Angin yang berhembus di atas permukaan laut membentuk ombak yang tegak lurus terhadap arah angin.
Gaya gesek antara angin sepoi-sepoi dengan air di kolam akan membentuk riak, tetapi angin yang kencang di samudra akan menghasilkan ombak yang lebih besar.
Ombak akan mencapai ketinggian maksimal ketika kecepatannya hampir menyamai kecepatan angin.
Apabila angin berhembus secara terus menerus di perairan terbuka (seperti angin Roaring Forties di Belahan Selatan), akan terbentuk gelombang besar (swell).
Apabila angin mereda, pembentukan ombak juga berkurang, tetapi ombak yang sudah terbentuk akan terus bergerak ke daratan.
Besarnya ombak bergantung pada fetch (jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembentukannya) serta pada kekuatan dan durasi angin.
Jika ombak bertemu dengan ombak lain dari arah yang berbeda, akan terjadi interferensi di antara keduanya, yang membuat ombak di laut menjadi sulit diprediksi.
Interferensi konstruktif dapat menghasilkan gelombang raksasa (rogue waves).
Sebagai catatan, kebanyakan ombak tingginya tidak melebihi 3 meter dan saat terjadi badai tingginya bisa naik dua atau tiga kali lipat.
Namun, tinggi gelombang raksasa telah tercatat di atas angka 25 m.***
Sumber dan kontributor