Setan dengan Tiga Rambut Emas

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaBayi yang Lahir dengan Tanda Keberuntungan
Desa itu terletak di antara ladang gandum dan bukit hijau. Orang-orangnya hidup sederhana dan saling mengenal. Karena itu, kabar tentang bayi istimewa itu cepat tersebar dari rumah ke rumah.
Pada suatu hari, di sebuah desa kecil, seorang ibu miskin melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu lahir dengan selaput tipis menutupi kepalanya. Orang-orang tua di desa percaya bahwa itu tanda keberuntungan.
Seorang peramal berkata, "Anak ini akan menikahi putri raja ketika ia berusia empat belas tahun." Kabar itu menyebar dengan cepat. Orang tua bayi itu senang, tetapi mereka tidak menyangka bahwa ramalan itu akan membawa kesulitan.
02Bagian CeritaRaja yang Gelisah
Tak lama kemudian, sang raja melewati desa itu. Ia mendengar ramalan tersebut dan merasa sangat cemas. Ia tidak rela putrinya menikah dengan anak orang miskin.
Raja menemui orang tua bayi itu dan berkata dengan ramah, "Kalian orang miskin. Berikan anak itu kepadaku. Aku akan mengurusnya." Ia menyerahkan sekantong emas. Karena sangat membutuhkan uang, mereka akhirnya setuju.
Orang tua itu bimbang lama sekali. Mereka menyayangi bayi mereka. Tetapi sang raja berbicara dengan lembut, dan mereka mengira anak itu akan hidup lebih baik di istana. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan sang raja.
Raja meletakkan bayi itu dalam sebuah peti kecil dan membawanya ke tepi sungai. Ia melepaskan peti itu ke air. "Sekarang tidak ada lagi yang akan menikahi putriku," pikirnya.
03Bagian CeritaPeti di Sungai
Namun peti itu tidak tenggelam. Ia mengapung dengan tenang dan terbawa arus hingga tersangkut di sebuah kincir air. Seorang pemilik kincir dan istrinya menemukannya.
Mereka membuka peti itu dan terkejut melihat bayi yang sehat. Mereka tidak memiliki anak. "Ini pasti hadiah dari langit," kata sang istri. Mereka merawatnya dengan penuh kasih.
Bertahun-tahun berlalu. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang ceria, pintar, dan tampan. Ia bekerja membantu pemilik kincir dan tidak pernah tahu dari mana asalnya.
Setiap pagi ia menimba air, mengangkat karung gandum, dan menyapa para pengunjung dengan senyum. Orang-orang senang berbicara dengannya. Ia rajin, jujur, dan tidak pernah mengeluh.
04Bagian CeritaSurat yang Berubah
Suatu hari, raja yang sama singgah di kincir air itu karena hujan badai. Ia melihat pemuda itu dan bertanya, "Apakah dia putra kalian?" Pemilik kincir menjawab, "Bukan, Tuan. Kami menemukannya di dalam peti di sungai."
Raja langsung tahu siapa pemuda itu. Ia menulis surat kepada ratu. Isinya menyuruh agar orang yang membawa surat itu disingkirkan. Lalu ia meminta pemuda itu mengantarkannya ke istana.
Dalam perjalanan, pemuda itu tersesat di hutan dan bermalam di sebuah pondok. Para perampok yang tinggal di sana membaca surat itu dan merasa kasihan. Mereka menghapus isinya dan menuliskan yang baru: pemuda itu harus dinikahkan dengan putri raja.
Ia tidur nyenyak dan tidak tahu bahwa ada yang membuka tas suratnya. Pagi harinya, para perampok menunjukkan jalan keluar dari hutan. Surat yang baru itu sudah tersegel rapi, dan pemuda itu melanjutkan perjalanan tanpa curiga.
Ratu membaca surat itu dan segera mengatur pernikahan. Putri raja, yang sudah melihat pemuda itu, menyukainya karena ia ramah dan baik hati.
05Bagian CeritaTugas Mustahil dari Sang Raja
Ketika raja pulang, ia marah besar. "Aku tidak pernah menyuruh ini!" katanya. Namun surat itu tampak seperti tulisan tangannya. Ia tidak bisa membatalkan pernikahan tanpa membuat semua orang bingung.
Ia pun berkata, "Kamu boleh tinggal, tetapi ada satu syarat. Pergilah ke neraka dan bawa pulang tiga helai rambut emas dari kepala iblis." Ia mengira pemuda itu tidak akan pernah kembali.
Pemuda itu menjawab dengan tenang, "Aku akan pergi." Ia berpamitan kepada istrinya dan berangkat. Ia tidak tahu jalannya, tetapi ia yakin akan menemukan cara.
Sang putri menatapnya dengan cemas. "Jalan itu sangat berbahaya," katanya. Pemuda itu menggenggam tangannya dan berkata, "Aku sudah pernah lolos dari banyak hal sulit. Percayalah, aku akan pulang."
06Bagian CeritaTiga Pertanyaan di Sepanjang Jalan
Di gerbang kota pertama, penjaga bertanya, "Kamu hendak ke mana? Kami punya air mancur anggur yang sudah kering. Bisakah kamu tahu sebabnya?" Pemuda itu berjanji akan menjawab ketika kembali.
Di kota kedua, seorang lelaki menghentikannya. "Pohon apel emas kami dulu berbuah lebat. Sekarang tak ada daun pun. Bisakah kamu menolong kami?" Pemuda itu kembali berjanji akan mencari tahu.
Pemuda itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh, walaupun ia sendiri sedang dalam perjalanan yang sulit. Ia tidak pernah merasa terlalu sibuk untuk mendengarkan keluhan orang lain.
Akhirnya ia tiba di tepi sungai yang lebar. Seorang tukang perahu bertanya, "Sudah bertahun-tahun aku mendayung tanpa henti. Kapan aku boleh berhenti?" Pemuda itu menjawab, "Aku akan bertanya."
07Bagian CeritaNenek Sang Setan
Setelah menyeberang, ia sampai di rumah yang gelap. Di dalamnya hanya ada seorang nenek tua, nenek dari sang setan. Ia tidak tampak jahat. Ia bertanya dengan heran, "Anak muda, apa yang kamu cari di sini?"
Di sekelilingnya, udara terasa panas dan langit tampak merah. Namun ia tidak menunjukkan rasa takut. Ia mengetuk pintu dengan sopan dan menunggu.
Pemuda itu menjelaskan tugasnya. Sang nenek berkata, "Kamu berani, tetapi cucuku tidak akan suka melihat manusia. Aku akan menyembunyikanmu." Ia mengubah pemuda itu menjadi semut kecil, lalu menyembunyikannya di lipatan bajunya.
Tak lama kemudian, sang setan pulang. Ia mengendus-endus dan berkata, "Aku mencium bau manusia!" Sang nenek menepis dengan omelan, "Aku baru saja menyapu. Duduklah dan makan malam."
Pemuda itu, yang kini menjadi semut kecil, menahan napas di dalam lipatan baju. Ia dapat mendengar suara berat sang setan yang menggelegar. Ia berdoa dalam hati agar tidak ketahuan.
08Bagian CeritaRambut Emas dan Tiga Mimpi
Setelah makan, sang setan merebahkan kepalanya di pangkuan neneknya dan tertidur. Nenek dengan hati-hati mencabut sehelai rambut emas dari kepalanya. Sang setan tersentak. "Aduh! Aku bermimpi buruk."
"Mimpi apa?" tanya sang nenek. Sang setan bercerita, "Air mancur anggur di sebuah kota mengering, dan tak ada yang tahu sebabnya." "Sebabnya seekor kodok di bawah batu di dasar air mancur itu," kata sang nenek. "Kalau kodok itu disingkirkan, anggurnya mengalir lagi."
Ketika sang setan tertidur lagi, sang nenek mencabut rambut kedua. Sang setan bermimpi tentang pohon apel emas yang tidak berbuah. "Seekor tikus menggerogoti akarnya," jelas sang nenek. "Jika tikus itu disingkirkan, pohonnya akan pulih."
Pada rambut yang ketiga, sang setan bermimpi tentang tukang perahu yang mendayung tanpa henti. Nenek menjawab, "Ia baru boleh berhenti kalau ia menyerahkan dayungnya kepada penumpang berikutnya. Orang itu yang akan mengambil alih tugasnya."
09Bagian CeritaKembali Membawa Jawaban
Sang nenek mengubah pemuda itu kembali dan memberinya tiga helai rambut emas. "Pergilah cepat," bisiknya. "Dan jangan ceritakan kepada siapa pun bahwa kamu pernah ke sini."
Ketika sang setan terbangun keesokan harinya, ia mencari-cari rambutnya yang hilang. Namun ia hanya menggaruk kepala dan menyalahkan mimpinya sendiri. Pemuda itu sudah jauh dari sana.
Di tepi sungai, tukang perahu menyeberangkannya. Pemuda itu berkata, "Serahkan dayungmu kepada penumpang yang naik setelah aku." Tukang perahu itu berterima kasih, dan pemuda itu melanjutkan perjalanan.
Di kota kedua, ia menyuruh rakyat menyingkirkan tikus di akar pohon. Pohon apel emas pun kembali berdaun. Sebagai tanda terima kasih, mereka memberinya dua ekor keledai yang membawa muatan emas.
Di kota pertama, penduduk menyingkirkan kodok di bawah batu di dasar air mancur. Anggur pun mengalir lagi. Mereka juga menghadiahinya dua keledai yang membawa muatan emas.
10Bagian CeritaNasib Sang Raja
Pemuda itu pulang ke istana dengan membawa tiga rambut emas dan keledai-keledai yang penuh dengan emas. Putri raja menyambutnya dengan gembira, dan mereka berpelukan.
Di sepanjang jalan pulang, orang-orang menyapa dan berterima kasih kepadanya. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Ia tahu bahwa kecerdikan tidak berarti apa-apa tanpa hati yang mau menolong.
Raja terkejut. Ia menyerahkan tiga helai rambut itu dengan sungkan. Melihat harta yang dibawa, ia bertanya, "Dari mana kamu mendapat emas sebanyak ini?" Pemuda itu menjawab, "Dari seberang sungai, Yang Mulia. Di sana emas ada di mana-mana."
Sang raja menjadi rakus. Ia segera pergi ke sungai itu. Tukang perahu menyambutnya, dan setelah menyeberang, ia memberikan dayung ke tangan raja. Sang raja tidak bisa lagi meninggalkan perahu itu.
Sementara itu, pemuda dan sang putri hidup bahagia. Mereka memerintah negeri dengan bijaksana. Pemuda itu, yang dulu bayi miskin dalam peti, membuktikan bahwa nasib baik menghampiri orang yang berani dan cerdik.
Pesan Moral
Nasib baik dapat diraih siapa pun yang cerdik dan berani.