Pohon Juniper (The Juniper Tree)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaHarapan di Musim Dingin
Dahulu ada seorang lelaki kaya yang hidup bersama istrinya yang baik hati. Mereka saling menyayangi, tetapi mereka sudah lama menantikan seorang anak. Doa mereka tidak pernah putus, meskipun tahun demi tahun berlalu.
Di halaman rumah mereka tumbuh sebatang pohon juniper. Pada suatu hari musim dingin, sang istri duduk di bawahnya sambil mengupas apel. Pisau itu menggores jarinya, dan setetes darah jatuh ke salju putih.
Ia menghela napas dan berkata pelan, "Andai aku punya anak yang merah seperti darah dan putih seperti salju." Kata-kata itu terasa berat, tetapi hatinya menjadi tenang seolah harapannya sudah terdengar.
02Bagian CeritaAnak dan Kepergian Sang Ibu
Musim berganti. Pohon juniper mulai bertunas, dan sang istri merasa hidupnya lebih ringan. Ketika buah pohon itu matang, ia memetiknya dan memakannya dengan senang. Setelah itu, ia jatuh sakit dan meminta suaminya menguburkannya di bawah pohon itu.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang anak laki-laki. Kulitnya putih seperti salju, dan pipinya merah seperti darah. Sang ibu melihatnya sekali saja dan tersenyum bahagia, tetapi kemudian ia meninggal dunia.
Sang suami menguburkannya di bawah pohon juniper, seperti pesannya. Ia menangis lama. Lalu perlahan-lahan air matanya mengering. Anak laki-laki itu tumbuh menjadi bocah yang manis dan menjadi teman terbaik ayahnya.
Sepanjang hari, anak lelaki itu bermain di bawah pohon juniper, tempat ibunya dikuburkan. Ia sering bercerita kepada pohon itu, seolah pohon itu dapat mendengar. Kadang ia membawa bunga liar dan meletakkannya di sana.
03Bagian CeritaIbu Tiri dan Rumah yang Berubah
Setelah beberapa waktu, lelaki itu menikah lagi. Tak lama kemudian, mereka dikaruniai seorang putri kecil bernama Marlene. Dua anak itu tumbuh di rumah yang sama dan saling menyayangi.
Namun di dalam hati sang ibu tiri, tumbuh rasa iri. Setiap kali melihat anak lelaki itu, ia berpikir bahwa warisan dan kasih sayang seharusnya hanya milik Marlene. Perasaan itu diam-diam membesar di sudut hatinya.
Ia semakin dingin terhadap anak lelaki itu. Ia menyuruhnya ke sana ke mari, dan ia sering menunggu dengan gelisah di dapur. Ia berbicara sendirian dengan suara pelan dan tidak mau siapa pun tahu apa yang ia pikirkan.
Rumah yang dulu hangat mulai terasa dingin. Sang ayah bekerja seharian dan tidak melihat perubahan itu. Hanya anak lelaki itu yang merasakannya. Ia mulai lebih sering menyendiri dan menatap pohon di halaman.
04Bagian CeritaApel di Dalam Peti
Suatu hari, ibu tiri itu berdiri di depan sebuah peti besar berisi apel. "Mari sini, Nak," katanya dengan suara manis. "Ambillah satu apel dari dalam peti." Anak itu mendekat dengan polos.
Pada saat itulah terjadi hal yang sangat menyedihkan. Ibu tiri menutup peti itu dengan keras. Anak itu tidak dapat keluar lagi. Cerita ini tidak menceritakan lebih jauh, dan cukuplah kita tahu bahwa ia tidak pernah kembali.
Ibu tiri panik. Ia menyembunyikan segalanya dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Ketika Marlene bertanya, ia hanya menjawab bahwa anak lelaki itu sedang pergi. Marlene percaya, tetapi ia mulai gelisah.
Sepanjang sisa hari itu, rumah terasa sunyi. Ibu tiri berjalan mondar-mandir tanpa bicara. Ia menghindari tatapan Marlene dan berpura-pura sibuk membersihkan dapur, meskipun tangannya bergetar tanpa henti.
05Bagian CeritaSapu Tangan Sutra Milik Marlene
Malam harinya, sang ayah pulang dan bertanya di mana anaknya. Ibu tiri menjawab dengan tenang bahwa anak itu sedang mengunjungi seorang kerabat. Sang ayah merasa aneh, tetapi ia terlalu lelah untuk bertanya lebih banyak.
Marlene tidak dapat tidur. Hatinya berkata bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakaknya. Diam-diam ia membuka peti itu, dan hatinya hancur. Dengan air mata mengalir, ia membungkus apa yang ia temukan di sana dengan sebuah sapu tangan sutra.
Lalu ia membawa bungkusan itu ke luar rumah. Ia menguburkannya di bawah pohon juniper. Ia menangis lama sekali, sampai akhirnya merasa hatinya menjadi ringan, seolah pohon itu mendengarkannya.
Angin malam berembus lembut. Marlene duduk sendirian di bawah pohon itu sampai matanya lelah. Ia berbisik, "Kakak, aku tidak akan melupakanmu." Pohon juniper seolah menjawab dengan gemerisik daunnya.
06Bagian CeritaPohon yang Bergoyang dan Kabut yang Menyala
Tidak ada yang melihat apa yang terjadi malam itu, kecuali bulan dan bintang. Halaman rumah itu sunyi. Namun tanah di bawah pohon juniper terasa hangat, seakan ada sesuatu yang perlahan-lahan terjaga.
Tiba-tiba, dahan-dahan pohon juniper mulai bergoyang. Awalnya pelan, lalu semakin cepat, seperti tangan yang sedang bertepuk. Dari sela-sela dahan, muncul kabut tipis yang bersinar seperti api.
Dari dalam kabut itu, terbang keluar seekor burung yang sangat indah. Bulunya berkilau, dan suaranya seperti nyanyian surga. Burung itu mengepakkan sayap dan terbang tinggi ke angkasa. Marlene merasa hatinya lebih tenang.
Burung itu tidak lagi bersedih. Ia terbang ke berbagai tempat. Ia hinggap di depan rumah seorang pandai emas dan mulai bernyanyi tentang apa yang telah terjadi dengan suara yang jernih dan menggetarkan.
Ke mana pun burung itu terbang, orang-orang berhenti dan mendongak. Nyanyiannya tidak keras, tetapi setiap kata terasa jelas. Orang-orang mengerti bahwa ada kejadian menyedihkan yang tidak boleh terus disembunyikan.
07Bagian CeritaNyanyian untuk Banyak Orang
Lagu itu bercerita tentang seorang ibu tiri yang menutup peti dengan tergesa-gesa, tentang saudari kecil yang menangis, dan tentang burung yang lahir dari pohon juniper. Sang pandai emas terpesona. "Nyanyikan lagi lagu itu," katanya.
"Berikan aku sesuatu, dan aku akan menyanyikannya lagi," jawab burung. Sang pandai emas memberikan sebuah rantai emas yang indah. Burung itu mencengkeramnya dengan cakar dan terbang ke tempat lain.
Ia hinggap di depan bengkel seorang tukang sepatu dan bernyanyi lagi. Tukang sepatu memberikan sepasang sepatu merah. Berikutnya, burung itu hinggap di atas sebuah kincir air, tempat beberapa pekerja penggiling sedang memotong batu.
Ketika burung itu bernyanyi, mereka berhenti bekerja dan mendengarkan. Mereka memberikan sebuah batu penggiling besar. Burung itu menerimanya dan terbang kembali menuju rumah tempat semuanya bermula.
Setelah itu, burung itu terbang pulang membawa tiga hadiah. Rantai emas ada di paruhnya, sepatu merah di cakar kirinya, dan batu penggiling di cakar kanannya. Ia tahu setiap hadiah punya tujuan sendiri.
08Bagian CeritaHadiah di Depan Pintu
Hari sudah senja ketika burung itu tiba. Langit berwarna jingga, dan angin membawa aroma tanah basah. Burung itu hinggap di dahan pohon juniper dan mulai bernyanyi dengan suara yang terdengar sampai ke dalam rumah.
Di dalam rumah, sang ayah, ibu tiri, dan Marlene sedang duduk mengelilingi meja makan. Tiba-tiba terdengar nyanyian dari luar. Ayah merasa hatinya menjadi hangat, dan Marlene merasa dadanya lapang.
Namun ibu tiri menutup telinganya dan berkata dengan suara gemetar, "Kepalaku sakit sekali. Suara itu seperti api yang membakar." Wajahnya pucat, tetapi tidak ada yang mengerti mengapa ia begitu ketakutan.
Sang ayah melangkah ke luar. Burung itu menjatuhkan rantai emas ke lehernya. Ia terkejut dan memandang ke atas. Lalu Marlene melangkah keluar, dan burung itu menjatuhkan sepasang sepatu merah di depan kakinya.
Marlene memakai sepatu itu, dan hatinya merasa lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Ia mulai mengerti bahwa burung itu bukan datang untuk menakuti siapa pun, melainkan untuk membawa pulang apa yang hilang.
09Bagian CeritaKebenaran Pulang ke Pemiliknya
Kemudian ibu tiri melangkah ke pintu sambil berkata, "Aku juga ingin melihatnya." Begitu ia berdiri di sana, burung itu menjatuhkan batu penggiling. Batu itu menimpanya, dan ia tidak pernah bangkit lagi.
Tiba-tiba, asap dan api muncul di tempat itu. Ketika kabut menghilang, di sana berdiri anak laki-laki itu, sehat dan tersenyum, dengan pipi semerah darah dan kulit seputih salju. Ayah dan Marlene berlari memeluknya.
Mereka masuk ke rumah dan duduk bersama di meja makan. Kali ini tidak ada lagi rahasia dan kecemasan. Mereka makan dengan tenang, dan hati mereka penuh syukur karena kebenaran akhirnya pulang. Sang ayah menggenggam tangan kedua anaknya erat-erat, seakan takut kehilangan mereka lagi.
Pohon juniper tetap berdiri di halaman. Setiap musim dingin, ia tampak hijau di tengah salju. Keluarga itu memandangnya dan mengingat bahwa kejahatan yang disembunyikan rapat-rapat akhirnya akan tetap ditemukan.
Pesan Moral
Kejahatan pada akhirnya akan mendapat balasannya.