010. Apa keistimewaan Maryam di mata Allah yang tidak dimiliki wanita lain?
Dari semua wanita yang pernah hidup di muka bumi ini—dari masa Adam AS hingga akhir zaman—Allah memilih Maryam untuk disebutkan namanya dalam Al-Quran. Bahkan ada satu surah yang dinamai dengan namanya: Surah Maryam. Ini adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada wanita manapun, bahkan tidak kepada istri-istri Nabi Muhammad SAW yang mulia.
Keistimewaan pertama adalah pemilihan langsung oleh Allah. Dalam QS. Ali Imran ayat 42, Allah berfirman melalui malaikat: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan mengutamakan kamu atas segala wanita di seluruh alam.”
Kata “memilih” (ishthafa) dalam ayat ini bukan sekadar memilih seperti memilih barang di pasar. Ini adalah pemilihan khusus yang didasarkan pada pengetahuan Allah yang sempurna tentang hati, niat, dan potensi Maryam. Allah memilihnya dari miliaran wanita yang ada.
Keistimewaan kedua adalah penyucian berlapis. Allah tidak hanya mensucikan Maryam dari dosa, tapi juga dari tuduhan dan prasangka buruk. Bahkan ketika ia hamil tanpa suami—situasi yang sangat mudah menimbulkan fitnah—Allah tetap menjaga kesucian nama baiknya hingga akhir zaman dengan mengabadikannya dalam Al-Quran.
Keistimewaan ketiga adalah ia menjadi satu-satunya wanita yang melahirkan seorang nabi. Semua nabi lainnya dilahirkan dari pasangan suami-istri yang normal. Tapi Isa AS dilahirkan hanya dari Maryam, tanpa ayah. Ini menjadikan Maryam tidak hanya ibu seorang nabi, tapi juga bagian integral dari mukjizat kenabian itu sendiri.
Keistimewaan keempat adalah ia disejajarkan dengan para rasul dalam konteks ketaatan. Dalam QS. At-Tahrim ayat 12, Allah memuji Maryam sebagai “termasuk orang-orang yang taat” (qanitiin), menggunakan bentuk maskulin yang biasanya digunakan untuk para rasul. Ini menunjukkan tingkat ketaatan Maryam setara dengan ketaatan para rasul.
Keistimewaan kelima adalah ia menerima wahyu tidak langsung melalui malaikat. Meskipun Maryam bukan nabi (karena tidak ada nabi wanita menurut ijma ulama), ia berkomunikasi dengan Malaikat Jibril yang datang membawa perintah Allah. Ini adalah kehormatan yang sangat jarang diberikan.
Keistimewaan keenam adalah pembelaannya langsung oleh Allah dalam Al-Quran. Ketika Ahli Kitab menuduh Maryam berbuat keji, Allah menurunkan ayat-ayat yang membantah tuduhan mereka dan menegaskan kesucian Maryam. Tidak banyak manusia yang dibela langsung oleh Allah dalam kitab suci.
Keistimewaan ketujuh adalah ia menjadi simbol kesucian untuk semua generasi. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits shahih: “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah: Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah istri Firaun.” Maryam disebutkan di antara wanita-wanita terbaik yang akan masuk surga.
Keistimewaan kedelapan adalah kemurnian dari sentuhan setan. Seperti yang telah disebutkan, hanya Maryam dan anaknya yang tidak tersentuh setan saat lahir. Ini adalah proteksi spiritual yang tidak dimiliki manusia lainnya, termasuk para nabi sekalipun.
Keistimewaan kesembilan adalah ia menjadi bukti kekuasaan Allah yang sempurna. Allah menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu, menciptakan Hawa dari Adam tanpa ibu, menciptakan manusia lainnya dari ayah dan ibu, dan menciptakan Isa dari ibu tanpa ayah. Maryam menjadi bagian dari demonstrasi kekuasaan Allah yang lengkap dalam penciptaan manusia.
Keistimewaan kesepuluh adalah ia menjadi teladan abadi untuk seluruh umat manusia, khususnya wanita. Kesuciannya, ketakwaannya, kesabarannya, dan penyerahannya kepada Allah adalah standar tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang hamba. Setiap wanita muslimah diajarkan untuk meneladani Maryam.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keistimewaan Maryam bukan karena ia mencari keistimewaan, tapi justru karena ia tidak peduli dengan keistimewaan duniawi. Ia hanya fokus pada satu hal: menjadi hamba Allah yang sempurna. Dan Allah membalas keikhlasan itu dengan kehormatan yang abadi.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Banyak laki-laki yang mencapai kesempurnaan, tetapi dari kalangan wanita tidak ada yang mencapai kesempurnaan kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah istri Firaun.”
Inilah Maryam—wanita sempurna, wanita terpilih, wanita yang Allah muliakan melebihi semua wanita di dunia. Ia adalah bukti hidup bahwa ketika seorang hamba menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, Allah akan memuliakan hamba itu dengan cara yang tidak pernah terbayangkan.
Penutup
Kisah keluarga Maryam dan kelahirannya adalah fondasi dari mukjizat besar yang akan datang. Dari nadzar seorang ibu yang tulus, lahirlah seorang bayi perempuan yang kemudian tumbuh menjadi wanita paling mulia dalam sejarah manusia.
Allah mempersiapkan Maryam dengan sangat teliti—dari perlindungan spiritual sejak lahir, pengasuhan oleh seorang nabi, kehidupan dalam ibadah intensif, hingga mukjizat-mukjizat yang menguatkan imannya. Semua ini adalah persiapan untuk momen besar yang akan mengubah sejarah: kelahiran Nabi Isa AS tanpa ayah.
Maryam bukan hanya ibu seorang nabi. Ia adalah simbol kesucian, teladan ketakwaan, dan bukti bahwa Allah mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Namanya diabadikan dalam Al-Quran, kehormatannya dijaga oleh Allah sendiri, dan kisahnya menjadi inspirasi bagi miliaran manusia hingga akhir zaman.
Dari tema ini kita belajar bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan dalam rencana Allah. Setiap detail dalam kehidupan Maryam—dari keluarganya yang saleh, pengasuhannya yang istimewa, hingga mukjizat-mukjizat yang ia alami—semuanya adalah bagian dari persiapan Ilahi untuk sebuah mukjizat yang akan menggemparkan dunia.
Kini setelah kita memahami siapa Maryam dan bagaimana Allah mempersiapkannya, kita siap untuk melangkah ke tema berikutnya: kabar gembira dari malaikat tentang kelahiran seorang anak yang akan menjadi rasul, kalimatullah, dan ruh dari Allah—Nabi Isa Al-Masih alaihissalam.
Referensi Utama:
- Al-Quran: Surah Ali Imran (3:33-47), Surah Maryam (19), Surah At-Tahrim (66:12)
- Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir Al-Quran Al-Azhim)
- Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
- Qishash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir
- Tafsir As-Sa’di, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi
Catatan: Semua informasi dalam tema ini bersumber dari Al-Quran, hadits shahih, dan kitab-kitab tafsir mu’tabar dari ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Tidak ada satu pun informasi yang diambil dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.



