Si Tudung Merah (Little Red Riding Hood)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaTudung Merah dari Nenek
Di sebuah desa kecil dekat hutan, tinggallah seorang gadis kecil yang sangat disayangi semua orang. Yang paling menyayanginya adalah neneknya. Suatu hari sang nenek menghadiahkan sebuah tudung dari kain beludru merah.
Tudung itu sangat cocok untuknya. Gadis kecil itu memakainya setiap hari, sampai semua orang di desa memanggilnya Si Tudung Merah.
Nenek tinggal sendirian di hutan, dan Si Tudung Merah sering mengunjunginya. Nenek selalu menyambutnya dengan cerita lucu.
Ia tinggal bersama ibunya di rumah sederhana. Setiap pagi ia membantu menyapu halaman dan memberi makan ayam, lalu bermain di dekat sungai kecil sambil bernyanyi.
02Bagian CeritaKeranjang untuk Nenek yang Sakit
Pada suatu pagi, ibunya menyiapkan sebuah keranjang. Di dalamnya ada sepotong kue dan sebotol anggur. "Nenekmu sedang sakit dan lemah," kata ibunya. "Antarkan ini agar ia cepat sehat."
Rumah sang nenek berada di tengah hutan, cukup jauh dari desa. Ibunya menatapnya dengan serius. "Berjalanlah dengan tenang. Jangan menyimpang dari jalan, supaya kau tidak tersesat dan botolnya tidak pecah."
"Aku akan berhati-hati, Ibu," janji Si Tudung Merah. Ia mencium pipi ibunya, lalu berangkat sambil menggenggam keranjang dengan dua tangan.
Ia berjalan sambil membayangkan senyum neneknya ketika menerima kue itu. Langkahnya ringan dan hatinya gembira.
Sinar matahari pagi terasa hangat. Burung-burung berkicau, dan jalan di depannya tampak panjang, tenang, dan indah.
03Bagian CeritaPertemuan dengan Sang Serigala
Ketika ia baru masuk ke dalam hutan, seekor serigala muncul dari balik pohon. Si Tudung Merah belum pernah bertemu serigala, jadi ia tidak merasa takut.
Ibunya belum pernah menceritakan bahwa tidak semua yang tampak ramah itu baik. Karena itu, ia menganggap semua yang menyapanya sebagai teman.
"Selamat pagi, Tudung Merah," sapa serigala dengan ramah. "Kau hendak ke mana sepagi ini?"
"Aku mau ke rumah nenekku," jawab si gadis dengan polos. "Ia sedang sakit. Aku membawakan kue dan anggur untuknya."
"Di mana rumah neneknya?" tanya serigala pura-pura ingin tahu. Si Tudung Merah menjelaskan bahwa rumah itu berada di bawah tiga pohon ek besar, dekat semak hazel.
Serigala tersenyum. Dalam hati ia berpikir, gadis kecil ini pasti sangat lezat, dan neneknya juga.
Serigala itu sangat lapar dan licik. Ia mulai menyusun rencana agar bisa tiba di rumah nenek lebih dulu tanpa dicurigai.
04Bagian CeritaBunga-Bunga di Pinggir Jalan
Serigala berjalan di samping Si Tudung Merah beberapa saat. Lalu ia berkata, "Lihat bunga-bunga yang indah itu. Kenapa kau tidak memetik beberapa? Burung-burung juga sedang bernyanyi. Kau berjalan seakan-akan sedang pergi ke sekolah."
Si Tudung Merah mengangkat kepalanya. Sinar matahari menari di antara pepohonan, dan di mana-mana tampak bunga bermekaran.
"Nenek pasti senang kalau aku membawakan seikat bunga," pikirnya. Ia pun melupakan pesan ibunya dan berbelok menyusuri jalan setapak yang lain.
Setiap kali ia memetik satu bunga, ia melihat bunga lain yang lebih cantik. Ia terus berlari dari satu bunga ke bunga lainnya, dan semakin masuk ke dalam hutan.
Hutan mulai terasa berbeda. Pepohonan tumbuh lebih rapat, bayangan lebih panjang, dan suara burung terdengar lebih jauh. Namun Si Tudung Merah terlalu asyik untuk menyadarinya.
05Bagian CeritaSerigala Lebih Dulu Tiba
Sementara itu serigala berlari lurus ke rumah nenek. Ia mengetuk pintu dengan pelan.
"Siapa di situ?" tanya nenek dari tempat tidurnya.
"Aku, Si Tudung Merah," jawab serigala dengan suara dibuat halus. "Aku membawa kue dan anggur."
"Angkat saja gerendelnya, Nak. Aku terlalu lemah untuk bangun," kata nenek. Serigala mengangkat gerendel, masuk ke kamar, dan langsung menerkam sang nenek. Ia menyimpan nenek itu di dalam perutnya, lalu memakai topi tidur nenek dan berbaring di tempat tidur.
06Bagian CeritaNenek yang Tampak Aneh
Akhirnya Si Tudung Merah tiba di rumah nenek dengan seikat bunga di tangannya. Ia heran melihat pintu terbuka lebar. Hatinya terasa tidak enak ketika ia masuk.
Sebelumnya ia merasa gembira sekali, tetapi sekarang ia mulai waspada. Kamar itu terlalu sunyi, dan ia tidak mendengar suara neneknya.
"Selamat pagi, Nenek," sapanya. Tidak ada jawaban. Ia mendekat ke tempat tidur dan menyibak tirai.
Nenek tampak sangat aneh dengan topi tidur yang menutupi wajahnya. Si Tudung Merah bertanya, "Nenek, kenapa telingamu besar sekali?"
"Supaya aku bisa mendengarmu lebih baik."
"Nenek, kenapa matamu besar sekali?"
"Supaya aku bisa melihatmu lebih jelas."
"Nenek, kenapa tanganmu besar sekali?"
"Supaya aku bisa memelukmu lebih erat."
Suara nenek terdengar kasar dan dalam. Si Tudung Merah mengira neneknya sedang flu berat, tetapi hatinya mulai bertanya-tanya.
07Bagian CeritaPertanyaan yang Terakhir
Si Tudung Merah mulai merasa takut. "Nenek, kenapa mulutmu besar sekali?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Supaya aku bisa memakanmu!" Serigala melompat dari tempat tidur dan menelan Si Tudung Merah dalam satu suapan.
Setelah perutnya penuh, serigala merasa mengantuk. Ia berbaring lagi di tempat tidur dan mulai mendengkur dengan suara yang sangat keras, sampai jendela ikut bergetar.
Di dalam kamar yang remang itu, kue dan anggur tergeletak di lantai. Bunga-bunga yang dipetik Si Tudung Merah juga berserakan di dekat pintu.
08Bagian CeritaPemburu yang Mendengar Dengkuran
Kebetulan seorang pemburu sedang lewat di dekat rumah itu. Ia mendengar dengkuran yang keras dan heran. "Nenek itu tidur mendengkur seperti itu? Jangan-jangan ada yang tidak beres."
Ia masuk ke kamar dan melihat serigala tertidur di tempat tidur nenek. "Akhirnya aku menemukanmu, penjahat tua," gumamnya.
Sudah lama pemburu itu mencari serigala yang selalu mengganggu ternak penduduk. Kini ia mengenali makhluk itu, dan ia menyadari bahwa nenek dan cucunya sedang dalam bahaya.
Pemburu itu tidak menembak. Ia berpikir bahwa sang nenek mungkin masih selamat di dalam perut serigala. Dengan sangat hati-hati dan tenang, ia membantu keduanya keluar.
Si Tudung Merah muncul lebih dulu dan menarik napas panjang. "Oh, di dalam sana gelap sekali dan aku sangat takut!" katanya. Tidak lama kemudian nenek pun keluar dan masih bisa bernapas walau lemah.
Pemburu mengambil air dan roti dari dapur untuk mereka. Ia menunggu sampai keduanya tenang, dan memastikan tidak ada yang terluka.
09Bagian CeritaSerigala yang Melarikan Diri
Serigala terbangun karena keributan itu dan ingin kabur. Namun pemburu berdiri di pintu dan menghalangi jalannya dengan tegas.
Si Tudung Merah dan pemburu cepat-cepat menutup semua jalan keluar. Serigala yang ketakutan akhirnya melompat lewat jendela dan berlari jauh ke dalam hutan.
Dari kejauhan, terdengar langkah serigala yang tergesa-gesa. Lalu suara itu menghilang di balik pepohonan, sampai hutan kembali sunyi.
Ia tidak berani kembali lagi ke desa itu. Sejak hari itu, hutan di sekitar rumah nenek menjadi lebih tenang.
Si Tudung Merah gemetar, tetapi ia merasa sangat lega. Ia memeluk neneknya lama sekali, dan air matanya jatuh ke tudung merah itu.
10Bagian CeritaKue, Anggur, dan Janji Baru
Sang nenek duduk di tempat tidurnya dan memakan kue kiriman cucunya. Setelah minum sedikit anggur, wajahnya kembali segar. Pemburu ikut duduk menemani mereka.
Si Tudung Merah lalu menceritakan semuanya kepada pemburu. Ia mengaku telah meninggalkan jalan, memetik bunga terlalu lama, dan terlalu cepat memberitahu serigala ke mana ia pergi.
Si Tudung Merah menunduk sambil berkata, "Aku tidak akan pernah lagi menyimpang dari jalan, dan tidak akan percaya pada orang asing yang berbicara terlalu manis. Ibu sudah menasihatiku, tetapi aku lupa."
Nenek mengelus rambutnya. "Yang penting kau sudah belajar. Nasihat orang tua dibuat agar kita aman."
Pemburu tersenyum. "Bahkan orang dewasa pun kadang lupa. Yang penting, kita mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya."
Di hari lain, Si Tudung Merah kembali membawa kue kepada neneknya. Kali ini ia berjalan lurus dan tidak berhenti untuk berbicara dengan siapa pun.
Ketika bertemu serigala lain, ia mengingat pesan ibunya. Ia tetap melanjutkan perjalanan dan segera memberitahu neneknya. Mereka mengunci pintu rapat-rapat, dan serigala itu pergi tanpa hasil.
Sepulang dari sana, Si Tudung Merah menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibunya memeluknya dan berkata bahwa ia bangga, karena kini putrinya tahu kapan harus berhati-hati.
Pesan Moral
Jangan mudah percaya pada orang asing dan selalu waspada.