Tukang Sepatu dan Peri (The Elves and the Shoemaker)

Mari Membaca Cerita
01Bagian CeritaSepotong Kulit Terakhir
Di sebuah kota kecil di Jerman, hiduplah seorang tukang sepatu. Ia bekerja keras dan selalu jujur kepada setiap pembeli. Namun, nasib sedang tidak berpihak kepadanya. Uangnya habis sedikit demi sedikit, sampai tinggal satu hal yang ia punya.
Satu hal itu adalah sepotong kulit. Ukurannya hanya cukup untuk membuat sepasang sepatu. Tukang sepatu menatapnya lama sekali. Jika sepatu ini tidak laku, ia tidak akan punya apa-apa lagi untuk dikerjakan, dan keluarganya akan kelaparan.
Sore itu, ia memotong kulit menjadi bentuk sepatu yang rapi. Hari sudah gelap, dan matanya mulai lelah. Ia meletakkan potongan kulit itu di meja kerja. "Aku akan menjahitnya besok pagi," katanya pada diri sendiri.
Malam itu ia berdoa dengan tenang. Ia memohon agar keluarganya dijaga, meski hidup mereka sedang sulit. Istrinya sudah lama terlelap. Rumah kecil itu sunyi. Hanya suara angin yang terdengar di luar jendela.
02Bagian CeritaSepatu yang Selesai Sendiri
Pagi harinya, tukang sepatu bangun dan berjalan ke meja kerjanya. Ia berhenti mendadak. Di atas meja berdiri sepasang sepatu yang sudah jadi. Tidak ada potongan kulit yang tersisa sama sekali.
Ia mengangkat sepatu itu dan memutarnya perlahan. Jahitannya sangat halus dan rapat. Tidak ada satu tusukan pun yang miring. "Siapa yang mengerjakan ini?" bisiknya. Tidak ada yang menjawab. Rumah tetap hening.
Tidak lama kemudian, seorang pembeli masuk ke toko. Ia melihat sepatu itu dan langsung menyukainya. "Sepatu ini bagus sekali," katanya. Ia membayar jauh lebih mahal daripada harga biasa, lalu pulang dengan wajah puas.
Tukang sepatu memanggil istrinya dan menunjukkan sepatu itu. Istrinya menutup mulut karena kaget. "Apakah kamu menjahitnya semalam?" tanyanya. Tukang sepatu menggeleng pelan. "Aku tidur nyenyak sampai pagi. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi."
03Bagian CeritaUang untuk Dua Pasang Sepatu
Tukang sepatu menggenggam uang itu dengan tangan gemetar. Ia berlari ke pasar dan membeli kulit. Jumlahnya cukup untuk membuat dua pasang sepatu. Ia pulang dengan hati yang jauh lebih ringan, sambil menceritakan semuanya kepada istrinya.
Sore itu ia memotong kedua kulit tersebut dan meninggalkannya di meja. "Kalau ada keajaiban, semoga terjadi lagi," pikirnya. Lalu ia pergi tidur bersama istrinya, dengan harapan kecil di dalam hati.
Pagi berikutnya, dua pasang sepatu sudah berdiri berjajar di meja. Keduanya sama rapinya dengan sepatu yang pertama. Tukang sepatu menatapnya dengan mata membulat, lalu tertawa pelan karena terlalu gembira.
04Bagian CeritaMalam demi Malam
Pembeli datang lagi dan lagi. Mereka senang dengan sepatu yang kuat dan indah itu. Setiap kali, uang yang masuk cukup untuk membeli kulit bagi empat pasang sepatu. Begitulah seterusnya, dari hari ke hari.
Apa pun yang dipotong sore hari selalu selesai sebelum fajar. Perlahan, toko kecil itu menjadi ramai. Rak-rak terisi penuh. Dapur mereka kembali hangat, dan makanan cukup untuk semua. Tukang sepatu tidak lagi cemas ketika menghitung uang.
Meski begitu, ia sering termenung. Siapa yang datang setiap malam? Mengapa mereka menolong keluarga sederhana ini? Pertanyaan itu terus mengganggunya. Ia tidak ingin menerima kebaikan tanpa pernah mengucapkan terima kasih.
Istrinya juga sering memikirkan hal itu. Ia menyapu lantai dan merapikan meja setiap pagi dengan hati-hati, seakan sang penolong bisa melihatnya. Ia ingin menunjukkan bahwa rumah ini menghargai bantuan yang datang setiap malam.
05Bagian CeritaRencana Berjaga di Malam Natal
Suatu malam menjelang Natal, tukang sepatu selesai memotong kulit. Ia menoleh pada istrinya. "Bagaimana kalau malam ini kita tidak tidur?" katanya. "Kita lihat siapa yang menolong kita."
Istrinya mengangguk sambil tersenyum. Ia menyalakan sebatang lilin dan meletakkannya di sudut ruangan. Mereka bersembunyi di balik pakaian yang tergantung di sana, lalu menunggu sambil menahan napas.
Waktu berjalan lambat. Jam berdentang sampai tengah malam. Tepat saat itu, pintu bergerak sedikit, dan dua sosok kecil melompat masuk dengan ringan. Langkah mereka nyaris tidak menimbulkan suara.
Tukang sepatu menyentuh lengan istrinya pelan. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi lidahnya kelu. Mereka hanya bisa memandang, sementara jantung mereka berdetak kencang. Ternyata yang selama ini menolong mereka bukan orang besar, melainkan dua makhluk sekecil ini.
06Bagian CeritaDua Makhluk Kecil yang Cekatan
Keduanya adalah lelaki mungil. Mereka tidak mengenakan baju sama sekali. Mereka duduk di meja kerja dan langsung mengambil kulit yang sudah dipotong. Tangan mereka bergerak sangat cepat.
Salah satu dari mereka memotong benang dengan gigi kecilnya, sementara yang lain menghaluskan sol dengan telapak tangan. Mereka bekerja tanpa berbicara. Sesekali mereka saling menatap dan tersenyum, seolah sudah terbiasa bekerja berdua.
Jarum menusuk, benang ditarik, palu kecil mengetuk paku. Tukang sepatu dan istrinya hampir lupa bernapas. Mereka belum pernah melihat pekerjaan sehalus dan secepat itu.
Sebelum fajar, semua sepatu sudah selesai dan berjajar di meja. Kedua makhluk kecil itu melompat turun dan lari keluar. Rumah kembali hening. Cahaya lilin bergoyang pelan.
Istri tukang sepatu keluar dari persembunyian. "Kedua makhluk kecil itu telah membuat kita kaya," katanya. "Tapi mereka tidak memakai apa-apa. Pasti dingin sekali di malam musim dingin. Aku merasa kasihan."
07Bagian CeritaPakaian Kecil untuk Penolong Kecil
"Aku ingin membalas kebaikan mereka," lanjutnya. "Aku akan menjahit kemeja, mantel, rompi, dan celana. Aku juga akan merajut kaus kaki hangat." Suaminya mengangguk setuju. Wajahnya tampak lega, karena ia memikirkan hal yang sama.
"Aku akan membuat sepasang sepatu kecil untuk masing-masing," kata tukang sepatu. Mereka berdua pun bekerja sepanjang hari. Setiap jahitan dibuat dengan penuh perhatian dan rasa terima kasih.
Ukuran pakaian itu sangat kecil. Istri tukang sepatu harus menjahit dengan sangat teliti. Jari-jarinya sempat tertusuk jarum beberapa kali, tetapi ia tidak mengeluh. Ia justru bersenandung pelan sambil bekerja.
Keesokan paginya mereka menata semua pakaian itu di atas kain bersih. Tukang sepatu menaruh sepasang sepatu mungil di samping masing-masing. Istrinya menyelipkan sepotong roti manis di sudut meja. "Semoga mereka suka," bisiknya.
08Bagian CeritaHadiah di Meja Kerja
Pada malam Natal, semua pakaian kecil itu sudah selesai. Tukang sepatu meletakkannya di meja, menggantikan kulit yang biasa. Lalu ia dan istrinya bersembunyi lagi di balik pakaian yang tergantung.
Tengah malam tiba. Kedua makhluk kecil itu melompat masuk, siap bekerja. Namun mereka berhenti. Tidak ada kulit di meja. Yang ada hanya pakaian mungil yang tertata rapi.
Mula-mula mereka heran. Lalu wajah mereka berseri-seri. Dengan cepat mereka mengenakan kemeja, mantel, rompi, dan celana itu. Mereka memakai kaus kaki dan sepatu baru sambil tertawa gembira.
"Sekarang kita sudah berpakaian bagus!" seru mereka. "Untuk apa lagi kita duduk sebagai tukang sepatu?" Mereka bernyanyi, lalu melompat dan menari mengitari ruangan dengan sepatu baru.
Mereka menari melewati bangku, kursi, dan pintu, lalu keluar ke halaman. Suara tawa mereka menjauh dalam gelap. Sejak malam itu, mereka tidak pernah datang lagi.
Tukang sepatu dan istrinya saling berpandangan. Mereka tertawa kecil, lalu mengusap air mata. Meja kerja itu kini kosong, tetapi rumah terasa penuh oleh kebahagiaan. Mereka tahu, balasan yang tulus telah sampai kepada yang berhak.
09Bagian CeritaHidup yang Kembali Baik
Tukang sepatu dan istrinya keluar dari persembunyian sambil tersenyum. Ada rasa haru di dada mereka. Mereka tidak sedih, sebab mereka tahu pertolongan itu telah mengubah hidup mereka untuk selamanya.
Sejak itu, semua urusan tukang sepatu berjalan lancar. Ia sekarang mampu menjahit sepatu dengan tangannya sendiri. Ia memotong kulit, menjahit, dan menjualnya dengan teliti dan jujur, seperti dulu.
Pelanggan datang dari kota-kota tetangga. Mereka percaya pada sepatu yang dibuat dengan tulus itu. Toko kecilnya tidak pernah lagi kosong, dan keluarganya hidup tenang sampai tahun-tahun berikutnya.
Kadang, saat malam sangat sunyi, tukang sepatu memandang sudut meja kerjanya. Ia membayangkan dua sosok kecil yang menari sambil membawa sepatu baru. Hatinya selalu hangat, dan ia tidak pernah lupa siapa yang menolongnya dulu.
Setiap kali Natal tiba, tukang sepatu dan istrinya mengingat malam itu. Mereka menyalakan lilin dan bersyukur. Mereka selalu mengajarkan bahwa kebaikan yang diterima layak dibalas dengan hati yang berterima kasih.
Pesan Moral
Rasa syukur dan balas budi membawa kebahagiaan bagi semua.