Putri Pukes, Sang Putri yang Menjadi Batu (Nanggroe Aceh Darussalam)

seluruh tubuhnya telah berubah menjadi batu yang berdiri kokoh di tengah pegunungan.
Di dataran tinggi Gayo, Aceh, hiduplah seorang putri cantik bernama Putri Pukes. Ia terkenal karena kecantikannya yang memikat, kelembutannya, dan sikapnya yang sopan kepada semua orang. Putri Pukes tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah kampung yang damai dan subur di sekitar pegunungan.
Ketika beranjak dewasa, Putri Pukes dilamar oleh seorang pangeran dari negeri yang jauh. Pangeran itu dikenal baik hati dan gagah berani. Keluarga Putri Pukes menerima lamaran tersebut dengan gembira. Setelah persiapan yang panjang, tibalah hari pernikahan yang dinanti-nantikan.
Setelah upacara pernikahan selesai, Putri Pukes harus meninggalkan kampung halamannya untuk mengikuti suaminya ke negeri sang pangeran. Saat hendak berangkat, ibunya memeluknya erat sambil meneteskan air mata.
“Anakku, perjalananmu akan melewati pegunungan yang terjal. Apa pun yang terjadi di perjalanan nanti, jangan sekali-kali menoleh ke belakang sebelum sampai di tujuan,” pesan ibunya dengan penuh kasih.
Putri Pukes mengangguk hormat.
“Baik, Ibu. Aku akan mengingat pesan itu,” jawabnya.
Rombongan pengantin pun berangkat. Mereka menempuh jalan yang berliku-liku melewati hutan dan pegunungan yang tinggi. Cuaca saat itu cukup dingin, dan kabut mulai turun menutupi sebagian jalan.
Semakin jauh perjalanan berlangsung, hati Putri Pukes semakin sedih. Ia teringat kampung halamannya, rumah masa kecilnya, serta kedua orang tuanya yang kini ditinggalkan. Air mata perlahan mengalir di pipinya.
Di tengah perjalanan, angin bertiup kencang membawa suara yang seolah-olah memanggil namanya dari kejauhan.
“Pukes… Pukes…”
Putri Pukes terdiam. Ia merasa seperti mendengar suara ibunya memanggil.
Namun ia segera teringat pesan ibunya agar tidak menoleh ke belakang.
Rombongan terus berjalan. Akan tetapi, suara itu kembali terdengar lebih jelas.
“Pukes… Anakku…”
Rasa rindu kepada keluarganya semakin kuat. Hatinya bimbang. Ia ingin melihat untuk terakhir kalinya kampung yang telah membesarkannya.
Akhirnya, Putri Pukes tidak mampu menahan keinginannya. Ia perlahan menoleh ke belakang.
Pada saat itulah sebuah keajaiban terjadi.
Tubuh Putri Pukes tiba-tiba menjadi kaku. Kakinya tidak dapat digerakkan. Sedikit demi sedikit tubuhnya berubah menjadi batu. Semua orang yang melihat kejadian itu terkejut dan ketakutan.
Putri Pukes menyesali tindakannya, tetapi semuanya sudah terlambat. Dalam waktu singkat, seluruh tubuhnya telah berubah menjadi batu yang berdiri kokoh di tengah pegunungan.
Konon, batu yang dipercaya sebagai wujud Putri Pukes masih dapat ditemukan di daerah sekitar Danau Laut Tawar, Aceh Tengah. Masyarakat setempat menjadikan kisah ini sebagai pengingat pentingnya menaati nasihat orang tua.
Sejak saat itu, legenda Putri Pukes terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai salah satu cerita rakyat paling terkenal di Aceh.
Pesan Moral
- Hormatilah dan patuhilah nasihat orang tua karena mereka menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya.
- Jangan mudah tergoda untuk melanggar janji yang telah dibuat.
- Setiap keputusan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
- Kesabaran dan ketaatan dapat membantu seseorang menghadapi berbagai ujian dalam hidup.
- Rasa sayang kepada keluarga adalah hal yang baik, tetapi harus disertai kebijaksanaan dalam bertindak.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, serta menghormati orang tua.
Danau Toba: Legenda Terbentuknya Danau Terbesar di Indonesia (Sumatera Utara)

Namun ketika ia hendak memasaknya, sebuah keajaiban terjadi. Ikan emas itu berubah menjadi
seorang gadis cantik jelita.
Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang subur di Sumatera Utara, hiduplah seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai nelayan. Setiap hari ia pergi ke sungai untuk mencari ikan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemuda itu dikenal rajin, jujur, dan tidak pernah menyerah meskipun hasil tangkapannya sering kali sedikit.
Suatu pagi, seperti biasa ia pergi memancing ke sungai yang airnya jernih. Hari itu terasa berbeda. Setelah berjam-jam menunggu, kailnya tiba-tiba bergerak sangat kuat. Dengan susah payah ia menarik tali pancingnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seekor ikan mas berwarna keemasan yang sangat indah.
Ikan itu berkilau terkena sinar matahari. Karena kagum, pemuda tersebut membawa ikan itu pulang. Namun ketika ia hendak memasaknya, sebuah keajaiban terjadi. Ikan emas itu berubah menjadi seorang gadis cantik jelita.
Pemuda itu sangat terkejut.
“Jangan takut,” kata gadis itu dengan lembut. “Aku adalah putri yang terkena kutukan. Karena engkau telah menyelamatkanku, kutukan itu kini telah berakhir.”
Hari demi hari mereka saling mengenal. Gadis itu ternyata baik hati, rajin bekerja, dan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian mereka menikah dan hidup bahagia sebagai suami istri.
Namun sebelum menikah, sang gadis mengajukan satu syarat.
“Jika kita memiliki anak nanti, jangan pernah memberitahukan kepada siapa pun bahwa aku berasal dari seekor ikan. Apa pun yang terjadi, rahasia itu harus tetap disimpan.”
Pemuda itu menyanggupi janji tersebut.
Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Samosir. Anak itu sehat dan kuat, tetapi memiliki kebiasaan yang kurang baik. Ia sering malas membantu orang tuanya dan lebih suka bermain sepanjang hari.
Suatu hari, ibunya meminta Samosir mengantarkan makanan untuk ayahnya yang sedang bekerja di ladang.
“Samosir, tolong antarkan makanan ini kepada ayahmu,” kata sang ibu.
Samosir mengangguk, tetapi di tengah perjalanan ia merasa lapar. Tanpa berpikir panjang, ia memakan sebagian besar makanan yang dibawanya. Ketika sampai di ladang, hanya sedikit makanan yang tersisa.
Ayahnya yang lelah dan lapar merasa kecewa.
“Ke mana makanan yang lain?” tanyanya.
Dengan takut-takut Samosir menjawab bahwa ia telah memakannya di jalan.
Mendengar hal itu, sang ayah menjadi sangat marah. Emosinya menguasai dirinya hingga ia lupa pada janji yang pernah diucapkan bertahun-tahun lalu.
“Dasar anak ikan!” bentaknya keras. “Kamu memang mewarisi sifat ibumu!”
Samosir sangat terkejut mendengar kata-kata itu. Ia segera berlari pulang sambil menangis dan menceritakan semuanya kepada ibunya.
Sang ibu sedih karena rahasia yang selama ini dijaga akhirnya terbongkar. Ia tahu bahwa janji suaminya telah dilanggar dan kutukan lama akan kembali berlaku.
Tak lama kemudian langit menjadi gelap. Awan hitam berkumpul di atas desa. Hujan turun sangat deras disertai petir yang menggelegar. Air terus naik hingga menenggelamkan rumah, ladang, dan seluruh kampung.
Sang ibu dan Samosir kemudian menghilang bersama derasnya air. Setelah hujan berhenti, terbentuklah sebuah danau yang sangat luas. Di tengah danau itu muncul sebuah pulau yang kemudian dikenal sebagai Pulau Samosir.
Masyarakat percaya bahwa danau tersebut adalah Danau Toba, yang hingga kini menjadi salah satu danau vulkanik terbesar dan paling terkenal di dunia.
Pesan Moral
- Janji harus ditepati dalam keadaan apa pun.
- Kemarahan yang tidak terkendali dapat membawa penyesalan.
- Anak harus belajar bertanggung jawab dan jujur.
- Rahasia dan amanah yang dipercayakan kepada kita harus dijaga dengan baik.
- Setiap perbuatan memiliki akibat yang harus diterima.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: jujur, bertanggung jawab, disiplin, menghargai keluarga, mampu mengendalikan emosi, dan menepati janji.
Malin Kundang: Anak Durhaka yang Menjadi Batu (Sumatera Barat)

ia berubah menjadi batu. Dalam sekejap, ia telah menjadi batu yang terdiam di tepi pantai.
Pada zaman dahulu, di sebuah kampung nelayan di pesisir Sumatera Barat, hiduplah seorang janda miskin bersama anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Meskipun hidup dalam keterbatasan, sang ibu sangat menyayangi Malin. Ia bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua.
Malin adalah anak yang cerdas, rajin, dan memiliki semangat besar untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, ia sering merasa sedih melihat kondisi keluarganya yang serba kekurangan. Ia bermimpi suatu hari nanti bisa menjadi orang kaya dan mengubah nasib ibunya.
Suatu hari, sebuah kapal dagang besar berlabuh di dekat kampung mereka. Para pedagang dari berbagai daerah datang membawa barang-barang berharga. Melihat kesempatan itu, Malin meminta izin kepada ibunya untuk merantau.
“Ibu, izinkan Malin pergi berlayar. Malin ingin mencari pengalaman dan memperbaiki kehidupan kita,” katanya.
Sang ibu terdiam. Hatinya berat melepas anak semata wayangnya. Namun, ia juga ingin melihat Malin meraih cita-citanya.
“Pergilah, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu. Jangan pernah lupakan kampung halaman dan ibumu,” pesan sang ibu sambil menahan air mata.
Malin memeluk ibunya erat sebelum berangkat. Kapal dagang itu kemudian membawa Malin menuju negeri-negeri yang jauh.
Tahun demi tahun berlalu. Malin bekerja dengan tekun dan jujur. Ia belajar berdagang dari para saudagar berpengalaman. Berkat kecerdasan dan kerja kerasnya, ia berhasil menjadi seorang pedagang kaya raya. Kapalnya bertambah banyak, hartanya melimpah, dan namanya dikenal di berbagai pelabuhan.
Suatu ketika, Malin menikah dengan seorang wanita cantik yang berasal dari keluarga bangsawan. Kehidupannya semakin mewah dan penuh kemakmuran. Namun, seiring bertambahnya kekayaan, sifat Malin mulai berubah. Ia menjadi sombong dan perlahan melupakan masa lalunya.
Di kampung halaman, ibunya yang sudah tua terus menunggu kepulangan anaknya. Setiap hari ia memandang ke arah laut, berharap suatu saat melihat kapal Malin datang kembali.
Hingga pada suatu pagi, harapan itu akhirnya terwujud. Sebuah kapal megah berlabuh di dekat pantai. Kabar tentang kedatangan saudagar kaya segera menyebar ke seluruh kampung.
Sang ibu yakin bahwa saudagar itu adalah Malin Kundang. Dengan penuh kegembiraan, ia berlari menuju pelabuhan meskipun tubuhnya sudah renta.
Ketika sampai di sana, ia melihat seorang pria berpakaian mewah turun dari kapal. Wajahnya memang telah dewasa, tetapi sang ibu mengenalinya.
“Malin! Anakku! Akhirnya engkau pulang!” seru sang ibu sambil memeluknya.
Namun Malin merasa malu di hadapan istri dan para awak kapalnya. Ia tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin.
Dengan wajah dingin, ia menepis pelukan ibunya.
“Wanita tua, siapa kau? Aku bukan anakmu!” bentaknya.
Sang ibu terkejut. Air matanya mengalir deras.
“Malin, aku ibumu. Apakah engkau tidak mengenaliku?” katanya dengan suara bergetar.
Namun Malin tetap menyangkal dan bahkan memerintahkan para pengawalnya menjauhkan wanita tua itu.
Hati sang ibu hancur. Dengan penuh kesedihan, ia menengadahkan tangan dan berdoa kepada Tuhan.
“Ya Tuhan, jika benar dia anakku yang durhaka, tunjukkanlah kekuasaan-Mu.”
Tak lama kemudian, langit yang semula cerah berubah menjadi gelap. Angin bertiup kencang dan ombak besar menghantam kapal Malin. Petir menyambar silih berganti. Kapal megah itu hancur diterjang badai.
Malin berusaha menyelamatkan diri, tetapi tubuhnya perlahan menjadi kaku. Sedikit demi sedikit ia berubah menjadi batu. Dalam sekejap, ia telah menjadi batu yang terdiam di tepi pantai.
Konon, batu yang dipercaya sebagai Malin Kundang masih dapat ditemukan di Pantai Air Manis, Sumatera Barat. Kisah ini terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pengingat tentang pentingnya berbakti kepada orang tua.
Pesan Moral
- Hormati dan sayangilah orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh pengorbanan.
- Kesuksesan dan kekayaan tidak boleh membuat seseorang menjadi sombong.
- Jangan pernah melupakan asal-usul dan masa lalu.
- Ucapan dan tindakan yang menyakiti hati orang tua dapat membawa penyesalan besar.
- Keberhasilan sejati bukan hanya tentang harta, tetapi juga tentang akhlak dan rasa syukur.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: berbakti kepada orang tua, rendah hati, bersyukur, bertanggung jawab, menghargai keluarga, dan memiliki akhlak mulia.
Si Lancang: Saudagar Kaya yang Melupakan Ibunya (Riau)

sudah renta, ia tetap berjalan untuk menemui anak yang telah lama dirindukannya.
Pada zaman dahulu, di sebuah kampung kecil di wilayah Riau, hiduplah seorang janda tua bersama anak laki-lakinya yang bernama Si Lancang. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di tepi sungai. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang ibu bekerja keras menjual hasil kebun dan melakukan berbagai pekerjaan lainnya.
Meski hidup miskin, Si Lancang tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pekerja keras. Ia sering membantu ibunya mencari kayu bakar, menangkap ikan, dan mengurus kebun kecil mereka. Sang ibu sangat menyayangi Si Lancang dan selalu berharap anaknya kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.
Ketika beranjak dewasa, Si Lancang memiliki cita-cita besar. Ia ingin menjadi pedagang sukses yang berlayar ke berbagai negeri. Pada masa itu, banyak saudagar kaya yang memperoleh keuntungan besar dari perdagangan antarpulau.
Suatu hari, Si Lancang meminta izin kepada ibunya.
“Ibu, izinkan aku merantau dan berdagang ke negeri yang jauh. Aku ingin mengubah nasib kita agar hidup lebih sejahtera,” katanya.
Meskipun berat hati, sang ibu akhirnya mengizinkan.
“Pergilah, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu. Tetapi jangan pernah melupakan kampung halaman dan ibumu,” pesan sang ibu sambil memegang tangan anaknya.
Si Lancang berjanji akan kembali suatu hari nanti. Dengan penuh semangat, ia berangkat menaiki kapal dagang yang menuju berbagai pelabuhan besar.
Tahun demi tahun berlalu. Si Lancang ternyata memiliki bakat luar biasa dalam berdagang. Ia bekerja keras, jujur, dan pandai melihat peluang usaha. Sedikit demi sedikit hartanya bertambah. Ia membeli kapal yang lebih besar, memperluas usahanya, dan akhirnya menjadi salah satu saudagar terkaya di wilayah tersebut.
Kekayaannya membuatnya hidup dalam kemewahan. Ia memiliki rumah besar, banyak pelayan, dan kapal-kapal megah yang berlayar ke berbagai negeri. Bahkan ia menikah dengan seorang wanita cantik dari keluarga terpandang.
Namun, seiring bertambahnya kekayaan dan kedudukannya, hati Si Lancang mulai berubah. Ia menjadi sombong dan merasa malu mengingat masa lalunya yang miskin. Janjinya kepada sang ibu perlahan terlupakan.
Sementara itu, ibunya yang sudah semakin tua tetap menunggu kepulangan anaknya. Setiap hari ia memandang ke arah sungai dan laut, berharap suatu saat Si Lancang datang menemuinya.
Hingga pada suatu hari, sebuah kapal megah berlayar mendekati kampung mereka. Kabar kedatangan saudagar kaya segera menyebar. Sang ibu mendengar bahwa pemilik kapal itu adalah Si Lancang.
Dengan hati penuh sukacita, ia bergegas menuju dermaga. Meskipun tubuhnya sudah renta, ia tetap berjalan untuk menemui anak yang telah lama dirindukannya.
Ketika melihat Si Lancang turun dari kapal dengan pakaian mewah dan perhiasan mahal, sang ibu langsung memanggilnya.
“Lancang! Anakku! Akhirnya engkau kembali!” serunya sambil mengulurkan tangan.
Namun Si Lancang terkejut melihat ibunya yang berpakaian lusuh. Di hadapan istri dan para awak kapalnya, ia merasa malu.
Dengan wajah dingin, ia berpura-pura tidak mengenal wanita tua itu.
“Aku tidak mengenalmu. Jangan mengaku-ngaku sebagai ibuku!” katanya keras.
Sang ibu sangat sedih.
“Anakku, apakah engkau benar-benar melupakan ibumu?” tanyanya sambil menangis.
Namun Si Lancang tetap menolak mengakuinya. Ia bahkan memerintahkan anak buahnya agar menjauhkan wanita tua itu dari kapalnya.
Hati sang ibu hancur. Dengan air mata yang terus mengalir, ia berdoa kepada Tuhan agar menunjukkan keadilan atas perbuatan anaknya.
Tak lama kemudian, langit yang semula cerah mendadak berubah gelap. Angin bertiup sangat kencang. Ombak besar menghantam kapal Si Lancang. Petir menyambar bertubi-tubi, dan badai hebat mengguncang seluruh perairan.
Kapal megah yang menjadi kebanggaan Si Lancang akhirnya hancur diterjang badai. Semua kekayaan yang selama ini dibanggakannya tenggelam ke dasar laut.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Riau, peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bahwa siapa pun yang melupakan jasa orang tua akan menghadapi akibat dari perbuatannya.
Sejak saat itu, kisah Si Lancang terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai salah satu legenda paling terkenal dari Riau.
Pesan Moral
- Orang tua harus selalu dihormati dan disayangi sepanjang hidup.
- Kesuksesan tidak boleh membuat seseorang melupakan asal-usulnya.
- Kekayaan dan jabatan bukan ukuran kemuliaan seseorang.
- Kesombongan dapat menghancurkan kebahagiaan dan keberhasilan.
- Bersyukur dan berbakti kepada orang tua merupakan sikap yang harus dijaga setiap saat.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: berakhlak mulia, menghormati orang tua, rendah hati, bertanggung jawab, bersyukur, dan menjaga hubungan baik dengan keluarga.
Putri Pandan Berduri: Putri Bijaksana dari Kepulauan Riau
Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang terletak di wilayah Kepulauan Riau, hiduplah seorang putri yang terkenal karena kecantikannya, kelembutannya, dan kebijaksanaannya. Putri itu bernama Putri Pandan Berduri. Namanya dikenal hingga ke berbagai pulau karena ia tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki hati yang mulia dan selalu peduli kepada rakyatnya.
Kerajaan tempat Putri Pandan Berduri tinggal dikelilingi oleh lautan yang biru, pantai yang indah, dan hutan pandan yang tumbuh lebat di sepanjang pesisir. Masyarakat hidup dari hasil laut dan perdagangan antarpulau. Kehidupan mereka damai dan sejahtera di bawah pemerintahan raja yang adil, ayah dari Putri Pandan Berduri.
Sejak kecil, sang putri gemar belajar. Ia mempelajari adat istiadat, ilmu pemerintahan, serta berbagai keterampilan yang berguna untuk membantu rakyat. Tidak jarang ia menyamar sebagai rakyat biasa untuk mengetahui kehidupan masyarakat secara langsung.
Suatu hari, datanglah kabar bahwa sekelompok perompak laut sering menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi wilayah kerajaan. Akibatnya, para pedagang menjadi takut berlayar dan perekonomian kerajaan mulai terganggu.
Raja mengadakan pertemuan dengan para penasihat kerajaan untuk mencari jalan keluar.
“Kita harus segera menghentikan ancaman ini,” kata sang raja.
Namun, tidak ada satu pun penasihat yang memiliki rencana yang benar-benar efektif.
Mendengar hal itu, Putri Pandan Berduri mengajukan usul.
“Ayahanda, izinkan hamba membantu mencari solusi. Kita harus mengetahui terlebih dahulu kelemahan para perompak itu.”
Raja terkejut, tetapi ia mengenal kecerdasan putrinya.
“Baiklah, Putriku. Namun berhati-hatilah,” jawab sang raja.
Dengan ditemani beberapa pengawal terpercaya, Putri Pandan Berduri melakukan perjalanan menyusuri pulau-pulau kecil di sekitar kerajaan. Dalam perjalanan itu, ia berbincang dengan para nelayan dan pedagang untuk mengumpulkan informasi.
Dari mereka, sang putri mengetahui bahwa para perompak sering bersembunyi di sebuah pulau terpencil yang dipenuhi semak pandan berduri. Tempat itu sulit dimasuki karena dipenuhi tanaman berduri yang rapat.
Putri Pandan Berduri kemudian menyusun rencana yang cerdik. Ia memerintahkan pasukan kerajaan untuk membuat jalur rahasia menuju pulau tersebut dengan bantuan para nelayan yang mengenal wilayah perairan setempat.
Pada malam yang telah ditentukan, pasukan kerajaan bergerak diam-diam. Ketika para perompak sedang lengah, mereka berhasil mengepung tempat persembunyian itu.
Terjadilah pertempuran singkat. Karena tidak siap menghadapi serangan mendadak, para perompak akhirnya menyerah. Pemimpin mereka ditangkap dan dibawa ke kerajaan untuk diadili.
Rakyat bersorak gembira mendengar kemenangan tersebut. Jalur perdagangan kembali aman. Kapal-kapal dagang mulai berlayar lagi, dan kehidupan masyarakat kembali makmur.
Sejak saat itu, nama Putri Pandan Berduri semakin terkenal. Ia dihormati bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena keberanian, kecerdasan, dan kepeduliannya terhadap rakyat.
Ketika kelak sang putri menggantikan ayahnya memimpin kerajaan, ia menjadi pemimpin yang adil dan dicintai rakyat. Kerajaannya berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai di kawasan Kepulauan Riau.
Hingga kini, kisah Putri Pandan Berduri masih diceritakan sebagai salah satu legenda terkenal dari Kepulauan Riau. Cerita ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin yang baik tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kebijaksanaan dan kepedulian terhadap rakyatnya.
Pesan Moral
- Kecerdasan dan kebijaksanaan lebih berharga daripada kecantikan semata.
- Seorang pemimpin harus peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya.
- Keberanian harus disertai dengan perencanaan yang matang.
- Masalah besar dapat diselesaikan melalui kerja sama dan musyawarah.
- Jangan menyerah menghadapi tantangan yang mengancam kebaikan bersama.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: kepemimpinan, gotong royong, berpikir kritis, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian sosial.
(BERSAMBUNG)








