Musisi Kota Bremen

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaKeledai yang Tidak Lagi Dibutuhkan
Dahulu ada seorang petani yang memiliki seekor keledai. Selama bertahun-tahun, keledai itu setia mengangkut karung gandum ke penggilingan. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun punggungnya sering pegal.
Namun keledai itu semakin tua. Tenaganya berkurang, dan ia tidak sekuat dulu lagi. Petani mulai berpikir bahwa memberinya makan hanya membuang uang.
Keledai itu mendengar pembicaraan majikannya. Ia sadar bahwa dirinya akan disingkirkan. Malam itu juga ia memutuskan untuk pergi diam-diam.
"Aku pernah mendengar tentang Kota Bremen," pikirnya. "Di sana ada banyak musisi jalanan. Suaraku memang nyaring. Mungkin aku bisa menjadi pemusik kota."
02Bagian CeritaAnjing yang Terengah-engah
Dengan hati sedih tetapi penuh harapan, ia melangkah keluar dari kandang. Ia menoleh sekali ke belakang, lalu terus berjalan tanpa berhenti. Bulan bersinar terang di atas jalan yang sepi.
Keledai itu berjalan di jalan tanah yang panjang. Tidak lama kemudian ia melihat seekor anjing pemburu terbaring di tepi jalan, terengah-engah seperti habis berlari jauh.
"Mengapa engkau kelelahan, Kawan?" tanya keledai.
"Aku sudah tua, tenagaku habis, dan aku tidak bisa berburu lagi," jawab anjing itu. "Majikanku ingin menyingkirkanku, jadi aku kabur. Tetapi sekarang aku tidak tahu harus ke mana."
"Ikutlah denganku ke Bremen," ajak keledai. "Aku akan menjadi pemusik kota. Engkau bisa memukul genderang, dan aku akan memainkan kecapi."
Anjing itu menunduk sebentar. Sudah lama tidak ada yang mengajaknya pergi bersama. Ia merasa hatinya sedikit lebih ringan.
Anjing itu setuju. Mereka pun berjalan bersama.
03Bagian CeritaKucing yang Murung
Tidak jauh dari sana, mereka bertemu seekor kucing yang duduk di tepi jalan dengan wajah sangat murung. Wajahnya tampak seperti orang yang sudah tiga hari kehujanan.
"Apa yang membuatmu sedih?" tanya keledai.
"Gigiku sudah tumpul, dan aku lebih suka tidur dekat perapian daripada mengejar tikus," jawab kucing. "Majikanku hendak menenggelamkanku. Aku kabur, tetapi sekarang aku tidak punya tujuan."
"Engkau pandai bernyanyi di malam hari," kata keledai. "Ikutlah bersama kami ke Bremen dan menjadi pemusik kota."
Kucing itu belum pernah memikirkan hal itu. Selama ini ia hanya dinilai dari kemampuannya menangkap tikus. Kata-kata keledai membuatnya merasa dihargai kembali.
Kucing itu berpikir sebentar, lalu mengangguk. Kini mereka bertiga melanjutkan perjalanan.
04Bagian CeritaAyam Jantan di Atas Gerbang
Ketika melewati sebuah pertanian, mereka mendengar teriakan keras dari atas gerbang. Seekor ayam jantan berkokok sekuat tenaga, seolah sedang meminta pertolongan.
"Ada apa denganmu?" tanya keledai. "Suaramu keras sekali."
"Besok hari Minggu, dan akan ada tamu makan siang," jawab ayam itu. "Pemilikku menyuruh koki memasakku untuk mereka. Malam ini aku masih bisa berkokok, tetapi besok tidak akan bisa lagi."
"Kalau begitu, jangan menunggu sampai besok," kata keledai. "Ikutlah dengan kami. Suaramu bagus, dan bersama-sama kita bisa membuat musik yang indah."
Ayam itu mengibaskan sayapnya dengan lega. Ia turun dari gerbang dan berjalan gagah di samping ketiga temannya. Malam itu ia merasa tidak sendirian lagi.
Ayam jantan itu pun bergabung. Kini ada empat sahabat yang sama-sama dianggap tidak berguna lagi.
05Bagian CeritaMalam di Tengah Hutan
Mereka berjalan seharian. Kaki mereka pegal, dan perut mereka mulai kosong. Namun tidak ada satu pun yang mengeluh, karena mereka saling menyemangati di sepanjang jalan.
Bremen masih sangat jauh, dan hari mulai gelap. Keempat hewan itu masuk ke dalam hutan lebat untuk mencari tempat bermalam.
Keledai dan anjing berbaring di bawah pohon besar. Kucing memanjat dahan yang rendah, sedangkan ayam jantan terbang ke puncak pohon. Dari sana ia bisa melihat ke segala arah.
Sebelum tidur, ayam jantan menengok ke sekeliling. Ia melihat cahaya kecil yang berkelip di kejauhan. "Aku melihat cahaya! Sepertinya ada rumah di sana," serunya.
"Kalau begitu, kita ke sana saja," kata keledai. "Tempat ini tidak nyaman. Mungkin kita bisa mendapat makanan dan tempat tidur yang lebih hangat."
06Bagian CeritaRumah Para Perampok
Mereka berjalan mendekati cahaya itu. Semakin dekat, cahayanya semakin terang, sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah di tengah hutan.
Keledai, yang paling tinggi, mengintip lewat jendela. "Apa yang kaulihat?" bisik ayam jantan.
"Sebuah meja penuh makanan dan minuman lezat," jawab keledai. "Beberapa perampok sedang duduk dan berpesta di sana."
Mereka bisa mencium aroma roti, keju, dan daging panggang dari balik jendela. Semua itu terasa jauh lebih menarik daripada mimpi tentang Kota Bremen.
Perut mereka keroncongan. Mereka tahu bahwa perampok-perampok itu berbahaya, tetapi mereka juga sangat lapar. Mereka mulai berpikir keras tentang cara mengusir para perampok itu.
Akhirnya mereka menemukan sebuah cara. Keledai berdiri dengan kaki depannya di ambang jendela. Anjing naik ke punggung keledai. Kucing memanjat ke punggung anjing, dan ayam jantan hinggap di kepala kucing.
"Kalau kita bernyanyi bersama, suaranya pasti akan sangat keras," kata ayam jantan. Keledai mengangguk. "Itulah keahlian kita, jadi mari kita gunakan sebaik-baiknya."
Setelah semuanya siap, mereka mulai bernyanyi bersama. Keledai meringkik, anjing menggonggong, kucing mengeong, dan ayam jantan berkokok sekeras-kerasnya.
Lalu mereka menerobos jendela dan jatuh ke dalam ruangan dengan suara pecahan kaca. Para perampok terkejut. Mereka mengira hantu hutan sedang menyerang mereka.
Ketakutan, semua perampok itu lari keluar rumah dan bersembunyi jauh di dalam hutan.
Ruangan itu mendadak sepi. Piring dan gelas berserakan di lantai. Keempat sahabat itu saling berpandangan, lalu tertawa lega karena rencana mereka berhasil.
07Bagian CeritaPesta di Rumah Baru
Keempat hewan itu duduk di meja dan makan sampai kenyang. Mereka makan seolah-olah baru mendapat rezeki besar setelah berhari-hari kelaparan.
Keledai menghabiskan roti, anjing menikmati tulang besar, dan kucing menyantap ikan asin. Ayam jantan mematuk biji-bijian sampai tembolok penuh. Sudah lama mereka tidak makan sebaik itu.
Setelah puas, mereka memadamkan lampu dan mencari tempat tidur masing-masing. Keledai tidur di tumpukan jerami di halaman. Anjing merebahkan diri di belakang pintu.
Kucing meringkuk di dekat perapian yang masih hangat, sedangkan ayam jantan bertengger di balok atap. Karena lelah, mereka semua cepat tertidur.
08Bagian CeritaPerampok yang Kembali
Di kejauhan, para perampok melihat bahwa rumah itu sudah gelap dan sunyi. Kepala perampok berkata, "Kita terlalu cepat takut. Seorang dari kita harus memeriksa rumah itu."
Seorang perampok pun diutus. Ia mendekati rumah dengan hati-hati. Di dapur ia melihat dua titik berkilau, yaitu mata kucing yang tampak seperti bara api.
Ia mengulurkan lilin untuk menyalakannya. Kucing itu meloncat dan mencakar wajahnya sambil mendesis. Perampok itu menjerit dan lari ke pintu belakang.
Di sana anjing melompat dan menggigit kakinya. Ketika ia melewati halaman, keledai menendangnya dengan kaki belakang. Ayam jantan yang terbangun berkokok dari atas balok.
Perampok itu berlari kembali ke teman-temannya dengan napas tersengal. "Di rumah itu ada penyihir jahat!" katanya. "Ia mencakar wajahku dengan kuku-kuku panjang!"
"Di pintu ada seorang lelaki yang menyerang kakiku. Di halaman ada raksasa berbadan hitam yang memukulku dengan tongkat. Dan di atas atap ada hakim yang berseru, 'Bawa penjahat itu kemari!'"
Kepala perampok mendengarkan dengan wajah pucat. Anak buahnya saling berpegangan dan gemetar. Tidak seorang pun mau kembali untuk memastikan apakah cerita itu benar.
"Aku tidak mau kembali ke sana lagi," katanya sambil menggigil. "Rumah itu pasti dijaga makhluk-makhluk menakutkan." Semua temannya mengangguk setuju.
Sejak saat itu, para perampok tidak berani lagi mendekati rumah tersebut. Mereka meninggalkan hutan dan tidak pernah kembali.
09Bagian CeritaRumah yang Tidak Pernah Ditinggalkan
Keesokan paginya, keempat hewan itu terbangun dengan tubuh segar. Matahari menyinari halaman rumah, dan udara hutan terasa sejuk. Tidak ada lagi yang mengusir atau menyuruh mereka pergi.
Keempat sahabat itu sangat gembira. Mereka menyadari bahwa rumah itu sangat cocok untuk mereka. Ada tempat tidur, makanan, dan halaman untuk bermain.
"Untuk apa mencari kota yang jauh?" kata keledai. "Kita sudah punya rumah, makanan, dan teman yang saling menjaga." Anjing, kucing, dan ayam jantan setuju dengan senang hati.
Mereka tidak pernah sampai ke Kota Bremen. Mereka merasa tidak perlu pergi lagi, karena mereka sudah menemukan rumah yang nyaman dan sahabat yang setia.
Setiap malam mereka bernyanyi bersama di halaman. Suara mereka mungkin tidak merdu, tetapi mereka bahagia. Mereka juga tahu bahwa masa tua bukanlah akhir dari segalanya.
Bila bersatu, mereka yang dianggap lemah dapat menjadi kuat.
Pesan Moral
Kerja sama membuat yang lemah menjadi kuat.