Putri Pukes, Sang Putri yang Menjadi Batu (Nanggroe Aceh Darussalam)

seluruh tubuhnya telah berubah menjadi batu yang berdiri kokoh di tengah pegunungan.
Di dataran tinggi Gayo, Aceh, hiduplah seorang putri cantik bernama Putri Pukes. Ia terkenal karena kecantikannya yang memikat, kelembutannya, dan sikapnya yang sopan kepada semua orang. Putri Pukes tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah kampung yang damai dan subur di sekitar pegunungan.
Ketika beranjak dewasa, Putri Pukes dilamar oleh seorang pangeran dari negeri yang jauh. Pangeran itu dikenal baik hati dan gagah berani. Keluarga Putri Pukes menerima lamaran tersebut dengan gembira. Setelah persiapan yang panjang, tibalah hari pernikahan yang dinanti-nantikan.
Setelah upacara pernikahan selesai, Putri Pukes harus meninggalkan kampung halamannya untuk mengikuti suaminya ke negeri sang pangeran. Saat hendak berangkat, ibunya memeluknya erat sambil meneteskan air mata.
“Anakku, perjalananmu akan melewati pegunungan yang terjal. Apa pun yang terjadi di perjalanan nanti, jangan sekali-kali menoleh ke belakang sebelum sampai di tujuan,” pesan ibunya dengan penuh kasih.
Putri Pukes mengangguk hormat.
“Baik, Ibu. Aku akan mengingat pesan itu,” jawabnya.
Rombongan pengantin pun berangkat. Mereka menempuh jalan yang berliku-liku melewati hutan dan pegunungan yang tinggi. Cuaca saat itu cukup dingin, dan kabut mulai turun menutupi sebagian jalan.
Semakin jauh perjalanan berlangsung, hati Putri Pukes semakin sedih. Ia teringat kampung halamannya, rumah masa kecilnya, serta kedua orang tuanya yang kini ditinggalkan. Air mata perlahan mengalir di pipinya.
Di tengah perjalanan, angin bertiup kencang membawa suara yang seolah-olah memanggil namanya dari kejauhan.
“Pukes… Pukes…”
Putri Pukes terdiam. Ia merasa seperti mendengar suara ibunya memanggil.
Namun ia segera teringat pesan ibunya agar tidak menoleh ke belakang.
Rombongan terus berjalan. Akan tetapi, suara itu kembali terdengar lebih jelas.
“Pukes… Anakku…”
Rasa rindu kepada keluarganya semakin kuat. Hatinya bimbang. Ia ingin melihat untuk terakhir kalinya kampung yang telah membesarkannya.
Akhirnya, Putri Pukes tidak mampu menahan keinginannya. Ia perlahan menoleh ke belakang.
Pada saat itulah sebuah keajaiban terjadi.
Tubuh Putri Pukes tiba-tiba menjadi kaku. Kakinya tidak dapat digerakkan. Sedikit demi sedikit tubuhnya berubah menjadi batu. Semua orang yang melihat kejadian itu terkejut dan ketakutan.
Putri Pukes menyesali tindakannya, tetapi semuanya sudah terlambat. Dalam waktu singkat, seluruh tubuhnya telah berubah menjadi batu yang berdiri kokoh di tengah pegunungan.
Konon, batu yang dipercaya sebagai wujud Putri Pukes masih dapat ditemukan di daerah sekitar Danau Laut Tawar, Aceh Tengah. Masyarakat setempat menjadikan kisah ini sebagai pengingat pentingnya menaati nasihat orang tua.
Sejak saat itu, legenda Putri Pukes terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai salah satu cerita rakyat paling terkenal di Aceh.
Pesan Moral
- Hormatilah dan patuhilah nasihat orang tua karena mereka menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya.
- Jangan mudah tergoda untuk melanggar janji yang telah dibuat.
- Setiap keputusan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
- Kesabaran dan ketaatan dapat membantu seseorang menghadapi berbagai ujian dalam hidup.
- Rasa sayang kepada keluarga adalah hal yang baik, tetapi harus disertai kebijaksanaan dalam bertindak.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, serta menghormati orang tua.
Danau Toba: Legenda Terbentuknya Danau Terbesar di Indonesia (Sumatera Utara)

Namun ketika ia hendak memasaknya, sebuah keajaiban terjadi. Ikan emas itu berubah menjadi
seorang gadis cantik jelita.
Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang subur di Sumatera Utara, hiduplah seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai nelayan. Setiap hari ia pergi ke sungai untuk mencari ikan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemuda itu dikenal rajin, jujur, dan tidak pernah menyerah meskipun hasil tangkapannya sering kali sedikit.
Suatu pagi, seperti biasa ia pergi memancing ke sungai yang airnya jernih. Hari itu terasa berbeda. Setelah berjam-jam menunggu, kailnya tiba-tiba bergerak sangat kuat. Dengan susah payah ia menarik tali pancingnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seekor ikan mas berwarna keemasan yang sangat indah.
Ikan itu berkilau terkena sinar matahari. Karena kagum, pemuda tersebut membawa ikan itu pulang. Namun ketika ia hendak memasaknya, sebuah keajaiban terjadi. Ikan emas itu berubah menjadi seorang gadis cantik jelita.
Pemuda itu sangat terkejut.
“Jangan takut,” kata gadis itu dengan lembut. “Aku adalah putri yang terkena kutukan. Karena engkau telah menyelamatkanku, kutukan itu kini telah berakhir.”
Hari demi hari mereka saling mengenal. Gadis itu ternyata baik hati, rajin bekerja, dan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian mereka menikah dan hidup bahagia sebagai suami istri.
Namun sebelum menikah, sang gadis mengajukan satu syarat.
“Jika kita memiliki anak nanti, jangan pernah memberitahukan kepada siapa pun bahwa aku berasal dari seekor ikan. Apa pun yang terjadi, rahasia itu harus tetap disimpan.”
Pemuda itu menyanggupi janji tersebut.
Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Samosir. Anak itu sehat dan kuat, tetapi memiliki kebiasaan yang kurang baik. Ia sering malas membantu orang tuanya dan lebih suka bermain sepanjang hari.
Suatu hari, ibunya meminta Samosir mengantarkan makanan untuk ayahnya yang sedang bekerja di ladang.
“Samosir, tolong antarkan makanan ini kepada ayahmu,” kata sang ibu.
Samosir mengangguk, tetapi di tengah perjalanan ia merasa lapar. Tanpa berpikir panjang, ia memakan sebagian besar makanan yang dibawanya. Ketika sampai di ladang, hanya sedikit makanan yang tersisa.
Ayahnya yang lelah dan lapar merasa kecewa.
“Ke mana makanan yang lain?” tanyanya.
Dengan takut-takut Samosir menjawab bahwa ia telah memakannya di jalan.
Mendengar hal itu, sang ayah menjadi sangat marah. Emosinya menguasai dirinya hingga ia lupa pada janji yang pernah diucapkan bertahun-tahun lalu.
“Dasar anak ikan!” bentaknya keras. “Kamu memang mewarisi sifat ibumu!”
Samosir sangat terkejut mendengar kata-kata itu. Ia segera berlari pulang sambil menangis dan menceritakan semuanya kepada ibunya.
Sang ibu sedih karena rahasia yang selama ini dijaga akhirnya terbongkar. Ia tahu bahwa janji suaminya telah dilanggar dan kutukan lama akan kembali berlaku.
Tak lama kemudian langit menjadi gelap. Awan hitam berkumpul di atas desa. Hujan turun sangat deras disertai petir yang menggelegar. Air terus naik hingga menenggelamkan rumah, ladang, dan seluruh kampung.
Sang ibu dan Samosir kemudian menghilang bersama derasnya air. Setelah hujan berhenti, terbentuklah sebuah danau yang sangat luas. Di tengah danau itu muncul sebuah pulau yang kemudian dikenal sebagai Pulau Samosir.
Masyarakat percaya bahwa danau tersebut adalah Danau Toba, yang hingga kini menjadi salah satu danau vulkanik terbesar dan paling terkenal di dunia.
Pesan Moral
- Janji harus ditepati dalam keadaan apa pun.
- Kemarahan yang tidak terkendali dapat membawa penyesalan.
- Anak harus belajar bertanggung jawab dan jujur.
- Rahasia dan amanah yang dipercayakan kepada kita harus dijaga dengan baik.
- Setiap perbuatan memiliki akibat yang harus diterima.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: jujur, bertanggung jawab, disiplin, menghargai keluarga, mampu mengendalikan emosi, dan menepati janji.
Malin Kundang: Anak Durhaka yang Menjadi Batu (Sumatera Barat)

ia berubah menjadi batu. Dalam sekejap, ia telah menjadi batu yang terdiam di tepi pantai.
Pada zaman dahulu, di sebuah kampung nelayan di pesisir Sumatera Barat, hiduplah seorang janda miskin bersama anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Meskipun hidup dalam keterbatasan, sang ibu sangat menyayangi Malin. Ia bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua.
Malin adalah anak yang cerdas, rajin, dan memiliki semangat besar untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, ia sering merasa sedih melihat kondisi keluarganya yang serba kekurangan. Ia bermimpi suatu hari nanti bisa menjadi orang kaya dan mengubah nasib ibunya.
Suatu hari, sebuah kapal dagang besar berlabuh di dekat kampung mereka. Para pedagang dari berbagai daerah datang membawa barang-barang berharga. Melihat kesempatan itu, Malin meminta izin kepada ibunya untuk merantau.
“Ibu, izinkan Malin pergi berlayar. Malin ingin mencari pengalaman dan memperbaiki kehidupan kita,” katanya.
Sang ibu terdiam. Hatinya berat melepas anak semata wayangnya. Namun, ia juga ingin melihat Malin meraih cita-citanya.
“Pergilah, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu. Jangan pernah lupakan kampung halaman dan ibumu,” pesan sang ibu sambil menahan air mata.
Malin memeluk ibunya erat sebelum berangkat. Kapal dagang itu kemudian membawa Malin menuju negeri-negeri yang jauh.
Tahun demi tahun berlalu. Malin bekerja dengan tekun dan jujur. Ia belajar berdagang dari para saudagar berpengalaman. Berkat kecerdasan dan kerja kerasnya, ia berhasil menjadi seorang pedagang kaya raya. Kapalnya bertambah banyak, hartanya melimpah, dan namanya dikenal di berbagai pelabuhan.
Suatu ketika, Malin menikah dengan seorang wanita cantik yang berasal dari keluarga bangsawan. Kehidupannya semakin mewah dan penuh kemakmuran. Namun, seiring bertambahnya kekayaan, sifat Malin mulai berubah. Ia menjadi sombong dan perlahan melupakan masa lalunya.
Di kampung halaman, ibunya yang sudah tua terus menunggu kepulangan anaknya. Setiap hari ia memandang ke arah laut, berharap suatu saat melihat kapal Malin datang kembali.
Hingga pada suatu pagi, harapan itu akhirnya terwujud. Sebuah kapal megah berlabuh di dekat pantai. Kabar tentang kedatangan saudagar kaya segera menyebar ke seluruh kampung.
Sang ibu yakin bahwa saudagar itu adalah Malin Kundang. Dengan penuh kegembiraan, ia berlari menuju pelabuhan meskipun tubuhnya sudah renta.
Ketika sampai di sana, ia melihat seorang pria berpakaian mewah turun dari kapal. Wajahnya memang telah dewasa, tetapi sang ibu mengenalinya.
“Malin! Anakku! Akhirnya engkau pulang!” seru sang ibu sambil memeluknya.
Namun Malin merasa malu di hadapan istri dan para awak kapalnya. Ia tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin.
Dengan wajah dingin, ia menepis pelukan ibunya.
“Wanita tua, siapa kau? Aku bukan anakmu!” bentaknya.
Sang ibu terkejut. Air matanya mengalir deras.
“Malin, aku ibumu. Apakah engkau tidak mengenaliku?” katanya dengan suara bergetar.
Namun Malin tetap menyangkal dan bahkan memerintahkan para pengawalnya menjauhkan wanita tua itu.
Hati sang ibu hancur. Dengan penuh kesedihan, ia menengadahkan tangan dan berdoa kepada Tuhan.
“Ya Tuhan, jika benar dia anakku yang durhaka, tunjukkanlah kekuasaan-Mu.”
Tak lama kemudian, langit yang semula cerah berubah menjadi gelap. Angin bertiup kencang dan ombak besar menghantam kapal Malin. Petir menyambar silih berganti. Kapal megah itu hancur diterjang badai.
Malin berusaha menyelamatkan diri, tetapi tubuhnya perlahan menjadi kaku. Sedikit demi sedikit ia berubah menjadi batu. Dalam sekejap, ia telah menjadi batu yang terdiam di tepi pantai.
Konon, batu yang dipercaya sebagai Malin Kundang masih dapat ditemukan di Pantai Air Manis, Sumatera Barat. Kisah ini terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pengingat tentang pentingnya berbakti kepada orang tua.
Pesan Moral
- Hormati dan sayangilah orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh pengorbanan.
- Kesuksesan dan kekayaan tidak boleh membuat seseorang menjadi sombong.
- Jangan pernah melupakan asal-usul dan masa lalu.
- Ucapan dan tindakan yang menyakiti hati orang tua dapat membawa penyesalan besar.
- Keberhasilan sejati bukan hanya tentang harta, tetapi juga tentang akhlak dan rasa syukur.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: berbakti kepada orang tua, rendah hati, bersyukur, bertanggung jawab, menghargai keluarga, dan memiliki akhlak mulia.
Si Lancang: Saudagar Kaya yang Melupakan Ibunya (Riau)

sudah renta, ia tetap berjalan untuk menemui anak yang telah lama dirindukannya.
Pada zaman dahulu, di sebuah kampung kecil di wilayah Riau, hiduplah seorang janda tua bersama anak laki-lakinya yang bernama Si Lancang. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di tepi sungai. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang ibu bekerja keras menjual hasil kebun dan melakukan berbagai pekerjaan lainnya.
Meski hidup miskin, Si Lancang tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pekerja keras. Ia sering membantu ibunya mencari kayu bakar, menangkap ikan, dan mengurus kebun kecil mereka. Sang ibu sangat menyayangi Si Lancang dan selalu berharap anaknya kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.
Ketika beranjak dewasa, Si Lancang memiliki cita-cita besar. Ia ingin menjadi pedagang sukses yang berlayar ke berbagai negeri. Pada masa itu, banyak saudagar kaya yang memperoleh keuntungan besar dari perdagangan antarpulau.
Suatu hari, Si Lancang meminta izin kepada ibunya.
“Ibu, izinkan aku merantau dan berdagang ke negeri yang jauh. Aku ingin mengubah nasib kita agar hidup lebih sejahtera,” katanya.
Meskipun berat hati, sang ibu akhirnya mengizinkan.
“Pergilah, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu. Tetapi jangan pernah melupakan kampung halaman dan ibumu,” pesan sang ibu sambil memegang tangan anaknya.
Si Lancang berjanji akan kembali suatu hari nanti. Dengan penuh semangat, ia berangkat menaiki kapal dagang yang menuju berbagai pelabuhan besar.
Tahun demi tahun berlalu. Si Lancang ternyata memiliki bakat luar biasa dalam berdagang. Ia bekerja keras, jujur, dan pandai melihat peluang usaha. Sedikit demi sedikit hartanya bertambah. Ia membeli kapal yang lebih besar, memperluas usahanya, dan akhirnya menjadi salah satu saudagar terkaya di wilayah tersebut.
Kekayaannya membuatnya hidup dalam kemewahan. Ia memiliki rumah besar, banyak pelayan, dan kapal-kapal megah yang berlayar ke berbagai negeri. Bahkan ia menikah dengan seorang wanita cantik dari keluarga terpandang.
Namun, seiring bertambahnya kekayaan dan kedudukannya, hati Si Lancang mulai berubah. Ia menjadi sombong dan merasa malu mengingat masa lalunya yang miskin. Janjinya kepada sang ibu perlahan terlupakan.
Sementara itu, ibunya yang sudah semakin tua tetap menunggu kepulangan anaknya. Setiap hari ia memandang ke arah sungai dan laut, berharap suatu saat Si Lancang datang menemuinya.
Hingga pada suatu hari, sebuah kapal megah berlayar mendekati kampung mereka. Kabar kedatangan saudagar kaya segera menyebar. Sang ibu mendengar bahwa pemilik kapal itu adalah Si Lancang.
Dengan hati penuh sukacita, ia bergegas menuju dermaga. Meskipun tubuhnya sudah renta, ia tetap berjalan untuk menemui anak yang telah lama dirindukannya.
Ketika melihat Si Lancang turun dari kapal dengan pakaian mewah dan perhiasan mahal, sang ibu langsung memanggilnya.
“Lancang! Anakku! Akhirnya engkau kembali!” serunya sambil mengulurkan tangan.
Namun Si Lancang terkejut melihat ibunya yang berpakaian lusuh. Di hadapan istri dan para awak kapalnya, ia merasa malu.
Dengan wajah dingin, ia berpura-pura tidak mengenal wanita tua itu.
“Aku tidak mengenalmu. Jangan mengaku-ngaku sebagai ibuku!” katanya keras.
Sang ibu sangat sedih.
“Anakku, apakah engkau benar-benar melupakan ibumu?” tanyanya sambil menangis.
Namun Si Lancang tetap menolak mengakuinya. Ia bahkan memerintahkan anak buahnya agar menjauhkan wanita tua itu dari kapalnya.
Hati sang ibu hancur. Dengan air mata yang terus mengalir, ia berdoa kepada Tuhan agar menunjukkan keadilan atas perbuatan anaknya.
Tak lama kemudian, langit yang semula cerah mendadak berubah gelap. Angin bertiup sangat kencang. Ombak besar menghantam kapal Si Lancang. Petir menyambar bertubi-tubi, dan badai hebat mengguncang seluruh perairan.
Kapal megah yang menjadi kebanggaan Si Lancang akhirnya hancur diterjang badai. Semua kekayaan yang selama ini dibanggakannya tenggelam ke dasar laut.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Riau, peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bahwa siapa pun yang melupakan jasa orang tua akan menghadapi akibat dari perbuatannya.
Sejak saat itu, kisah Si Lancang terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai salah satu legenda paling terkenal dari Riau.
Pesan Moral
- Orang tua harus selalu dihormati dan disayangi sepanjang hidup.
- Kesuksesan tidak boleh membuat seseorang melupakan asal-usulnya.
- Kekayaan dan jabatan bukan ukuran kemuliaan seseorang.
- Kesombongan dapat menghancurkan kebahagiaan dan keberhasilan.
- Bersyukur dan berbakti kepada orang tua merupakan sikap yang harus dijaga setiap saat.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: berakhlak mulia, menghormati orang tua, rendah hati, bertanggung jawab, bersyukur, dan menjaga hubungan baik dengan keluarga.
Putri Pandan Berduri: Putri Bijaksana dari Kepulauan Riau

pulau terpencil yang dipenuhi semak pandan berduri. Tempat itu sulit dimasuki karena dipenuhi
tanaman berduri yang rapat.
Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang terletak di wilayah Kepulauan Riau, hiduplah seorang putri yang terkenal karena kecantikannya, kelembutannya, dan kebijaksanaannya. Putri itu bernama Putri Pandan Berduri. Namanya dikenal hingga ke berbagai pulau karena ia tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki hati yang mulia dan selalu peduli kepada rakyatnya.
Kerajaan tempat Putri Pandan Berduri tinggal dikelilingi oleh lautan yang biru, pantai yang indah, dan hutan pandan yang tumbuh lebat di sepanjang pesisir. Masyarakat hidup dari hasil laut dan perdagangan antarpulau. Kehidupan mereka damai dan sejahtera di bawah pemerintahan raja yang adil, ayah dari Putri Pandan Berduri.
Sejak kecil, sang putri gemar belajar. Ia mempelajari adat istiadat, ilmu pemerintahan, serta berbagai keterampilan yang berguna untuk membantu rakyat. Tidak jarang ia menyamar sebagai rakyat biasa untuk mengetahui kehidupan masyarakat secara langsung.
Suatu hari, datanglah kabar bahwa sekelompok perompak laut sering menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi wilayah kerajaan. Akibatnya, para pedagang menjadi takut berlayar dan perekonomian kerajaan mulai terganggu.
Raja mengadakan pertemuan dengan para penasihat kerajaan untuk mencari jalan keluar.
“Kita harus segera menghentikan ancaman ini,” kata sang raja.
Namun, tidak ada satu pun penasihat yang memiliki rencana yang benar-benar efektif.
Mendengar hal itu, Putri Pandan Berduri mengajukan usul.
“Ayahanda, izinkan hamba membantu mencari solusi. Kita harus mengetahui terlebih dahulu kelemahan para perompak itu.”
Raja terkejut, tetapi ia mengenal kecerdasan putrinya.
“Baiklah, Putriku. Namun berhati-hatilah,” jawab sang raja.
Dengan ditemani beberapa pengawal terpercaya, Putri Pandan Berduri melakukan perjalanan menyusuri pulau-pulau kecil di sekitar kerajaan. Dalam perjalanan itu, ia berbincang dengan para nelayan dan pedagang untuk mengumpulkan informasi.
Dari mereka, sang putri mengetahui bahwa para perompak sering bersembunyi di sebuah pulau terpencil yang dipenuhi semak pandan berduri. Tempat itu sulit dimasuki karena dipenuhi tanaman berduri yang rapat.
Putri Pandan Berduri kemudian menyusun rencana yang cerdik. Ia memerintahkan pasukan kerajaan untuk membuat jalur rahasia menuju pulau tersebut dengan bantuan para nelayan yang mengenal wilayah perairan setempat.
Pada malam yang telah ditentukan, pasukan kerajaan bergerak diam-diam. Ketika para perompak sedang lengah, mereka berhasil mengepung tempat persembunyian itu.
Terjadilah pertempuran singkat. Karena tidak siap menghadapi serangan mendadak, para perompak akhirnya menyerah. Pemimpin mereka ditangkap dan dibawa ke kerajaan untuk diadili.
Rakyat bersorak gembira mendengar kemenangan tersebut. Jalur perdagangan kembali aman. Kapal-kapal dagang mulai berlayar lagi, dan kehidupan masyarakat kembali makmur.
Sejak saat itu, nama Putri Pandan Berduri semakin terkenal. Ia dihormati bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena keberanian, kecerdasan, dan kepeduliannya terhadap rakyat.
Ketika kelak sang putri menggantikan ayahnya memimpin kerajaan, ia menjadi pemimpin yang adil dan dicintai rakyat. Kerajaannya berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai di kawasan Kepulauan Riau.
Hingga kini, kisah Putri Pandan Berduri masih diceritakan sebagai salah satu legenda terkenal dari Kepulauan Riau. Cerita ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin yang baik tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kebijaksanaan dan kepedulian terhadap rakyatnya.
Pesan Moral
- Kecerdasan dan kebijaksanaan lebih berharga daripada kecantikan semata.
- Seorang pemimpin harus peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya.
- Keberanian harus disertai dengan perencanaan yang matang.
- Masalah besar dapat diselesaikan melalui kerja sama dan musyawarah.
- Jangan menyerah menghadapi tantangan yang mengancam kebaikan bersama.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: kepemimpinan, gotong royong, berpikir kritis, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian sosial.
Putri Pinang Masak: Putri Bijaksana dari Kerajaan Jambi

karena wajahnya yang elok dan kulitnya yang kuning keemasan seperti buah pinang yang telah masak.
Pada zaman dahulu, di wilayah yang kini dikenal sebagai Jambi, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur di tepi Sungai Batanghari. Sungai yang panjang dan ramai itu menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan berbagai daerah di Sumatra. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang adil dan dicintai rakyatnya.
Raja memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Pinang Masak. Nama itu diberikan karena wajahnya yang elok dan kulitnya yang kuning keemasan seperti buah pinang yang telah masak. Namun, bukan hanya kecantikannya yang membuat Putri Pinang Masak terkenal. Ia juga dikenal karena kecerdasannya, keramahannya, dan kepeduliannya terhadap rakyat.
Sejak kecil, Putri Pinang Masak gemar belajar. Ia mempelajari adat istiadat, ilmu pemerintahan, bahasa, serta berbagai keterampilan yang berguna untuk memimpin kerajaan suatu hari nanti. Sang putri juga sering mengunjungi desa-desa untuk melihat langsung kehidupan rakyatnya.
“Seorang pemimpin harus mengenal rakyatnya dengan baik,” kata Putri Pinang Masak kepada para pengawal yang menemaninya.
Rakyat sangat menyayangi sang putri karena ia selalu mendengarkan keluhan mereka dan berusaha membantu mencari solusi atas berbagai masalah.
Suatu ketika, kerajaan menghadapi masa sulit. Musim kemarau yang panjang menyebabkan hasil panen menurun. Banyak petani mengalami kesulitan. Persediaan makanan mulai berkurang, dan beberapa daerah mengalami kekeringan.
Raja sangat khawatir melihat keadaan tersebut.
“Kita harus segera menemukan jalan keluar agar rakyat tidak menderita,” ujar sang raja dalam pertemuan kerajaan.
Para penasihat kerajaan memberikan berbagai usulan, tetapi belum ada yang benar-benar mampu menyelesaikan masalah.
Putri Pinang Masak kemudian mengajukan pendapatnya.
“Ayahanda, kita memiliki Sungai Batanghari yang besar. Mengapa tidak membangun saluran air untuk mengalirkan air sungai ke ladang-ladang rakyat?” usulnya.
Semua orang terdiam sejenak. Mereka kagum mendengar pemikiran sang putri.
“Itu ide yang sangat baik,” kata salah seorang penasihat.
Atas perintah raja, pembangunan saluran air segera dimulai. Para pekerja, petani, dan penduduk bergotong royong menggali kanal sederhana yang menghubungkan sungai dengan area pertanian.
Pekerjaan itu memang tidak mudah. Namun Putri Pinang Masak sering turun langsung ke lapangan untuk memberikan semangat kepada rakyat.
“Jangan menyerah. Jika kita bekerja bersama, kita pasti berhasil,” katanya.
Melihat kepedulian sang putri, rakyat semakin bersemangat. Setelah beberapa waktu, saluran air akhirnya selesai dibangun. Air Sungai Batanghari mengalir ke sawah dan ladang yang sebelumnya kering.
Tanaman kembali tumbuh hijau. Hasil panen meningkat. Persediaan makanan kembali melimpah. Kerajaan berhasil melewati masa sulit tersebut.
Rakyat bersukacita dan mengadakan pesta syukur. Mereka memuji kebijaksanaan Putri Pinang Masak yang telah membantu menyelamatkan kehidupan banyak orang.
Tahun demi tahun berlalu. Ketika sang raja mulai tua, Putri Pinang Masak dipercaya membantu menjalankan pemerintahan. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya, ia mampu menjaga keamanan, kesejahteraan, dan kemakmuran kerajaan.
Namanya dikenal hingga ke berbagai daerah sebagai simbol pemimpin yang bijaksana, peduli, dan dekat dengan rakyat. Kisah Putri Pinang Masak pun terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai salah satu legenda paling terkenal dari Jambi.
Hingga kini, masyarakat Jambi masih mengenang Putri Pinang Masak sebagai sosok yang tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki hati yang mulia dan semangat untuk mengabdi kepada rakyatnya.
Pesan Moral
- Seorang pemimpin yang baik harus peduli terhadap rakyatnya.
- Kecerdasan harus digunakan untuk membantu sesama.
- Masalah besar dapat diatasi melalui kerja sama dan gotong royong.
- Kepedulian dan empati membuat seseorang dicintai oleh banyak orang.
- Kesuksesan suatu masyarakat lahir dari persatuan dan kerja keras bersama.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: gotong royong, kepemimpinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, berpikir kritis, dan kreatif dalam memecahkan masalah.
Pulau Kemaro: Kisah Cinta Abadi di Sungai Musi (Sumatera Selatan)

yang telah dibuang ke sungai. Ia melompat ke dalam air untuk mencarinya.
Pada zaman dahulu, di wilayah yang kini menjadi Sumatera Selatan, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur di tepi Sungai Musi. Sungai yang lebar dan ramai itu menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan berbagai daerah dan bangsa. Kapal-kapal dari berbagai negeri sering datang membawa barang dagangan, rempah-rempah, dan hasil bumi.
Di kerajaan tersebut hiduplah seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Siti Fatimah. Selain memiliki paras yang menawan, sang putri juga dikenal lembut, cerdas, dan memiliki hati yang baik. Karena kecantikannya, banyak pangeran dan bangsawan yang ingin mempersuntingnya, tetapi belum ada yang berhasil merebut hatinya.
Suatu hari, datanglah seorang pangeran dari negeri Tiongkok bernama Tan Bun An. Ia adalah putra seorang saudagar kaya yang terkenal bijaksana dan baik hati. Tan Bun An datang ke Palembang bersama rombongannya untuk berdagang sekaligus menjalin persahabatan dengan kerajaan setempat.
Ketika pertama kali melihat Putri Siti Fatimah dalam sebuah acara kerajaan, Tan Bun An langsung jatuh hati. Begitu pula sang putri yang terkesan dengan sikap sopan dan kerendahan hati pangeran muda tersebut.
Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin dekat. Mereka sering berbincang tentang budaya, perdagangan, dan kehidupan masyarakat di kedua negeri. Akhirnya, Tan Bun An melamar Putri Siti Fatimah.
Sang raja menyetujui lamaran itu karena melihat ketulusan hati pangeran tersebut. Persiapan pernikahan pun segera dilakukan. Kabar bahagia itu menyebar ke seluruh negeri.
Mendengar putranya akan menikah dengan seorang putri kerajaan, keluarga Tan Bun An di Tiongkok sangat gembira. Mereka mengirimkan hadiah yang sangat berharga sebagai tanda restu dan penghormatan. Hadiah tersebut berupa tujuh guci besar yang tampak berisi sayur-sayuran dan makanan biasa.
Ketika hadiah itu tiba di Palembang, Tan Bun An merasa kecewa. Ia mengira keluarganya hanya mengirimkan barang-barang yang tidak bernilai.
“Mengapa ayah dan ibu hanya mengirimkan hadiah seperti ini untuk pernikahanku?” keluhnya.
Karena kesal, ia mengambil salah satu guci dan melemparkannya ke Sungai Musi. Saat guci itu pecah, tampaklah kepingan emas berkilauan keluar dari dalamnya.
Tan Bun An terkejut bukan main. Ternyata seluruh guci tersebut berisi emas yang disembunyikan di bawah lapisan sayuran agar aman selama perjalanan.
Menyadari kesalahannya, Tan Bun An segera berusaha mengambil kembali guci-guci yang telah dibuang ke sungai. Ia melompat ke dalam air untuk mencarinya.
Melihat calon suaminya tenggelam dan tidak kunjung muncul ke permukaan, Putri Siti Fatimah panik. Tanpa berpikir panjang, ia ikut terjun ke Sungai Musi untuk menolong Tan Bun An.
Namun arus sungai yang deras membuat keduanya tidak dapat diselamatkan. Mereka menghilang di dalam sungai dan tidak pernah ditemukan lagi.
Beberapa waktu kemudian, muncul sebuah pulau kecil di tengah Sungai Musi. Pulau itu tidak pernah tenggelam meskipun air sungai sedang pasang. Masyarakat kemudian menamainya Pulau Kemaro, yang berarti pulau yang tetap kering.
Penduduk setempat percaya bahwa Pulau Kemaro menjadi simbol cinta sejati antara Tan Bun An dan Putri Siti Fatimah. Hingga kini, pulau tersebut masih menjadi salah satu tempat wisata dan situs budaya terkenal di Palembang.
Legenda Pulau Kemaro terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pengingat bahwa cinta sejati harus disertai kebijaksanaan, kesabaran, dan rasa syukur atas apa yang dimiliki.
Pesan Moral
- Jangan terburu-buru menilai sesuatu hanya dari penampilannya.
- Kesabaran dan kebijaksanaan sangat penting dalam mengambil keputusan.
- Penyesalan sering datang setelah kesalahan terjadi.
- Cinta sejati dibangun dengan ketulusan dan pengorbanan.
- Bersyukurlah atas setiap pemberian dan jangan mudah meremehkannya.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: bijaksana, bersyukur, tanggung jawab, menghargai orang lain, berpikir kritis, dan menghormati perbedaan budaya.
Batu Balai: Legenda Kesetiaan Suami Istri dari Bangka Belitung

Di saat yang hampir bersamaan, sebuah batu besar lainnya muncul tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Pada zaman dahulu, di sebuah kampung yang terletak di pesisir Pulau Bangka, hiduplah sepasang suami istri yang dikenal oleh seluruh penduduk karena kerukunan dan kesetiaan mereka. Sang suami bernama Bujang Tamin, sedangkan istrinya bernama Siti Aisyah. Mereka hidup sederhana sebagai nelayan yang setiap hari mencari ikan di laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Meskipun tidak memiliki banyak harta, kehidupan mereka dipenuhi kebahagiaan. Mereka selalu bekerja sama, saling menghormati, dan tidak pernah membiarkan masalah kecil merusak hubungan mereka. Penduduk kampung sering menjadikan pasangan itu sebagai contoh keluarga yang harmonis.
Setiap pagi, Bujang Tamin berangkat melaut dengan perahu kecilnya. Sementara itu, Siti Aisyah menunggu di rumah sambil mengurus pekerjaan rumah tangga dan menyiapkan makanan untuk suaminya.
Suatu hari, musim angin kencang datang lebih awal dari biasanya. Langit yang semula cerah berubah menjadi gelap. Ombak di laut mulai meninggi dan angin bertiup semakin kuat.
Sebelum berangkat melaut, Siti Aisyah mencoba mengingatkan suaminya.
“Bang, hari ini cuaca terlihat kurang baik. Sebaiknya jangan melaut dulu,” katanya dengan penuh perhatian.
Namun Bujang Tamin tersenyum.
“Jangan khawatir. Aku hanya akan pergi sebentar. Persediaan makanan kita hampir habis. Aku akan segera kembali,” jawabnya.
Meskipun hatinya gelisah, Siti Aisyah akhirnya mengizinkan suaminya pergi.
Bujang Tamin pun mendayung perahunya menuju laut. Awalnya keadaan masih tenang. Namun tidak lama kemudian, badai besar datang menerjang. Ombak raksasa mengguncang perahu kecilnya hingga terombang-ambing di tengah laut.
Di kampung, Siti Aisyah melihat langit semakin gelap. Hatinya dipenuhi kecemasan.
“Ya Tuhan, lindungilah suamiku,” doanya berulang kali.
Malam mulai tiba, tetapi Bujang Tamin belum juga pulang. Warga kampung mencoba mencarinya, namun cuaca buruk membuat pencarian sulit dilakukan.
Hari berganti hari. Tidak ada kabar tentang Bujang Tamin. Banyak orang mulai percaya bahwa ia telah menjadi korban badai.
Namun Siti Aisyah tidak mau kehilangan harapan.
“Aku yakin suamiku masih hidup. Aku akan terus menunggunya,” katanya.
Setiap hari ia datang ke tepi pantai, memandang ke arah laut sambil menunggu perahu suaminya kembali. Panas matahari dan hujan tidak pernah menghalanginya.
Waktu terus berlalu. Kesetiaan Siti Aisyah menjadi perbincangan seluruh kampung. Banyak orang merasa terharu melihat keteguhan hatinya.
Suatu sore, ketika matahari mulai terbenam, Siti Aisyah kembali berdiri di pantai sambil memandang cakrawala. Ia berdoa dengan penuh harap agar dapat bertemu kembali dengan suaminya.
Konon, pada saat itulah terjadi keajaiban. Tubuh Siti Aisyah perlahan berubah menjadi batu. Di saat yang hampir bersamaan, sebuah batu besar lainnya muncul tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Masyarakat percaya bahwa batu pertama adalah jelmaan Siti Aisyah yang setia menunggu suaminya, sedangkan batu kedua melambangkan Bujang Tamin yang tidak pernah kembali dari lautan.
Kedua batu itu berdiri berdampingan menghadap ke arah laut. Karena bentuknya menyerupai sepasang manusia yang saling menanti, masyarakat menamakannya Batu Balai.
Sejak saat itu, Batu Balai menjadi simbol kesetiaan, cinta, dan pengabdian yang tulus. Kisahnya terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari warisan budaya Bangka Belitung.
Hingga kini, legenda Batu Balai mengajarkan bahwa cinta sejati tidak hanya terlihat saat keadaan bahagia, tetapi juga ketika seseorang tetap setia dalam menghadapi ujian dan kesulitan hidup.
Pesan Moral
- Kesetiaan adalah salah satu nilai terpenting dalam kehidupan berkeluarga.
- Cinta sejati dibuktikan melalui pengorbanan, kesabaran, dan ketulusan.
- Jangan mudah menyerah ketika menghadapi cobaan hidup.
- Doa dan harapan memberikan kekuatan dalam masa-masa sulit.
- Hubungan yang harmonis dibangun dengan saling menghormati dan saling mendukung.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia, bertanggung jawab, peduli terhadap keluarga, sabar, serta memiliki empati terhadap sesama.
Putri Gading Cempaka: Putri Bijaksana dari Tanah Bengkulu

Ia sering membantu ayahnya dalam mengurus pemerintahan dan menyelesaikan berbagai persoalan rakyat.
Pada zaman dahulu, di wilayah yang kini dikenal sebagai Bengkulu, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur bernama Kerajaan Sungai Serut. Kerajaan itu terletak di daerah yang subur, dikelilingi oleh hutan hijau, sungai yang jernih, dan perbukitan yang indah. Rakyat hidup damai karena dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana.
Raja memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Gading Cempaka. Nama itu diberikan karena kulitnya yang cerah seperti gading dan wajahnya yang indah bagaikan bunga cempaka yang sedang mekar. Namun, yang membuat rakyat semakin mencintainya bukanlah kecantikannya, melainkan sifatnya yang rendah hati, cerdas, dan penuh kasih sayang.
Sejak kecil, Putri Gading Cempaka senang belajar tentang kehidupan rakyat. Ia sering berjalan-jalan ke desa-desa bersama para dayang untuk melihat langsung kehidupan masyarakat. Ia berbicara dengan petani, nelayan, dan pedagang untuk mengetahui kebutuhan mereka.
“Seorang pemimpin harus mengenal rakyatnya dengan baik,” kata sang putri kepada para pengawal kerajaan.
Rakyat sangat menghormati Putri Gading Cempaka karena ia selalu ramah kepada siapa saja tanpa memandang kedudukan.
Suatu hari, kabar buruk datang ke kerajaan. Sekelompok perampok dari daerah lain mulai mengganggu jalur perdagangan. Mereka merampas hasil panen dan barang dagangan yang dibawa para pedagang. Akibatnya, perekonomian kerajaan mulai terganggu.
Sang raja segera mengumpulkan para penasihat dan panglima kerajaan.
“Kita harus melindungi rakyat dan menghentikan gangguan ini,” ujar sang raja.
Namun para penasihat memiliki pendapat yang berbeda-beda sehingga belum ditemukan solusi yang tepat.
Mendengar hal tersebut, Putri Gading Cempaka mengajukan usul.
“Ayahanda, selain memperkuat penjagaan, kita perlu mengetahui tempat persembunyian para perampok dan mencari tahu siapa yang membantu mereka.”
Raja terkesan dengan pemikiran putrinya.
“Pendapatmu sangat bijaksana, Putriku,” katanya.
Dengan izin sang raja, Putri Gading Cempaka membantu menyusun strategi bersama para panglima kerajaan. Mereka mengirim beberapa utusan untuk mengumpulkan informasi dari berbagai desa.
Tak lama kemudian, mereka menemukan bahwa para perampok bersembunyi di kawasan hutan yang jauh dari pusat kerajaan. Mereka juga mengetahui jalur yang sering digunakan kelompok tersebut untuk melakukan aksinya.
Berdasarkan informasi itu, pasukan kerajaan bergerak dengan hati-hati. Mereka mengepung tempat persembunyian para perampok tanpa menimbulkan kerusakan pada desa-desa di sekitar lokasi.
Rencana itu berhasil. Para perampok dapat ditangkap tanpa menimbulkan banyak korban. Jalur perdagangan kembali aman dan rakyat dapat bekerja dengan tenang.
Ketika berita kemenangan itu menyebar, rakyat bersukacita. Mereka mengadakan pesta syukur dan mengucapkan terima kasih kepada raja serta Putri Gading Cempaka yang telah membantu menyelamatkan kerajaan.
Namun sang putri tidak merasa dirinya berjasa seorang diri.
“Keberhasilan ini adalah hasil kerja sama seluruh rakyat dan pasukan kerajaan,” katanya dengan rendah hati.
Sikap itulah yang membuat rakyat semakin menghormatinya.
Tahun demi tahun berlalu. Putri Gading Cempaka tumbuh menjadi sosok yang semakin bijaksana. Ia sering membantu ayahnya dalam mengurus pemerintahan dan menyelesaikan berbagai persoalan rakyat.
Ketika sang raja mulai menua, Putri Gading Cempaka dipercaya untuk ikut memimpin kerajaan. Dengan kecerdasan, keberanian, dan kepeduliannya, ia berhasil menjaga keamanan serta kemakmuran negeri.
Hingga kini, kisah Putri Gading Cempaka masih dikenang oleh masyarakat Bengkulu sebagai simbol pemimpin yang adil, bijaksana, dan dekat dengan rakyat. Namanya bahkan diabadikan dalam berbagai cerita dan tradisi sebagai salah satu tokoh perempuan yang membanggakan dari tanah Bengkulu.
Pesan Moral
- Seorang pemimpin yang baik harus peduli terhadap rakyatnya.
- Kecerdasan akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk menolong sesama.
- Kerja sama dapat menyelesaikan masalah yang sulit.
- Kerendahan hati membuat seseorang semakin dihormati.
- Keberanian harus disertai kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: kepemimpinan, gotong royong, tanggung jawab, kepedulian sosial, berpikir kritis, rendah hati, dan cinta tanah air.
Si Pahit Lidah: Pengembara Sakti dari Lampung

yang ada di beberapa wilayah dipercaya masyarakat sebagai jejak kutukan atau kesaktian
Si Pahit Lidah.
Pada zaman dahulu, di wilayah yang kini dikenal sebagai Lampung, hiduplah seorang pengembara sakti yang terkenal ke berbagai daerah di Pulau Sumatra. Ia dikenal dengan nama Si Pahit Lidah. Nama itu bukanlah nama aslinya, melainkan julukan yang diberikan masyarakat karena dipercaya bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulutnya dapat menjadi kenyataan.
Konon, Si Pahit Lidah memiliki kesaktian luar biasa. Jika ia memuji sesuatu dengan tulus, tempat atau benda yang dipujinya akan mendapatkan keberkahan. Namun jika ia marah dan mengucapkan kutukan, kutukan itu dapat langsung terjadi. Karena itulah banyak orang menghormati sekaligus takut kepadanya.
Si Pahit Lidah gemar mengembara dari satu daerah ke daerah lain. Ia melewati hutan lebat, sungai yang luas, pegunungan yang tinggi, hingga desa-desa terpencil. Dalam perjalanannya, ia sering membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
Suatu hari, Si Pahit Lidah tiba di sebuah kampung yang terletak di kaki bukit. Kampung itu terkenal subur dan makmur. Sawah-sawah membentang hijau, sungai mengalir jernih, dan hasil panen melimpah setiap tahun.
Ketika memasuki kampung tersebut, Si Pahit Lidah merasa lelah dan lapar setelah berjalan jauh selama berhari-hari. Ia berharap dapat beristirahat sejenak sambil meminta sedikit makanan dan minuman.
Ia mendatangi sebuah rumah yang besar dan megah. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang terkenal memiliki banyak harta.
“Permisi, Tuan. Bolehkah aku meminta sedikit air minum?” tanya Si Pahit Lidah dengan sopan.
Namun saudagar itu memandangnya dengan sinis.
“Aku tidak mengenalmu. Pergilah dari sini!” bentaknya.
Si Pahit Lidah tidak marah. Ia kemudian berjalan ke rumah lain. Sayangnya, beberapa orang di kampung tersebut juga menolaknya. Mereka menganggap penampilannya yang sederhana sebagai tanda bahwa ia hanyalah pengembara miskin yang tidak penting.
Meski demikian, tidak semua penduduk bersikap demikian.
Di pinggir kampung, tinggal seorang nenek tua yang hidup sederhana. Ketika melihat Si Pahit Lidah kelelahan, ia segera mempersilahkannya masuk.
“Silakan beristirahat, Nak. Maaf, aku hanya memiliki makanan sederhana,” kata sang nenek.
Si Pahit Lidah menerima hidangan itu dengan penuh rasa syukur.
“Terima kasih, Nek. Kebaikanmu sangat berarti bagiku,” ujarnya.
Malam itu, Si Pahit Lidah bermalam di rumah nenek tersebut. Dari sang nenek, ia mengetahui bahwa banyak penduduk kampung mulai menjadi sombong karena kekayaan dan hasil panen yang melimpah.
Keesokan harinya, Si Pahit Lidah berjalan melewati pusat kampung. Ia melihat banyak orang saling membanggakan kekayaan mereka. Bahkan beberapa di antaranya mengejek warga miskin.
Hatinya sedih melihat kesombongan itu.
Ia kemudian berkata, “Jika kesombongan terus tumbuh di tempat ini, maka semua yang kalian banggakan akan menjadi batu dan tidak berguna.”
Konon, setelah ucapan itu keluar, terdengar gemuruh dari perbukitan. Beberapa batu besar muncul di sekitar kampung. Masyarakat yang melihat kejadian itu ketakutan.
Mereka mulai menyadari kesalahan mereka. Banyak warga datang meminta maaf kepada Si Pahit Lidah dan berjanji akan mengubah sikap mereka.
Melihat penyesalan yang tulus, Si Pahit Lidah memaafkan mereka.
“Ingatlah, kekayaan bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Hormatilah setiap orang tanpa memandang kedudukan atau hartanya,” nasihatnya.
Sejak saat itu, penduduk kampung berubah menjadi lebih ramah dan peduli terhadap sesama. Mereka tidak lagi sombong dan selalu menyambut tamu dengan baik.
Kisah Si Pahit Lidah kemudian menyebar ke berbagai daerah di Sumatra. Banyak batu-batu besar yang ada di beberapa wilayah dipercaya masyarakat sebagai jejak kutukan atau kesaktian Si Pahit Lidah.
Hingga kini, legenda Si Pahit Lidah tetap hidup sebagai salah satu cerita rakyat terkenal dari Lampung yang mengajarkan pentingnya kerendahan hati dan menghormati sesama manusia.
Pesan Moral
- Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya.
- Kesombongan dapat membawa kesulitan dan penyesalan.
- Kebaikan sekecil apa pun dapat memberikan dampak besar bagi orang lain.
- Hormatilah tamu dan perlakukan semua orang dengan baik.
- Kekayaan dan kedudukan tidak menentukan nilai seseorang.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: rendah hati, gotong royong, kepedulian sosial, menghormati sesama, bersyukur, dan berakhlak mulia.
Putri Tanjung Lesung: Putri Cantik Penjaga Kehormatan Kerajaan Banten

memiliki batu besar berbentuk lesung, alat tradisional untuk menumbuk padi. Sejak saat itu
kawasan tersebut dikenal dengan nama Tanjung Lesung.
Pada zaman dahulu, di pesisir barat Pulau Jawa yang kini termasuk wilayah Banten, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur dan damai. Kerajaan itu terletak di tepi laut yang indah dengan pantai berpasir putih, hutan hijau yang lebat, dan perairan yang kaya akan hasil laut. Rakyat hidup sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana.
Raja tersebut memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Tanjung Lesung. Kecantikannya terkenal hingga ke berbagai kerajaan di Nusantara. Kulitnya bersih bercahaya, rambutnya panjang hitam berkilau, dan senyumnya selalu membawa ketenangan bagi siapa saja yang melihatnya.
Namun, yang membuat rakyat semakin mencintainya bukanlah kecantikannya semata. Putri Tanjung Lesung dikenal sebagai putri yang rendah hati, bijaksana, dan sangat peduli kepada rakyat kecil. Ia sering mengunjungi kampung-kampung nelayan untuk mendengarkan keluhan masyarakat dan membantu mereka yang membutuhkan.
“Seorang calon pemimpin harus memahami kehidupan rakyatnya,” kata sang putri suatu hari kepada para dayang istana.
Karena kecantikan dan kebijaksanaannya, banyak pangeran dari berbagai kerajaan datang untuk melamarnya. Mereka membawa hadiah berupa emas, perhiasan, kain-kain mahal, bahkan kapal-kapal dagang yang penuh dengan barang berharga.
Namun Putri Tanjung Lesung tidak tertarik pada kekayaan.
“Aku ingin menikah dengan seseorang yang memiliki hati mulia dan mencintai rakyatnya,” ujarnya kepada ayahanda raja.
Suatu hari datanglah seorang pangeran dari kerajaan yang jauh. Ia bernama Pangeran Wijaya Kusuma. Pangeran itu terkenal kaya raya dan memiliki pasukan yang sangat besar. Namun ia juga dikenal sombong dan suka memaksakan kehendak.
Saat tiba di istana, ia langsung menyampaikan maksud kedatangannya.
“Aku datang untuk mempersunting Putri Tanjung Lesung. Tidak ada putri lain yang pantas menjadi pendampingku selain dia,” katanya dengan penuh percaya diri.
Raja menyambutnya dengan sopan, tetapi tetap menyerahkan keputusan kepada putrinya.
Ketika bertemu sang pangeran, Putri Tanjung Lesung melihat bahwa pangeran tersebut lebih banyak membanggakan kekayaan dan kekuasaannya daripada berbicara tentang rakyat atau kebajikan.
Setelah mempertimbangkan dengan matang, sang putri menolak lamaran tersebut dengan halus.
“Maafkan hamba, Pangeran. Hamba menghormati kedatangan Paduka, tetapi hamba belum dapat menerima lamaran ini,” katanya dengan sopan.
Penolakan itu membuat Pangeran Wijaya Kusuma murka.
“Tidak ada seorang pun yang pernah menolak lamaranku!” bentaknya.
Karena dipenuhi amarah dan rasa malu, ia kembali ke negerinya sambil menyimpan dendam. Beberapa bulan kemudian, kapal-kapal perang miliknya terlihat mendekati pantai kerajaan Banten.
Rakyat menjadi cemas. Mereka takut perang besar akan terjadi.
Namun Putri Tanjung Lesung tidak panik. Ia mengajak rakyat dan para prajurit untuk tetap bersatu.
“Kekuatan terbesar sebuah kerajaan bukanlah senjata, melainkan persatuan rakyatnya,” kata sang putri.
Atas petunjuk para tetua kerajaan, rakyat bersama-sama memperkuat pertahanan pesisir. Para nelayan membantu mengawasi laut, para prajurit menjaga benteng, dan seluruh masyarakat bekerja sama mempertahankan negeri mereka.
Ketika armada Pangeran Wijaya Kusuma tiba, mereka mendapati rakyat kerajaan berdiri bersatu. Melihat keteguhan hati dan persatuan masyarakat, semangat pasukan penyerang mulai goyah.
Menurut legenda, pada saat yang sama terjadi badai besar di laut. Ombak tinggi dan angin kencang menghantam kapal-kapal penyerang sehingga mereka terpaksa mundur.
Kerajaan pun selamat dari ancaman perang.
Setelah peristiwa itu, Putri Tanjung Lesung semakin dihormati oleh rakyat. Ia dianggap sebagai simbol kebijaksanaan, keberanian, dan pengabdian kepada negeri.
Konon, tempat sang putri sering duduk memandang laut berada di sebuah tanjung yang memiliki batu besar berbentuk lesung, alat tradisional untuk menumbuk padi. Sejak saat itu kawasan tersebut dikenal dengan nama Tanjung Lesung.
Hingga kini, Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi salah satu kawasan wisata terkenal yang menyimpan jejak legenda Putri Tanjung Lesung. Masyarakat setempat masih mewariskan kisah ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Banten.
Pesan Moral
- Kecantikan sejati harus disertai kebijaksanaan dan akhlak yang baik.
- Jangan memilih seseorang hanya berdasarkan kekayaan dan kekuasaan.
- Kesombongan dapat membawa kehancuran bagi diri sendiri.
- Persatuan dan kerja sama adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi masalah.
- Seorang pemimpin harus mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka: kepemimpinan, gotong royong, tanggung jawab, rendah hati, cinta tanah air, keberanian, dan kepedulian sosial.
Si Pitung: Jagoan Betawi Pembela Rakyat Kecil

Namanya diabadikan dalam berbagai buku, pertunjukan budaya, film, dan cerita rakyat
yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada zaman dahulu, ketika wilayah yang kini menjadi Jakarta masih dikenal dengan nama Batavia, hiduplah seorang pemuda pemberani yang kemudian terkenal sebagai Si Pitung. Ia berasal dari daerah Rawa Belong, sebuah kampung Betawi yang saat itu masih dipenuhi sawah, kebun, dan sungai-sungai kecil.
Si Pitung lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang petani sekaligus pedagang kecil yang mengajarkan nilai kejujuran dan kerja keras. Sejak kecil, Pitung dikenal sebagai anak yang cerdas, rajin beribadah, dan suka membantu orang lain.
Ketika beranjak remaja, Pitung belajar ilmu agama kepada para ulama di kampungnya. Selain itu, ia juga mempelajari ilmu bela diri Betawi, terutama silat. Berkat ketekunan dan kedisiplinannya, kemampuan silatnya berkembang dengan sangat cepat.
Suatu hari, Pitung melihat banyak rakyat kecil hidup dalam kesulitan. Pada masa itu, penjajahan membuat kehidupan masyarakat tidak mudah. Pajak yang tinggi dan perlakuan tidak adil sering menimpa para petani, pedagang, dan nelayan.
Pitung merasa prihatin melihat keadaan tersebut.
“Orang-orang yang bekerja keras seharusnya dapat hidup dengan layak,” katanya kepada sahabat-sahabatnya.
Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Banyak rakyat miskin semakin menderita, sementara para tuan tanah dan orang-orang kaya hidup berlimpah.
Karena itu, Pitung mulai membantu masyarakat yang tertindas. Ia sering membela pedagang yang diperas dan membantu warga yang mengalami kesulitan. Lama-kelamaan, keberaniannya dikenal luas di berbagai kampung Betawi.
Suatu ketika, seorang tuan tanah yang terkenal serakah menaikkan sewa tanah secara berlebihan. Banyak petani tidak mampu membayarnya.
Pitung mendatangi tuan tanah tersebut.
“Mengapa engkau membebani rakyat yang sudah susah?” tanyanya.
Namun sang tuan tanah tidak mau mendengarkan.
Karena berbagai ketidakadilan terus terjadi, muncul cerita bahwa Pitung sering mengambil sebagian harta dari orang-orang kaya yang serakah untuk membantu rakyat miskin. Karena tindakan itulah, masyarakat mulai menganggapnya sebagai pembela kaum lemah.
Di kampung-kampung, nama Si Pitung semakin terkenal.
Anak-anak mengaguminya. Para orang tua menghormatinya. Banyak rakyat kecil merasa terlindungi karena keberadaannya.
Namun ketenaran itu juga membuat pihak penjajah dan orang-orang yang merasa dirugikan berusaha menangkapnya.
Beberapa kali pasukan dikerahkan untuk mencari Si Pitung. Akan tetapi, Pitung dikenal sangat cerdik. Ia memahami jalan-jalan kampung, kebun, sungai, dan hutan di sekitar Batavia dengan baik.
Setiap kali dikejar, ia selalu berhasil lolos.
Masyarakat bahkan mulai menceritakan berbagai kisah tentang kesaktiannya. Ada yang mengatakan bahwa ia memiliki ilmu kebal, ada pula yang percaya bahwa ia mendapat perlindungan karena kebaikan hatinya.
Meski demikian, Pitung tidak pernah menggunakan kemampuannya untuk menyakiti orang yang tidak bersalah.
“Keberanian harus digunakan untuk membela kebenaran, bukan untuk menindas,” nasihatnya kepada para pemuda kampung.
Waktu terus berlalu. Perjuangan Si Pitung dalam membela rakyat kecil membuat namanya semakin dikenang oleh masyarakat Betawi. Meskipun akhirnya kisah hidupnya berakhir secara tragis menurut berbagai versi cerita yang berkembang, semangat perjuangannya tidak pernah hilang.
Hingga kini, Si Pitung tetap dikenal sebagai salah satu tokoh legenda paling terkenal dari Jakarta. Namanya diabadikan dalam berbagai buku, pertunjukan budaya, film, dan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Betawi, Si Pitung bukan sekadar pendekar. Ia adalah simbol keberanian, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan Moral
- Gunakan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki untuk membantu orang lain.
- Berani membela kebenaran meskipun menghadapi risiko.
- Jangan memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang yang lemah.
- Kepedulian terhadap sesama dapat membawa manfaat besar bagi masyarakat.
- Ilmu dan kekuatan harus digunakan dengan tanggung jawab.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka
- Beriman dan berakhlak mulia
- Peduli terhadap sesama
- Berani membela kebenaran
- Bertanggung jawab
- Gotong royong
- Cinta keadilan
- Cinta budaya dan sejarah bangsa Indonesia
Fakta Budaya: Si Pitung merupakan tokoh yang sangat lekat dengan budaya Betawi dan hingga kini menjadi salah satu ikon cerita rakyat paling populer dari DKI Jakarta. Kisahnya terus hidup sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan pembelaan terhadap rakyat kecil.
Sangkuriang: Legenda Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu dari Jawa Barat

ia menendang perahu raksasa yang hampir selesai dibuat hingga terbalik.
Pada zaman dahulu, di wilayah yang kini menjadi Provinsi Jawa Barat, hiduplah seorang putri cantik bernama Dayang Sumbi. Ia terkenal karena kecantikannya, kecerdasannya, dan keterampilannya menenun kain. Banyak pangeran dan bangsawan datang untuk meminangnya, tetapi Dayang Sumbi lebih memilih hidup mandiri bersama seekor anjing peliharaannya yang bernama Tumang.
Tumang sebenarnya bukan anjing biasa. Menurut legenda, ia adalah makhluk sakti yang mendapat kutukan sehingga harus hidup dalam wujud seekor anjing. Tumang sangat setia menemani Dayang Sumbi ke mana pun ia pergi.
Suatu hari, ketika sedang menenun di sebuah pondok di atas bukit, alat tenun Dayang Sumbi terjatuh ke bawah. Karena malas mengambilnya, ia berkata tanpa berpikir panjang,
“Siapa pun yang mengambilkan alat tenunku, jika perempuan akan menjadi saudaraku, dan jika laki-laki akan menjadi suamiku.”
Tak lama kemudian, Tumang berhasil mengambilkan alat tenun tersebut. Dayang Sumbi terkejut karena yang mengambilkannya adalah Tumang. Namun karena merasa harus menepati janjinya, akhirnya ia menikah dengan Tumang.
Beberapa waktu kemudian, Dayang Sumbi melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan kuat. Anak itu diberi nama Sangkuriang. Sejak kecil, Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang aktif, pemberani, dan gemar berburu di hutan.
Namun Dayang Sumbi tidak pernah menceritakan siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.
Suatu hari, ketika sedang berburu, Sangkuriang ditemani Tumang. Setelah berjam-jam mencari buruan, mereka tidak mendapatkan seekor hewan pun. Karena kesal, Sangkuriang meminta Tumang mengejar seekor rusa yang terlihat di kejauhan.
Namun Tumang tidak mau melakukannya karena rusa tersebut adalah makhluk yang harus dilindungi.
Sangkuriang marah besar. Dalam kemarahannya, ia memanah Tumang hingga mati. Setelah itu, ia membawa hati Tumang pulang ke rumah tanpa mengetahui bahwa hewan yang dibunuhnya adalah ayahnya sendiri.
Ketika mengetahui kejadian tersebut, Dayang Sumbi sangat sedih dan marah.
“Kau telah membunuh ayahmu sendiri!” serunya.
Karena emosi, Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi hingga terluka. Merasa tersinggung dan kecewa, Sangkuriang meninggalkan rumah dan mengembara ke berbagai daerah.
Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan sakti. Suatu hari, ia kembali ke daerah asalnya. Di sana ia bertemu seorang wanita yang sangat cantik dan anggun.
Wanita itu tidak lain adalah Dayang Sumbi.
Karena mendapat anugerah awet muda dari para dewa, wajah Dayang Sumbi tidak banyak berubah meskipun usianya telah bertambah.
Sangkuriang tidak mengenali ibunya sendiri. Ia justru jatuh cinta pada Dayang Sumbi dan ingin menikahinya.
Awalnya Dayang Sumbi juga tidak menyadari bahwa pemuda itu adalah putranya. Namun ketika melihat bekas luka di kepala Sangkuriang, ia langsung mengetahui identitas sebenarnya.
Dayang Sumbi sangat terkejut.
“Aku tidak boleh menikah dengan anakku sendiri,” pikirnya.
Untuk menggagalkan rencana pernikahan, Dayang Sumbi mengajukan syarat yang hampir mustahil.
“Aku akan menerima lamaranmu jika kau mampu membuat sebuah danau besar dan sebuah perahu raksasa hanya dalam satu malam sebelum matahari terbit.”
Sangkuriang yang sakti menerima tantangan itu. Dengan bantuan makhluk-makhluk gaib, ia mulai membendung sungai untuk membuat danau dan menebang pohon-pohon besar untuk membuat perahu raksasa.
Melihat pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi menjadi cemas. Ia kemudian meminta para wanita menumbuk padi dan mengibaskan kain putih di ufuk timur sehingga langit tampak terang seperti fajar.
Ayam-ayam mulai berkokok mengira pagi telah tiba.
Sangkuriang mengira dirinya gagal menyelesaikan tugas tepat waktu. Dalam kemarahannya, ia menendang perahu raksasa yang hampir selesai dibuat hingga terbalik.
Perahu itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang kini dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu, yang dalam bahasa Sunda berarti “perahu terbalik.”
Sementara bendungan yang dibuatnya runtuh dan membentuk bentang alam di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Hingga kini, legenda Sangkuriang tetap menjadi salah satu cerita rakyat paling terkenal dari Jawa Barat dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Sunda.
Pesan Moral
- Berpikirlah sebelum mengucapkan janji atau perkataan.
- Hormati dan sayangi orang tua.
- Kemarahan yang tidak terkendali dapat membawa penyesalan.
- Kejujuran dan keterbukaan penting dalam keluarga.
- Jangan menyerah pada keadaan, tetapi gunakan kekuatan dengan bijaksana.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka
- Beriman dan berakhlak mulia
- Tanggung jawab
- Mengendalikan emosi
- Menghormati orang tua
- Berpikir kritis
- Bijaksana dalam mengambil keputusan
- Melestarikan budaya daerah Indonesia
Asal Daerah: Jawa Barat
Ikon Legenda: Gunung Tangkuban Perahu
Suku Budaya: Masyarakat Sunda.
Rawa Pening: Legenda Baru Klinting dan Asal-Usul Danau Rawa Pening dari Jawa Tengah

diperingatkan terlebih dahulu. Lama-kelamaan genangan air itu berubah menjadi danau yang sangat luas.
Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang subur di wilayah yang kini menjadi Jawa Tengah, hiduplah seorang anak sakti bernama Baru Klinting. Ia memiliki kisah hidup yang sangat unik karena lahir dari pasangan yang tidak biasa.
Konon, ayah Baru Klinting adalah seorang pertapa sakti bernama Ki Hajar Salokantara. Suatu hari, saat sedang bertapa di lereng gunung, Ki Hajar Salokantara tanpa sengaja menelan telur naga yang ditemukannya di hutan. Beberapa waktu kemudian, lahirlah seorang anak berwujud naga yang diberi nama Baru Klinting.
Meskipun berwujud naga, Baru Klinting memiliki hati yang baik. Ia ingin diakui sebagai anak oleh ayahnya. Namun Ki Hajar Salokantara meminta sebuah bukti.
“Jika engkau benar anakku, lilitlah Gunung Telomoyo hingga tubuhmu bertemu kembali,” kata sang pertapa.
Dengan penuh semangat, Baru Klinting melaksanakan tugas itu. Tubuh naganya yang panjang berhasil melingkari gunung hingga kepalanya bertemu dengan ekornya. Melihat hal tersebut, Ki Hajar Salokantara akhirnya mengakui Baru Klinting sebagai anaknya.
Namun sebelum berpisah, sang ayah berpesan agar Baru Klinting menggunakan kesaktiannya untuk menolong sesama dan tidak menyalahgunakannya.
Waktu berlalu. Pada suatu musim kemarau yang panjang, sebuah desa di sekitar kaki gunung mengalami kesulitan. Persediaan makanan mulai menipis. Untuk mengatasi keadaan tersebut, penduduk desa berencana mengadakan pesta besar dan berburu hewan di hutan.
Pada saat yang sama, Baru Klinting sedang bertapa di hutan dalam wujud naga.
Para pemburu menemukan tubuh naga itu dan mengira sebagai hewan liar yang sangat besar. Tanpa mengetahui siapa sebenarnya makhluk tersebut, mereka menyerangnya.
Baru Klinting terluka parah. Sebagian tubuhnya bahkan dipotong dan dibawa ke desa untuk dijadikan hidangan pesta.
Meskipun merasakan sakit yang luar biasa, Baru Klinting tidak membalas perbuatan mereka. Ia memilih pergi meninggalkan hutan dan menggunakan kesaktiannya untuk berubah menjadi seorang anak kecil yang berpakaian lusuh.
Ketika pesta desa berlangsung meriah, Baru Klinting datang ke tengah keramaian.
Anak kecil itu tampak kurus dan kelelahan.
“Permisi, bolehkah aku meminta sedikit makanan?” tanyanya dengan sopan.
Namun sebagian besar penduduk desa menolak kehadirannya.
“Pergi dari sini!”
“Kami tidak punya makanan untuk pengemis!”
“Bocah kotor seperti itu tidak pantas berada di pesta ini!”
Mereka mengusir Baru Klinting tanpa rasa kasihan.
Hanya seorang nenek tua yang merasa iba.
“Nak, kemarilah. Aku hanya punya sedikit makanan, tetapi aku akan berbagi denganmu,” katanya.
Baru Klinting menerima makanan itu dengan penuh rasa syukur.
“Terima kasih, Nek. Kebaikanmu tidak akan pernah kulupakan.”
Setelah makan, Baru Klinting kembali ke tengah lapangan desa. Ia membawa sebuah lidi kecil.
Dengan tenang ia menancapkan lidi tersebut ke tanah.
“Wahai warga desa, siapa pun yang mampu mencabut lidi ini, dialah orang yang paling kuat di desa,” katanya.
Mendengar tantangan itu, para pemuda dan orang-orang kuat desa bergantian mencoba mencabut lidi tersebut.
Namun tidak seorang pun berhasil.
Mereka menarik sekuat tenaga, tetapi lidi itu tetap tertancap kokoh.
Akhirnya Baru Klinting sendiri yang mencabutnya.
Saat lidi itu tercabut, tiba-tiba memancar air deras dari lubang bekas tancapan tersebut.
Mula-mula hanya berupa mata air kecil.
Namun dalam hitungan menit, air semakin banyak dan tidak dapat dihentikan.
Penduduk desa panik.
Mereka berlari menyelamatkan diri, tetapi air terus meninggi dan menenggelamkan rumah, sawah, serta seluruh desa.
Hanya nenek tua yang sebelumnya menolong Baru Klinting yang berhasil selamat karena telah diperingatkan terlebih dahulu.
Lama-kelamaan genangan air itu berubah menjadi danau yang sangat luas.
Danau tersebut kemudian dikenal sebagai Rawa Pening, yang hingga kini masih dapat ditemukan di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Masyarakat percaya bahwa legenda Baru Klinting menjadi asal-usul terbentuknya Rawa Pening. Cerita ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat agar manusia tidak bersikap sombong dan selalu peduli kepada sesama.
Pesan Moral
- Jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya.
- Bersikaplah ramah dan peduli kepada orang yang membutuhkan.
- Kesombongan dan ketidakpedulian dapat membawa penyesalan.
- Kebaikan sekecil apa pun akan mendapatkan balasan yang baik.
- Gunakan kekuatan dan kemampuan untuk menolong sesama.
Nilai Karakter Kurikulum Merdeka
- Beriman dan berakhlak mulia
- Peduli terhadap sesama
- Rendah hati
- Bersyukur
- Tanggung jawab
- Empati
- Menghargai perbedaan
Asal Daerah: Jawa Tengah
Lokasi Legenda: Rawa Pening
Tokoh Utama: Baru Klinting.
(BERSAMBUNG)








