009. Bagaimana Allah mempersiapkan Maryam untuk mukjizat besar yang akan datang?
Persiapan Allah untuk Maryam bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Ini adalah proses panjang yang dimulai sejak ia masih dalam kandungan ibunya, berlanjut sepanjang masa kecil dan remajanya, hingga ia siap menerima amanah yang tidak pernah diberikan kepada wanita manapun dalam sejarah: melahirkan seorang nabi tanpa ayah.
Persiapan pertama adalah perlindungan dari setan sejak lahir. Seperti yang telah disebutkan dalam hadits shahih, Maryam dan anaknya adalah satu-satunya manusia yang tidak tersentuh oleh setan saat dilahirkan. Ini adalah perlindungan spiritual fundamental yang membuat Maryam memiliki fitrah yang sangat murni.
Persiapan kedua adalah lingkungan ibadah yang intensif. Dengan menempatkan Maryam di mihrab sejak kecil, Allah memastikan bahwa ia tumbuh dalam suasana yang penuh dengan dzikir, doa, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Tidak ada pengaruh negatif dari dunia luar yang bisa merusak kemurnian imannya.
Persiapan ketiga adalah mukjizat rezeki yang turun dari langit. Ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang membangun keyakinan Maryam bahwa Allah bisa melakukan apa saja yang Dia kehendaki, bahkan sesuatu yang di luar nalar manusia. Ketika nanti ia diberitahu akan hamil tanpa suami, pengalaman mukjizat rezeki ini membuatnya lebih mudah menerima.
Persiapan keempat adalah pengasuhan oleh Nabi Zakariya. Allah memilih seorang nabi yang sangat bijaksana dan penyayang untuk menjadi figur ayah bagi Maryam. Zakariya mengajarkan Maryam tentang tauhid, tentang para nabi sebelumnya, tentang kesabaran dan tawakal. Semua ilmu dan akhlak ini akan sangat berguna ketika Maryam menghadapi cobaan besar.
Persiapan kelima adalah isolasi sosial yang sehat. Dengan hidup terpisah dari keramaian, Maryam tidak terpengaruh oleh gosip, ghibah, atau drama sosial yang biasa terjadi di masyarakat. Ia belajar untuk mandiri secara spiritual, untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada validasi manusia. Ini akan sangat penting ketika nanti ia harus menghadapi tuduhan dan cercaan dari kaumnya.
Persiapan keenam adalah penguatan mental melalui ibadah malam. Maryam yang terbiasa bangun di malam hari untuk bermunajat kepada Allah telah melatih kekuatan mental dan emosionalnya. Orang yang terbiasa menghadap Allah di kegelapan malam adalah orang yang memiliki ketahanan jiwa yang luar biasa.
Persiapan ketujuh adalah pengalaman menjadi saksi mukjizat. Maryam tidak hanya mendengar cerita tentang mukjizat para nabi terdahulu, ia sendiri mengalami mukjizat dalam hidupnya. Ini membuat konsep “mukjizat” bukan lagi sesuatu yang abstrak atau mustahil, tapi sesuatu yang nyata dan bisa dialami.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memilih Maryam karena ia memiliki kombinasi sempurna dari kesucian fisik, kemurnian hati, kekuatan iman, ketabahan mental, dan keikhlasan total. Tidak ada wanita lain di zamannya—atau bahkan di sepanjang sejarah—yang memiliki kualifikasi seperti ini.
Yang paling menakjubkan adalah persiapan yang tidak terlihat: Allah menyucikan dan memilih Maryam secara langsung, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 42. Ini adalah intervensi Ilahi yang bersifat spiritual. Allah sendiri yang membersihkan hatinya, menguatkan imannya, dan mempersiapkannya untuk menerima mukjizat terbesar.
Para ulama menjelaskan bahwa persiapan Allah untuk Maryam adalah pelajaran bagi kita semua: tidak ada amanah besar yang diberikan tanpa persiapan yang matang. Allah tidak akan menguji kita melebihi kemampuan kita, dan Dia tidak akan memberikan kita amanah besar kecuali Dia telah mempersiapkan kita untuk itu.
Ketika akhirnya Malaikat Jibril datang kepada Maryam dengan kabar yang mengejutkan, ia sudah siap—tidak sempurna dalam arti tidak terkejut atau tidak takut, tapi siap dalam arti memiliki fondasi iman yang kuat untuk menerima kehendak Allah, meski tidak masuk akal menurut logika manusia.



