004. Bagaimana Nabi Zakariya akhirnya menjadi pengasuh Maryam?
Setelah kelahiran Maryam, Hanna ingin menepati nadzarnya. Meskipun bayinya perempuan dan secara tradisi tidak bisa tinggal di Baitul Maqdis, Hanna tetap membawa Maryam ke rumah suci, mempersembahkannya kepada Allah sesuai janji.
Kedatangan bayi Maryam di Baitul Maqdis menciptakan situasi yang tidak biasa. Para pendeta dan ahli ibadah di sana berdebat: siapa yang akan mengasuh bayi perempuan ini? Dalam tradisi mereka, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Yang menarik, banyak orang yang ingin menjadi pengasuh Maryam. Mengapa? Karena semua orang tahu bahwa Imran dan Hanna adalah keluarga saleh, dan mengasuh anak dari keluarga seperti ini adalah kehormatan. Ditambah lagi, Maryam adalah anak yang dinadzarkan—ada aura kekhususan di sekitarnya.
Nabi Zakariya AS, yang saat itu adalah pemimpin rohani di Baitul Maqdis, juga ingin menjadi pengasuh Maryam. Alasannya sangat kuat: istri Zakariya adalah bibi Maryam (saudara perempuan Hanna), jadi secara keluarga, ia adalah orang yang paling berhak.
Namun karena banyak yang menginginkannya, mereka memutuskan dengan cara yang adil: undian dengan melempar pena atau tongkat ke sungai. Siapa yang penanya mengapung atau terbawa arus dengan cara tertentu, dialah yang berhak mengasuh Maryam.
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 44: “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (Muhammad); padahal kamu tidak hadir bersama mereka, ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam.”
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ketika pena-pena dilempar ke sungai, semua pena tenggelam atau terbawa arus, kecuali pena Zakariya yang mengapung melawan arus—sebuah tanda yang jelas bahwa Allah telah memilih Zakariya.
Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa mereka mengulangi undian berkali-kali dengan cara berbeda, dan setiap kali hasilnya tetap Zakariya. Akhirnya semua orang menerima bahwa ini adalah kehendak Allah.
Zakariya pun menerima amanah besar ini dengan penuh tanggung jawab. Ia menyiapkan tempat khusus untuk Maryam—sebuah mihrab (ruang ibadah) yang terpisah dan terlindung. Di sinilah Maryam akan tumbuh besar, dalam asuhan seorang nabi yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.
Pilihan Allah kepada Zakariya sebagai pengasuh Maryam bukan kebetulan. Zakariya adalah seorang nabi yang lembut, bijaksana, dan sangat dekat dengan Allah. Ia adalah figur sempurna yang akan membimbing Maryam menjadi wanita salehah yang kelak dipercaya untuk melahirkan seorang nabi.



