Iron John (Si Hans Besi)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaHutan yang Menelan Pemburu
Dahulu, di dekat sebuah istana di Jerman, ada hutan yang sangat lebat. Para pemburu berani masuk ke sana, tetapi tidak ada satu pun yang kembali. Lama-lama, tidak ada orang yang mau mendekati hutan itu.
Raja merasa heran dan cemas. Ia mengumumkan bahwa siapa pun yang berhasil memecahkan misteri hutan akan mendapat hadiah. Namun bertahun-tahun berlalu, dan tidak ada yang berani mencobanya.
Suatu hari, seorang pemburu asing datang ke istana. "Yang Mulia, izinkan saya masuk ke hutan itu," katanya. Raja setuju. Pemburu itu berangkat dengan anjing setianya, tanpa rasa takut.
02Bagian CeritaKolam yang Menarik Anjing
Di tengah hutan, anjing pemburu itu berlari ke sebuah kolam yang sangat dalam. Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari air, meraih anjing itu, dan menariknya ke dasar. Kolam kembali tenang.
Pemburu itu bergegas pulang dan melapor kepada raja. Raja segera mengumpulkan orang-orang. Mereka membawa ember dan menimba air kolam itu sedikit demi sedikit. Kerja itu berlangsung sampai hari gelap.
Ketika dasar kolam terlihat, semua orang tertegun. Di sana duduk seorang manusia liar. Tubuhnya berwarna cokelat kemerahan seperti karat besi. Rambutnya panjang sampai ke lutut. Ia tidak melawan saat diikat.
03Bagian CeritaSangkar Besi di Halaman Istana
Para pengawal membawa manusia liar itu ke istana. Mereka menaruhnya dalam sangkar besi di halaman. Raja memerintahkan agar pintunya dikunci, lalu menyimpan kuncinya di tempat yang aman, di bawah bantal sang ratu.
Sejak hari itu, hutan menjadi aman kembali. Orang-orang memanggil manusia liar itu Hans Besi. Ia duduk diam di dalam sangkar, dan siapa pun yang lewat hanya bisa memandangnya dari jauh.
04Bagian CeritaBola Emas yang Menggelinding
Raja dan ratu punya seorang putra yang masih kecil, berumur delapan tahun. Suatu hari ia bermain dengan bola emasnya di halaman. Bola itu menggelinding, lalu berhenti tepat di dalam sangkar Hans Besi.
"Tolong kembalikan bolaku," pinta anak itu. Hans Besi menjawab, "Aku akan mengembalikannya kalau kau membuka pintu." Anak itu menggeleng. "Tidak boleh. Ayahku sudah melarangnya," katanya.
Keesokan harinya anak itu kembali. "Aku ingin bolaku," katanya. Hans Besi berkata lagi, "Buka pintunya." Anak itu masih menolak. Ia pergi dengan wajah sedih, lalu memandangi sangkar itu dari jauh.
Pada hari ketiga, Hans Besi berkata dengan lembut, "Aku tidak akan menyakitimu. Kuncinya ada di bawah bantal ibumu. Ambillah, dan aku akan membantumu." Anak itu ragu sejenak, tetapi akhirnya ia pergi mengambil kunci itu.
Anak itu masuk ke kamar ibunya dengan langkah hati-hati. Jantungnya berdebar. Ia menarik kunci dari bawah bantal, lalu berlari ke halaman. Tangannya gemetar ketika memutar kunci itu, dan pintu sangkar terbuka.
Pintu itu berderit pelan. Hans Besi keluar, mengambil bola emas itu, dan menyerahkannya kepada si anak. Lalu ia berkata, "Sekarang kau harus ikut denganku. Kalau tidak, kau akan dihukum karena membuka pintu ini." Anak itu terkejut.
Hans Besi mengangkat anak itu ke bahunya dan berlari masuk ke dalam hutan. Ketika raja dan ratu menyadari anak mereka hilang, mereka sangat bersedih. Istana yang ramai menjadi sunyi.
05Bagian CeritaMenjaga Mata Air
Di dalam hutan, Hans Besi menurunkan anak itu. "Kau tidak akan pernah kembali ke orang tuamu," katanya. "Tetapi aku tidak akan menyakitimu. Aku menyukaimu. Kalau kau menuruti perintahku, kau akan mendapat semua yang kau butuhkan."
Ia membawa anak itu ke sebuah mata air yang jernih. Airnya berkilau seperti emas di bawah cahaya matahari. "Tugasmu menjaga mata air ini," katanya. "Jangan biarkan apa pun jatuh ke dalamnya. Nanti aku datang memeriksa."
Hari pertama, anak itu duduk di tepi mata air. Tiba-tiba jarinya terasa perih. Tanpa sadar ia mencelupkannya ke air, dan jari itu berubah menjadi emas. Ia cepat-cepat menariknya, lalu membungkusnya dengan kain.
Sore harinya Hans Besi datang. Ia melihat jari yang dibungkus itu dan berkata, "Apa yang jatuh ke dalam mata air?" Anak itu menjawab, "Tidak ada." Hans Besi hanya berkata, "Kali ini kumaafkan. Jagalah dengan baik."
06Bagian CeritaTiga Hari, Tiga Kesalahan
Hari kedua, seutas rambut anak itu jatuh ke dalam air ketika ia menunduk. Ia mengambilnya secepat mungkin, tetapi rambut itu sudah berubah menjadi emas. Ia takut, dan kembali menutupi kesalahannya.
Hari ketiga, ia menunduk untuk melihat wajahnya di air. Rambutnya yang panjang jatuh ke depan dan menyentuh permukaan air. Kini seluruh rambutnya bersinar keemasan. Ia mengikatnya dengan sapu tangan, tetapi sinarnya tetap terlihat.
Hans Besi datang dan langsung mengetahui semuanya. "Kau sudah gagal tiga kali," katanya. "Aku tidak bisa membiarkanmu di sini lagi. Pergilah ke dunia, dan pelajari apa artinya hidup dalam kekurangan."
Hans Besi menatap anak itu dengan lembut. "Aku punya hati yang baik, dan aku tidak marah. Kalau kau kesulitan, datanglah ke hutan dan panggil aku. Aku akan membantumu. Kekayaanku lebih banyak daripada yang kau bayangkan."
07Bagian CeritaAnak Dapur dengan Topi
Malam pertama, anak itu tidur di bawah pohon dengan perut kosong. Ia teringat pada rumahnya dan pada kesalahan-kesalahannya. Untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa kebohongan kecil bisa membawa akibat yang besar.
Anak itu pergi berjalan jauh. Ia mengetuk banyak pintu untuk mencari pekerjaan, tetapi tidak ada yang mau menerimanya. Ia lapar dan kelelahan. Akhirnya ia tiba di sebuah istana dan bertanya apakah ada pekerjaan untuknya.
Koki istana bersedia menerimanya sebagai pembantu dapur. Anak itu selalu memakai topi untuk menutupi rambut emasnya. Raja pemilik istana itu melihatnya dan berkata, "Lepaskan topimu di hadapanku." Ia menjawab, "Saya tidak bisa. Kepala saya sakit."
Raja tidak memaksa. Anak itu lalu dipindahkan menjadi pembantu tukang kebun. Ia menyiram tanaman, menggali tanah, dan menanam bunga. Kadang ia membiarkan angin menerpa rambutnya, dan cahaya keemasan itu berkilau di antara daun-daun.
08Bagian CeritaPutri yang Melihat Rambut Emas
Suatu hari, putri raja melihatnya dari jendela. Ia melihat kilau emas di bawah topi anak itu. Ia berlari ke kebun. "Lepaskan topimu," pintanya. Anak itu menolak dan memegang topinya erat-erat.
Putri itu tetap penasaran. Berkali-kali ia datang membawa bunga dan hadiah kecil, dan setiap kali topi anak itu terlepas sedikit. Akhirnya ia melihat rambut emas itu dan tersenyum. Ia menyukai anak itu, apa pun pekerjaannya.
09Bagian CeritaBantuan dari Hutan
Suatu hari negeri itu diserang musuh. Pasukan raja terlalu kecil. Anak itu pergi ke hutan dan memanggil, "Hans Besi!" Hans Besi muncul dan bertanya, "Apa yang kau butuhkan?" Anak itu meminta seekor kuda dan pasukan.
Hans Besi memberinya kuda yang gagah dan pasukan berzirah besi. Anak itu memimpin mereka dan berhasil mengusir musuh. Setelah menang, ia menghilang, mengembalikan kuda itu, dan kembali ke kebun sebagai pembantu tukang kebun.
Raja sangat kagum dan bertanya-tanya siapa penunggang kuda yang gagah itu. Tidak ada yang tahu, sebab anak itu selalu pergi sebelum orang sempat mengejarnya.
Raja ingin berterima kasih kepada sang pahlawan. Ia mengadakan pesta, dan putrinya melemparkan sebuah apel emas ke tengah para penunggang kuda. Anak itu datang tiga kali dengan kuda dan pakaian yang berbeda, dan tiga kali pula ia menangkap apel itu.
Akhirnya raja memanggil semua orang ke hadapannya. Anak itu maju tanpa topi. Rambutnya jatuh berkilau ke bahunya. Raja bertanya, "Apakah kau yang menangkap apel dan mengusir musuh?" Ia menjawab, "Ya, Yang Mulia. Saya orangnya."
Tiba-tiba musik terdengar dari kejauhan. Pintu aula terbuka lebar. Seorang raja gagah masuk bersama pengiringnya. Ia memeluk anak itu dan berkata, "Akulah Hans Besi. Aku dulu terkena sihir. Kau telah membebaskanku dari sihir itu, dan semua hartaku milikmu."
Sang putri tertawa bahagia dan menggenggam tangannya. Ia berkata bahwa ia sudah lama menduga anak kebun itu bukan orang biasa. Raja pun memberi restu, dan seluruh istana bersukacita.
Anak itu bukan anak dapur lagi. Ia adalah putra raja, dan kini ia tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan rendah hati. Orang tuanya datang ke pesta, dan mereka berpelukan lama. Semua orang di aula ikut bersuka cita.
Anak itu menikahi sang putri. Ia kini tahu bahwa kedewasaan tidak datang dari kemewahan, melainkan dari kerja keras, kesalahan yang dipelajari, dan pengalaman hidup yang dijalani dengan sabar.
Pesan Moral
Kedewasaan sejati didapat melalui kerja keras dan pengalaman hidup.