Zainul Arifin lahir sebagai anak tunggal dari pasangan raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan (ayah) dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution.
Ketika Zainul masih balita, kedua orang tuanya bercerai dan ia dibawa pindah oleh ibunya ke Kotanopan, kemudian ke Kerinci, Jambi.
Di sana ia menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan sekolah menengah calon guru, Normal School.
Selain itu, Arifin juga memperdalam pengetahuan agama di madrasah dan surau saat menjalani pelatihan seni bela diri Pencak Silat.
Arifin juga seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal Melayu, Stambul Bangsawan sebagai penyanyi dan pemain biola.
Stambul Bangsawan merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia.
Ketika usia 16 tahun, Zainul merantau ke Batavia (Jakarta).
Ditengah meningkatnya suhu politik, pada 14 Mei 1962, saat salat Idul Adha di barisan terdepan bersama Sukarno, KH. Zainul Arifin tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak DI/TII dalam percobaannya membunuh presiden.
KH. Zainul Arifin wafat tanggal 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan di bahunya selama sepuluh bulan.

- K.H. Zainul Arifin adalah tokoh politik NU yang pernah menjadi ketua DPR-GR di era demokrasi terpimpin.
- K.H. Zainul Arifin sudah terlibat politik masa pergerakan nasional.
- Pada zaman Jepang menjadi Kepala Bagian Umum dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
- K.H. Zainul Arifin melalui Hizbullah menentang pelibatan Masyumi dalam romusha.
- K.H. Zainul Arifin dengan pasukan Hizbullah terlibat dalam pertempuran-pertempuran dengan Belanda mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
- K.H. Zainul Arifin aktif sebagai anggota KNIP dan kemudian dipilih menjadi anggota Badan Pekerja KNIP.
- K.H. Zainul Arifin pada masa RIS duduk sebagai anggota DPRS.
- K.H. Zainul Arifin pada tahun 1963 menjadi Ketua DPR GR.

Sumber dan Kontributor
- direktoratk2krs.kemsos.go.id
- id.wikipedia.org
- Penyunting: elibrary.id