Putri Salju (Snow White)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaBayi Seputih Salju
Pada suatu musim dingin, salju turun pelan di luar jendela istana. Seorang ratu duduk menjahit di dekat jendela berbingkai kayu hitam. Jarumnya menusuk jarinya, dan setetes darah jatuh di atas salju yang putih.
Ratu memandang warna merah di atas putih itu, lalu berharap, "Andai aku punya anak perempuan, dengan kulit seputih salju, bibir semerah darah, dan rambut sehitam kayu jendela ini."
Tak lama kemudian, harapannya terkabul. Bayi perempuan lahir, dan ia diberi nama Putri Salju. Namun sang ratu meninggal tidak lama setelah itu.
Sang raja sangat menyayangi putrinya. Tetapi rumah istana terasa sepi tanpa sang ratu, dan Putri Salju tumbuh dengan banyak rindu.
02Bagian CeritaCermin yang Tidak Pernah Berbohong
Setahun kemudian, sang raja menikah lagi. Ratu yang baru sangat cantik, tetapi ia sombong dan tidak tahan bila ada yang lebih indah darinya.
Ia memiliki sebuah cermin ajaib. Setiap pagi ia berdiri di depannya dan bertanya, "Cermin, cermin di dinding, siapakah yang paling cantik di negeri ini?"
Cermin selalu menjawab, "Engkaulah yang paling cantik, wahai Ratu." Ratu pun puas, karena ia tahu cermin itu selalu berkata jujur.
Putri Salju tumbuh besar, dan setiap tahun ia semakin cantik. Ketika ia berusia tujuh tahun, kecantikannya sudah seindah hari yang cerah.
Suatu pagi, ratu bertanya seperti biasa. Kali ini cermin menjawab, "Ratu, engkau cantik. Tetapi Putri Salju seribu kali lebih cantik darimu."
Wajah ratu memucat. Sejak hari itu, setiap kali melihat Putri Salju, hatinya terasa seperti dibakar. Rasa iri itu tumbuh sampai ia tidak bisa tidur dan tidak bisa makan dengan tenang.
Ia tidak lagi memikirkan kebaikan. Setiap hari ia hanya memikirkan satu hal, bagaimana menyingkirkan gadis kecil itu dari istana.
03Bagian CeritaPemburu yang Tidak Tega
Suatu hari ratu memanggil seorang pemburu. "Bawa anak itu ke dalam hutan," perintahnya. "Aku tidak mau melihatnya lagi."
Pemburu itu menurut, tetapi hatinya berat. Di tengah hutan ia menatap wajah polos Putri Salju yang tidak tahu apa-apa. Tangannya gemetar.
Ia teringat bahwa Putri Salju tidak pernah berbuat salah kepada siapa pun. Ia tahu perintah itu tidak adil.
"Putri, larilah sejauh mungkin," katanya pelan. "Jangan pernah kembali ke istana." Lalu ia membawa sebuah bukti palsu kepada ratu agar wanita itu percaya bahwa tugasnya selesai.
04Bagian CeritaRumah Mungil di Balik Bukit
Putri Salju berlari melewati batu-batu tajam dan semak berduri. Hutan mulai gelap dan ia sangat lelah. Tiba-tiba ia melihat sebuah rumah kecil di balik bukit.
Binatang-binatang hutan melihatnya berlari, tetapi mereka tidak mengganggunya. Ia merasa hutan yang gelap itu ternyata tidak sejahat hati ratu tirinya.
Ia masuk dengan hati-hati. Di dalam ada meja mungil dengan tujuh piring, tujuh cangkir, dan tujuh tempat tidur kecil. Karena sangat lapar, ia mencicipi sedikit sayur dari setiap piring, lalu berbaring dan tertidur.
Menjelang malam, pemilik rumah itu pulang. Mereka adalah tujuh kurcaci yang bekerja menggali biji logam di dalam gunung.
Mereka bekerja keras sepanjang hari. Karena itu, rumah mereka biasanya berantakan dan sepi ketika mereka pulang.
05Bagian CeritaTujuh Kurcaci yang Baik Hati
Ketika para kurcaci menyalakan tujuh lampu kecil, mereka terkejut. "Siapa yang duduk di kursiku?" tanya seorang. "Siapa yang makan dari piringku?" tanya yang lain.
Lalu mereka menemukan Putri Salju yang sedang tidur pulas. "Betapa cantik anak ini!" bisik mereka. Mereka tidak ingin membangunkannya, dan kurcaci yang ketujuh tidur bergantian di tempat tidur teman-temannya.
Keesokan paginya Putri Salju menceritakan semuanya. Para kurcaci merasa kasihan padanya. "Kau boleh tinggal di sini," kata mereka, "asal kau mau memasak, membersihkan rumah, dan menjahit untuk kami."
"Dengan senang hati," jawab Putri Salju.
Sejak itu rumah kecil tersebut menjadi lebih hangat. Ada makan malam di meja, lantai yang bersih, dan tawa ketika para kurcaci pulang.
Setiap pagi para kurcaci pergi bekerja di gunung. Sebelum berangkat mereka selalu berpesan, "Hati-hati, Putri. Ratu jahat itu mungkin akan mencarimu. Jangan buka pintu untuk siapa pun."
Sementara itu, ratu mengira Putri Salju sudah tiada. Ia kembali bertanya kepada cermin, dan cermin menjawab, "Ratu, engkau cantik. Tetapi Putri Salju, yang tinggal bersama tujuh kurcaci di balik tujuh bukit, seribu kali lebih cantik darimu."
Ratu sadar bahwa ia telah ditipu. Ia memikirkan cara baru, dan kali ini ia memutuskan untuk turun tangan sendiri.
Dengan hati yang panas, ia menyembunyikan diri di ruang rahasia. Di sana ia menyiapkan benda-benda yang tampak biasa, tetapi menyimpan bahaya.
06Bagian CeritaTiga Kali Ratu Menyamar
Ratu mengubah wajahnya menjadi seorang penjual keliling yang tua. Ia berjalan melewati tujuh bukit dan mengetuk pintu rumah kurcaci. "Barang bagus! Murah!" serunya.
Putri Salju mengintip dari jendela. Penjual itu tampak ramah dan hanya menawarkan tali korset berwarna-warni. Putri Salju membuka pintu karena ia menyangka tidak ada bahaya.
Wanita itu mengikat tali terlalu erat, sampai Putri Salju sulit bernapas dan jatuh pingsan. Untunglah para kurcaci pulang tepat waktu. Mereka memotong tali itu dan Putri Salju siuman.
"Wanita tua itu pasti ratu," kata mereka. "Jangan buka pintu lagi!"
Putri Salju mengangguk dan berjanji akan lebih berhati-hati. Ia tahu para kurcaci hanya ingin menjaganya.
Namun ratu belum menyerah. Ia datang lagi dengan sisir cantik yang sudah diberi racun. Kali ini pun para kurcaci menyelamatkan Putri Salju, setelah mereka mencabut sisir itu dari rambutnya.
07Bagian CeritaApel Merah yang Berbahaya
Untuk ketiga kalinya ratu menyamar sebagai seorang petani. Ia membawa keranjang apel merah yang tampak ranum. Salah satu sisi apel itu telah diberi racun.
"Aku tidak boleh membuka pintu," kata Putri Salju dari balik jendela.
"Tidak apa-apa, Nak," jawab petani itu. "Aku tidak memaksamu. Lihat, aku juga makan separuh apel ini." Wanita itu menggigit sisi yang tidak beracun dan menyodorkan sisi yang lain.
Putri Salju tergoda. Ia menggigit apel itu, lalu jatuh tak sadarkan diri. Para kurcaci pulang, tetapi kali ini mereka tidak bisa membangunkannya.
Mereka mencari racun di rambutnya, melonggarkan bajunya, dan membasuh wajahnya dengan air. Namun tidak ada yang berhasil. Rumah kecil itu menjadi sangat sunyi.
08Bagian CeritaPeti Kaca di Atas Bukit
Para kurcaci menangis selama tiga hari. Putri Salju tampak seperti sedang tidur, dengan pipi yang tetap merona. Mereka tidak sanggup menguburkannya di dalam tanah.
Akhirnya mereka membuat sebuah peti kaca bening. Mereka menaruh Putri Salju di dalamnya dan menuliskan namanya dengan huruf emas. Para kurcaci bergantian menjaganya di atas bukit, dan burung-burung datang untuk menemaninya.
Suatu hari, seorang pangeran yang sedang berkelana lewat di sana. Ia melihat peti kaca itu dan begitu terharu oleh kecantikan Putri Salju. "Izinkan aku membawanya," pintanya kepada para kurcaci.
09Bagian CeritaPotongan Apel yang Terlepas
Para kurcaci awalnya menolak. Namun karena pangeran memohon dengan tulus, mereka akhirnya setuju. Para pelayan pangeran mengangkat peti itu.
Salah satu pelayan tersandung akar pohon. Peti itu berguncang, dan potongan apel yang tersangkut di tenggorokan Putri Salju terlempar keluar. Ia pun membuka mata.
"Di mana aku?" tanyanya bingung. Pangeran menjawab dengan gembira, "Kau bersamaku, dan kau selamat." Ia menceritakan semuanya, lalu mengajak Putri Salju pergi ke istana ayahnya.
Para kurcaci datang berlari dan menangis bahagia. Putri Salju memeluk mereka satu per satu dan mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan mereka.
10Bagian CeritaIri Hati yang Menghabisi Pemiliknya
Pernikahan Putri Salju dan pangeran dirayakan dengan pesta besar. Ratu jahat itu pun menerima undangan, tanpa tahu siapa mempelai perempuannya.
Sebelum berangkat, ia bertanya kepada cermin. Cermin menjawab, "Ratu, engkau cantik. Tetapi pengantin muda itu seribu kali lebih cantik darimu."
Ratu marah dan gelisah. Ketika ia tiba dan melihat bahwa pengantin itu adalah Putri Salju, ia tidak sanggup menahan rasa malu dan amarahnya. Ia berlari keluar dari istana dan tidak pernah terlihat lagi.
Putri Salju hidup bahagia bersama pangeran. Ia tidak pernah melupakan tujuh kurcaci yang telah menyelamatkannya. Dan ia belajar bahwa kebaikan hati akan dijaga oleh sahabat yang tulus, sementara iri hati hanya melukai pemiliknya.
Pesan Moral
Iri hati membawa kehancuran, kebaikan hati membawa perlindungan.