Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

Grimm Bersaudara · Jerman

Tujuh Burung Gagak (The Seven Ravens)

Seorang ayah yang sudah memiliki tujuh putra sangat mendambakan seorang anak perempuan. Ketika putri yang lemah itu akhirnya lahir, ia menyuruh salah seorang putranya mengambil air untuk membaptisnya. Namun ketujuh anak laki-laki itu berebut dan lupa. Dalam amarah, sang ayah mengucapkan kutukan tanpa berpikir panjang, dan seketika ketujuh putranya berubah menjadi burung gagak yang terbang menjauh. Tahun-tahun berlalu, sang putri tumbuh dan akhirnya mengetahui kisah itu. Ia bertekad mencari kakak-kakaknya, meski harus pergi sangat jauh, melewati matahari, bulan, dan bintang. Dalam dongeng dari Grimm bersaudara ini, kasih seorang adik dan kesediaannya berkorban menjadi kekuatan yang mampu meredakan akibat dari kata-kata yang terucap ketika hati sedang panas.

IDDongeng Klasik DuniaJerman
Tujuh Burung Gagak (The Seven Ravens) – Dongeng Klasik tentang Kasih Sayang | ELibrary Stories
STORY READER

Mari Membaca Cerita

01Bagian CeritaTujuh Putra dan Satu Harapan

Rumah mereka berada di dekat hutan, dan setiap sore terdengar tawa tujuh anak laki-laki yang bermain di halaman. Mereka gemar berlomba lari, memanjat pohon, dan saling menggoda. Sang ibu sering menggeleng sambil tersenyum.

Dahulu ada seorang ayah yang memiliki tujuh putra. Ia menyayangi mereka semua. Namun dalam hatinya tumbuh satu harapan: ia ingin sekali punya seorang anak perempuan.

Ketika istrinya melahirkan lagi, yang lahir adalah seorang bayi perempuan. Bayi itu cantik, tetapi sangat kecil dan lemah. Semua orang di rumah khawatir ia tidak akan bertahan lama.

Ketujuh kakaknya mengintip ke dalam buaian dengan takjub. Mereka belum pernah melihat sesuatu sekecil itu. Masing-masing berjanji dalam hati untuk menjaga adik kecil mereka.

02Bagian CeritaAir untuk Sang Bayi

Karena takut, sang ayah ingin bayinya segera dibaptis. Ia menyuruh salah seorang putranya berlari ke sumur untuk mengambil air. Enam saudaranya ikut berlari, sebab semua ingin menjadi yang pertama.

Di tepi sumur, mereka saling berebut kendi. Ketujuhnya ingin menimba lebih dulu. Tangan mereka saling mendorong, dan kendi itu terlepas lalu jatuh ke dalam sumur dengan bunyi yang nyaring.

Mereka berdiri bingung. Tak seorang pun berani pulang. Sementara itu, di rumah, sang ayah menunggu dengan gelisah. Bayinya masih lemah, dan air itu tak juga datang.

Waktu terus berjalan. Bayi itu menangis pelan, dan sang ibu menimangnya dengan cemas. Sang ayah mondar-mandir di depan pintu sambil memandang jalan menuju sumur.

03Bagian CeritaKata-Kata yang Terlanjur Diucapkan

Sang ayah menjadi sangat marah. Dalam kecemasannya, ia berseru, "Kalau saja anak-anak itu berubah menjadi burung gagak!" Ia mengucapkannya tanpa berpikir panjang.

Belum selesai ucapannya, terdengar kepakan sayap di atas atap. Ia menoleh ke jendela. Tujuh burung gagak hitam terbang tinggi ke langit, lalu menghilang di balik hutan.

Sang ayah dan ibu terdiam. Mereka ingin menarik kembali ucapan itu, tetapi kata-kata yang sudah keluar tidak dapat dipanggil pulang. Mereka hanya bisa menangis.

Sejak hari itu, sang ayah sering duduk sendirian di dekat jendela. Ia memandang langit dan berharap salah satu burung itu akan kembali. Tetapi langit hanya diam.

Untunglah bayi perempuan itu perlahan-lahan menjadi kuat. Hari demi hari, wajahnya bertambah cerah. Ia tumbuh menjadi anak yang lembut dan tekun, meski rumah itu selalu terasa sepi.

Setiap malam, sang ibu meletakkan sebuah lampu kecil di jendela. Ia berharap, di mana pun anak-anaknya berada, mereka bisa melihat cahaya itu dan tahu bahwa rumah tetap menunggu mereka.

04Bagian CeritaRahasia yang Terungkap

Bertahun-tahun kemudian, sang putri tanpa sengaja mendengar orang berbicara. Mereka mengatakan bahwa ia dilahirkan dengan penuh harapan, tetapi karena dirinyalah tujuh kakaknya lenyap.

Ia pulang dan bertanya kepada orang tuanya. Dengan berat hati, mereka menceritakan semuanya. Sang ayah berkata bahwa ia tidak menyalahkan anak perempuannya. Semua itu terjadi karena mulutnya sendiri yang bicara tanpa pikir.

Namun sang putri tidak bisa tenang. Hatinya berkata bahwa ia harus menemukan kakak-kakaknya dan membebaskan mereka. Ia memohon izin untuk pergi.

Orang tuanya menyimpan sebuah cincin kecil peninggalan keluarga. Mereka menyerahkannya kepada putri mereka sebagai kenang-kenangan. Ia memakainya dengan hati-hati, lalu berangkat.

Ibunya membekalinya roti dan sepotong keju. Ayahnya berdiri lama di pintu, tak sanggup berkata apa-apa. Sang putri melambaikan tangan, lalu berjalan ke arah hutan tempat burung-burung itu terakhir terlihat.

05Bagian CeritaMelangkah Sampai ke Ujung Dunia

Sang putri berjalan dan terus berjalan. Ia melewati ladang yang luas dan hutan yang lebat. Dalam perjalanan itu, ia bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya, tetapi tak seorang pun tahu di mana ketujuh burung gagak berada.

Akhirnya ia tiba di ujung dunia. Ia mencari tempat tinggal matahari. Namun matahari terlalu panas dan menakutkan baginya. Ia pun cepat-cepat pergi.

Ia teringat kakak-kakaknya dan menguatkan hati. Kakinya lelah dan perutnya lapar, tetapi ia terus melangkah. Ia berkata pada dirinya sendiri, "Aku sudah sejauh ini. Aku tidak boleh berhenti."

Ia mendatangi bulan. Tetapi bulan dingin dan tidak ramah. Gadis kecil itu menggigil, lalu menjauh dari cahaya pucat itu.

06Bagian CeritaBintang yang Ramah

Barulah ia sampai kepada bintang-bintang. Mereka menyambutnya dengan ramah. Setiap bintang duduk di kursi kecil yang berkilau. Bintang pagi berdiri lalu memberinya sebuah tulang ayam kecil.

Sang putri bercerita tentang kakak-kakaknya dan perjalanan panjangnya. Bintang-bintang mendengarkan dengan penuh perhatian. Salah satunya menyeka sudut matanya, lalu mengangguk pelan.

"Ambillah ini," katanya. "Tanpa tulang ini, kamu tidak akan dapat membuka gunung kaca. Di sanalah kakak-kakakmu tinggal."

Sang putri mengucapkan terima kasih. Ia membungkus tulang itu rapat-rapat dengan kain, lalu berjalan lagi menuju gunung kaca.

07Bagian CeritaGunung Kaca

Ketika ia tiba, pintu gunung itu terkunci rapat. Ia membuka kain pembungkus. Astaga, kainnya kosong. Tulang ayam itu hilang, mungkin jatuh di sepanjang jalan yang panjang.

Sejenak ia bingung. Apa yang bisa ia lakukan? Ia sudah berjalan begitu jauh. Ia tidak mau menyerah di depan pintu terakhir.

Ia duduk sebentar, menarik napas dalam-dalam, dan mengingat wajah orang tuanya. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi tekad. Pintu itu harus terbuka, apa pun caranya.

Lalu sang putri mengambil pisau kecil. Ia memotong ujung jari kelingkingnya sendiri. Ia menusukkan jari itu ke lubang kunci, dan pintu gunung pun terbuka.

Pintu itu terbuka perlahan tanpa suara. Di baliknya terbentang lorong yang berkilau seperti es. Sang putri menahan rasa sakit di tangannya, lalu melangkah masuk dengan kepala tegak.

08Bagian CeritaMeja dengan Tujuh Piring

Di dalam, seorang kurcaci kecil menyapanya. "Anak kecil, kamu mencari siapa?" Ia menjawab, "Aku mencari kakak-kakakku, tujuh burung gagak." Kurcaci itu berkata, "Para tuanku sedang pergi. Silakan tunggu di dalam."

Kurcaci itu menyiapkan makanan di meja. Ada tujuh piring kecil dan tujuh cangkir kecil. Sang putri memakan sedikit dari setiap piring dan meminum setetes dari setiap cangkir.

Di cangkir terakhir, ia diam-diam menjatuhkan cincin dari orang tuanya. Setelah itu, ia bersembunyi di balik pintu dan menunggu.

Jantungnya berdegup keras. Ia tidak tahu apakah kakak-kakaknya masih mengenalnya. Ia hanya tahu bahwa ia telah berjalan sejauh yang ia sanggup untuk sampai ke tempat ini.

09Bagian CeritaKakak-Kakak yang Kembali

Hari mulai gelap ketika langit di atas gunung dipenuhi bayangan hitam. Para gagak turun satu per satu, lelah setelah terbang seharian. Mereka tidak tahu ada tamu yang menunggu.

Terdengar kepak sayap dan desir angin. Ketujuh burung gagak pulang dan langsung terbang ke meja. Mereka kelaparan, tetapi segera merasa ada yang aneh.

"Siapa yang makan dari piringku?" tanya yang pertama. "Siapa yang minum dari cangkirku?" tanya yang kedua. Begitu seterusnya sampai yang ketujuh.

Gagak yang bungsu menemukan cincin di dasar cangkirnya. Ia mengenali cincin itu sebagai milik orang tuanya. Hatinya berdebar, dan ia menatap keenam saudaranya satu per satu. Ia berkata dengan pelan, "Andai adik kita ada di sini, kita pasti akan bebas."

Sang putri mendengar itu dari balik pintu. Ia melangkah keluar dengan mata berkaca-kaca. "Aku di sini," katanya.

10Bagian CeritaPulang ke Rumah

Di ambang pintu, sang adik menunjukkan jari kelingkingnya yang terluka. Para kakak menahan napas. Mereka tahu betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan adik kecil mereka.

Saat itu juga kutukan berakhir. Ketujuh gagak berubah menjadi pemuda yang tinggi dan gagah. Mereka memeluk adik perempuan mereka erat-erat, dan tawa gembira memenuhi gunung itu.

Mereka berjalan bersama-sama sepanjang jalan pulang, dan sang adik menceritakan setiap tempat yang pernah ia lewati. Para kakak mendengarkan dengan kagum. Ketika rumah mulai terlihat, lampu kecil di jendela masih menyala.

Sang ayah dan ibu berdiri di depan pintu, hampir tak percaya. Air mata mereka jatuh, tetapi kali ini karena bahagia.

Sang ayah mendekap semua anaknya. Ia berjanji untuk selalu menahan kata-katanya ketika hatinya sedang panas. Ia tahu betapa berat akibat dari satu kalimat yang terucap tanpa berpikir.

Sejak hari itu, rumah mereka tidak pernah sepi lagi. Sang adik selalu mengingat perjalanan panjangnya, dan ketujuh kakaknya selalu berterima kasih kepadanya.

Nilai yang Kita Bawa Pulang

Pesan Moral

Cinta dan pengorbanan keluarga dapat mengalahkan kutukan.

✕
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Play soundGratis Online 650 Soal TKA Bahasa Indonesia SDMI Kelas 6 Tahun 2027 (1)