003. Apa yang terjadi ketika Maryam lahir sebagai bayi perempuan?
Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Setelah sekian lama menanti, Hanna melahirkan bayinya dengan penuh harap. Namun ketika bayi itu lahir, ia terkejut—bukan laki-laki, melainkan perempuan.
Dalam tradisi Bani Israil saat itu, yang bisa dinadzarkan untuk berkhidmat di Baitul Maqdis hanyalah anak laki-laki. Perempuan tidak diizinkan karena dianggap lemah, butuh perlindungan, dan akan mengalami haid yang membuat mereka tidak bisa selalu berada di tempat suci. Jadi ketika Hanna melahirkan anak perempuan, ia merasa nadzarnya tidak bisa dipenuhi.
Dengan penuh kejujuran, Hanna berkata kepada Allah, sebagaimana tercantum dalam QS. Ali Imran ayat 36: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.”
Perhatikan bagaimana Hanna tidak menyalahkan Allah, tidak kecewa dengan cara yang negatif. Ia hanya menyampaikan kenyataan dengan penuh adab. Ia tahu bahwa Allah Maha Mengetahui, dan pasti ada hikmah di balik semua ini.
Lalu Hanna melanjutkan doanya dengan sangat indah: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak cucunya kepada (pemeliharaan) Engkau dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
Ibnu Katsir menjelaskan, nama “Maryam” dalam bahasa Ibrani berarti “hamba yang saleh” atau “yang beribadah.” Hanna tetap berharap anaknya bisa menjadi hamba Allah yang suci, meski realitanya berbeda dari yang ia bayangkan.
Yang mencengangkan adalah, Allah mengabulkan doa Hanna tentang perlindungan dari setan. Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak Adam ketika dilahirkan pasti ditusuk oleh setan, sehingga ia menangis karena tusukan itu, kecuali Maryam dan anaknya (Isa).”
Subhanallah! Bayangkan, dari semua manusia yang pernah lahir, hanya dua orang yang terlindungi dari sentuhan setan: Maryam dan Isa AS. Ini adalah tanda awal bahwa bayi perempuan ini bukan bayi biasa. Allah telah memilihnya untuk sesuatu yang sangat besar.
Apa yang Hanna kira sebagai “kekecewaan” karena melahirkan anak perempuan, justru menjadi awal dari mukjizat terbesar. Allah memang lebih tahu. Anak perempuan ini akan menjadi ibu dari seorang nabi tanpa ayah—sesuatu yang tidak pernah terjadi pada laki-laki manapun dalam sejarah.



