Putri Tidur (Sleeping Beauty/Dornröschen)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaDoa Seorang Raja dan Ratu
Dahulu ada seorang raja dan ratu yang hidup dengan bahagia. Namun ada satu hal yang belum mereka miliki, yaitu seorang anak. Setiap hari mereka berharap, tetapi tahun demi tahun berlalu tanpa kabar gembira.
Akhirnya, setelah penantian yang sangat panjang, sang ratu melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Raja begitu gembira sampai ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk mengadakan pesta yang sangat besar.
Ia mengundang keluarga, sahabat, dan para tetangga. Ia juga mengundang para peri bijaksana di negerinya, karena ia ingin mereka memberikan berkat kepada sang putri kecil.
02Bagian CeritaDua Belas Piring Emas
Di negeri itu ada tiga belas peri bijaksana. Namun raja hanya memiliki dua belas piring emas untuk jamuan makan. Karena itu, salah seorang dari mereka tidak bisa diundang.
Pesta pun dimulai dan berlangsung meriah. Setelah jamuan selesai, para peri mulai memberi hadiah ajaib kepada sang bayi. Peri pertama memberinya kebajikan, dan peri kedua memberinya keindahan.
Peri berikutnya memberi kekayaan, lalu kebaikan hati, dan seterusnya. Setiap hadiah terdengar indah, dan seluruh tamu di aula tersenyum senang. Sang putri kecil pun akan tumbuh dengan berkah dari hampir semua kebaikan di dunia.
03Bagian CeritaPeri Ketiga Belas
Ketika peri kesebelas baru selesai berbicara, pintu aula mendadak terbuka lebar. Peri ketiga belas masuk dengan wajah merah karena marah. Ia tidak diundang, dan ia tidak mau menyembunyikan kekesalannya.
Tanpa memberi salam, ia berseru dengan lantang, "Pada usia lima belas tahun, sang putri akan tertusuk gelendong dan meninggal!" Kemudian ia berbalik dan keluar dari aula tanpa berkata apa-apa lagi.
Semua orang membeku. Ratu menutup mulutnya, dan raja memeluk bayinya erat-erat. Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan.
04Bagian CeritaBerkat Peri Kedua Belas
Untunglah, peri kedua belas belum memberi hadiahnya. Ia maju dengan tenang. "Aku tidak bisa menghapus kutukan itu," katanya lembut. "Tetapi aku bisa melunakkannya."
"Sang putri tidak akan meninggal. Ia hanya akan tertidur dengan lelap selama seratus tahun." Kata-kata itu sedikit menenangkan hati raja dan ratu.
Namun raja masih sangat takut. Ia ingin melindungi putrinya dari bahaya apa pun. Karena itu, ia memerintahkan agar semua gelendong di seluruh kerajaan dikumpulkan dan dimusnahkan.
Waktu berlalu, dan sang putri tumbuh menjadi gadis yang menawan. Semua yang melihatnya mencintainya. Ia baik hati, cerdas, dan ramah kepada siapa saja, sehingga seluruh istana merasa bahagia karenanya.
Raja dan ratu selalu menjaganya, tetapi kutukan itu belum benar-benar hilang dari ingatan mereka. Setiap tahun menjelang ulang tahunnya, hati mereka terasa berat.
Ia suka menari di taman, bernyanyi di dekat air mancur, dan menolong para pelayan. Tidak ada yang mengira bahwa gadis semanis itu akan menghadapi kutukan yang berat.
Pada hari ulang tahunnya yang kelima belas, raja dan ratu kebetulan sedang pergi. Sang putri ditinggalkan sendirian di istana. Ia pun berkeliling dan menjelajahi setiap ruangan, sesuka hatinya.
05Bagian CeritaMenara yang Belum Pernah Dikunjungi
Hari itu terasa sangat sunyi. Langkah kakinya menggema di lorong-lorong panjang. Ia bosan, dan rasa ingin tahunya makin besar dari waktu ke waktu.
Ia melihat kamar-kamar besar dan kecil, lalu tiba di sebuah menara tua yang belum pernah ia masuki. Ia menaiki tangga sempit yang berputar. Di ujungnya ada sebuah pintu kecil dengan kunci berkarat.
Ia memutar kunci itu, dan pintu terbuka dengan bunyi berderit. Di dalam kamar kecil itu, seorang perempuan tua sedang duduk memintal benang dengan gelendong.
"Selamat pagi, Nenek," sapa sang putri. "Apa yang sedang Nenek kerjakan?"
"Aku sedang memintal," jawab perempuan tua itu sambil mengangguk. Rupanya ia belum pernah mendengar perintah raja untuk memusnahkan semua gelendong.
"Benda apa itu, yang berputar begitu cepat?" tanya sang putri. Ia belum pernah melihat gelendong sebelumnya. Rasa ingin tahunya membuat ia tidak bisa menahan diri.
Ia mengulurkan tangan untuk mencoba memintal juga. Tetapi baru saja ia menyentuh gelendong itu, ujung yang runcing menusuk jarinya. Kutukan yang dulu diucapkan pun terjadi.
Sang putri merasakan matanya sangat berat. Ia menguap, lalu berjalan ke ranjang yang ada di kamar itu, dan langsung berbaring. Tidak lama kemudian ia tertidur lelap.
06Bagian CeritaSeluruh Istana Ikut Terlelap
Perempuan tua itu pun tertidur di kursinya, dengan gelendong yang masih berputar pelan. Kamar kecil itu menjadi sunyi sekali.
Tidur itu menyebar ke seluruh istana. Raja dan ratu, yang baru pulang dan masuk ke aula, tiba-tiba tertidur di kursi mereka. Semua pelayan, para pengawal, dan para penasihat juga ikut terlelap.
Di halaman, kuda-kuda tidur di kandang mereka. Anjing-anjing tidur di lantai, dan burung merpati tidur di atap. Lalat pun berhenti di dinding dan tidak bergerak lagi.
Api di dapur berhenti menyala. Koki yang sedang marah kepada anak dapur, dan hendak menjewer telinganya, tertidur dengan tangan terangkat. Angin pun berhenti bertiup, dan tidak ada satu daun pun yang bergoyang.
07Bagian CeritaPagar Mawar Berduri
Di sekeliling istana, tumbuhlah semak mawar berduri. Setiap tahun semak itu makin tinggi, sampai akhirnya menutupi seluruh istana. Bahkan bendera di puncak menara tidak terlihat lagi.
Orang-orang di negeri itu menceritakan kisah tentang putri cantik yang tertidur di balik semak itu, dan mereka menamainya Dornröschen, yaitu Putri Mawar Berduri.
Dari waktu ke waktu, beberapa pangeran datang dan mencoba menembus pagar duri itu. Namun duri-duri itu tumbuh rapat seperti tangan yang saling menggenggam, dan mereka tidak bisa melangkah lebih jauh. Mereka harus kembali dengan tangan hampa.
08Bagian CeritaPangeran yang Datang Seratus Tahun Kemudian
Bertahun-tahun berlalu. Suatu hari, seorang pangeran dari negeri lain tiba di sana. Seorang lelaki tua menceritakan kepadanya tentang istana di balik semak berduri, dan putri cantik yang sedang tidur di dalamnya.
Lelaki tua itu berkata bahwa banyak pangeran sudah mencoba menembusnya, tetapi tidak ada yang berhasil. "Kakekku pernah bercerita tentang hal ini," katanya.
Pangeran itu berkata dengan mantap, "Aku tidak takut. Aku akan pergi dan melihat sendiri putri itu." Lelaki tua itu mengingatkannya agar berhati-hati, tetapi sang pangeran tetap melangkah maju.
Kebetulan, seratus tahun sudah genap. Ketika sang pangeran mendekat, semak berduri itu berubah menjadi bunga-bunga indah. Bunga itu bergeser dan membukakan jalan baginya. Setelah ia lewat, duri-duri itu kembali menutup.
09Bagian CeritaIstana yang Terbangun
Ia tidak berhenti berjalan. Ada sesuatu yang membuatnya ingin terus maju, walaupun suasana di sekelilingnya begitu aneh. Tidak ada suara apa pun, kecuali detak jantungnya sendiri.
Pangeran itu berjalan melewati halaman yang sunyi. Ia melihat kuda-kuda tertidur, anjing-anjing berbaring dengan tenang, dan merpati menyembunyikan kepala di bawah sayap. Semuanya tampak seperti lukisan.
Ia memasuki istana dan melewati para pelayan yang tertidur. Ia mendaki menara tua, membuka pintu kecil, dan menemukan sang putri terbaring di ranjang. Ia sangat cantik, sehingga sang pangeran tidak bisa berpaling.
Dengan lembut ia membungkuk dan mencium dahi sang putri. Perlahan, sang putri membuka matanya dan tersenyum kepadanya. Seratus tahun telah berlalu, dan kutukan itu akhirnya selesai.
Sang putri bertanya tentang ayah dan ibunya. Pangeran itu menjelaskan dengan lembut apa yang telah terjadi. Sang putri terkejut, tetapi ia merasa bersyukur karena tidak lagi sendirian.
Mereka turun ke aula bersama-sama. Raja dan ratu terbangun, begitu pula seluruh istana. Kuda-kuda meringkik, anjing-anjing menggonggong, dan merpati terbang ke langit yang cerah.
Api di dapur menyala kembali. Koki menjewer anak dapur yang sudah menunggu seratus tahun, dan makanan mulai dimasak lagi. Istana yang sunyi itu kembali riuh dengan kehidupan.
10Bagian CeritaHari yang Ditunggu Begitu Lama
Di aula, semua orang bersorak gembira. Raja dan ratu memeluk putri mereka, dan air mata bahagia mengalir di pipi keduanya. Mereka berterima kasih kepada sang pangeran.
Tidak lama kemudian, pesta pernikahan pun diadakan dengan meriah. Sang putri dan pangeran hidup bahagia sampai akhir hayat mereka, dan seluruh negeri ikut merayakannya.
Kisah ini mengajarkan bahwa kutukan tidak selalu bisa dihindari, sekuat apa pun kita mencoba. Raja telah memusnahkan semua gelendong, tetapi sang putri tetap menemukannya.
Namun ada harapan bagi mereka yang sabar. Dalam seratus tahun, istana itu tidak dilupakan. Pada waktunya, seseorang datang dan membuka jalan.
Kesabaran dan harapan pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan.
Pesan Moral
Kesabaran dan harapan akan membuahkan kebahagiaan.