Keluarga Maryam dan Kelahirannya
Kisah Nabi Isa AS tidak bisa dipisahkan dari sosok ibunya, Maryam binti Imran, seorang wanita yang Allah pilih dan sucikan melebihi wanita-wanita sedunia. Sebelum mukjizat kelahiran Isa tanpa ayah terjadi, Allah telah menyiapkan Maryam sejak dalam kandungan ibunya. Keluarga Aal Imran adalah keluarga terpilih yang namanya diabadikan dalam Al-Quran, sebuah kehormatan luar biasa yang menunjukkan betapa mulianya silsilah ini di sisi Allah.
Mari kita telusuri kisah keluarga suci ini, dari nadzar seorang ibu yang tulus, kelahiran bayi perempuan yang tak disangka, hingga tumbuhnya seorang gadis salehah yang kelak menjadi ibu dari salah satu ulul azmi dari para rasul.
001. Siapa saja silsilah keluarga Aal Imran yang menjadi leluhur Maryam?
Ketika kita membaca surah Ali Imran di Al-Quran, nama “Imran” langsung muncul sebagai nama keluarga yang dimuliakan Allah. Tapi siapa sebenarnya Imran ini?
Imran adalah ayah kandung Maryam, seorang laki-laki saleh dari Bani Israil yang hidup di masa antara para nabi. Ia berasal dari keturunan Daud AS dan Sulaiman AS, garis keturunan yang penuh dengan para nabi dan orang-orang saleh. Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Imran termasuk dari kalangan pemuka agama di Baitul Maqdis (Yerusalem), yang hidupnya didedikasikan untuk beribadah dan mengajarkan Taurat.
Istri Imran bernama Hanna binti Faqudz, seorang wanita salehah yang sangat mendambakan keturunan. Mereka berdua adalah pasangan yang dikenal karena ketakwaan dan kecintaan mereka kepada rumah ibadah. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 33-34: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat. Sebagai keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain.”
Dari ayat ini kita tahu bahwa keluarga Imran disejajarkan dengan keluarga Ibrahim AS—sebuah kehormatan yang tidak main-main. Silsilah ini bukan sekadar garis keturunan biologis, tapi juga garis keturunan spiritual yang penuh dengan iman dan ketaatan kepada Allah.
Yang menarik, dalam riwayat Ibnu Katsir disebutkan bahwa Hanna adalah saudara perempuan dari istri Nabi Zakariya. Artinya, Maryam dan Nabi Yahya AS adalah sepupu, sama-sama berasal dari keluarga yang dipilih Allah untuk menjadi tempat lahirnya mukjizat-mukjizat besar.
Inilah silsilah suci yang menjadi awal dari kisah besar kelahiran Nabi Isa AS—sebuah keluarga yang Allah persiapkan dengan penuh hikmah untuk menjadi saksi kekuasaan-Nya yang tiada batas.



