Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Nelayan dan Istrinya

Gubuk itu buruk dan sempit, tetapi seorang nelayan miskin tetap menjalani hari-harinya dengan tenang di tepi laut. Suatu hari kailnya menarik seekor ikan besar, yang ternyata seorang pangeran tersihir. Nelayan itu melepasnya kembali tanpa meminta apa pun. Sesampainya di rumah, istrinya menggerutu, menyebutnya bodoh, dan menyuruhnya kembali memanggil ikan itu untuk meminta rumah yang lebih layak. Permintaan itu dikabulkan, namun sang istri tak juga puas. Rumah berganti istana, istana berganti kekuasaan yang makin tinggi. Setiap kali nelayan berdiri di pantai dan memanggil, laut tampak makin gelap dan bergejolak, seakan ikut gelisah. Dalam dongeng dari Grimm bersaudara ini, keinginan yang tak pernah kenyang menjadi tali panjang yang akhirnya menarik seseorang kembali ke tempat ia mulai, dengan tangan yang kosong.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Nelayan dan Istrinya – Dongeng Klasik Anak | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaGubuk di Tepi Laut

Dahulu, di tepi laut yang luas, berdiri sebuah gubuk kecil yang sempit dan buruk. Di sanalah tinggal seorang nelayan miskin bersama istrinya. Atapnya bocor, dindingnya retak, dan anginnya masuk dari segala arah. Namun sang nelayan tidak pernah mengeluh.

Setiap pagi, ia berjalan ke pantai dan duduk di atas batu. Ia melemparkan kailnya ke air, lalu menunggu dengan sabar. Ia menyukai suara ombak dan bau garam. Baginya, hari yang tenang sudah cukup untuk disyukuri.

Istrinya berbeda. Ia sering menatap dinding gubuk dan menghela napas panjang. "Rumah ini terlalu sempit," katanya. "Kita harus punya sesuatu yang lebih baik." Suaminya hanya tersenyum sambil membawa keranjang ikan ke pasar.

Pada suatu pagi yang cerah, ia berjalan ke pantai seperti biasa. Ombak berkilau di bawah matahari, dan burung-burung camar terbang rendah. Ia tidak tahu bahwa hari itu akan berbeda dari hari-hari lainnya.

02Bagian CeritaIkan Besar yang Bisa Bicara

Suatu hari, kail sang nelayan bergetar keras. Ia menariknya sekuat tenaga. Ternyata yang tersangkut adalah seekor ikan besar yang sisiknya berkilau seperti perak. Tetapi ikan itu tidak menggelepar. Ia justru berbicara.

"Nelayan yang baik," kata ikan itu, "aku sebenarnya seorang pangeran yang terkena sihir. Tolong lepaskan aku. Apa gunanya membunuh ikan yang bisa berbicara? Biarkan aku berenang kembali ke laut."

Sang nelayan terkejut, tetapi hatinya lembut. "Tentu saja," katanya. "Aku tidak ingin menyakiti makhluk yang bisa bicara." Ia melepas kailnya dengan hati-hati, dan ikan itu menghilang ke dasar laut, meninggalkan jejak buih.

Nelayan berdiri lama memandangi tempat ikan itu menghilang. Ia merasa aneh dan sedikit senang. Sudah lama ia tidak menolong sesuatu yang begitu istimewa. Dengan hati ringan, ia mengumpulkan pancingnya dan berjalan pulang menyusuri pasir yang basah.

03Bagian CeritaAmarah di Dalam Gubuk

Sore harinya, sang nelayan pulang dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Ia berharap istrinya ikut takjub. Namun wajah sang istri tampak kesal. "Kamu tidak meminta apa-apa kepada ikan itu?" tanyanya.

"Tidak," jawab nelayan. "Aku tidak tahu harus meminta apa." Istrinya menggeleng dengan marah. "Kamu bodoh! Kita hidup di gubuk yang buruk ini. Pergilah kembali ke pantai, panggil ikan itu, dan mintalah rumah kecil yang layak."

Nelayan merasa malu meminta sesuatu, sebab ia sudah melepas ikan itu tanpa syarat. Namun ia tidak ingin bertengkar. Dengan langkah berat, ia berjalan kembali ke laut. Air tampak agak kehijauan dan kekuningan, tidak sejernih tadi pagi.

Di sepanjang jalan, ia mencari kata-kata yang tepat. Ia tidak ingin terdengar serakah. Ia hanya ingin memenuhi permintaan istrinya. Namun dadanya terasa sesak, seakan-akan ia sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas.

04Bagian CeritaPanggilan di Pantai

Ia berdiri di tepi air dan berseru, "Ikan, ikan di lautan, dengarkan aku. Istriku tidak sejalan dengan kehendakku." Ikan itu muncul dan bertanya, "Apa yang kamu inginkan, nelayan?"

Nelayan menjawab dengan malu, "Istriku ingin sebuah rumah kecil yang layak." Ikan itu mengangguk. "Pulanglah. Ia sudah memilikinya." Lalu ikan itu menyelam. Nelayan pulang dengan bingung, sebab ia tidak tahu apa yang menunggunya.

Di tempat gubuk itu, kini berdiri sebuah pondok cantik dengan halaman, kebun, dan ayam-ayam. Istrinya berdiri di depan pintu sambil tersenyum. "Lihat, betapa bagusnya," katanya. Untuk sementara, mereka hidup tenang.

Nelayan ikut menempati pondok itu dengan canggung. Ia menyentuh dinding yang licin dan bersih. Ia tersenyum melihat tungku baru, tetapi ia lebih rindu suara ombak di gubuk lamanya. Sesekali ia keluar untuk duduk sendirian memandang laut.

05Bagian CeritaDari Pondok ke Istana

Beberapa minggu kemudian, sang istri mulai gelisah. "Pondok ini terlalu kecil," katanya. "Pergi dan mintalah istana batu yang besar." Nelayan menggaruk kepala. "Nanti ikan itu marah," jawabnya. Namun istrinya tetap memaksa.

Sang nelayan kembali ke laut. Kali ini air tampak biru keunguan dan gelap. Ombak bergerak lebih berat. Ia memanggil ikan itu dengan gugup. Ikan muncul dan berkata, "Pulanglah. Ia sudah memilikinya."

Ketika ia tiba, sebuah istana megah berdiri di sana. Ada banyak pelayan, ruangan luas, dan lantai berkilau. Istrinya berdiri di puncak tangga dengan pakaian indah. Ia tampak bahagia, tetapi tidak lama.

Nelayan tinggal di sudut istana yang besar itu. Ia merasa asing di antara pelayan dan penjaga. Tidak ada yang mengajaknya berbicara tentang ikan atau kail. Ia mulai sadar bahwa rumah yang besar tidak selalu membuat hati lebih hangat.

06Bagian CeritaRaja dan Kaisar

Keesokan paginya, istri nelayan memandang ladang di luar jendela. "Aku ingin menjadi raja atas seluruh negeri ini," katanya. Nelayan terkejut. "Aku tidak mau menjadi raja," katanya. "Kalau begitu, aku yang jadi raja," balas istrinya.

Nelayan kembali ke laut. Air kini tampak kelabu dan berat. Ia memanggil ikan itu dengan suara lirih. Ikan mengabulkannya tanpa banyak bicara. Istrinya pun duduk di singgasana dengan mahkota emas di kepalanya.

Tidak lama, ia bosan. Ia ingin menjadi kaisar, lalu ingin lebih tinggi lagi. Setiap kali, sang nelayan harus kembali ke pantai. Setiap kali pula, laut tampak makin gelap. Ombak bergolak, dan langit mulai berawan tebal.

Istana itu kini penuh dengan orang. Ada pelayan, penjaga, dan para bangsawan. Namun sang istri tetap tidak merasa puas. Ia selalu melihat sesuatu yang belum ia miliki. Setiap kali keinginannya terpenuhi, ia langsung menginginkan yang lebih tinggi lagi.

07Bagian CeritaPermintaan yang Terakhir

Suatu pagi, sang istri terbangun sebelum matahari terbit. Ia melihat cahaya pertama muncul dari kaki langit. Hatinya panas. "Aku tidak tahan lagi," katanya. "Aku ingin bisa memerintah matahari dan bulan. Aku ingin menjadi penguasa segalanya."

Nelayan gemetar mendengar itu. "Itu terlalu jauh," katanya. Namun sang istri tidak mau mendengar. "Pergi sekarang juga!" perintahnya dengan tegas. Nelayan pun berangkat dengan lutut lemas, menuju pantai yang kini diselimuti badai.

Angin menderu keras. Ombak setinggi rumah menghantam karang. Langit gelap seperti malam. Nelayan berteriak dengan sisa tenaganya, "Ikan, ikan di lautan, dengarkan aku. Istriku tidak sejalan dengan kehendakku."

Sang nelayan berdiri di atas batu yang basah. Ia hampir terjatuh ketika ombak menghantam. Dalam hatinya, ia ingin berhenti dan pulang saja. Namun ia tetap berdiri, karena ia merasa tidak punya pilihan selain menyampaikan permintaan itu.

08Bagian CeritaBadai dan Jawaban Sang Ikan

Ikan itu muncul di antara ombak. "Apa lagi yang ia inginkan?" tanyanya. Nelayan menunduk. "Ia ingin memerintah matahari dan bulan." Ikan itu terdiam sejenak. Tampak wajahnya sedih, seolah ia sudah tahu akhir dari semua permintaan itu.

"Pulanglah," katanya perlahan. "Ia sudah kembali ke tempat asalnya, di gubuk yang lama." Lalu ikan itu menghilang ke dasar laut. Ombak pun mereda, dan awan hitam perlahan menipis.

Nelayan berjalan pulang dengan langkah pelan. Sepanjang jalan, ia tidak melihat istana, pelayan, atau singgasana. Semua yang tadi ada telah lenyap. Ia hanya melihat jalan tanah yang sunyi, dan angin lembut yang membelai wajahnya.

Ia teringat pada pangeran yang ia tolong. Ia bersyukur ikan itu tidak marah kepadanya. Ia merasa bahwa kebaikan yang ia lakukan tetap tidak sia-sia, meski semua yang diminta istrinya telah hilang.

Ketika langit sudah cerah kembali, ia sampai di dekat gubuknya. Ia berhenti sebentar dan menarik napas panjang. Ia tidak tahu bagaimana istrinya akan menyambutnya, tetapi ia siap menerima apa pun yang terjadi.

09Bagian CeritaKembali ke Gubuk Lama

Di ujung jalan, berdiri gubuk kecil yang dulu. Atapnya masih bocor dan dindingnya masih retak. Istrinya duduk di depan pintu dengan wajah pucat, mengenakan pakaian sederhana, dan tidak berkata apa-apa. Ia menunduk lama.

Nelayan mendekat dan duduk di sampingnya. Ia tidak marah. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya merasa lelah. Sang istri menatap laut yang sudah tenang, dan ia mulai mengerti apa yang telah ia lakukan.

"Aku minta maaf," ucap sang istri pelan. "Aku terlalu banyak meminta." Nelayan menggenggam tangannya. "Sudahlah. Yang penting kita masih punya satu sama lain."

Sejak hari itu, mereka tinggal di gubuk tersebut. Hidup mereka sederhana, tetapi lebih tenang daripada sebelumnya. Sang nelayan kembali memancing di pagi hari, dan sang istri belajar bersyukur atas apa yang mereka punya.

Kisah ini mengajarkan bahwa keinginan yang tidak pernah puas bisa membawa kita kembali ke tempat kita mulai, tanpa apa-apa. Rasa cukup adalah harta yang tidak bisa dirampas oleh badai, dan tidak bisa diberikan oleh sihir apa pun.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Keserakahan hanya akan membawa kehancuran.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)