Rapunzel

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaKebun Milik Sang Penyihir
Dahulu ada sepasang suami istri yang sangat mendambakan seorang anak. Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya sang istri mengandung. Mereka sangat bahagia dan mulai menyiapkan rumah kecil mereka.
Dari jendela belakang, mereka bisa melihat sebuah kebun yang subur dan indah. Kebun itu dikelilingi tembok tinggi. Tidak ada yang berani masuk, karena pemiliknya adalah seorang penyihir yang ditakuti.
Namun sang istri sering memandangi kebun itu dari jendela sambil mengusap perutnya. Ia membayangkan anaknya kelak bermain di antara bunga-bunga.
Suatu hari sang istri berdiri di dekat jendela dan memandangi kebun itu. Di antara bedengan, tumbuh tanaman hijau yang segar. Namanya rapunzel, sejenis sayuran daun yang lezat.
Ia sangat ingin memakannya. Setiap hari keinginan itu makin kuat, sampai ia menjadi pucat dan lemah. "Kalau aku tidak makan rapunzel itu," katanya kepada suaminya, "aku akan sakit."
Sang suami sangat cemas. Ia tidak tega melihat istrinya menderita, dan pada waktu senja ia memutuskan memanjat tembok kebun. Ia memetik segenggam rapunzel dan membawanya pulang.
Jantungnya berdebar keras sepanjang jalan pulang. Ia tahu apa yang ia lakukan salah, tetapi ia merasa tidak punya pilihan lain.
02Bagian CeritaHarga yang Harus Dibayar
Istrinya memasak daun itu menjadi salad dan memakannya dengan lahap. Rasanya begitu enak sampai keesokan harinya ia menginginkannya tiga kali lebih banyak.
Malam berikutnya, suaminya memanjat tembok lagi. Namun kali ini sang penyihir sudah menunggunya, dan matanya menyala marah.
Langkah sang penyihir tidak terdengar, dan ia muncul dari balik semak seperti bayangan gelap. Sang suami terpaku di tempatnya.
"Beraninya kau mencuri dari kebunku!" serunya. Sang suami menjelaskan dengan gemetar bahwa istrinya sedang mengandung dan sangat menginginkan tanaman itu.
Penyihir itu berpikir sejenak, lalu berkata, "Baiklah, ambil sebanyak yang kau mau. Tetapi ada satu syarat. Anak yang lahir nanti harus kau serahkan kepadaku. Aku akan merawatnya seperti ibunya sendiri."
Karena sangat takut, sang suami menyetujuinya.
Ia pulang dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani menceritakan syarat itu kepada istrinya, dan hari-hari berlalu dengan hati yang berat.
03Bagian CeritaAnak Bernama Rapunzel
Beberapa waktu kemudian, bayi perempuan lahir. Penyihir itu datang, memberi nama Rapunzel sesuai tanaman itu, dan membawanya pergi. Kedua orang tua hanya bisa menangis.
Mereka mengenang perjanjian itu sepanjang sisa hidup mereka. Setiap hari mereka berharap anak mereka baik-baik saja.
Rapunzel tumbuh menjadi gadis paling cantik di bawah matahari. Rambutnya berwarna emas, halus, dan panjang sekali. Setiap kali disisir, rambut itu bercahaya seperti benang yang ditenun dari sinar matahari.
Penyihir menyayanginya, tetapi ia juga sangat takut kehilangan gadis itu. Ketika Rapunzel berusia dua belas tahun, penyihir mengurungnya di sebuah menara di tengah hutan.
04Bagian CeritaMenara Tanpa Pintu
Menara itu tinggi dan tidak punya tangga maupun pintu. Hanya ada satu jendela kecil di puncaknya. Di sanalah Rapunzel hidup sendirian.
Rapunzel memiliki buku-buku dan cermin, tetapi tidak ada teman. Ia menghabiskan hari dengan menyisir rambut, menyulam, dan memandang burung dari jendela.
Setiap kali penyihir ingin masuk, ia berdiri di bawah dan memanggil, "Rapunzel, Rapunzel, turunkan rambutmu."
Rapunzel melepas jalinan rambutnya, mengikatnya pada kait jendela, lalu menjuntaikannya sampai ke tanah. Penyihir memanjat rambut itu untuk naik.
Untuk mengusir sepi, Rapunzel sering bernyanyi. Suaranya merdu dan terdengar sampai jauh di dalam hutan.
Ia bernyanyi tentang langit, tentang hutan, dan tentang keinginannya untuk melihat dunia di luar dinding menara.
05Bagian CeritaSuara di Tengah Hutan
Suatu hari, seorang pangeran sedang berkuda melewati hutan itu. Ia mendengar nyanyian yang begitu indah dan berhenti untuk mendengarkan. Ia mencari sumber suara itu, tetapi hanya menemukan menara tinggi tanpa pintu.
Ia mengelilingi menara itu berkali-kali. Ia meraba dinding batunya, mencari pintu, tetapi tidak menemukan satu pun.
Pangeran pulang, tetapi nyanyian itu terus terngiang di kepalanya. Setiap hari ia kembali ke hutan dan mendengarkan dari balik pohon.
Pada suatu hari, ia melihat penyihir mendekati menara. Ia mendengar kata-kata yang diucapkan, lalu melihat rambut emas itu terjulur ke bawah. "Jadi begitu cara naiknya," pikirnya.
06Bagian CeritaPertemuan di Puncak Menara
Keesokan senja, pangeran berdiri di bawah menara dan menirukan suara penyihir. "Rapunzel, Rapunzel, turunkan rambutmu." Rambut itu pun meluncur turun, dan ia memanjatnya.
Rambut itu kuat dan tebal. Pangeran memanjat perlahan, sambil berdoa agar tidak ada yang melihatnya dari bawah.
Rapunzel terkejut. Selama ini ia belum pernah melihat seorang laki-laki. Namun pangeran berbicara dengan lembut dan menjelaskan bahwa nyanyiannya telah menyentuh hatinya.
"Aku tidak akan menyakitimu," katanya. "Aku hanya ingin mengenalmu."
Mereka mulai berbicara tentang banyak hal. Pangeran bercerita tentang kerajaan dan kuda-kudanya, sementara Rapunzel bercerita tentang lagu-lagu yang ia buat sendiri.
Rapunzel melihat kebaikan di mata pangeran. Ia merasa, untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian. Ia setuju untuk bertemu lagi.
Sejak malam itu, menara yang sunyi terasa hangat. Rapunzel menunggu senja dengan hati yang berdebar, karena ia tahu seseorang akan datang mendengarkan nyanyiannya.
07Bagian CeritaTali Sutra dan Rahasia yang Terbongkar
Pangeran datang setiap malam. Rapunzel ingin sekali keluar dari menara. "Bawalah seuntai benang sutra setiap kali kau datang," pintanya. "Aku akan menenunnya menjadi tangga, lalu aku bisa turun dan pergi bersamamu."
Namun rahasia itu tidak bertahan lama. Suatu hari Rapunzel keceplosan bertanya kepada penyihir, "Mengapa Ibu lebih berat dibanding pangeran muda ketika naik?"
"Dasar anak bodoh!" teriak penyihir itu. "Kupikir kau sudah kupisahkan dari dunia, tetapi kau menipuku!"
Rapunzel terdiam. Ia menyadari bahwa rahasianya tidak lagi aman, dan hatinya bergetar karena takut.
08Bagian CeritaRambut yang Dipotong
Dengan marah, penyihir menarik rambut emas Rapunzel dan menggunting jalinannya. Lalu ia membawa Rapunzel ke padang gersang yang sunyi dan meninggalkannya di sana.
Rapunzel menangis sepanjang jalan. Ia memohon ampun dan berjanji akan patuh, tetapi penyihir itu tidak mau mendengar.
Ia kembali ke menara dan mengikat rambut yang sudah dipotong itu pada kait jendela. Ketika pangeran datang dan memanggil, penyihir menjulurkan rambut itu ke bawah.
Pangeran memanjat dengan gembira, tetapi yang menyambutnya hanyalah wajah marah sang penyihir. "Burung yang kau cari sudah pergi!" kata penyihir itu. "Kau tidak akan pernah melihatnya lagi."
Karena kaget dan sedih, pangeran melompat dari jendela. Ia jatuh ke semak berduri, dan duri itu melukai matanya sehingga ia tidak bisa melihat lagi.
09Bagian CeritaMengembara dalam Gelap
Bertahun-tahun pangeran mengembara di hutan dalam gelap. Ia hanya makan akar dan buah-buahan, dan setiap hari ia memanggil nama Rapunzel.
Ia hanya makan akar dan buah-buahan yang ia temukan di jalan. Ia sering tersandung, tetapi selalu bangkit lagi, karena bayangan wajah Rapunzel menjadi penuntunnya.
Ia menyesali kepergiannya, tetapi tidak pernah kehilangan harapan. Setiap malam ia berjanji akan mencari sampai Rapunzel ditemukan.
Sementara itu, Rapunzel tinggal di padang gersang. Ia hidup sederhana dan tetap bernyanyi, karena hanya itu yang membuat hatinya kuat.
Setiap pagi ia mencari air dan makanan, dan setiap malam ia memandang bintang. Ia yakin suatu hari pangeran akan datang, meskipun tidak tahu bagaimana caranya.
Suatu hari, pangeran mendengar suara yang sangat ia kenal. Ia berjalan mengikutinya, sampai akhirnya berdiri di dekat seorang wanita yang sedang bernyanyi.
Suara itu terdengar lebih dewasa, tetapi tetap merdu. Pangeran tahu bahwa ia tidak mungkin salah mengenalinya.
10Bagian CeritaAir Mata yang Menyembuhkan
Rapunzel segera mengenali pangeran. Ia berlari memeluknya sambil menangis. Dua tetes air matanya jatuh ke mata pangeran.
Pada saat itu, mata pangeran menjadi jernih kembali. Ia bisa melihat wajah Rapunzel, dan keduanya tertawa dan menangis bersamaan.
Untuk sesaat, mereka hanya berdiri diam, saling memandang, seakan-akan tidak percaya bahwa semua penantian itu sudah berakhir.
Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari padang gersang itu, dan langkah mereka terasa ringan.
Pangeran membawa Rapunzel pulang ke kerajaannya. Rakyat menyambut mereka dengan gembira, dan mereka hidup lama dan bahagia.
Mereka mengerti bahwa cinta dan keberanian dapat membuka pintu paling sulit. Bahkan menara tertinggi pun tidak dapat menahan harapan yang tidak pernah padam.
Pesan Moral
Cinta sejati dan keberanian dapat membebaskan dari belenggu apa pun.