Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Serigala dan Tujuh Kambing Kecil

Seekor induk kambing hendak pergi mencari makan dan berpesan kepada ketujuh anaknya agar tidak membukakan pintu untuk siapa pun. Serigala akan mengenali dari suaranya yang serak dan kakinya yang hitam. Namun serigala yang licik memakan kapur agar suaranya halus dan melumuri kakinya dengan tepung sehingga menjadi putih. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya ia berhasil masuk ke rumah, dan enam anak kambing bersembunyi di sudut-sudut ruangan. Hanya satu yang selamat karena bersembunyi di dalam kotak jam. Ketika induknya pulang, ia menemukan rumah dalam keadaan kacau. Dalam kisah Grimm ini, ketegasan pesan seorang ibu dan kecerdikan dalam menghadapi penipu menjadi penentu, dan anak-anak belajar mengapa nasihat orang tua tidak boleh diabaikan.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Serigala dan Tujuh Kambing Kecil – Dongeng Klasik Anak | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaRumah Kecil di Tepi Hutan

Di tepi sebuah hutan lebat, berdiri rumah kecil yang hangat. Di sanalah tinggal seekor induk kambing bersama tujuh anaknya. Ia menyayangi mereka seperti ia menyayangi dirinya sendiri, dan setiap malam ia menyelimuti mereka satu per satu.

Pagi itu, sang induk mengambil keranjang. Persediaan makanan di rumah hampir habis. Ia harus pergi ke hutan untuk mencari rumput segar dan sayuran. Sebelum berangkat, ia memanggil ketujuh anaknya ke dekat pintu.

"Anak-anakku, Ibu akan pergi ke hutan," katanya. "Kalian harus berhati-hati pada serigala. Kalau ia masuk ke rumah ini, ia akan memakan kalian semua. Jangan buka pintu untuk siapa pun!"

"Bagaimana kami tahu itu serigala?" tanya salah satu anak kambing. Sang induk menjawab, "Serigala sering menyamar. Tetapi kalian bisa mengenalinya dari suaranya yang serak dan kakinya yang hitam."

Anak-anak kambing mengangguk sungguh-sungguh. "Kami mengerti, Bu," kata mereka. "Ibu tidak perlu cemas." Sang induk mencium kening mereka satu per satu, lalu pergi dengan langkah tenang, meski hatinya masih sedikit gelisah.

Anak-anak kambing kembali ke dalam rumah. Mereka mengunci pintu dan memeriksa setiap jendela. Si sulung membagi tugas. Ada yang berjaga di dekat pintu, ada yang menyiapkan tempat duduk hangat di dekat tungku. Mereka merasa cukup aman, karena mereka mengingat pesan Ibu.

02Bagian CeritaKetukan Pertama

Belum lama setelah induk pergi, terdengar suara ketukan di pintu. "Anak-anakku, bukalah pintu," kata suara itu. "Ibu sudah pulang. Ibu membawakan sesuatu untuk kalian."

Anak-anak kambing saling berpandangan. Mereka mendengarkan dengan saksama. "Suara itu serak sekali," kata yang tertua. "Kamu bukan Ibu kami! Ibu punya suara yang lembut. Kamu serigala, dan kami tidak akan membukakan pintu!"

Di luar, serigala menggeram kesal. Ia berjalan menjauh sambil berpikir keras. Ia sangat licik. Ia tahu bahwa suaranya harus diubah, dan ia tahu ke mana harus mencari cara untuk melakukannya.

03Bagian CeritaKapur untuk Suara yang Halus

Serigala pergi ke sebuah toko dan membeli sepotong kapur besar. Ia memakannya bulat-bulat. Setelah itu ia mencoba berbicara. Suaranya menjadi jauh lebih halus, hampir seperti suara seorang ibu yang lembut.

Ia kembali ke rumah kecil itu dan mengetuk pintu. "Anak-anakku sayang, bukalah pintu. Ini Ibu. Ibu membawa oleh-oleh untuk kalian semua." Suaranya begitu manis, sehingga anak-anak kambing hampir percaya.

Namun, serigala membuat satu kesalahan. Ia meletakkan kaki depannya yang hitam di jendela. Anak-anak kambing melihatnya. "Kaki Ibu tidak hitam!" seru mereka. "Kamu serigala! Pergi dari sini!"

Anak-anak kambing menarik napas lega. Mereka sempat tertawa kecil, karena merasa sudah berhasil mengusir serigala. Namun sang bungsu masih merasa cemas. "Bagaimana kalau ia kembali?" bisiknya. Kakak-kakaknya berkata bahwa mereka akan tetap waspada.

04Bagian CeritaTepung di Kaki yang Hitam

Serigala berlari ke seorang tukang roti. "Tolong olesi kakiku dengan adonan," katanya. Tukang roti ragu, tetapi ia takut kepada serigala, sehingga ia menurut juga. Kaki serigala pun tampak lebih terang.

Lalu serigala pergi ke penggiling gandum. "Taburkan tepung putih di kakiku," perintahnya. Penggiling gandum tahu serigala berniat jahat. Ia menolak, tetapi serigala mengancamnya, dan akhirnya ia pun terpaksa menaburkan tepung itu.

Kini kaki serigala tampak putih bersih. Ia pun bergegas kembali ke rumah kambing. Hatinya berdebar penuh percaya diri. Ia yakin rencananya kali ini tidak akan gagal.

05Bagian CeritaPintu yang Terbuka

Serigala mengetuk pintu untuk ketiga kalinya. "Anak-anakku, bukalah pintu. Ini Ibu, sudah pulang dari hutan," katanya dengan suara lembut. Lalu ia meletakkan kaki putihnya di jendela.

Anak-anak kambing melihat kaki yang putih itu. Mereka mendengar suara yang halus. Semuanya tampak seperti tanda-tanda Ibu mereka. Karena terlalu percaya, mereka lupa waspada. Salah satu dari mereka membuka pintu.

Yang masuk ternyata serigala! Anak-anak kambing menjerit ketakutan. Mereka berlari ke segala arah dan bersembunyi secepat mungkin. Rumah kecil itu mendadak riuh oleh suara langkah panik.

"Ah, kalian anak-anak yang baik," kata serigala sambil menyeringai. Suaranya berubah kembali menjadi kasar. Anak-anak kambing sadar bahwa mereka telah tertipu, tetapi pintu sudah terbuka lebar dan serigala sudah berdiri di ambangnya.

06Bagian CeritaTujuh Tempat Bersembunyi

Anak yang pertama melompat ke kolong meja. Yang kedua menyusup ke bawah selimut di tempat tidur. Yang ketiga masuk ke dalam tungku yang dingin. Yang keempat berlari ke dapur, dan yang kelima menyelinap ke dalam lemari.

Anak keenam meringkuk di dalam bak cuci. Anak ketujuh, yang paling kecil, berlari ke dalam kotak jam dinding yang besar. Ia menutup pintunya rapat-rapat, lalu menahan napas.

Serigala mencari ke seluruh ruangan. Satu per satu ia menemukan enam anak kambing, dan ia menelan mereka semua. Hanya anak yang paling kecil yang lolos, sebab serigala tidak terpikir mencari di dalam jam.

Setelah kenyang, serigala berjalan keluar dengan langkah berat. Ia merebahkan diri di bawah pohon rindang di padang rumput, lalu mulai mendengkur keras. Ia mengira tidak ada lagi yang perlu dicemaskan.

Tidak lama kemudian, induk kambing pulang. Ia melihat pintu rumah terbuka lebar. Meja terguling, kursi berserakan, selimut terlempar ke lantai. Jantungnya berdebar keras. "Anak-anakku!" panggilnya berulang kali.

Tidak ada yang menjawab. Ia memanggil satu per satu nama anaknya. Akhirnya, terdengar suara lirih dari dalam kotak jam. "Ibu, aku di sini." Anak yang paling kecil keluar, dan induknya memeluknya erat sambil menangis.

Ia duduk di lantai bersama si bungsu dan membelai kepalanya. "Kamu anak yang pintar," katanya lirih. "Kamu bersembunyi di tempat yang tidak terpikir oleh serigala." Si bungsu tersenyum, meski air matanya belum kering.

07Bagian CeritaSerigala di Bawah Pohon

Anak bungsu menceritakan semuanya. Ia menceritakan tentang suara halus, kaki putih, dan saudara-saudaranya yang ditelan serigala. Sang induk mendengarkan dengan air mata mengalir. Lalu ia menarik napas dan berdiri tegak. "Kita harus mencari mereka."

Mereka berjalan ke padang rumput. Di bawah pohon, serigala masih mendengkur. Perutnya tampak bergerak-gerak. Induk kambing mendekat dengan hati-hati. Ia tahu anak-anaknya mungkin masih hidup, karena serigala menelan mereka dengan sangat tergesa-gesa.

Ia meminta si bungsu berlari pulang mengambil gunting, jarum, dan benang. Setelah itu, dengan sangat hati-hati, ia membuka perut serigala yang sedang tertidur pulas. Satu per satu, keenam anak kambing melompat keluar dalam keadaan selamat.

08Bagian CeritaBatu-Batu untuk Perut Serigala

Anak-anak kambing memeluk ibunya sambil menangis lega. Namun, sang induk tidak ingin serigala itu mengejar mereka lagi. "Cepat, carilah batu-batu besar," katanya. Mereka bergegas mengumpulkan batu dan memasukkannya ke perut serigala.

Induk kambing menjahit perut serigala dengan rapi. Serigala tidak merasakan apa-apa dan tetap tidur nyenyak. Lalu mereka bersembunyi di balik semak dan menunggu, sambil menahan napas.

Keenam anak kambing berkumpul di dekat ibu mereka. Mereka bergandengan sambil gemetar, sebab masih terbayang gelapnya perut serigala. Sang induk membelai mereka satu per satu dan berkata, "Tenanglah. Sekarang Ibu sudah bersama kalian."

Ketika serigala akhirnya terbangun, ia merasa sangat haus. Perutnya berat dan terasa aneh. "Aneh sekali," gumamnya. "Kenapa perutku begini berat?" Ia berjalan terhuyung-huyung menuju sumur untuk minum.

Anak-anak kambing mengintip dari balik semak. Mereka melihat serigala berjalan sempoyongan, dan mereka tidak berani bernapas keras-keras. Sang induk menggenggam tangan anak-anaknya erat-erat, sambil berdoa agar bahaya ini benar-benar berlalu.

09Bagian CeritaNyanyian di Tepi Sumur

Serigala membungkuk di tepi sumur. Berat batu di perutnya menariknya ke depan. Ia kehilangan keseimbangan dan tercebur. Ia tidak pernah muncul lagi. Padang rumput pun kembali tenang, dan ancaman itu berakhir.

Ketujuh anak kambing dan ibunya berlari ke tepi sumur. Mereka menari mengelilinginya sambil menyanyi riang. Mereka merasa lega dan bersyukur karena bisa berkumpul lagi dalam keadaan selamat.

Malam itu, rumah kecil di tepi hutan kembali hangat. Induk kambing menyalakan lampu dan menyiapkan makanan yang ia bawa. Ketujuh anaknya duduk berdekatan di sekelilingnya, dan tidak ada satu pun yang ingin berjauhan darinya.

Sejak hari itu, anak-anak kambing tidak pernah melupakan pesan ibunya. Mereka belajar bahwa suara yang manis dan penampilan yang tampak baik belum tentu jujur. Nasihat orang tua ada karena mereka sayang, dan kita harus mendengarkannya.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Dengarkan nasihat orang tua dan jangan mudah tertipu penampilan.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)