
- Kompetensi:
Menganalisis penggunaan kalimat efektif dalam teks. - Subkompetensi:
Menentukan kalimat yang tidak memenuhi syarat kalimat efektif. - Bentuk Soal:
Pilihan Ganda Kompleks/MCMA (Multiple Choice Multiple Answer) – lebih dari satu jawaban benar.
#1. Teks: 1. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil. 2. Program beasiswa diberikan kepada siswa yang berprestasi dan juga kepada siswa yang kurang mampu. 3. Setiap siswa-siswi diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas belajar dengan maksimal. 4. Guru-guru harus mengajarkan materi pelajaran secara jelas, efektif, dan mudah dipahami. 5. Dengan adanya program ini diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia. Pertanyaan: Kalimat manakah yang tidak efektif menurut kaidah bahasa Indonesia?
Select all that apply:
Kunci Jawaban:
✅ C dan E
Pembahasan Lengkap
Analisis Teks:
Kalimat efektif harus memenuhi kriteria kejelasan makna, kepaduan struktur, kehematan kata, dan ketepatan kaidah.
- Kalimat (1) → efektif. Struktur jelas, subjek dan predikat lengkap, tidak ada kata mubazir.
- Kalimat (2) → efektif. Menggunakan konjungsi “dan juga” untuk memperjelas pembagian penerima beasiswa, meskipun bisa lebih hemat.
- Kalimat (3) → tidak efektif karena menggunakan bentuk jamak ganda “siswa-siswi”. Menurut PUEBI, bentuk jamak cukup ditandai kata “siswa” yang sudah bersifat netral gender. Bentuk “siswa-siswi” redundan.
- Kalimat (4) → efektif. Mengandung subjek “guru-guru” (penegasan jamak) dan predikat yang jelas.
- Kalimat (5) → tidak efektif karena memiliki subjek ganda terselubung. Frasa “dengan adanya program ini” berfungsi seperti subjek, sedangkan klausa “diharapkan dapat meningkatkan…” tidak memiliki subjek yang jelas, menimbulkan ambiguitas. Perbaikan: “Dengan adanya program ini, pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia diharapkan dapat meningkat.”
Analisis Teori:
Keraf (2009) menjelaskan bahwa kalimat efektif memiliki syarat kesepadanan struktur (subjek-predikat jelas), kehematan kata, keparalelan bentuk, ketegasan ide, dan kecermatan makna.
- “Siswa-siswi” melanggar kehematan kata (redundansi).
- Kalimat tanpa subjek jelas melanggar kesepadanan struktur.
Studi Kasus:
Dalam naskah resmi atau ujian, kesalahan seperti ini dapat mengubah makna. Misalnya, “Dengan adanya peraturan baru diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan” — kalimat ini tidak jelas siapa yang mengharapkan, sehingga pembaca bisa salah menafsirkan.
Kesimpulan:
Jawaban C dan E tepat karena keduanya melanggar kaidah kalimat efektif: satu karena redundansi bentuk jamak, dan satu karena subjek tidak jelas.
Referensi:
- Alwi, H. et al. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
- Keraf, G. (2009). Komposisi. Jakarta: Gramedia.
- Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
- Moeliono, A.M. (2017). Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
- Badudu, J.S. (2003). Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia.
- (2021). Buku Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan.
- Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
- Tarigan, H.G. (2013). Menulis. Bandung: Angkasa.
- PUEBI (2022). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
- (2020). Language and Clarity Guidelines. https://unesdoc.unesco.org


- Tema: TKA (Tes Kemampuan Akademik)
- Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
- Jenjang: SMA/MA
- Alokasi Waktu: 120 menit
- Jumlah Soal: 50 butir
- Bentuk Soal: Pilihan Ganda Kompleks (MCMA)
- Sumber video:
- Download Latihan Soal: klik di sini
- Supported by: BIMBEL TRIDAYA

Time's up












