Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Putri Salju dan Mawar Merah (Snow White and Rose Red)

Di sebuah pondok terpencil, seorang janda tinggal bersama dua putrinya, Putri Salju dan Mawar Merah. Watak keduanya berbeda, namun mereka sangat rukun dan berjanji tak akan pernah berpisah. Pada suatu malam musim dingin, terdengar ketukan di pintu, dan seekor beruang memohon sedikit kehangatan dari perapian. Keluarga itu menyambutnya tanpa takut, dan sejak itu sang beruang menjadi tamu tetap sepanjang musim dingin. Di luar pondok, seorang kurcaci jahat berkali-kali terjebak dalam kesulitan. Kedua gadis itu selalu menolongnya, tetapi tak sekali pun ia mengucapkan terima kasih. Musim dingin itu terasa panjang, tetapi pondok kecil mereka selalu hangat oleh tawa dan cerita yang dibagikan di dekat perapian. Dalam tuturan Grimm ini, kebaikan yang diberikan tanpa mengharap balasan menemukan berkahnya sendiri, dan sikap yang berbeda akhirnya menuai nasib yang berbeda pula.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
dongeng Putri Salju dan Mawar Merah
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaPondok di Tepi Hutan

Kedua pohon itu selalu berbunga setiap musim panas. Kupu-kupu hinggap di kelopaknya, dan lebah berdengung di antara daunnya. Orang yang lewat sering berhenti sejenak untuk memandanginya.

Di sebuah pondok kecil di tepi hutan, tinggal seorang janda bersama dua putrinya. Di depan pondok itu tumbuh dua pohon mawar. Yang satu berbunga putih, yang lain berbunga merah.

Karena itu, kedua putrinya dinamai Putri Salju dan Mawar Merah. Putri Salju pendiam dan lembut. Mawar Merah ceria dan suka berlari di padang rumput. Namun mereka saling menyayangi.

Mereka bergandengan tangan ke mana pun pergi. "Kami tidak akan pernah berpisah," kata Putri Salju. Mawar Merah menjawab, "Selama kita hidup." Ibu mereka tersenyum dan menambahkan, "Apa yang kamu punya, bagikanlah kepada saudaramu."

02Bagian CeritaSahabat-Sahabat di Hutan

Kedua gadis itu sering berjalan sendirian di hutan mengumpulkan buah beri dan ranting kering. Mereka tidak takut. Hewan-hewan hutan mendekati mereka dengan jinak. Kelinci makan daun dari tangan mereka, dan rusa merumput di dekat mereka.

Kadang mereka pulang terlalu larut, dan malam menjemput mereka di bawah pohon. Mereka tidur berdampingan di atas lumut. Pagi harinya, mereka bangun dengan tenang dan pulang. Ibu mereka pun tidak pernah cemas.

Tak pernah ada bahaya yang mengganggu mereka. Kata orang, seorang malaikat penjaga selalu melindungi anak-anak yang baik. Karena itu ibu mereka merasa tenang, meski hari sudah gelap dan mereka belum pulang.

Di rumah, pondok itu selalu rapi dan hangat. Pada musim panas, Mawar Merah merawat rumah, dan setiap pagi ia meletakkan karangan bunga di dekat tempat tidur ibunya. Pada musim dingin, Putri Salju menyalakan api dan menggantung ketel di atasnya.

03Bagian CeritaKetukan di Malam Bersalju

Suatu malam di musim dingin, mereka duduk di dekat perapian. Ibu membacakan cerita dari sebuah buku tebal. Di dekat mereka, seekor domba kecil tidur, dan seekor merpati bertengger tenang di kayu.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Mawar Merah membukakannya. Di ambang pintu berdiri seekor beruang besar yang penuh salju. Ia mengeluarkan kepala hitamnya ke dalam pondok.

Mawar Merah menjerit dan mundur. Domba mengembik, merpati mengepak, dan Putri Salju bersembunyi di belakang ibunya. Namun beruang itu berkata, "Jangan takut. Aku tidak akan menyakiti kalian. Aku hanya ingin sedikit menghangatkan diri."

04Bagian CeritaTamu Berbulu Tebal

"Kasihan kamu, Beruang," kata sang ibu. "Berbaringlah di dekat api. Hati-hati, jangan sampai bulumu terbakar." Ia memanggil kedua putrinya. "Jangan takut. Beruang ini bermaksud baik."

Kedua gadis itu mendekat. Perlahan-lahan, hewan-hewan lain juga tenang. Putri Salju dan Mawar Merah membersihkan salju dari bulu beruang itu. Ia berbaring santai di depan api dan mendengkur pelan, tampak puas.

Domba dan merpati perlahan-lahan mendekat juga. Ruangan yang tadi tegang berubah menjadi hangat. Suara api yang berderak dan dengkuran pelan beruang membuat semua orang mengantuk.

Tak lama kemudian mereka mulai bermain dengannya. Mereka menarik bulunya, naik ke punggungnya, dan menggulingkan tubuhnya. Kalau ia terlalu bandel, mereka menepuknya pelan dengan ranting hazel. Beruang itu hanya tertawa, "Jangan pukul aku terlalu keras."

Malam itu, ketika ia harus tidur, sang ibu berkata, "Kamu boleh tidur di dekat api. Di luar terlalu dingin." Pagi hari, kedua gadis itu mengantarnya keluar. Ia berjalan pelan menuju hutan.

05Bagian CeritaMusim Dingin yang Hangat

Sejak hari itu, beruang datang setiap malam pada jam yang sama. Ia berbaring di depan perapian, dan kedua gadis itu bermain dengannya dengan riang. Mereka sudah begitu terbiasa dengannya. Bahkan ibu mereka ikut menantikan ketukan itu setiap senja. Pintu tak pernah dikunci sebelum sang tamu datang.

Ketika musim semi tiba dan salju mencair, beruang berkata kepada Putri Salju, "Aku harus pergi dan tidak dapat kembali sepanjang musim panas." Putri Salju bertanya, "Ke mana, Beruang?" Ia menjawab, "Ke hutan, untuk menjaga hartaku dari kurcaci jahat."

Putri Salju membukakan pintu dengan sedih. Saat beruang itu keluar, bulunya tersangkut di kait pintu. Sesaat, ia melihat kilau emas di balik kulitnya. Namun beruang itu bergegas pergi dan hilang di antara pepohonan.

Putri Salju berdiri lama di ambang pintu. Ia tidak yakin apa yang tadi dilihatnya. Hatinya terasa sepi, dan pondok itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

06Bagian CeritaKurcaci yang Tidak Berterima Kasih

Sejak beruang pergi, hutan terasa lebih sunyi. Namun kedua gadis itu tetap bernyanyi kecil sepanjang jalan, sebab udara musim semi terasa sejuk dan matahari bersinar lembut di sela dahan.

Suatu hari, kedua gadis itu mencari kayu bakar di hutan. Mereka melihat sebuah pohon besar yang tumbang. Di dekat batangnya, ada sesuatu yang melompat-lompat di antara rumput. Mereka mendekat.

Ternyata seorang kurcaci tua dengan janggut putih yang sangat panjang. Ujung janggutnya terjepit di celah batang pohon. Ia berteriak-teriak dan menatap mereka dengan mata merah. "Kenapa kalian hanya berdiri? Tolong aku!"

"Bagaimana kamu bisa terjepit?" tanya Mawar Merah. "Bodoh! Aku mengganjal batang itu dengan pasak supaya kayunya terbelah, tetapi pasaknya terlepas," jawab kurcaci itu dengan kesal.

Kedua gadis itu berusaha menarik janggutnya, tetapi sia-sia. Akhirnya Putri Salju mengambil gunting kecil dari saku dan memotong ujung janggut itu. Kurcaci itu bebas dan terhuyung-huyung. Ia menggerutu, mengambil karung emasnya, lalu pergi tanpa berterima kasih.

07Bagian CeritaKail, Ikan, dan Elang

Beberapa waktu kemudian, kedua gadis itu pergi memancing. Dari jauh mereka melihat sesuatu yang mirip belalang besar melompat-lompat di tepi air. Ternyata itu si kurcaci lagi.

Janggutnya kusut dengan benang pancing, dan seekor ikan besar menariknya ke arah sungai. Kedua gadis itu memegangnya sekuat tenaga, tetapi tidak berhasil. Ikan itu terlalu kuat, dan tali pancing semakin melilit. Lagi-lagi, mereka harus memotong sedikit janggutnya.

"Kalian merusak wajahku dengan gunting kalian!" bentaknya. Ia mengambil sekantong mutiara dari rumput dan pergi begitu saja. Ia mengambil sekantong mutiara dari rumput dan pergi begitu saja. Kedua gadis itu saling berpandangan dan menghela napas. Tak sekali pun ia mengucapkan terima kasih.

Lain kali, mereka melihat seekor elang besar hendak membawa terbang si kurcaci. Kedua gadis itu menangkap kakinya dan menahan sampai elang melepaskannya. Sang kurcaci hanya menyalahkan mereka karena bajunya sobek, lalu pergi membawa batu-batu mulia.

08Bagian CeritaBeruang Menampakkan Dirinya

Sepanjang jalan, keduanya berbincang tentang beruang sahabat mereka. Mereka bertanya-tanya apakah ia baik-baik saja dan apakah ia akan kembali ketika musim dingin datang lagi.

Suatu senja, mereka melewati padang berbatu dan menemukan si kurcaci sedang menghitung permata di tanah. Cahaya matahari memantul di batu-batu itu, sehingga tempat itu berkilau indah.

"Kenapa kalian menatapku?" tanya kurcaci itu dengan wajah merah karena marah. Ia terus mengeluh. Tiba-tiba terdengar geraman keras. Seekor beruang hitam keluar dari hutan, dan kurcaci itu pucat.

"Ampun, Tuan Beruang!" serunya. "Ambillah semua hartaku. Lihat, betapa kecilnya tubuhku. Ambil saja dua gadis itu, mereka lebih gemuk!" Namun beruang tidak mendengarkannya. Sekali pukul, kurcaci jahat itu tidak bangkit lagi.

Kedua gadis itu hendak berlari. Namun suara yang mereka kenal memanggil, "Putri Salju, Mawar Merah, jangan takut! Tunggu aku!" Mereka berhenti dan menoleh dengan takjub.

09Bagian CeritaPangeran di Balik Bulu Beruang

Kedua gadis itu terdiam sesaat. Mereka mengenali mata yang lembut itu. Itulah mata sahabat yang selama satu musim dingin duduk bersama mereka di depan perapian.

Bulu beruang itu jatuh ke tanah. Di depan mereka berdiri seorang pemuda tampan berpakaian emas. "Aku seorang pangeran," katanya. "Kurcaci jahat itu mencuri hartaku dan menyihirku menjadi beruang. Kini ia telah tiada, dan aku bebas."

Putri Salju menikah dengan sang pangeran. Mawar Merah menikah dengan saudaranya. Mereka membagi harta kurcaci itu di antara mereka. Sang ibu tinggal bersama mereka di istana, dan hidupnya damai.

Sampai akhir hayat, kedua saudari itu tidak pernah terpisah, seperti janji mereka waktu kecil. Mereka sering bercerita kepada anak-anak mereka tentang musim dingin ketika seekor beruang mengetuk pintu mereka.

Ia membawa dua pohon mawar dari depan pondok. Ditanamnya pohon itu di depan jendela istana. Setiap tahun, pohon itu berbunga putih dan merah, sama seperti dulu.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Kebaikan tanpa pamrih akan membawa berkah tak terduga.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)