Gerakan Indonesia Cerdas Literasi

bencana awan panas

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (68)

Nabi Syuaib memerintahkan pengikutnya untuk berhijrah dari kota Madyan. Penguasa kota Madyan tertawa terbahak-bahak melihat pengikut Nabi Syuaib yang berjalan tertatih-tatih. “Datangkan azab dari Tuhanmu wahai Syuaib! Kami tidak takut,” tantang kaum Madyan. Tak lama kemudian, azab Allah datang dengan udara panas yang tak terkira. Kulit kaum Madyan menjadi memerah dan tenggorokan mereka mengering. Penduduk […]

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (68) Read More »

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (67)

Setelah kejadian itu banyak pengikut Nabi Syuaib yang diancam dan disiksa. Harta mereka dirampas dan dipaksa kembali menyembah berhala. Hati Nabi Syuaib sangat sedih. Nabi Syuaib sangat menyayangi kaum Madyan. Ia takut azab Allah akan turun untuk menghukum kaum Madyan. Di hari berikutnya, siksaan kaum Madyan semakin keras. Para pengikut Nabi Syuaib diusir dari rumah

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (67) Read More »

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (66)

“Wahai Syuaib, janganlah engkau menggurui kami. Hidup ini untuk mencari keuntungan dan kesenangan,” seru penguasa Madyan kepada Nabi Syuaib.  “Mana ada orang yang benar-benar saleh. Kamu pasti berdusta, hahaha…” cibir penguasa Madyan. Para penguasa Madyan itu mengejek Nabi Syuaib. “Hentikan dakwahmu atau kamu dan pengikutmu akan kami usir dari Madyan,” ancam penguasa Madyan.   Sumber

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (66) Read More »

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (65)

Suatu ketika, Nabi Syuaib mendatangi penduduk Madyan yang sedang menyembah berhala. “Wahai kaum Madyan, sembahlah Allah. Sembahlah Tuhan yang menciptakan kalian, bukan batu yang kalian ciptakan.” Para penyembah berhala itu marah. Lalu Nabi Syuaib mendatangi para pedagang di pasar. “Berbuat adillah dalam jual beli. Janganlah kalian mengurangi takaran timbangan.” Namun, pedagang itu tak menggubrisnya. Kemudian

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (65) Read More »

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (64)

Hingga ada seorang ibu yang membeli sekarung gandum untuk anak-anaknya yang kelaparan, mereka ganti dengan pasir. “Ya Allah, aku dan anakku hanya sebagian orang yang kelaparan setiap malam. Datangkanlah seorang penolong agar kami tidak lagi tertindas,” begitulah ibu itu berdoa. Lalu Allah mengutus Nabi Syuaib untuk kaum Madyan. Ia nabi yang berani dan mahir berpidato,

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (64) Read More »

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (63)

Di sebuah dataran yang subur, hiduplah penduduk Madyan yang berlimpah harta. Mereka menjadi pedagang dan petani ulung. Hampir setiap jual beli yang mereka lakukan mendatangkan keuntungan yang besar. Hampir setiap ladang yang mereka tanam menghasilkan panen yang berlimpah. Setelah berganti generasi dan ulama banyak yang wafat, penduduk Madyan menjadi orang yang sesat. Mereka suka menghambur-hamburkan

Aku Cinta Rasul: Nabi Syuaib As, Bencana Awan Panas (63) Read More »

💳 Donasi via PayPal 🤲 Dukung via Kitabisa
error: Content is protected !!
Sambut Bulan Suci Ramadhan 2026