Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Ibu Salju (Mother Holle)

Dua saudari tiri hidup bersama ibu mereka, dan hanya satu yang rajin serta berhati baik. Suatu hari gelendongnya terjatuh ke dalam sumur. Ia melompat mengejarnya dan mendapati dirinya berada di padang yang indah. Di sana roti-roti dalam oven memohon dikeluarkan, dan pohon apel meminta digoyang, dan gadis itu menolong semuanya dengan senang hati. Akhirnya ia tiba di rumah Ibu Holle, dan bekerja dengan tekun, terutama mengibas-ngibas kasur hingga bulu-bulunya beterbangan menjadi salju di dunia manusia. Ketika pulang, ia disambut hujan emas. Saudarinya yang malas berharap hadiah yang sama, tetapi ia tidak membawa ketulusan yang serupa. Dalam kisah Grimm ini, kerja yang dilakukan dengan senang hati dan hati yang tulus menemukan ganjarannya sendiri, sementara kemalasan hanya menemukan pintu yang sepi.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Ibu Salju (Mother Holle) – Dongeng Klasik tentang Kebaikan | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaDua Saudari di Rumah Sebelah Sumur

Dahulu ada seorang janda yang tinggal bersama dua anak perempuan. Yang satu adalah anak kandungnya, dan yang lain adalah anak tirinya. Rumah mereka sederhana, dan di halamannya ada sebuah sumur tua.

Sang janda sangat menyayangi anak kandungnya. Anak itu suka bermalas-malasan dan tidak pernah mau bekerja. Sementara itu, anak tirinya rajin dan baik hati. Namun semua pekerjaan berat justru diberikan kepada si anak tiri.

Setiap hari gadis rajin itu duduk di dekat sumur, memintal benang sampai jarinya lelah. Ia tidak mengeluh. Ia hanya bekerja pelan-pelan sambil berharap suatu hari nanti hidupnya akan lebih ringan.

Kadang ia menatap jalan di depan rumah dan bertanya-tanya apakah ada tempat lain yang lebih baik untuknya. Namun ia segera menggeleng dan kembali bekerja. Baginya, pekerjaan yang dilakukan dengan baik tetap membuat hatinya tenang.

02Bagian CeritaGelendong yang Jatuh

Suatu hari, jarinya tertusuk ujung gelendong hingga berdarah. Ia membungkuk di tepi sumur untuk membasuh gelendong itu. Tiba-tiba benda itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke dasar sumur.

Gadis itu menangis. Ia takut ibu tirinya akan marah. Dan memang benar, ibu tirinya membentak keras, "Kau yang menjatuhkannya, maka kau yang harus mengambilnya kembali!"

Gadis malang itu kembali ke sumur dengan hati bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Karena terlalu takut, ia melompat ke dalam sumur untuk mengejar gelendongnya. Seketika matanya gelap, dan ia tidak sadarkan diri.

03Bagian CeritaPadang yang Terang di Bawah Sumur

Ketika membuka mata, gadis itu sudah berada di sebuah padang rumput yang indah. Matahari bersinar hangat. Ribuan bunga bermekaran di sekelilingnya, dan udara terasa harum. Ia berdiri dan berjalan pelan-pelan.

Tak lama kemudian, ia melihat sebuah oven roti. Dari dalamnya terdengar suara kecil, "Tolong keluarkan aku! Aku sudah matang, dan aku akan hangus kalau dibiarkan lebih lama."

Gadis itu tidak ragu. Ia mengambil sekop roti dan mengeluarkan roti-roti itu satu per satu. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan tanpa mengharapkan balasan apa pun.

Roti-roti itu berbau harum, dan perut gadis itu sebenarnya keroncongan. Namun ia tidak mengambil satu pun untuk dirinya sendiri. Ia hanya meletakkannya di rak dengan rapi, lalu berkata pelan, "Selamat menikmati."

04Bagian CeritaPohon Apel yang Meminta Tolong

Di dekat jalan, berdiri sebuah pohon apel yang penuh buah. Pohon itu berkata, "Goyangkan aku, Nak. Apel-apelku sudah matang semua dan ingin jatuh." Gadis itu menggoyang batang pohon dengan hati-hati.

Apel-apel berjatuhan seperti hujan. Ia mengumpulkan semuanya dan menyusunnya dalam satu tumpukan rapi. Setelah selesai, ia pergi lagi. Ia merasa senang karena telah membantu, dan bukan karena berharap dipuji.

Tidak lama, tampak sebuah pondok kecil. Di jendelanya, seorang perempuan tua sedang mengintip. Giginya besar, dan tatapannya membuat gadis itu ingin lari. Namun perempuan itu memanggil dengan lembut, "Jangan takut, Anakku."

Perempuan tua itu memandangnya lama, lalu mengangguk pelan. Ia melihat tangan gadis itu yang lecet dan tersenyum. Seolah ia tahu bahwa gadis ini pasti tidak akan mengecewakannya.

05Bagian CeritaRumah Ibu Holle

"Aku Ibu Holle," kata perempuan itu. "Kalau kau mau tinggal bersamaku dan mengerjakan semua tugas rumah dengan baik, hidupmu akan menyenangkan. Tetapi kau harus mengibas kasurku dengan sungguh-sungguh."

Gadis itu setuju. Ia merasa perempuan tua itu bersungguh-sungguh dan baik hati. Ia tidak punya tempat lain, dan ia bersedia menepati janjinya dengan penuh tanggung jawab.

"Kibaskan kasur dan bantalku setiap hari sampai bulunya beterbangan," pesan Ibu Holle. "Sebab ketika bulu-bulu itu terbang, salju turun di dunia manusia. Akulah yang membuat salju."

06Bagian CeritaBulu-Bulu yang Menjadi Salju

Sejak hari itu, gadis itu bekerja dengan rajin. Ia mengibas kasur dan bantal sampai bulu-bulunya beterbangan seperti kepingan salju. Ia menyapu, mencuci, dan merapikan rumah tanpa pernah diminta dua kali.

Ibu Holle sangat senang dan memperlakukannya dengan hangat. Makanan selalu enak, dan tidak pernah ada kata kasar. Untuk pertama kalinya, gadis itu merasakan bahwa kerja keras yang dihargai dapat membuat hati terasa ringan.

Waktu berlalu. Namun setelah beberapa lama, gadis itu mulai merindukan rumah. Ia teringat rumah kecilnya, meskipun di sana ia sering diperlakukan tidak adil. Rindu itu semakin lama semakin kuat.

Di sela-sela pekerjaan, Ibu Holle sering bercerita tentang awan, musim dingin, dan burung-burung yang pergi ke selatan. Gadis itu mendengarkan dengan mata berbinar. Rumah di bawah sumur itu perlahan terasa seperti rumah kedua.

07Bagian CeritaGerbang Emas

Suatu pagi, gadis itu berdiri di jendela dan melihat bulu-bulu putih beterbangan di luar. Ia tahu bahwa di atas sana, orang-orang sedang melihat salju pertama musim itu. Ia tersenyum, dan rindunya pun terasa hangat.

Akhirnya ia berkata pada Ibu Holle, "Aku sangat berterima kasih, tetapi aku ingin pulang. Rumah tempat aku dibesarkan tetap tempatku." Ibu Holle tidak marah. Ia mengangguk dan tersenyum bangga.

"Aku senang kau ingin pulang," katanya. "Kau telah bekerja dengan baik, jadi kau pantas mendapat hadiah." Ia mengantar gadis itu ke sebuah gerbang besar. Saat gadis itu melintas di bawahnya, hujan emas turun dan menempel di tubuhnya.

"Itu upah atas kerajinanmu," kata Ibu Holle. Ia juga mengembalikan gelendong yang jatuh tadi. Gerbang itu pun tertutup, dan gadis itu sudah berdiri kembali di dekat rumahnya sendiri.

Seekor ayam jantan berdiri di atas sumur dan berkokok riang, "Gadis emas kita sudah pulang!" Ibu tirinya dan saudarinya keluar. Mereka terheran-heran, lalu menyambutnya dengan gembira karena melihat emas itu.

Ibu tirinya menatap emas itu tanpa berkedip. Ia tidak bertanya bagaimana perasaan gadis itu atau betapa lelahnya perjalanannya. Ia hanya memikirkan apa yang bisa didapat anak kandungnya jika mengikuti jalan yang sama.

08Bagian CeritaSaudari yang Ingin Hadiah yang Sama

Gadis itu menceritakan semua yang terjadi. Ibu tirinya segera berpikir bahwa anak kandungnya harus mendapat keberuntungan yang sama. Maka ia menyuruh anaknya duduk di dekat sumur dan memintal benang.

Namun anak malas itu tidak mau bekerja keras. Supaya gelendongnya berdarah seperti saudarinya, ia menusukkan jarinya sendiri. Lalu ia menjatuhkan gelendong itu dengan sengaja ke dalam sumur dan melompat menyusulnya.

Ia tiba di padang yang sama. Ketika oven roti memanggil, ia menjawab malas, "Aku tidak mau mengotori tanganku." Ketika pohon apel meminta digoyang, ia berkata, "Nanti apelnya menimpa kepalaku." Ia pun berjalan terus tanpa peduli.

Ia tidak menoleh ketika oven roti memanggil sekali lagi. Ia juga tidak melihat apel-apel yang membusuk di tanah. Yang ada di kepalanya hanyalah gambaran emas yang berkilau, bukan orang-orang yang membutuhkan bantuannya.

09Bagian CeritaPintu yang Sunyi

Rumah Ibu Holle tetap sama hangatnya. Namun anak itu tidak melihat hal itu. Ia sibuk menghitung berapa lama lagi ia harus tinggal sebelum bisa membawa pulang emas sebanyak yang ia inginkan.

Di rumah Ibu Holle, anak malas itu berjanji akan bekerja rajin. Pada hari pertama, ia memang mencoba. Ia membayangkan emas yang akan ia dapatkan, dan itu membuatnya bersemangat.

Namun pada hari kedua, ia mulai bermalas-malasan. Pada hari ketiga, ia bahkan tidak mau bangun. Piring-piring menumpuk, dan lantai penuh debu. Ia tidak mengibas kasur Ibu Holle, sehingga tidak ada salju yang turun di dunia manusia.

Ibu Holle segera tahu bahwa anak ini tidak bekerja dengan tulus. Ia hanya mengharapkan hadiah. Maka Ibu Holle meminta anak itu meninggalkan rumahnya. Anak itu justru senang karena mengira sekarang saatnya menerima emas.

Ia berdiri di bawah gerbang besar itu. Tetapi yang jatuh bukanlah emas, melainkan getah hitam yang lengket. "Itulah upahmu," kata Ibu Holle. Gerbang menutup, dan anak itu pulang dengan tubuh kotor dan wajah muram.

Si ayam jantan berkokok lagi, kali ini dengan nada lain. Getah itu menempel lama pada anak malas itu. Ia baru sadar bahwa hadiah tidak dapat dipaksa datang tanpa kerja yang tulus. Sementara itu, gadis yang rajin itu tetap tinggal di rumah dan hidup dengan tenang. Emas yang ia bawa dipakai untuk memperbaiki atap rumah dan membeli makanan yang cukup bagi mereka semua.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Kerajinan dan ketulusan akan mendapat balasan setimpal.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)