Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Rumpelstiltskin

Seorang penggiling gandum yang ingin tampak penting membual kepada raja bahwa putrinya dapat memintal jerami menjadi emas. Raja yang serakah mengurung sang gadis di ruangan penuh jerami dan mengancam akan menghukumnya bila tidak berhasil. Dalam keputusasaan, muncul seorang makhluk kecil yang bersedia mengerjakannya, dengan bayaran yang semakin mahal setiap malam. Pada malam ketiga, sang gadis tidak lagi memiliki apa pun untuk diberikan, kecuali sebuah janji yang kelak sangat ia sesali. Setelah menjadi ratu, ia harus menghadapi tagihan janji itu dengan satu kesempatan untuk lolos: menebak nama si makhluk kecil. Kisah Grimm ini mengingatkan betapa ringannya sebuah bualan diucapkan, dan betapa beratnya menanggung akibat janji yang dibuat tanpa berpikir.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Rumpelstiltskin
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaBualan di Depan Sang Raja

Dahulu ada seorang penggiling gandum yang miskin, tetapi sangat ingin tampak penting. Ia punya seorang putri yang cantik dan cerdas. Sayangnya, mulut sang penggiling lebih besar daripada akalnya.

Suatu hari ia kebetulan bertemu dengan raja negeri itu. Supaya terlihat hebat, ia berkata, "Putri hamba pandai sekali. Ia bisa memintal jerami menjadi emas!"

Raja itu sangat menyukai emas. Matanya langsung berbinar. "Kalau begitu, bawa putrimu ke istana besok pagi. Aku ingin melihat kepandaiannya sendiri," katanya.

02Bagian CeritaKamar Penuh Jerami

Keesokan harinya, sang gadis dibawa ke istana. Raja mengantarnya ke sebuah kamar yang sangat besar. Seluruh lantainya penuh tumpukan jerami, dan di sudut ada sebuah roda pemintal.

"Bekerjalah sepanjang malam," kata raja. "Kalau besok pagi semua jerami ini belum menjadi emas, engkau akan dihukum." Lalu ia mengunci pintu dan pergi.

Sang gadis duduk sendirian di antara jerami. Ia tidak tahu cara mengubah jerami menjadi emas. Ia takut, dan air matanya mulai jatuh satu per satu.

03Bagian CeritaMakhluk Kecil di Tengah Malam

Tiba-tiba pintu berderit dan terbuka. Seorang lelaki mungil masuk. Tubuhnya hanya setinggi lutut orang dewasa, tetapi matanya tajam dan gerak-geriknya cekatan.

"Selamat malam, Putri Penggiling," sapanya. "Mengapa engkau menangis begitu sedih?"

"Aku harus memintal jerami menjadi emas, tetapi aku tidak bisa," jawab sang gadis sambil terisak. "Kalau gagal, aku akan dihukum."

Makhluk kecil itu memiringkan kepala. "Apa yang mau engkau berikan kepadaku kalau aku mengerjakannya?" tanyanya. Sang gadis melepas kalung dari lehernya dan menyerahkannya.

Lelaki mungil itu duduk di depan roda pemintal. Ia memutarnya, dan roda itu berdesing cepat. Tiga kali putaran, satu gulungan penuh benang emas.

Suara roda itu terdengar seperti nyanyian kecil di kamar yang sunyi. Sang gadis hanya bisa memandang dengan takjub. Ia tidak berani bertanya bagaimana caranya.

Ia memintal terus sepanjang malam. Sebelum fajar, semua jerami sudah berubah menjadi gulungan emas berkilau. Lalu ia menghilang begitu saja, secepat ia datang.

Ketika matahari terbit, raja membuka pintu. Ia terperangah melihat emas di mana-mana. Namun ia tidak merasa cukup. Ia justru makin serakah.

04Bagian CeritaMalam Kedua yang Lebih Berat

Raja membawa sang gadis ke kamar yang lebih besar, penuh jerami lebih banyak lagi. "Ubah semuanya menjadi emas sebelum pagi, kalau engkau ingin selamat," perintahnya, lalu mengunci pintu.

Sepanjang hari itu sang gadis tidak bisa makan. Ia tahu raja tidak akan pernah berhenti meminta lebih banyak. Setiap emas yang ia terima hanya membuat raja ingin emas yang baru.

Sang gadis kembali menangis. Sekali lagi pintu terbuka, dan si makhluk kecil muncul. "Apa yang mau engkau berikan kali ini?" tanyanya.

"Aku hanya punya cincin di jariku," kata sang gadis. Ia melepasnya dengan berat hati. Makhluk kecil itu mengambilnya, duduk di roda pemintal, dan bekerja sampai semua jerami menjadi emas.

05Bagian CeritaJanji pada Malam Ketiga

Pagi harinya, raja sangat gembira melihat emas yang menggunung. Tetapi ia masih belum puas. Ia membawa sang gadis ke kamar yang paling luas, dengan jerami setinggi dinding.

"Kerjakan ini juga," kata raja. "Kalau berhasil, engkau akan kujadikan istriku. Engkau akan menjadi ratu." Kemudian pintu dikunci lagi.

Malam itu makhluk kecil datang untuk ketiga kalinya. "Apa yang bisa engkau berikan sekarang?" tanyanya. Sang gadis menjawab pelan, "Tidak ada lagi. Aku sudah tidak punya apa-apa."

Makhluk kecil itu berpikir sebentar. "Kalau begitu, berjanjilah bahwa jika engkau menjadi ratu, engkau akan memberikan anak pertamamu kepadaku," katanya.

Sang gadis ketakutan, tetapi ia melihat tidak ada jalan lain. Ia belum tahu apakah ia sungguh akan menjadi ratu. Karena terdesak, ia berjanji. Makhluk kecil itu pun memintal sampai semua jerami menjadi emas.

06Bagian CeritaSang Ratu dan Bayinya

Pagi itu, raja melihat gunung emas di kamar terakhir. Ia tertegun lama. Lalu ia mengumumkan pernikahannya, dan seluruh negeri ikut bersuka cita.

Raja menepati kata-katanya. Ia menikahi putri penggiling itu, dan gadis miskin itu pun menjadi ratu. Setahun kemudian ia melahirkan seorang bayi yang sehat dan cantik.

Sang ratu begitu bahagia sampai lupa pada janjinya. Ia menimang bayinya setiap hari dan merasa hidupnya sempurna.

Pada suatu hari, ketika ia sedang sendirian di kamarnya, pintu tiba-tiba terbuka. Lelaki mungil itu berdiri di sana. "Aku datang menagih janjimu," katanya. "Serahkan anakmu kepadaku."

07Bagian CeritaTiga Hari untuk Menebak

Sang ratu terkejut dan memohon dengan sungguh-sungguh. Ia menawarkan semua perhiasan dan harta kerajaan. "Ambillah semua kekayaanku, tetapi jangan bayiku," pintanya sambil menangis.

"Tidak," jawab makhluk kecil itu. "Bagiku, satu makhluk hidup lebih berharga daripada semua harta di dunia." Namun melihat air mata sang ratu, hatinya sedikit melunak.

"Baiklah," katanya. "Aku beri engkau waktu tiga hari. Jika dalam tiga hari engkau bisa menebak namaku, engkau boleh menyimpan anakmu."

Sang ratu tidak tidur malam itu. Ia menuliskan semua nama yang pernah ia dengar, yang biasa maupun yang aneh. Ia berharap salah satunya adalah nama lelaki mungil itu.

Keesokan harinya, lelaki mungil itu datang. Sang ratu membacakan daftarnya, "Kaspar? Melki? Baltasar?" Setiap kali, makhluk itu menggeleng sambil tersenyum tipis. "Bukan, bukan, bukan," katanya.

Hari kedua, sang ratu mencoba nama-nama yang lebih ganjil. Ia menyebut nama-nama yang ia kumpulkan dari orang-orang di seluruh negeri. Jawabannya tetap sama, "Bukan itu namaku."

Menjelang malam kedua, sang ratu mulai gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, sambil memeluk bayinya yang sedang tertidur. Ia tidak sanggup membayangkan kehilangan anak itu.

Sang ratu makin cemas. Ia lalu mengutus seorang pesuruh yang setia untuk berkeliling negeri. "Dengarkan setiap nama yang aneh, dan segera laporkan kepadaku," pesannya.

08Bagian CeritaApi Unggun di Kaki Gunung

Ia bertanya kepada pedagang, petani, dan para penjaga gerbang di setiap desa. Kakinya lelah dan bekalnya menipis, tetapi ia tidak mau kembali dengan tangan kosong.

Pesuruh itu berjalan jauh, melewati hutan dan bukit. Ia mendengar banyak sekali nama, tetapi tidak ada yang tampak cocok. Menjelang malam hari ketiga, ia tiba di kaki sebuah gunung tinggi.

Di sana ia melihat sebuah pondok kecil dan api unggun yang menyala. Seorang lelaki mungil sedang melompat-lompat gembira mengelilingi api itu sambil bernyanyi.

"Hari ini kupanggang, besok kubuat bir, lusa kuambil bayi sang ratu. Untung tak ada yang tahu, namaku Rumpelstiltskin!" Pesuruh itu menahan napas. Ia mengingat nama itu baik-baik, lalu bergegas kembali ke istana.

09Bagian CeritaNama yang Akhirnya Terucap

Pada hari ketiga, lelaki mungil itu datang lagi. Sang ratu berpura-pura berpikir. "Apakah namamu Konrad?" tanyanya. "Bukan," jawab makhluk itu. "Apakah namamu Heinz?" "Bukan."

Jantung sang ratu berdebar kencang. Ia menatap mata lelaki mungil itu, lalu tersenyum kecil. Ia sudah tahu jawabannya, dan ia tidak akan gugup lagi.

Lalu sang ratu berkata pelan, "Kalau begitu, mungkin namamu Rumpelstiltskin."

Wajah lelaki mungil itu memerah. "Ada yang memberitahumu! Pasti seseorang memberitahumu!" teriaknya. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan sangat marah.

Ruangan itu mendadak sunyi. Sang ratu memandang pintu yang terbuka, lalu menoleh pada pesuruhnya. Ia berterima kasih kepadanya dengan tulus karena perjalanannya yang panjang.

Ia begitu murka sampai berlari keluar dan tidak pernah terlihat lagi. Sejak hari itu, tidak ada lagi yang menagih janji kepada sang ratu.

10Bagian CeritaPelajaran dari Janji yang Terburu-buru

Malam itu istana terasa sangat tenang. Sang ratu duduk di samping ayunan, memandangi wajah bayinya yang tertidur. Ia bersyukur karena bisa menjaga anaknya tetap bersamanya.

Sang ratu memeluk bayinya erat-erat. Ia merasa lega, tetapi juga sadar bahwa semua kesulitan itu bermula dari sebuah bualan kecil ayahnya. Kata-kata yang ringan diucapkan ternyata bisa membawa akibat yang berat.

Ia juga belajar bahwa janji yang dibuat tanpa dipikirkan bisa menjadi beban yang sangat besar. Karena itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati dengan setiap kata yang ia ucapkan.

Nama pun ternyata sangat berarti. Selama lelaki mungil itu tidak diketahui namanya, ia terasa menakutkan. Setelah namanya terucap, kekuatannya hilang.

Berpikirlah sebelum berjanji, dan jangan pernah meremehkan nama serta identitas seseorang.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Berhati-hatilah membuat janji, dan jangan meremehkan nama serta identitas.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)