar anak-anak mau mendekat.
Malam itu Gretel merasa ada sesuatu yang aneh. Tetapi tubuhnya terlalu lelah, dan ia segera tertidur di ranjang yang empuk.
07Bagian CeritaKandang untuk Hansel
Pagi berikutnya, penyihir itu menangkap Hansel dan mengurungnya di dalam kandang kecil. Gretel diperintahkan bekerja keras. "Masak makanan untuk kakakmu," bentaknya. "Ia harus gemuk, karena aku akan memakannya."
Gretel menangis, tetapi tangisannya tidak menolong apa pun. Setiap hari ia memasak makanan enak untuk Hansel, sedangkan dirinya hanya mendapat sisa.
Dalam hati, Gretel terus mencari cara untuk melarikan diri. Ia mengamati kebiasaan penyihir itu setiap hari, dari cara berjalan sampai kebiasaan tidur siangnya.
Penyihir itu memiliki penglihatan yang buruk. Setiap pagi ia menyuruh Hansel menjulurkan jari untuk memeriksa apakah kakaknya sudah cukup gemuk.
Hansel cerdik. Ia menjulurkan sebuah tulang kecil, dan penyihir yang tidak dapat melihat jelas itu heran melihat jari Hansel tetap kurus.
08Bagian CeritaGretel dan Oven Besar
Setelah beberapa minggu, penyihir itu kehabisan kesabaran. "Gretel, nyalakan oven itu sekarang! Hari ini aku ingin memasak kakakmu, gemuk atau tidak."
Gretel menyalakan api sambil berpikir keras. Setelah oven menjadi panas, penyihir itu berkata, "Coba masuk ke dalam dan lihat apakah sudah cukup panas."
Gretel tahu ini jebakan. Ia pura-pura tidak mengerti. "Aku belum tahu caranya. Bagaimana aku masuk?"
"Dasar bodoh! Pintunya cukup lebar. Lihat, aku saja bisa masuk!" Penyihir itu menjulurkan badannya untuk mencontohkan.
Pada saat itu Gretel mendorongnya sekuat tenaga, lalu menutup pintu oven dan menguncinya. Penyihir jahat itu tidak dapat keluar lagi.
Napas Gretel terengah-engah. Tangannya gemetar, tetapi ia tahu ia telah melakukan hal yang harus ia lakukan demi keselamatan mereka.
09Bagian CeritaKebebasan dan Harta dari Rumah Penyihir
Gretel segera berlari ke kandang dan membuka pintunya. "Hansel, kita bebas! Penyihir itu sudah tidak ada!" Kedua kakak beradik itu berpelukan, menangis, dan tertawa sekaligus.
Hansel keluar dari kandang dengan kaki kaku. Sudah berminggu-minggu ia tidak bisa berdiri tegak, tetapi hari itu terasa seperti hari yang paling ringan dalam hidupnya.
Di dalam rumah, mereka menemukan peti-peti penuh mutiara dan batu berharga. Hansel memenuhi kantongnya, dan Gretel mengisi celemeknya.
"Sekarang kita harus pulang," kata Hansel. Mereka berjalan melewati hutan sampai tiba di tepi sebuah sungai lebar. Tidak ada jembatan atau perahu.
Mereka menatap air yang mengalir deras. Hansel ragu, dan Gretel berkata, "Kita sudah sejauh ini. Pasti ada jalan."
Seekor bebek putih berenang mendekat. Mereka menyeberang satu per satu di punggungnya, dan mereka mengucapkan terima kasih dengan tulus.
10Bagian CeritaPulang ke Pelukan Ayah
Setelah berjalan cukup lama, hutan terasa makin akrab. Mereka mengenali pohon-pohon yang dulu sering mereka lihat, dan hati mereka berdebar. Lalu tampaklah rumah kecil di tepi hutan.
Dari jauh, asap tipis naik dari cerobong rumah itu. Hansel dan Gretel mempercepat langkah sambil tersenyum lebar.
Mereka berlari masuk dan memeluk ayah mereka. Sang ayah tidak pernah tenang sejak ia meninggalkan anak-anaknya di hutan. Ibu tiri sudah tidak ada lagi di rumah itu.
Ia menangis lega dan berkali-kali meminta maaf kepada anak-anaknya. Ia berjanji tidak akan pernah lagi membiarkan mereka pergi sendirian.
Hansel dan Gretel menuangkan mutiara dan batu berharga ke lantai. Sejak hari itu, keluarga kecil tersebut tidak pernah lagi kelaparan.
Hansel dan Gretel mengerti bahwa mereka selamat bukan karena kekuatan salah satu dari mereka, melainkan karena mereka saling menjaga. Hansel menyiapkan akal, dan Gretel memiliki keberanian pada saat yang paling penting.
Pesan Moral
Kecerdikan dan kerja sama dapat mengalahkan kejahatan.