Tom Thumb (Si Kecil Jempol)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaDoa Seorang Petani dan Istrinya
Dahulu, di sebuah desa di Jerman, tinggal seorang petani miskin bersama istrinya. Rumah mereka sederhana, tetapi hidup mereka tenang. Hanya ada satu hal yang membuat mereka sedih. Mereka belum memiliki seorang anak pun.
Suatu malam, di depan tungku yang hangat, sang petani menghela napas. "Sungguh sepi rumah ini," katanya. Istrinya mengangguk pelan. "Aku ingin punya anak, walau hanya sebesar ibu jari. Aku pasti akan menyayanginya sepenuh hati."
Tidak lama kemudian, doa mereka terkabul. Lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat dan ceria. Namun, tubuhnya benar-benar sebesar ibu jari. Petani dan istrinya tidak kecewa. Mereka justru bahagia dan memeluknya dengan lembut.
Tetangga sering datang untuk melihat bayi kecil itu. Mereka terheran-heran, lalu tersenyum. Tidak ada yang mengejeknya, sebab kedua orang tuanya selalu berkata bahwa Tom adalah anugerah, dan bukan kekurangan.
02Bagian CeritaNama yang Cocok untuk Anak Kecil
Mereka menamainya Tom Thumb, atau Si Kecil Jempol. Anak itu tidak pernah bertambah besar, tetapi matanya cerah dan pikirannya cepat. Ia selalu tahu apa yang harus dilakukan, dan ia tidak pernah takut mencoba hal baru.
Tom makan seperti anak-anak lain dan tumbuh menjadi anak yang riang. Ia sering duduk di pundak ayahnya sambil bercerita. Ia juga senang menemani ibunya di dapur, duduk di tepi mangkuk, mengamati adonan yang diaduk.
03Bagian CeritaKereta yang Berjalan Sendiri
Suatu pagi, sang petani bersiap pergi ke hutan untuk mengambil kayu. "Aku ingin ada yang mengantar kereta ini nanti," gumamnya. Tom langsung menyahut, "Ayah, biar aku yang membawanya. Kereta itu akan sampai tepat waktu!"
Ayahnya tertawa. "Bagaimana caranya? Kamu terlalu kecil untuk memegang tali kekang." Tom menjawab, "Ibu bisa menaruhku di telinga kuda. Aku akan memberi tahu ke mana harus berjalan."
Setelah dicoba, cara itu berhasil. Tom duduk di telinga kuda dan berseru, "Ke kiri! Sekarang lurus!" Kuda itu menurut, dan kereta bergerak mulus. Ibunya tersenyum bangga dari depan pintu.
Kereta itu sampai di tepi hutan tanpa hambatan. Ayah Tom sudah menunggu di sana sambil menebang kayu. Ia melihat kudanya datang sendiri tanpa kusir, dan ia menggeleng heran. Tom melambai dari telinga kuda sambil tertawa senang.
04Bagian CeritaDua Orang Asing yang Tertarik
Di tengah jalan, dua orang asing melihat kereta itu. Mereka terkejut, sebab tidak ada orang di kursi sopir, tetapi kereta itu berjalan tertib mengikuti suara. "Ini aneh sekali," bisik salah satu dari mereka.
Mereka mengikuti kereta sampai ke hutan. Di sana, mereka melihat Tom turun dari telinga kuda. "Anak sekecil ini bisa membuat kita kaya," kata mereka. "Orang-orang pasti mau membayar untuk melihatnya." Mereka lalu menemui sang petani.
Tom mendengar tawaran itu dan membisikkan sesuatu kepada ayahnya. "Ayah, terima saja uangnya. Aku akan cepat pulang." Sang petani akhirnya menerima beberapa keping emas, meskipun hatinya terasa berat.
Sepanjang jalan, Tom memikirkan ibunya. Ia merindukan dapur yang hangat dan senandung ibunya. Namun ia menahan rasa sedih itu. Ia tahu ia harus tetap tenang dan berpikir jernih, kalau ingin pulang dengan selamat.
05Bagian CeritaLubang Tikus dan Cangkang Siput
Salah satu orang asing itu membawa Tom di topinya. Tom menunggu saat yang tepat. Ketika mereka melewati semak, ia melompat ke tanah dan berlari masuk ke sebuah lubang tikus yang kecil, lalu duduk diam di dalamnya.
Dua orang itu mencari-cari dengan tongkat, tetapi tidak menemukannya. Mereka pun pergi dengan kesal. Tom keluar setelah suasana sepi. Ia menemukan cangkang siput kosong dan memutuskan tidur di dalamnya, karena malam sudah hampir tiba.
Malam turun perlahan. Tom meringkuk di dalam cangkang yang lembap. Suara jangkrik terdengar di mana-mana. Ia merasa kecil sekali di tengah hutan yang luas, tetapi ia tidak menangis. Ia hanya menunggu pagi datang sambil membayangkan wajah ibunya.
06Bagian CeritaRencana Dua Pencuri
Ketika hampir terlelap, Tom mendengar dua orang berbisik. Mereka pencuri, dan mereka sedang membicarakan sebuah rumah besar yang penuh harta. "Kita tidak bisa masuk," kata yang satu. "Jendelanya berjeruji, dan kita terlalu besar."
"Aku bisa membantu!" seru Tom dari dalam semak. Kedua pencuri kaget. Mereka mencari sumber suara, lalu menemukan Tom di atas tanah. "Aku kecil, jadi aku bisa masuk lewat jeruji," katanya.
Tom sebenarnya tidak ingin mencuri. Ia hanya punya satu rencana. Ia ingin membangunkan orang-orang di rumah itu, agar pencuri tidak jadi mencuri. Kedua pencuri mengira Tom akan menurut. Mereka mengangkatnya ke jendela dan mendorongnya masuk.
Di dalam rumah itu, Tom melihat perabot besar dan tumpukan barang berharga. Ia bisa saja mengambilnya, tetapi ia tidak tertarik sedikit pun. Ia tahu mencuri itu salah, dan ia ingin melindungi pemilik rumah dari kejahatan malam itu.
07Bagian CeritaTeriakan di Tengah Malam
Begitu berada di dalam, Tom berteriak sekuat tenaga. "Apa yang kalian inginkan? Mau kuberikan semuanya?" Kedua pencuri terkejut dan ketakutan. Mereka mundur beberapa langkah dari jendela. "Sst! Pelankan suaramu!" bisik mereka.
Suara Tom membangunkan pelayan di rumah itu. Ia keluar dari kamar dengan sebatang lilin. Kedua pencuri panik dan berlari pergi secepat mungkin. Tom bersembunyi di gudang jerami dan tidur nyenyak di sana.
08Bagian CeritaTertelan di Dalam Sapi
Pagi harinya, pelayan itu datang membawa garpu untuk mengambil jerami bagi sapi. Ia tidak melihat Tom yang tertidur di antara gumpalan jerami. Sapi memakannya bersama makanan lain, dan Tom pun ikut tertelan.
Di dalam perut sapi, suasananya gelap dan sempit. Ia tidak takut, tetapi ia harus keluar. "Tolong! Aku di dalam sini!" teriaknya. Pemilik rumah mendengar suara aneh dari dalam sapi dan sangat ketakutan. Ia mengira ada sesuatu yang menyeramkan.
Karena cemas, pemilik rumah menyuruh sapi itu dibawa pergi. Perut sapi kemudian dibuang di tumpukan sampah. Tom berhasil keluar dari sana, tetapi sebelum ia sempat berlari jauh, seekor serigala lapar datang dan menelan bagian itu dengan tergesa-gesa.
Karena Tom sudah berkali-kali menghadapi bahaya, ia tidak panik. Ia menggenggam apa saja yang ada di dekatnya sambil terus berpikir. Ia percaya selalu ada jalan keluar bagi orang yang mau bersabar dan mencari akal.
09Bagian CeritaRencana Cerdik di Perut Serigala
Tom berpikir cepat. Ia tidak ingin menyerah. Dari dalam perut serigala, ia berkata dengan ramah, "Serigala, aku tahu tempat yang penuh makanan enak. Aku bisa menunjukkannya kepadamu."
Serigala tertarik. "Di mana?" tanyanya. Tom menjelaskan bahwa di sebuah rumah, ada dapur yang penuh roti, daging, dan kue. Ia menuntun serigala lewat suaranya sampai ke rumah orang tuanya sendiri.
Serigala menyelinap masuk melalui sebuah celah kecil di dapur. Ia makan sepuasnya sampai perutnya membengkak, dan ia tidak bisa keluar lagi. Saat itulah Tom berteriak sekuat tenaga untuk memanggil orang tuanya.
Di dapur, serigala terjepit di dalam celah yang sama. Ia mengerang panik dan berusaha mundur. Tom, yang masih berada di dalam, tetap berteriak agar orang tuanya segera datang. Suaranya nyaring dan penuh harapan.
Tom melompat keluar dari mulut serigala saat hewan itu menganga karena kaget. Ia berlari ke pelukan orang tuanya. Serigala yang ketakutan tidak menoleh lagi. Rumah kecil itu akhirnya kembali tenang.
10Bagian CeritaKembali ke Pelukan Ibu
Petani dan istrinya terbangun oleh keributan. Mereka bergegas ke dapur. Petani membawa kapak dan istrinya membawa sapu. Serigala yang ketakutan berusaha lari. Ia akhirnya lepas dari celah sempit itu dan menghilang ke dalam hutan.
Tom keluar dengan selamat. "Ayah! Ibu! Aku pulang!" serunya. Ibunya berlutut dan memeluknya. "Anakku sayang! Kami sangat khawatir." Air mata bahagia jatuh di pipinya.
"Ayah, aku sudah melewati banyak bahaya," kata Tom. Ayahnya menggeleng sambil mengusap mata. "Kami tidak akan menjual kamu lagi. Kamu jauh lebih berharga daripada seluruh emas di dunia."
Malam itu, mereka duduk bertiga di depan tungku. Tom bercerita tentang telinga kuda, lubang tikus, cangkang siput, dan perut sapi. Ayah dan ibunya tertawa sambil sesekali menahan napas, seakan-akan mereka ikut mengalami petualangan itu.
Mereka memberi Tom makanan hangat dan pakaian baru. Tom tersenyum bahagia. Ia tetap sebesar ibu jari, tetapi ia tahu bahwa keberanian dan kecerdikan tidak ditentukan oleh ukuran tubuh. Sejak hari itu, mereka hidup bahagia bersama.
Pesan Moral
Ukuran tubuh bukan penghalang untuk menjadi berani dan cerdik.