Cerita Rakyat Jawa Barat: Anak Arif Muhammad Diterbangkan Angin

Sampai sekarang di Kampung Pulo, Garut ada larangan untuk menabuh gong besar dan membuat rumah berbentuk prisma.

Jika ada yang berani melanggar pantangan tersebut, dikuatirkan musibah akan datang menimpa mereka.

Pantangan tersebut berawal dari kejadian yang menimpa putra Arif Muhammad ratusan tahun silam.

Arif Muhammad yang lebih dikenal dengan panggilan Sembah Dalem Arif Muhammad, mempunyai tujuh orang putra.

Enam putri dan satu putra.

Ketika putranya akan dikhitan, diadakan arak-arakan mengelilingi kampung sambil ditandu.

Arak-arakan itu diiringi dengan gong besar yang suaranya bisa terdengar sampai jauh.

Di tengah jalan, tiba-tiba berembus angin kencang menerpa rombongan tersebut.

Peserta rombongan menjeri-jerit menyelamatkan diri dari amukan angin topan itu.

Sementara tandu tersebut terlepas dan terbawa terbang ke udara bersama putra Sembah Dalem Arif Muhammad.

Tubuh putra Sembah Dalem Arif Muhammad terlempar ke udara dan jatuh ke tanah dengan keras hingga meninggal dunia.

Sejak saat itu, penduduk Kampung Pulo tidak pernah lagi menggunakan gong besar jika ada hajatan.

Dan sejak saat itu pula, dikenalkan sebuah kesenian baru yang disebut rudat.

Kesenian rudat adalah sebuah kesenian yang mendendangkan puji-pujian pada Allah SWT sambil diiringi alat musik terbang atau rebana.

 

Pesan Moral

Di setiap musibah, tentu ada hikmahnya.

 

Sumber dan kontributor

  • Naskah: Kak Nurul Ihsan
  • Gambar: Rachman
  • Sumber: www.ebookanak.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Putar suaraPopup paket premium ELibrary Stories dengan akses cerita anak tanpa iklan, pilihan paket 24 jam, 30 hari, dan 365 hari.