Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Sang Pangeran Katak (The Frog Prince)

Di tepi sebuah sumur di hutan, seorang putri bungsu bermain dengan bola emas kesayangannya hingga bola itu jatuh ke air yang dalam. Ia menangis sampai seekor katak menawarkan diri mengambilnya, dengan syarat sang putri mau bersahabat, makan dari piring yang sama, dan tidur di sampingnya. Sang putri berjanji tanpa sungguh-sungguh, lalu bergegas pulang setelah bolanya kembali. Namun katak itu mengikutinya sampai ke istana, dan sang raja menegaskan bahwa janji harus ditepati. Putri itu terpaksa menuruti dengan hati enggan. Dalam kisah Grimm, perubahan yang terjadi kemudian bukan sekadar keajaiban, melainkan buah dari tindakan sang putri sendiri. Cerita ini mengingatkan bahwa janji harus dipegang, dan bahwa rupa yang tampak tidak selalu mencerminkan siapa seseorang sebenarnya.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Sang Pangeran Katak (The Frog Prince)
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaBola Emas dan Sumur Tua

Dahulu ada seorang raja yang memiliki beberapa putri. Yang paling muda sangat cantik, sampai matahari pun seakan kagum setiap kali menyinari wajahnya. Ia juga sedikit manja dan mudah merajuk.

Di dekat istana ada hutan yang rindang. Di bawah pohon linden tua di tengah hutan itu terdapat sebuah sumur yang dalam dan dingin. Kalau hari terasa panas, sang putri suka duduk di tepinya.

Kadang ia duduk di sana berjam-jam. Ia mendengarkan burung bernyanyi dan merasakan angin sejuk dari sela-sela daun. Hutan itu menjadi tempat favoritnya untuk menyendiri.

Ia punya sebuah mainan kesayangan, yaitu bola emas yang berkilau. Ia melemparnya tinggi-tinggi, lalu menangkapnya lagi. Bagi sang putri, itulah permainan paling menyenangkan di dunia.

02Bagian CeritaBola yang Jatuh ke Air

Suatu hari, bola itu tidak jatuh ke tangannya. Bola emas itu memantul di tanah, menggelinding, lalu tercebur ke dalam sumur. Air tertutup rapat, dan bola itu tidak tampak lagi.

Sang putri menjerit dan menangis keras. Ia menatap dasar sumur yang gelap, tetapi airnya terlalu dalam. Ia tidak sanggup menjangkau bola itu.

Ia mencoba menjulurkan tangan sejauh mungkin, tetapi yang tampak hanya bayangan wajahnya sendiri di air. Ia merasa seakan kehilangan sahabat terbaiknya.

"Aku akan memberikan apa saja untuk mendapatkan bolaku lagi," isaknya. "Pakaian indah, perhiasan, bahkan mahkotaku pun akan kuberikan!"

Tiba-tiba terdengar suara serak di dekatnya. "Wahai putri, mengapa engkau menangis begitu sedih? Batu pun bisa iba mendengarnya."

Sang putri menoleh. Ia melihat seekor katak besar menyembulkan kepalanya yang jelek dari air. "Oh, ternyata kamu," katanya. "Aku menangis karena bola emasku jatuh ke sumur."

"Tenanglah," kata katak itu. "Aku bisa menolongmu. Tetapi apa yang akan kamu berikan kalau aku mengambilkan bolamu?"

"Apa saja yang kamu mau," jawab sang putri cepat. "Pakaianku, perhiasanku, atau mahkota emasku."

03Bagian CeritaJanji yang Dibuat Sambil Lalu

"Aku tidak menginginkan pakaian, perhiasan, atau mahkota," kata katak itu. "Tetapi kalau engkau mau menyayangiku dan menjadikanku sahabat, aku akan menolongmu."

"Aku ingin duduk di sampingmu di meja makan, makan dari piring emasmu, minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu. Kalau engkau berjanji, aku akan menyelam dan mengambil bolamu."

"Baik, aku berjanji," kata sang putri. Namun dalam hati ia berpikir, "Katak bodoh ini hanya bisa mengoceh. Mana mungkin seekor katak menjadi sahabat manusia? Tempatnya di air, bersama katak lain."

Sang putri menatap air yang beriak. Ia menunggu dengan cemas, karena masih ragu apakah katak jelek itu benar-benar bisa menolongnya.

Katak itu menyelam. Tidak lama kemudian ia muncul kembali sambil membawa bola emas di mulutnya, lalu meletakkannya di rumput.

04Bagian CeritaLari dari Sang Katak

Sang putri sangat gembira melihat mainannya kembali. Ia memungutnya dan langsung berlari pulang tanpa menoleh sedikit pun.

"Tunggu! Bawa aku bersamamu!" seru katak itu. "Aku tidak bisa berlari secepat kamu!" Namun sang putri pura-pura tidak mendengar. Suara katak yang serak itu terdengar semakin jauh.

Sang putri tiba di istana dan segera melupakan katak itu. Katak kecil itu terpaksa kembali ke dalam sumur, dengan hati yang kecewa.

Malam itu ia bermain bola emasnya di halaman, tertawa-tawa bersama para pelayan. Tidak ada satu pun yang mengingatkannya pada sumur di tengah hutan.

05Bagian CeritaKetukan di Pintu Istana

Keesokan harinya, sang putri sedang makan malam bersama raja dan para pembesar istana. Tiba-tiba terdengar bunyi aneh di tangga marmer, plip, plop, plip, plop.

Lalu terdengar ketukan di pintu dan sebuah suara berkata, "Putri bungsu raja, bukakan pintu untukku!"

Sang putri berlari ke pintu dan membukanya. Di sana duduk sang katak. Wajahnya langsung pucat, dan ia cepat-cepat menutup pintu itu lagi. Ia duduk kembali di mejanya dengan jantung berdebar-debar.

Raja memperhatikannya. "Anakku, mengapa engkau ketakutan? Apakah ada raksasa di depan pintu yang ingin menculikmu?"

"Bukan raksasa," jawab sang putri. "Hanya seekor katak yang menjijikkan."

06Bagian CeritaKata Sang Raja tentang Janji

"Apa urusan seekor katak denganmu?" tanya raja. Sang putri pun menceritakan semuanya, tentang bola emas, sumur, dan janji yang ia ucapkan kepada katak itu.

Sementara itu, ketukan kedua terdengar. "Putri bungsu raja, bukakan pintu untukku. Bukankah engkau sudah berjanji di tepi sumur yang dingin itu?"

Raja mendengarkan dengan tenang. "Apa yang sudah engkau janjikan, harus engkau tepati," katanya tegas. "Pergilah, bukakan pintu untuknya."

Dengan hati enggan, sang putri membuka pintu. Katak itu melompat masuk dan mengikuti langkahnya sampai ke kursi. Ia duduk di sana dan berseru, "Angkat aku ke sampingmu!"

07Bagian CeritaMakan Semeja dengan Katak

Semua orang di meja itu terdiam. Para pembesar saling berpandangan, sementara sang putri menunduk dalam-dalam. Wajahnya terasa panas karena malu.

Sang putri ragu, sampai raja memberinya perintah dengan sorot mata. Akhirnya ia mengangkat katak itu ke kursi, lalu ke meja. Katak itu berkata, "Dorong piring emasmu lebih dekat, supaya kita bisa makan bersama."

Sang putri melakukannya, meskipun jelas ia tidak senang. Katak itu makan dengan lahap. Bagi sang putri, setiap suapan terasa mengganjal di tenggorokan.

Setelah kenyang, katak itu menguap. "Aku sudah lelah dan mengantuk. Bawa aku ke kamarmu, dan rapikan ranjang sutramu, supaya kita bisa tidur."

Ia sangat ingin menolak. Tetapi ia teringat bahwa katak itu telah menepati bagiannya. Katak itu sudah mengambilkan bolanya dari dasar sumur yang gelap.

Sang putri mulai menangis. Ia takut pada makhluk dingin dan basah itu. Ia bahkan tidak berani menyentuhnya, apalagi membiarkannya tidur di ranjangnya yang bersih dan hangat.

Namun raja menatapnya dengan marah. "Orang yang menolongmu ketika engkau kesusahan tidak boleh kamu hina setelah itu," katanya.

Sang putri akhirnya mengangkat katak itu dengan dua jari dan membawanya ke kamar. Ia meletakkannya di sudut lantai. Tetapi ketika ia berbaring di ranjang, katak itu merayap mendekat.

"Aku lelah, aku ingin tidur seperti kamu. Angkat aku ke ranjang, atau aku akan memberitahu ayahmu."

Kali ini sang putri sangat marah. Ia mengangkat katak itu dan melemparnya ke arah dinding. "Sekarang diamlah, katak yang menjengkelkan!" serunya.

08Bagian CeritaPangeran di Balik Rupa Katak

Tetapi yang jatuh dari dinding bukan seekor katak. Di hadapan sang putri berdiri seorang pangeran muda dengan mata ramah dan penuh kelembutan.

Pangeran itu berkata bahwa ia dahulu disihir oleh penyihir jahat, dan hanya sang putri yang bisa membebaskannya dari sumur. "Besok kita akan pulang ke kerajaanku," katanya.

Sang putri sangat terkejut. Ia menyadari bahwa ia hampir menyia-nyiakan sahabat yang baik hanya karena penampilannya yang tidak menyenangkan.

Pangeran itu menceritakan bahwa selama bertahun-tahun ia hanya bisa menunggu di sumur. Ia tidak marah kepada sang putri. Ia hanya ingin punya seorang sahabat.

Dengan izin sang raja, pangeran itu menjadi sahabat sang putri. Keesokan paginya sebuah kereta berhiaskan bulu berwarna putih datang menjemput mereka.

09Bagian CeritaBunyi Pita Besi

Di belakang kereta itu berdiri Heinrich, pelayan setia sang pangeran. Ia sangat sedih ketika tuannya menjadi katak, sampai-sampai memasang tiga pita besi di dadanya supaya hatinya tidak hancur.

Ketika kereta itu berjalan, sang pangeran mendengar bunyi keras di belakangnya. "Heinrich, apakah kereta ini rusak?" tanyanya.

"Bukan, Tuan. Itu pita besi di hatiku. Aku sangat sedih ketika Tuan menjadi katak, tetapi sekarang aku sangat bahagia."

Pita itu pecah satu per satu selama perjalanan, karena kebahagiaan yang besar telah memenuhi hati pelayan setia itu.

10Bagian CeritaJanji yang Ditepati

Sang putri melihat betapa banyak orang yang menyayangi pangeran itu. Ia merasa malu karena dulu ia sempat menghinanya. Ia lalu meminta maaf dengan tulus.

Pangeran itu tersenyum dan memaafkannya. Sejak itu, keduanya menjadi sahabat yang baik dan hidup bahagia.

Sang putri belajar bahwa janji, sekecil apa pun, harus ditepati, walaupun terasa berat. Ia juga belajar bahwa rupa seseorang tidak selalu menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Tepatilah janjimu, dan jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Tepatilah janji walau sulit, dan jangan menilai seseorang dari penampilannya.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)